Jodoh Instan

Jodoh Instan
Epilog - Putri Duyung


__ADS_3

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan bawah laut, hiduplah putri duyung yang hidup penuh dengan kedamaian. Suatu hari sebuah badai besar terjadi di permukaan laut dan menghantam kapal yang tengah berlayar membawa rombongan keluarga kerajaan.


Putri duyung yang sedang berenang melihat sesosok makhluk tanpa sirip, melayang, dan perlahan mulai tenggelam. Putri duyung menyadari bahwa makhluk tanpa sirip itu adalah sesosok manusia laki-laki berparas rupawan yang langsung membuat putri duyung jatuh cinta pada pandangan pertama.


Putri duyung pun membawa manusia itu ke permukaan laut, menyelamatkan pria itu dari kematian yang akan merenggutnya.


Putri duyung kemudian meninggalkan pria itu di daratan, ia pun kembali ke lautan. Cinta membuat putri duyung memikirkan cara untuk bisa hidup bersama pujaan hatinya. Putri duyung meminta bantuan kepada penyihir bawah laut terhebat yang konon kabarnya dapat mengabulkan apa pun.


"Kalau kau memang mencintai laki-laki itu, tentu kau harus menjadi manusia juga!" kata penyihir itu pada putri duyung.


"Apa yang bisa kulakukan agar menjadi manusia?" tanya putri duyung.


"Tentu kau harus mempunyai sepasang kaki," jawab penyihir itu.


"Bagaimana caraku agar mempunyai sepasang kaki?" tanya putri duyung.


"Aku bisa membantumu mendapatkan sepasang kaki, namun sebagai gantinya kau harus memberiku suara indahmu sebagai harga yang harus kau bayar," jawab penyihir itu.


Si penyihir memberikan sebuah botol kecil berisi ramuan yang harus diminum oleh putri duyung saat tiba di daratan. Putri duyung pun kehilangan suara indahnya karena penyihir itu mengambil suaranya dan menukarnya dengan ramuan ajaib tersebut.


"Bawalah belati ini untuk menyingkirkan siapa pun yang mengetahui identitas aslimu! Bangsa kita tidak boleh diketahui oleh manusia! Karena manusia adalah makhluk yang jahat dan serakah," penyihir itu berpesan pada putri duyung.


Putri duyung membawa ramuan dan belati yang ia selipkan di balik rambut panjangnya menuju ke daratan. Sesampainya di daratan, putri duyung langsung meminum ramuan itu. Rasa panas seakan melelehkan semua tulang putri duyung, berangsur-angsur sirip putri duyung berganti menjadi sepasang kaki yang indah.


Putri duyung begitu senang, keinginannya untuk menemui pria yang sudah membuatnya jatuh cinta semakin membesar. Putri duyung mencari pria itu hingga suatu hari ia mengetahui bahwa pria yang membuatnya jatuh cinta ternyata adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan.


Betapa hancur hati putri duyung saat mengetahui bahwa pangeran yang ia cintai ternyata akan menikah dengan wanita lain yang kabarnya telah menyelamatkan pangeran dari petaka badai.


Putri duyung tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia merasa sudah melakukan pengorbanan yang begitu besar demi cintanya. Putri duyung yang tak terima pria yang dicintainya akan menikah dengan wanita lain berniat untuk membunuh pangeran dengan belati yang terselip di belakang rambutnya.


Namun cinta putri duyung kepada pangeran amatlah besar, hingga tak sanggup untuk membunuh pangeran yang begitu ia cintai. Putri duyung pun kembali ke lautan, menceburkan dirinya ke dalam laut, menjadi buih dengan membawa semua cinta yang ia miliki untuk pangeran.


"Tamat," kata Velan sambil menutup buku dongeng kisah putri duyung yang dibacanya.


Dua gadis cilik itu menatap Velan yang menyeka air matanya.


"Kenapa kalian membawa buku dongeng menyedihkan seperti ini?" tanya Velan.


"Alika tidak tahu, Tante, habisnya gambarnya putri yang cantik sekali," jawab Alika.


"Ikan cantik," jawab Aliza.


"Ada Cinderella dan Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang ceritanya berakhir bahagia!" kata Velan.


Alika dan Aliza menggeleng cepat.


"Alika suka ikan!" jawab Alika.


"Suka ikan!" Aliza menimpali.


Velan mengulas senyumnya, anak-anak Lita begitu menyukai ikan, membuatnya jadi teringat akan Voren yang juga memelihara tujuh ekor ikan yang bahkan sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Lita, Lita! Harusnya kau jangan membiarkan anak-anakmu membaca cerita menyedihkan seperti ini! Dongeng harusnya berakhir bahagia! Kalau berakhir pahit, itu kehidupan nyata!" gerutu Velan.

__ADS_1


"Tante, bacakan cerita ini lagi ya!" pinta Alika.


"Tante tidak mau membacanya lagi, nanti Tante menangis lagi," kata Velan menolak permintaan bocah berusia lima tahun itu. 


"Baca lagi, Tante!" pinta Aliza, adik Alika yang berusia tiga tahun.


Velan menyeringai, anak-anak memang lebih tertarik pada dongeng yang gambarnya bagus meski tidak mengetahui makna sesungguhnya di balik dongeng tersebut.


