
Velan sungguh merasa berbunga-bunga. Entah mengapa ia merasa begitu beruntung. Ia sudah menerima lamaran dari wanita yang akan menjadi ibu mertuanya. Wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik. Orangnya baik dan lembut, sungguh berbeda dengan imej ibu mertua kaya raya jahat yang biasa menentang pernikahan anaknya ketika sang anak menikah dengan wanita yang tidak berada di level yang sama.
Velan mematut dirinya di depan cermin yang ada di depan pintu lemari pakaiannya. Menatap pantulan dirinya, Velan masih belum bisa percaya bahwa gadis sepertinya yang sama sekali tidak menarik ini akan menjadi istri dari orang kaya. Jika mengingat kriteria yang dimintanya pada Madam Yue, jelas pria ini pasti sudah sesuai dengan keinginan Velan. Sehingga Velan tak perlu merasa ragu. Terlebih ia juga sudah mendapat dukungan penuh dari Vega yang notabene adalah calon ibu mertuanya.
Velan segera membuka lemari pakaiannya, berusaha menemukan pakaian yang layak untuk dipakai dalam rangka untuk pergi bersama Vega. Ia dan Vega sudah berdiskusi mengenai pernikahan dadakan antara Velan dengan calon suaminya yang nampak masih begitu misterius.
"Direktur Emperor Grup," Velan mencoba mencari informasi mengenai calon suaminya itu di mesin pencarian dunia maya.
Sama sekali tidak ada informasi mengenai pria tersebut.
Apakah mungkin Vega berbohong?
Velan menepis semua keraguannya. Vega datang melamarnya saja sudah menjadi sebuah hal luar biasa yang ada dalam hidupnya. Seperti konsep ta'aruf, itulah yang saat ini diyakini oleh Velan mengenai perjodohan yang dilakukannya dengan sosok pria misterius yang dikirimkan oleh Madam Yue untuknya.
Velan segera memakai pakaian terbaik yang ia miliki. Kemeja flanel berwarna merah hitam dengan celana denim. Sungguh Velan tidak memiliki pakaian sebangsa gaun karena ia tidak pernah membeli pakaian seperti itu. Lebih baik ia menggunakan uangnya untuk membeli keperluan dapur.
Ia segera keluar dari kamar dan mendapati keempat kakaknya menyambutnya dengan senang sambil menyodorkan satu plastik es krim rasa stroberi yang menjadi rasa es krim kesukaan Velan.
"Selamat untuk calon pengantin kita!" seru keempat kakak laki-laki Velan.
"Aih, senangnya Velan, akan segera menikah!" Yoyok terlihat begitu senang.
"Wah, Velan, kau akan jadi istri orang kaya!" seru Tomi.
"Doa orang teraniaya memang cepat dikabulkan Tuhan, ya!" kata Toro seraya terkekeh.
Velan memutar bola matanya. Ia tak tahu harus bereaksi senang ataukah kesal pada kelakuan kakak-kakaknya ini. Namun saat ini hal tersebut tidak penting karena masalah yang dihadapinya saat ini sudah menemukan titik terang.
"Tak sia-sia ya, Vels, aku mendoakanmu setiap detik agar kau mendapatkan suami kaya raya yang akan membantu kita semua terbebas dari masalah!" seru Taki.
"Iya, ya, aku akan menikah dengan orang kaya dan akan melunasi semua hutang-hutang akibat ulah kalian!" sahut Velan.
"Horee!" seru mereka semua sambil berpelukan seperti Teletubbies.
"Istri orang kaya! Istri orang kaya!" seru mereka kegirangan.
Mereka masih tetap berangkulan sambil berputar-putar dan melompat-lompat meluapkan rasa senang mereka.
__ADS_1
"Hore!" seru keempat pria itu langsung mengangkat dan melempar Velan ke udara lalu kembali menangkap Velan.
"Kakak! Kalian mau membunuhku! Hah!" pekik Velan dengan jantung yang begitu bergemuruh saat mendarat kembali ke lantai.
"Hehe, kami hanya terlalu senang, Velan!" sahut Tomi.
