Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bonus Ch 04


__ADS_3

Velan sudah berbaring di tempat tidur yang disekat dengan tirai berwarna hijau. Perawat segera memeriksa tekanan darah dan suhu badan Velan menggunakan termometer digital yang diapit di antara ketiaknya.


"Tekanan darah Anda rendah sekali, memang biasa rendah seperti ini ya, Bu?" kata si perawat usai memeriksa tekanan darah Velan.


Velan merasa mulutnya terkunci, yang bisa ia keluarkan hanyalah huek-huek semata.


"Ibu, hamil anak pertama ya?" tanya si perawat.


"Ehm, iya," jawab Velan.


"Suaminya di mana, Bu? Kenapa Ibu sendiri saja?" tanya perawat itu.


Velan terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menjawab tidak tahu suaminya ada di mana. Orang lain pasti akan berpikir buruk tentang Velan yang mengandung tanpa ada suami.


"Oh, suami Ibu pasti sibuk ya, makanya Ibu sendiri saja," lanjut si perawat.


"Tunggu sebentar, dokter akan memeriksa Anda," perawat itu menutup tirai untuk memberi privasi pada Velan.


Velan masih menjejalkan minyak angin aromaterapi ke hidungnya yang kiranya bisa mengatasi morning sickness yang terlalu berlebihan.


Sementara itu Lita masih sibuk di meja administrasi untuk mengurus administrasi Velan. Lita jelas begitu terburu-buru karena mencemaskan kedua anaknya yang masih berada di luar ruangan UGD. Semoga kedua anaknya menuruti perkataannya, itulah yang ada dalam benak Lita.


"Mama!" seru Alika.


"Alika?"


Lita terkejut melihat kedua anaknya menghampirinya bersama dua pria asing. Alika melompat turun dari pangkuan seorang pria yang duduk di kursi roda. Bocah itu segera memeluknya erat, sementara mata Lita tertuju pada Aliza yang saat ini sedang bergelayut manja dengan pria asing berpenampilan cukup nyentrik. Pria itu begitu tampan, ditambah rambut ungunya jelas membuat semua mata langsung tertuju padanya.


Lita segera sadar bahwa anak bungsunya sedang melakukan hal yang kurang sopan dengan mengacak-acak rambut pria itu.


"Alika, bukannya Mama minta kalian tunggu di luar? Aduh, Aliza, apa yang kau lakukan, Sayang? Kemari Sayang, kasihan Om-nya," Lita kelimpungan melihat kedua anaknya.


"Mama, anak ayam," oceh Aliza kegirangan.


"Aliza, itu Om bukan anak ayam," Lita segera menarik Aliza ke pelukannya.


"Aduh, maafkan anak saya ya Pak, anak saya suka sekali anak ayam warna-warni," Lita meminta maaf kepada dua pria yang nampak memasang ekspresi kurang nyaman.


"Hmm, yah, saya bisa memaklumi, namanya juga anak-anak," pria berambut ungu itu mengulas senyum ramah.


"Aduh, saya benar-benar minta maaf sudah merepotkan kalian berdua," Lita kembali meminta maaf.


"Permisi Bu, anak-anaknya tidak boleh ikut masuk ya," seorang petugas keamanan menegur Lita.


"Maaf Pak, sebentar saya antar anak-anak saya keluar," tukas Lita.


"Permisi ya, Bapak-bapak," Lita berpamitan kepada dua pria asing itu.


Lita segera keluar dari ruangan UGD bersama Alika dan Aliza.


"Alika, Aliza, tadi Mama sudah pesan, tunggu Mama di luar saja, kenapa kalian malah masuk bersama orang asing?" tanya Lita.

__ADS_1


"Maaf Mama, tadi Aliza langsung minta gendong sama Om rambut ungu itu," jawab Alika.


"Aduh Alika, Aliza, kalian tidak boleh sembarangan mengikuti orang yang tidak dikenal! Itu berbahaya, Sayang! Apa pun alasannya jangan pernah mengikuti ajakan dari orang yang tidak dikenal!" Lita memperingatkan anak-anaknya.


"Baik, Mama," sahut Alika.


...~...


Voren segera berbaring di tempat tidur, kepalanya benar-benar pusing dan ia begitu mual. Perawat segera memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Voren.


Perawat berjenis kelamin wanita itu tentu saja langsung begitu grogi menghadapi pasien berparas tampan dengan rambut ungu yang begitu nyentrik.


"Permisi, Anda ini selebriti ya?" tanya perawat itu.


"Bukan," jawab Voren singkat.


"Oh begitu, habisnya Anda terlihat seperti selebriti," perawat itu tersenyum sumringah.


Voren berusaha memejamkan mata, namun suara wanita berhuek-huek ria dari balik tirai hijau itu sungguh mengganggunya.


"Huek," Voren ikut-ikutan mual mendengar wanita itu berhuek-huek ria.


