Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E27


__ADS_3

Langit sudah mulai menggelap lantaran mendung yang terlihat begitu pekat padahal jam baru menunjukkan pukul lima sore. Velan ragu, apakah ia akan pulang dari kiosnya.


Seharian ini Velan jelas merasa resah dan gelisah gara-gara adanya sebuah tantangan yang tiba-tiba muncul sehingga menambah masalah hidup Velan. Velan merasa ia sedang menggali kuburannya sendiri. Ia tak menyangka bahwa kebohongan tentang adanya pria idaman lain benar-benar menimbulkan masalah baru.


Awalnya Velan jelas hanya bersikap spontan dengan mengatakan ada pria idaman lain yang telah memberinya kebahagiaan lantaran merasa sudah sewajarnya Velan mendapat kebahagiaan lain yang tidak diberikan oleh suaminya selama menjalani pernikahan. Terlebih setelah tahu bahwa pernikahan mereka hanya sekadar status karena sang suami lebih memilih cintanya pada wanita lain.


Velan pikir dengan mengatakan adanya pria idaman lain bisa membuat proses perceraiannya menjadi lebih cepat sehingga semakin cepat pula Velan mendapatkan uang pesangonnya. Toh untuk apa tetap terlihat bersama dalam sebuah pernikahan yang tak diinginkan. Lebih cepat mereka bercerai, lebih baik juga untuk mereka berdua. Itulah yang menjadi motivasi bagi Velan untuk menghadirkan sosok pria idaman lain dalam hidupnya.


Sosok pria idaman lain yang diciptakan oleh Velan untuk menjadi sosok yang melampaui Voren. Masalahnya pria seperti apa yang dapat melampaui Voren kecuali hanya ada dalam angan-angan Velan saja.


Voren yang memiliki ketampanan di atas rata-rata. Pria dengan penampilan dan kehidupan mewah yang begitu didambakan oleh semua orang. Mana ada pria yang bisa dibandingkan dengan Voren.


Di mana Velan bisa menemukan sosok pria idaman lain yang masih dalam bentuk draf kehaluan hakiki?


Pertanyaan lainnya yang muncul yakni bagaimana caranya Velan menghadirkan sosok pria idaman lain itu agar si pria bisa mengaku sebagai kekasihnya?


"Velan! Kau tidak pulang?" tanya seseorang membuyarkan lamunan Velan.


"Oh, Mbak Wulan, sudah mau pulang?" tanya Velan ke arah Wulan, pegawai yang bekerja di kios konter pulsa samping kios Velan.


"Iya, hari ini tutup lebih cepat saja! Lihat, langit seakan sudah mau runtuh! Takut kalau hujan deras nanti banjir lagi," sahut Wulan.


"Oh benar juga ya, Mbak," kata Velan.


"Ya sudah, duluan ya," Wulan berpamitan.


"Iya Mbak, hati-hati di jalan," sahut Velan.


Velan kembali termenung sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup kiosnya dan pulang lebih awal. Apalagi sekarang sedang akhir pekan, jalan pasti ramai dan sebaiknya Velan cepat pulang.


...~...


Hujan mendadak turun, Velan segera menepikan sepeda motornya di tepi jalan untuk memakai mantel hujan.


"Permisi," suara seorang pria menyapa Velan.


Velan yang sedang memasang mantel hujannya mengalihkan pandangannya ke seorang pria yang terlihat tergesa-gesa.


"Apakah saya bisa menumpang hingga ke Hotel J yang ada di depan sana? Ban mobil saya kempes, saya butuh tumpangan," kata pria itu.


Velan mengamati pria tampan itu dan seketika ia teringat siapa pria itu. Pria itu adalah pria panggilan yang tempo hari ditemuinya untuk melakukan sesi konsultasi.


"Saya sungguh terburu-buru, apakah bisa?" tanya pria itu terlihat panik.


"Oh i-iya, boleh," sahut Velan.

__ADS_1


Velan segera melajukan sepeda motornya menembus hujan, membonceng seorang pria asing yang Velan pikir tak mungkin ditemuinya lagi.


Velan terkejut saat melihat genangan air yang mulai memenuhi jalan. Rupanya banjir mulai merayap naik. Menerobos banjir yang belum terlalu tinggi tentu lebih mudah, selama air belum sampai menyentuh knalpot sepeda motor, tentu saja bukan masalah besar.


Hotel J mulai terlihat, Velan menghentikan sepeda motornya di depan lobi. Pria itu segera turun dari sepeda motor Velan karena ponselnya berdering.


"Sebentar ya," pesan pria itu ke arah Velan sebelum menjawab teleponnya.


"Iya, halo, saya sudah di Hotel J," kata pria itu.