Keriuhan mereka terhenti tatkala mendengar pintu yang diketuk dari luar. Yoyok segera berlari ke arah pintu depan, membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Selamat siang, semuanya," sapa Vega yang datang bersama rombongannya.
Rombongan Vega terlihat datang membawakan banyak makanan.
"Bu Vega," sapa Yoyok.
"Saya datang membawa sedikit makanan, bisa tolong diterima?" tanya Vega.
"Oh, tentu saja, Bu," sahut Yoyok. "Silakan masuk, langsung letakkan saja di meja makan," kata Yoyok mempersilakan rombongan Vega masuk ke rumahnya.
"Bu Vega, mari masuk," ajak Yoyok. "Velan! Bu Vega sudah datang!" seru Yoyok.
Yoyok segera mengambil tangan Vega dan mengecup punggung tangan Vega yang akan menjadi ibu mertua adiknya.
Vega tersenyum senang, calon menantunya ini sungguh wanita yang sopan. Ketiga kakak Velan yang lain juga melakukan hal yang sama, tentunya untuk menunjukkan sikap sopan dan hormat kepada calon ibu mertua adiknya.
"Makanannya dihabiskan ya, itu saya sendiri yang masak," kata Vega.
"Oh wah, terima kasih banyak, Bu," sahut mereka semua.
"Ibu, maaf merepotkan," kata Velan.
"Sungguh tidak masalah," sahut Vega.
Terlihat raut-raut wajah bahagia yang terpancar jelas dari wajah Velan dan saudara-saudaranya.
"Ayo Velan, kita harus pergi untuk mempersiapkan semua yang dibutuhkan dalam pernikahanmu," kata Vega.
"Baik, Bu," jawab Velan.
__ADS_1
Velan segera pergi mengikuti Vega, menuju ke arah mobil mewah yang parkir di depan rumah mereka. Velan segera menyusul Vega untuk masuk ke dalam mobil. Iring-iringan mobil mewah itu bergerak meninggalkan rumah Velan.
Terlihat para tetangga yang begitu heboh lantaran melihat rombongan mobil mewah yang memenuhi jalan di depan rumah mereka.
"Tamu yang datang ke rumah Pak Totok itu siapa, ya?" tanya mereka.
"Jangan-jangan gengster!" sahut yang lain.
"Kasihan sekali Pak Totok, punya anak banyak tapi tidak beres semua!" sambung yang lain.
"Pantas saja Pak Totok stroke begitu!" tetangga lain menimpali.
...~...
Seorang pengawal segera membukakan pintu untuk Vega dan Velan, mereka memasuki sebuah butik yang menyediakan gaun pengantin. Velan sungguh terpesona saat memasuki galeri yang memajang puluhan gaun pengantin yang mayoritas berwarna putih.
Terlihat pramuniaga butik segera menyambut kedatangan mereka.
"Velan, harusnya kau membuat gaun pengantinmu, hanya saja karena terbatasnya waktu, kita beli yang sudah jadi saja, silakan pilih mana yang kau suka," kata Vega.
"Bu, saya sungguh tidak tahu," kata Velan terperangah.
Vega tersenyum, ia sungguh maklum karena ini adalah pernikahan pertama Velan. Ia sungguh ingin calon menantunya ini terlihat istimewa di hari bahagianya.
"Mbak, tolong carikan gaun pengantin yang cocok untuknya," kata Vega.
"Baik, Bu," jawab dua pramuniaga itu serempak.
"Mari ikuti kami, Nona," kata mereka mengajak Velan untuk masuk ke ruangan lain.
Vega masih tersenyum, ia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi anaknya yang selalu sibuk.
Vega hanya memiliki satu anak laki-laki yang tinggal terpisah darinya. Anak laki-lakinya itu begitu sibuk hingga Vega sendiri sulit untuk menghubunginya.
"Kenapa tidak diangkat juga?" keluh Vega.
Vega sendiri sebenarnya belum mengatakan perihal perjodohan yang dilakukannya ini. Namun ia sudah yakin dengan pasti bahwa anaknya ini tidak akan bisa menghindar lagi.
__ADS_1
Vega juga sudah mulai menghubungi wedding organizer yang bisa mengaturkan pernikahan dadakan yang harus diselenggarakan dalam tiga hari ke depan.
...~...