
Suasana penuh ketegangan jelas tercipta antara Daren, Darla, Vega, dan wanita bernama Sonya yang akan menjadi tunangan Daren.
Daren menghela napas berat melihat ibunya melotot seakan wanita paruh baya itu menelan biji kedondong. Vega mengulas senyum sinis, membuat kedua wanita paruh baya itu bagai saling menabuh genderang perang.
"Ibu, aku bisa jelaskan ini semua," kata Daren berusaha menyela.
"Daren, aku tidak memintamu menjelaskan apa pun padaku, aku butuh penjelasan dari Vega!" sergah Darla.
Vega melayangkan tatapan sinis ke arah Darla yang terlihat jelas tengah terbakar kemarahan dari kilatan mata kucingnya.
"Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa Daren harus mengakhiri hubungannya dengan istri Voren?! Hubungan apa yang kau maksudkan itu, Vega?!" sergah Darla.
Vega kembali mengulas senyum, rupanya Darla memang tidak mengetahui apa pun tentang kehidupan pribadi Daren.
Cih, orang tua macam apa kau Darla? Batin Vega.
Darla bisa membaca bahwa saat ini Vega tengah mengejeknya tanpa kata-kata. Vega jelas telah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Darla, sesuatu yang disembunyikan oleh Daren darinya.
"Ibu, sungguh aku bisa menjelaskan semua ini," kata Daren mencoba menenangkan ibunya.
"Daren! Aku tidak sedang berbicara denganmu!" hardik Darla.
Hardikan Darla membuat Daren terkesiap, pria itu kemudian hanya bisa terdiam. Sonya, wanita yang dibawa Darla pun nampak menciut, melihat betapa tegas dan kerasnya calon ibu mertuanya itu.
"Darla, sejujurnya secara pribadi aku bukanlah orang tua yang suka mencampuri urusan anak, terlebih anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Mereka jelas sudah paham mengenai arti kehidupan. Hanya saja, aku merasa bahwa apa yang telah dilakukan oleh Daren jelas sudah melanggar kaidah dan norma sosial yang berlaku," Vega mulai berbicara dengan ketenangannya yang luar biasa.
Darla melayangkan tatapannya ke arah Daren yang nampak memasang ekspresi datar.
"Vega, bagaimana bisa kau mengatakan bahwa Daren sudah melanggar kaidah dan norma sosial yang berlaku?! Bagaimana kau bisa menuduh Daren seperti itu?!" tandas Darla.
"Darla! Aku tidak menuduh Daren, masalahnya Daren memang telah melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukannya! Bagaimana bisa seorang pria lajang sepertinya menginginkan istri Voren?! Hingga mengancam keutuhan rumah tangga Voren sebagai orang ketiga dalam pernikahan mereka!" cecar Vega ke arah Darla.
__ADS_1
Darla terkesiap, wanita paruh baya itu seakan kehilangan kata-katanya. Darla melayangkan pandangan kepada Daren yang memilih menunduk, sementara wanita bernama Sonya terlihat mematung.
Ia sungguh tidak percaya apa yang didengarnya. Pria yang akan menjadi tunangannya, pria tampan yang akan menikahinya, ternyata sedang menjalin hubungan dengan istri orang.
"Vega! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?! Kau jangan asal tuduh! Daren tidak mungkin menginginkan istri Voren! Daren tidak mungkin punya hubungan seperti itu dengan istri Voren!" sergah Darla.
"Darla, aku tidak mungkin akan turun tangan seperti ini jika memang Daren dan menantuku tidak membina hubungan spesial di belakang anakku," kata Vega masih dengan ketenangannya.
Darla benar-benar merasa darahnya begitu mendidih, karena bagi Darla, Vega jelas sedang memprovokasinya dengan berita hoaks.
"Darla, Daren, aku hanya ingin menyampaikan apa yang harus kusampaikan. Sungguh, aku hanya tidak ingin hubungan kekeluargaan yang selama ini terjalin dengan baik justru rusak gara-gara masalah percintaan anak-anak muda," Vega kembali mengulas senyum.
"Omong kosong kau, Vega!" raung Darla penuh emosi.
Vega beranjak dari kursi, mengambil tas tangannya, lalu menatap bergantian ke arah Daren dan Darla.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, silakan kalian mendiskusikan masalah ini bersama dengan pikiran terbuka," kata Vega. "Daren, pria sejati adalah pria yang beretika, tidak selamanya merebut sesuatu yang masih dimiliki oleh orang lain itu baik," lanjut Vega sebelum wanita paruh baya itu meninggalkan restoran.
Di restoran itu kini tersisa Daren, Darla, dan Sonya yang saling terdiam seribu bahasa.
Wanita cantik itu sungguh memilih untuk pergi meninggalkan Daren dan Darla. Sonya merasa sangat kecewa menghadapi sebuah kenyataan yang benar-benar menyesakkannya. Pria yang akan bertunangan dengannya ternyata mencintai wanita lain, dan wanita itu ternyata masih berstatus sebagai istri orang yang tak lain adalah istri dari Voren Lazaro. Bagi Sonya, harga dirinya jelas sedang terinjak-injak.