"Aduh, pasien di sebelah itu kenapa muntah-muntah begitu, Suster? Saya jadi ikutan mau muntah!" keluh Voren.


"Oh, di sebelah itu pasien korban lelaki," sahut si perawat seraya mengurai senyumnya.


"Pasien korban lelaki?" tanya Voren keheranan.


"Oh," sahut Voren dengan skeptis.


"Tunggu sebentar, dokter akan datang memeriksa Anda," si perawat berpamitan lalu menutup tirai hijau di hadapan Voren.


"Huek.. Huek..,"


Lagi-lagi suara itu membuat Voren ikut mual dan hendak memuntahkan isi perutnya lagi.


"Aduh, Doni lama sekali, dokternya lama sekali, ada apa dengan rumah sakit ini?!" rutuk Voren.


Huek.. Huek..,"


"Aduh, menyebalkan sekali ibu hamil di sebelah ini!" geram Voren.


"Sepertinya aku harus menegur wanita itu supaya jangan muntah-muntah di sini! Sungguh mengganggu!"


Voren beranjak dari tempat tidur lalu menyibak tirai di samping.


"Permisi, maaf, saya sungguh terganggu dengan huek-huek Anda!" tandas Voren.


Voren menatap sosok wanita yang terlihat memasukkan wajahnya ke dalam kantong plastik berwarna hitam dan begitu asyik memuntahkan isi perutnya ke dalam kantong plastik itu.


Voren tercengang saat wanita itu mengangkat wajahnya dan melayangkan pandangannya ke arah Voren.

__ADS_1


...~...


Velan mengerjapkan matanya yang berkabut lantaran dipenuhi dengan air mata. Ingusnya berlomba keluar bersamaan dengan air liurnya yang ikut keluar secara berlebihan.


Kantong plastik di tangannya nyaris lepas melihat sosok pria yang menyibak tirai di sampingnya. Sosok pria bertubuh tinggi, kulit seputih susu, dengan rambut ungu berwarna lembut yang begitu menyita perhatian.


Kenapa pria ini terlihat seperti pria yang dikenalnya?


Pria yang sudah meninggalkan oleh-oleh yang begitu menyiksa Velan baik secara lahir maupun batin itu kini berada di hadapan Velan.


"Huek..,"


Velan kembali memuntahkan isi perutnya, dadanya bergemuruh lantaran jantungnya meronta-ronta dengan keras. Ada rasa kesal, jengkel, marah, dan dongkol yang campur aduk menjadi satu, tidak bisa diluapkan oleh Velan lantaran kini ia masih terlalu sibuk menguras asam lambungnya.


"Velan!" Lita menyeruak tirai.


"Velan, aku mendapat informasi bahwa kau harus menjalani opname! Oleh sebab itu harus ada orang yang bisa menjagamu! Sebaiknya kau harus menghubungi mantan suamimu! Pria itu harus tahu mengenai kehamilanmu ini!" cerocos Lita.


"Li-Lita," Velan segera memotong cerocosan Lita.


"Velan, jangan keras kepala! Apa perlu aku yang menghubungi mantan suamimu? Pria itu harus tahu kehamilanmu, pria itu harus ikut bertanggung jawab, jangan cuma celap-celup lalu dibuang! Kau bukan kantong teh bundar!" Lita masih melanjutkan cerocosannya.


Pandangan Lita tertumbuk pada sosok pria berambut ungu yang saat ini terlihat mematung, memegangi tirai hijau yang disingkapnya.


"Eh, ada Om rambut ungu," Lita menyengir. "Maaf ya Om, istirahat Anda pasti terganggu, tapi mau bagaimana lagi, teman saya ini keras kepala sekali, susah dibilangin," Lita terkekeh.


"Nona Velan!"


Lita terkejut melihat seorang pria yang muncul di belakang pria berambut ungu itu. Pria itu mengenali Velan.


"Nona Velan, sungguh kebetulan kita bertemu di sini," tukas Doni. "Anda sedang sakit juga?" tanya Doni.


Velan menunduk, kembali memasukkan wajahnya ke dalam kantong plastik hitam berisi muntahannya.


"Kalian kenal Velan?" tanya Lita kepada dua pria di hadapannya.


"Ya, kami mengenal Nona Velan," jawab Doni.


"Apa kalian juga mengenal mantan suami Velan?" tanya Lita.


"Lita, please!" Velan memohon.


"Velan, jangan keras kepala begini!" sergah Lita.


Velan menunduk, ia tidak berani menyanggah Lita yang sudah ngotot seperti ini.


"Ya, aku mengenalnya," sahut Voren.


"Bisa minta tolong hubungi beliau? Saat ini temanku yang keras kepala ini enggan menghubungi mantan suaminya! Mantan suaminya harus tahu mengenai kehamilan Velan!" tukas Lita.


"Tuan Voren!" seruan Doni masih terdengar di telinga Voren sebelum semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


...~...


__ADS_2