
"Voren, apa-apaan kau ini?! Kau sebut ini rapor?!"
Voren hanya diam menunduk saat Ayahnya melemparkan hasil rapor ke wajah Voren.
Alren Lazaro, dengan matanya yang berkilat-kilat begitu marah kepada anak laki-lakinya. Setiap akhir semester, saat menerima hasil rapor anak-anaknya, Alren selalu melakukan evaluasi.
Vega hanya bisa menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, sementara Renata dan Renava saling berangkulan.
Lagi-lagi adik mereka membuat masalah dengan nilai rapornya. Mereka jelas akan ikut mendapat hukuman lagi. Begitulah, ayah mereka memang tidak mengawasi mereka, karena biasanya hasil rapor mereka lah yang berbicara.
"Voren, apa kau benar-benar belajar dengan baik dan benar?!" tanya Alren.
Voren masih tetap menunduk, ia sungguh tak berani melihat wajah ayahnya yang benar-benar marah karena melihat hasil rapornya.
"Voren, sekolahmu saja sudah kacau seperti ini! Bagaimana saat ke depannya nanti, saat kau memasuki dunia pekerjaan yang jelas lebih menuntut kemampuan terbaikmu!" Alren masih mencecar Voren.
Alren mengusap wajahnya dengan gusar. Ia benar-benar kecewa pada anak laki-lakinya yang tidak bisa memenuhi ekspektasinya.
"Vega, bagaimana caramu mendidik anakmu? Apa saja yang kau lakukan sampai anakmu begitu payah seperti ini?!" Alren melayangkan pertanyaan pada Vega.
"Alren Suamiku, aku sungguh minta maaf, tapi Voren sudah melakukan yang terbaik," kata Vega sambil bercucuran air mata.
"Melakukan yang terbaik?! Aku bahkan sudah menerima laporan dari pihak sekolah, bahwa anakmu ini benar-benar membuat banyak masalah dan kau berkomplot menutupinya!" kata Alren meluapkan emosinya kepada Vega.
Voren benar-benar hanya bisa menunduk, rasa bersalah jelas menyergapnya lantaran karena ulahnya, ibunya harus ikut terkena cecaran amarah ayahnya.
Alren mendekat ke arah Voren, memegangi bahu Voren, menatap Voren masih dengan tatapan mata yang berkilat-kilat.
"Bagaimana bisa kau tinggal kelas, Voren?! Bagaimana bisa anak dari Alren Lazaro harus tinggal kelas saat sudah kelas dua SMA?!" Alren mengguncang bahu Voren dengan keras lalu mendorong Voren dengan keras.
"Apa kau tahu, aku malu sekali, saat pihak sekolah menyampaikan laporan padaku! Mereka seakan menyindir bahwa aku adalah pria yang hanya mementingkan pekerjaan hingga menelantarkan keluarga!" cecar Alren.
"Aku bekerja keras untuk kalian semua! Aku bekerja keras agar kalian semua bisa hidup secara layak! Namun inikah balasan yang kalian berikan padaku?!" Alren masih terus mencecar anggota keluarganya.
"Papa, maaf," kata Voren.
"Maaf?! Hanya itu yang bisa kau katakan?!" tanya Alren.
"Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, Papa! Tapi, mau bagaimana lagi...," kata Voren.
"Melakukan yang terbaik dengan mempermalukan dirimu?!" tanya Alren.
"Tapi aku sudah berusaha, Papa!" kata Voren.
"Voren, sudah sayang," Vega menyela.
Vega berharap Voren tidak perlu bicara lagi, daripada Alren semakin marah.
"Suamiku, aku sungguh minta maaf, aku akan memperbaiki kesalahan ini, aku minta maaf," kata Vega sambil merangkul Voren.
"Voren, ayo kita pergi," ajak Vega.
Vega dan Voren segera keluar dari ruang kerja Alren. Renata dan Renava pun ikut bergegas pergi.