Pantas saja berkali-kali saat Sonya menunggu kehadiran Daren, pria itu seakan enggan untuk bertemu dengannya. Dua kali Sonya harus merasa kecewa karena pria itu tidak menemuinya pada acara kencan buta yang sudah disiapkan. Betapa Sonya merasa sudah tampil total dan maksimal namun pasangan kencan butanya justru membatalkan acara pertemuan tersebut di menit-menit terakhir.
Sonya merasa punya harga diri yang patut dijaga. Untuk apa ia harus menunggu pria yang seakan tidak serius berhubungan dengannya. Menyaksikan kenyataan pahit seperti sekarang, membuat Sonya wajib berpikir ulang apakah akan melanjutkan pertunangan ini.
...~...
Darla duduk di kursi, kedua tangannya terlipat di depan dada. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menatap ke arah Daren dengan mata kucingnya yang begitu mengintimidasi.
Daren mengusap wajah berkali-kali dengan kedua telapak tangan. Saat ini dalam benaknya ada rasa kesal yang harus pandai-pandai ditutupinya dengan baik. Ia sudah mendapat pendidikan kepribadian, membuatnya harus pandai menyimpan perasaan agar musuh tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
Daren sungguh tak menyangka bahwa keputusannya untuk membantu seorang wanita asing yang memohon dengan sangat kepadanya untuk menjadi kekasih bohongan akan berujung menimbulkan masalah seperti ini.
"Daren! Bagi Ibu, kau adalah satu-satunya anak yang kumiliki! Sebagai orang tua, aku selalu memberikan yang terbaik dari yang terbaik saat membesarkan dan mendidikmu! Karena bagi Ibu, kau adalah anak Ibu yang sangat berharga! Sehingga Ibu berharap kau pun menghargai semua usaha Ibu!" Darla mulai mencecar Daren.
Daren hanya diam dan menunduk mendengarkan siraman rohani yang diberikan ibunya. Yah, lebih baik diam dan mendengarkan tanpa perlu ada sanggahan yang malah dapat memperkeruh keadaan.
"Tapi lihatlah apa yang sedang kau lakukan! Kau membuat semua usaha yang telah Ibu lakukan menjadi sangat sia-sia! Ibu bahkan sudah mengaturkan pertunanganmu dengan Sonya, putri dari Wier Trade yang akan membantumu mendapatkan posisi Presiden Direktur! Tapi kau justru malah terlibat hubungan terlarang dengan istri Voren!" Darla melanjutkan cecarannya.
"Daren, bukankah Ibu sudah mewanti-wantimu untuk tidak berhubungan dengan sembarang wanita?! Namun lihat, kau malah mengencani istri Voren?! Yang benar saja, Daren! Yang benar saja! Di mana otakmu?! Atau kau benar-benar tidak punya otak?!" teriak Darla meluapkan kemarahannya.
"Sudah cukup kau dan Voren bersaing ketat untuk memperebutkan kursi Presiden Direktur! Dan kau malah menambahkan masalah lain dengan mengencani istri Voren?! Yang benar saja, Daren!" teriak Darla.
"Ibu," kata Daren. "Aku akan menyelesaikan masalah ini."
"Menyelesaikan masalah ini?! Bagaimana caranya?! Bagaimana?! Ibu bahkan harus mencari dukungan dari dewan komisaris lain agar kau bisa mendapatkan posisi sebagai presiden direktur! Tapi nyatanya, skandal ini justru membuatmu benar-benarĀ akan kehilangan dukungan! Lihatlah ini!" teriak Darla sambil menunjukan layar gawai cerdasnya pada Daren.
Daren melihat pesan yang muncul di gawai cerdas Darla, terlihat jelas bahwa skandal yang ditimbulkan Daren telah menjadi topik utama di kalangan dewan komisaris dan para pemegang saham.
"Keluarga Wier memutuskan untuk membatalkan pertunanganmu dengan Sonya, dan lihatlah akibatnya, kau kehilangan dukunganmu! Kehilangan dukungan artinya apa?! Kau akan kehilangan kursi presiden direktur!" cecar Darla.
"Ibu," Daren menyela.
"Apa selama ini Ibu tidak percaya padaku? Apa Ibu tidak percaya pada kemampuan yang kumiliki untuk menjadi presiden direktur Emperor Grup?" tanya Daren.
"Daren! Hanya bermodal kemampuan saja tak akan cukup untuk menjadikanmu sebagai presiden direktur Emperor Grup!" tandas Darla.
Daren mengulas senyumnya, namun dalam hati ia jelas begitu kecewa. Itu berarti selama ini ibunya tidak pernah menghargai semua usaha keras yang telah dilakukan Daren.
"Daren, kau mau ke mana?! Pembicaraan kita belum selesai!" sergah Darla ke arah Daren yang beranjak dari kursinya.
"Ibu, aku masih harus kembali bekerja," jawab Daren.
__ADS_1
Daren menundukkan kepalanya dan segera melangkah pergi meninggalkan Darla.
...~...