"Oh, begitu, baiklah, saya mengerti, terima kasih," kata pria itu sebelum menutup teleponnya.


Pria itu menghela napas berat seakan sedang menyesali sesuatu, lalu ia mengarahkan pandangannya pada Velan.


"Mbak, terima kasih ya sudah mengantar saya," kata pria itu sambil tersenyum ramah.


Pria itu merogoh saku bagian dalam jasnya, lalu memeriksa saku celananya.


"Ya ampun, dompet saya tertinggal," kata pria itu sambil tersenyum kikuk.


"Oh, tidak apa-apa, Tuan, toh kita searah," kata Velan.


"Saya sungguh tidak enak," pria itu menatap ke arah Velan dan tiba-tiba menyadari sesuatu.


"Hehe, sungguh kebetulan bertemu dengan Anda," Velan menyeringai.


Pria itu tersenyum, ia sungguh tak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita yang tempo hari berkonsultasi dengannya.


"Nona, bagaimana jika saya traktir Anda minum sebagai bentuk rasa terima kasih saya?" tanya pria itu ramah.


...~...


"Daren, pokoknya hari ini kau harus bertemu dengan rekan kencan butamu!"


Daren menguap sambil mendengarkan suara ibunya di telepon. Ia baru saja terbangun dari sesi tidur siangnya lantaran mendengar ponsel berbunyi berkali-kali.


"Iya, Bu," jawab Daren dengan suara yang parau.


"Jangan sampai kau melewatkan kencan buta seperti tempo hari! Sudah susah payah Ibu mengaturkan waktu agar kau dan rekan kencan butamu bertemu!" kata Darla, ibu Daren.


"Iya, Bu," jawab Daren lagi.


"Daren, kau baru bangun tidur ya?" tanya Darla.


"Iya, Bu," sahut Daren.

__ADS_1


"Daren, bagaimana kau ini bisa dapat jodoh kalau kau kerjanya hanya tidur-tiduran seperti ini saat akhir pekan?!" cecar Darla.


Daren tersenyum kecut, bukankah justru Ibu yang tidak mengizinkanku cari jodoh sendiri?


"Ibu tidak mau tahu, segeralah pergi menemui rekan kencan butamu! Jangan sampai kau tidak datang, Daren! Jangan permalukan Ibu!" kata Darla dengan nada penuh ancaman.


"Baik Bu, aku mengerti," sahut Daren.


"Baiklah, sebentar Ibu kirimkan nomor telepon wanita ini! Ingat ya, Daren!" kata Darla.


"Iya Bu," kata Daren sebelum menutup teleponnya.


Daren melihat jam di ponsel, masih ada waktu dua jam lagi sebelum pergi ke acara kencan buta yang lagi-lagi diaturkan oleh sang ibu. Daren memeluk guling sebelum akhirnya ia kembali terlelap melanjutkan sesi tidur siangnya.


...~...


Daren terkejut saat melihat jam di ponsel. Ia benar-benar ketiduran dan jelas terlambat dari waktu yang telah dijanjikan.


Bisa ditebak, ibunya meneleponnya puluhan kali. Daren sampai tak berani menjawab telepon ibunya yang sudah pasti akan mengomel padanya.


Setelah begitu terburu-buru karena waktu yang begitu memburu, Daren pun bersiap-siap untuk pergi ke Hotel J.


Ponsel Daren bergetar, sebuah pesan muncul di layar.


Jika dalam lima menit Anda tidak datang, saya akan pergi.


Daren menghela napas berat membaca pesan dari rekan kencan butanya. Daren pun segera tancap gas dengan rasa bersalah.


Di tengah jalan, mendadak ban mobilnya kempes. Belum lagi hujan yang mulai mengguyur dengan cukup deras.


Melihat ada sepeda motor yang menepi, Daren pun langsung menghampiri pengendara itu. Daripada mencari ojek daring yang jelas harus membuatnya kembali menunggu, lebih baik meminta pertolongan karena saat ini ia sedang terburu-buru.


Sesampainya di Hotel J, ponselnya berdering. Rekan kencan butanya menelepon.


"Maaf, saya pergi karena sudah lelah menunggu hampir dua jam," kata rekan kencan buta Daren.


Daren kembali menghela napas. Ia benar-benar merasa seperti orang bodoh. Sudah bela-belain hujan-hujanan, wanita itu malah pergi.


Yah sudahlah, batin Daren.


Daren mengalihkan pandangannya kepada pengemudi sepeda motor yang masih menunggunya karena Daren belum mengucapkan terima kasih secara layak.


Setidaknya Daren harus memberikan upah karena pengemudi itu sudah membawa Daren dengan selamat ke tempat tujuan.


...~...

__ADS_1


__ADS_2