__ADS_1
"Voren, kau benar-benar harus bertanggung jawab! Papa pasti akan memblokir kartu kredit kami gara-gara ulahmu!" kata Renata.
"'Bagaimana kau bisa sebodoh itu sampai tinggal kelas? Kau itu sudah SMA, Voren, bukan anak SD!" cibir Renava.
"Renata, Renava, kalian bisa minta apa pun pada Tante," kata Vega sambil mengulas senyumnya.
"Huuh!" dengus kedua gadis itu segera meninggalkan Voren dan Vega.
"Mama," Voren memeluk Vega dengan erat. "Mama, aku mau pindah sekolah saja!"
"Kenapa kau mau pindah sekolah, Voren?" tanya Vega.
"Aku tidak mau satu sekolah dengan Daren! Semua orang benar-benar selalu membandingkanku dengan Daren! Daren begitu pintar dan berprestasi, kenapa sepupunya begitu bodoh dan berfrustasi?! Mereka semuanya mengejekku begitu, Mama," jawab Voren.
"Aku bahkan selalu berusaha belajar dengan keras, standar sekolah itu saja yang terlalu tinggi dan aku tidak bisa mengikutinya dengan baik!" kata Voren lagi.
Vega mengelus punggung Voren. Entah mengapa ia merasa bersalah karena sudah memasukkan Voren ke sekolah khusus yang standarnya begitu tinggi.
"Voren, Mama memintamu untuk masuk ke sekolah khusus agar sesuai dengan standar kehidupan sosial kita," kata Vega.
"Kelas sosial yang sama dan setara tidak akan menimbulkan kesenjangan!" kata Vega.
Voren tentu saja merasa tidak betah berada di sekolah tersebut. Ia merasa hari-harinya bagaikan di neraka. Tidak ada yang peduli atau pun memedulikannya selama di sekolah.
Terlebih semua orang di sekolah itu kerap membandingkannya dengan Daren yang begitu sempurna.
Ya, Daren yang begitu dipuja karena dia tampan, cerdas, dan berbakat.
...~...
"Voren! Apa benar kau dan Daren masih punya hubungan keluarga?" tanya Pak Ian, wali kelas Voren.
Pak Ian memanggil Voren ke ruang guru untuk mendiskusikan nilai-nilai pelajaran Voren yang hancur lebur.
"Sayangnya begitu, Pak," jawab Voren sambil menunduk.
"Voren, kalau nilaimu begini terus, kau benar-benar akan tinggal kelas!" kata Pak Ian. "Coba kau belajar bersama Daren!"
Voren mendelik gusar, ia bahkan punya banyak guru privat yang jelas jauh lebih pintar dari Daren.
"Pak Ian, terima kasih atas nasehat Anda, saya akan belajar lebih keras lagi," kata Voren.
"Voren, jangan hanya belajar lebih keras, tapi benar-benar harus ekstra keras," kata Pak Ian. "Dengan nilai-nilaimu ini, mustahil kau bisa diterima di perguruan tinggi kelas satu! Terlebih ayahmu bahkan meminta agar kau bisa masuk ke universitas di luar negeri!" kata Pak Ian.
Pak Ian buru-buru menutup mulutnya, ia benar-benar keceplosan karena sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu dikatakannya. Namun apa salahnya? Semua ini demi memenuhi permintaan dari Tuan Alren Lazaro yang saat ini berperan sebagai salah satu donatur terbesar di sekolah.
...~...
"Wah, Daren, kau mendapat nilai sempurna lagi di ujian kali ini," puji teman-teman sekelas Daren yang pagi itu mengelilingi meja Daren.
"Terima kasih," kata Daren.
"Gara-gara anak itu, nilai rata-rata kelas kita jadi kalah dengan kelas sebelah," keluh Janet, sambil melayangkan pandangan sinis ke arah Voren yang duduk di bangku paling belakang di sudut kelas.
__ADS_1
"Teman-teman, kita hanya kurang berusaha lebih keras lagi," kata Daren.
"Daren, kau jangan membela Voren, mentang-mentang dia keluargamu!" kata Janet sengaja memperkeras suaranya.
"Kalau aku ya, tidak akan mengakui anak bodoh seperti dia sebagai keluargaku!" Tony menyahut.
"Hei, Voren masih tetap bertahan di sekolah ini kan, karena keluarganya menjadi salah satu donatur terbesar di sekolah ini!" kata Janet seraya tertawa.
"Teman-teman, sudah, hentikan," kata Daren.
Voren beranjak dari kursinya, ia melangkah melewati tatapan sinis yang dilemparkan Janet dan Tony.
"Huhu, dasar pecundang," kata Janet seraya tertawa.
Voren hanya mengulas senyum dan bergegas keluar dari kelas, namun tiba-tiba seseorang menyandung kakinya.
Bruk...! Voren jatuh terjerembab ke lantai diiringi tawa dari teman-teman sekelasnya.
Voren segera bangkit dan melangkah seakan tidak terjadi apa-apa. Ia menuju ke toilet dan masuk ke dalam bilik toilet.
Mama, aku mau pindah sekolah saja, Voren meneteskan air mata lantaran menahan rasa kesalnya.
...~...
"Jadi begitulah, Paman, aku rasa aku tidak sanggup menjalani kehidupanku di sekolah yang sama dengan Daren!" Voren berkeluh kesah kepada pamannya.
Paman Voren bernama Renal Lazaro, pria itu tersenyum ke arah keponakannya yang telah beranjak remaja.
Bagi Voren, hanya pamannya ini saja yang bisa ia ajak untuk berkeluh kesah jika kebetulan pamannya ada di rumah. Paman Renal jelas sangat berbeda dengan papanya yang begitu kaku dan menakutkan.
"Voren, memang kesal rasanya jika harus dibanding-bandingkan! Paman sangat mengerti karena paman pun dulu kerap dibanding-bandingkan dengan papamu!" kata Renal.
"Hingga akhirnya Paman menyadari, bahwa menerima diri kita sendiri jauh lebih penting karena kebahagiaan kita jauh lebih penting! Semua hal yang kau lihat belum tentu sama dengan yang kau pikirkan!" kata Renal.
"'Sebagai contoh, papamu harus berjuang lebih keras daripada siapa pun, karena label bahwa beliau lebih segalanya dari Paman! Papamu punya tanggung jawab yang sangatlah besar!"
"Paman sih terima saja, toh Paman sadar, Paman lebih bahagia dengan keadaan Paman yang seperti ini! Paman bisa bebas melakukan yang Paman inginkan! Meraih apa yang ingin Paman raih tanpa harus membebani dan terbebani oleh apa pun!" lanjut Renal.
"Wah, Paman keren sekali, aku ingin menjadi seperti Paman!" kata Voren.
"Voren, kau tidak perlu menjadi seperti Paman, menjadi dirimu sendiri jelas yang terbaik!" kata Renal.
Renal sangat paham mengapa Alren begitu keras kepada Voren lantaran Voren adalah penerus yang harus memenuhi ekspektasi Alren, seperti saat ayahnya begitu berharap pada Alren.
"Oh ya Voren, itu game konsol yang kau minta," kata Renal menunjuk sebuah kotak yang berada di dekat kopernya.
Renal yang baru pulang dari Amerika membawakan Voren sebuah game konsol yang sedang naik daun di Amerika.
"Wah, Paman hebat sekali bisa mendapatkan game konsol ini! Di negara ini belum rilis loh!" seru Voren antusias.
"Paman, kita mainkan sama-sama ya!" ajak Voren.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, nanti kalau papamu tahu, dia akan marah karena kau bukannya belajar malah bermain-main," kata Renal.
__ADS_1
"Ya, makanya papaku jangan sampai tahu, Paman!" Voren menyeringai.
...~...