"Alika, Aliza," Lita segera turun dari mobilnya dengan membawa banyak kantong belanjaan di tangan.


"Mama," Alika dan Aliza menyambut Lita dengan senang.


"Kalian baik-baik dengan Tante Velan, kan?" tanya Lita kepada dua anaknya yang ia titipkan pada Velan.


"Mereka anak-anak yang patuh dan pintar kok, Lita," sahut Velan.


"Velan, terima kasih sudah menjaga Alika dan Aliza,  ini hadiah untukmu!" kata Lita menyodorkan sebuah tas kertas untuk Velan.


"Tidak usah repot-repot, Lita! Lagipula aku senang ada mereka menemaniku di sini," kata Velan. "Jadi apa saja yang sudah kau dapatkan dari hasil perburuan diskonmu?" tanya Velan.


"Aduh, ternyata diskon tujuh puluh persen hanya untuk barang-barang tertentu saja! Barang-barang yang sudah nyaris kedaluwarsa! Yang lainnya mentok diskon tiga puluh persen," keluh Lita selaku ibu-ibu pemburu diskon.


Lita bahkan menitipkan kedua anaknya di kios Velan begitu mendengar kabar bahwa sebuah pusat perbelanjaan yang lokasinya tak jauh dari kios Velan sedang mengadakan obral barang hingga tujuh puluh persen.


"Mama, es krimnya mana?" tanya Alika membongkar kantong belanjaan ibunya.


"Aduh, mama lupa sayang!" Lita menepuk keningnya.


"Mama sudah janji, loh!" kata Alika.


"Iya maaf, maaf, mama benar-benar lupa, ya sudah, sebentar kita beli ya," bujuk Lita.


"Mama bohong," cibir Alika.


"Tidak, Lika sayang, suer," kata Lita.


"Ayo beli es krim, Mama," ajak Aliza.


"Iya, ayo kita beli es krim, tapi sebelum itu, pamit dulu sama Tante Velan, ayo salim dulu sama Tante Velan," kata Lita.


Alika dan Aliza bergantian mencium punggung tangan Velan. Velan mengelus rambut panjang dua anak perempuan Lita yang suka mengenakan gaun-gaun putri itu.


"Sampai ketemu lagi, Tante Velan," kata Alika.


"Dadah, Tante Velan," kata Aliza.


"Iya, sampai ketemu lagi, anak-anak cantik," kata Velan membalas mereka.


"Velan, aku pamit ya, sekali lagi terima kasih sudah menjaga Alika dan Aliza," Lita memeluk Velan sebelum pergi.


Velan melambaikan tangan ke arah Lita dan kedua anaknya yang memasuki mobil dan menghilang dari pandangan Velan.


Velan mengulas senyum, dalam benaknya ia mengkhayalkan dua bocah laki-laki yang langsung berlari ke arahnya begitu turun dari mobil mewah bersama suaminya. Dua bocah laki-laki yang diharapkan oleh Velan merupakan buah cintanya bersama Voren.

__ADS_1


Namun rupanya takdir berkata lain, Velan dan suami yang begitu ia cintai ternyata harus berpisah. Pernikahan singkat yang sama sekali belum Velan rasakan di mana manisnya lantaran ia hanya merasakan rasa pahitnya kehidupan pernikahan.


Sungguh ironis, Velan harus berpisah dari suaminya di saat ia sedang senang-senangnya karena memiliki suami yang begitu tampan, baik, dan kaya raya. Hanya saja pria yang begitu sempurna itu tidak mencintai Velan meski Velan sudah melakukan banyak hal yang menurut Velan tentulah sudah maksimal.


Velan teringat saat pertama kali ia datang ke paranormal yang bisa membantunya untuk mendapatkan jodoh secara instan.


Velan bahkan mengunjungi paranormal lain bernama Mbah Bucin yang ia percaya bisa membantunya agar suaminya jatuh cinta padanya secara instan pula.


Namun sungguh semua itu menjadi hal yang sia-sia  dan justru membuat Velan merasa begitu bersalah dan berdosa karena sudah berani terjerat dalam lingkaran dosa akibat menyekutukan Tuhan. Mungkin ini teguran yang diberikan oleh Tuhan sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepada Velan.


Segala sesuatu yang dimulai dengan jalan yang tidak benar, akan berakhir dengan hal yang tidak benar juga. Sepertinya itulah hikmah yang dapat dipetik oleh Velan.


Velan yang memilih pernikahan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalahnya, kini justru menambah masalah baru.


Perceraian menjadi akhir pernikahan singkat Velan.  Rasa malu yang harus ditanggung Velan pun jelas begitu besar. Velan yang tadinya merasa begitu bangga karena berhasil mendapatkan suami yang  sempurna pada akhirnya harus dicerai.


Bisa Velan bayangkan bagaimana reaksi semua orang yang akan mengejeknya. Menertawakan Velan yang pada akhirnya harus terbangun dari mimpi indahnya.


Velan melihat buku dongeng putri duyung milik anak-anak Lita yang tertinggal di lantai. Membuka lembaran demi lembaran buku dongeng bergambar tersebut dengan hati yang tersayat-sayat.


Tidakkah Velan memiliki jalan cerita kehidupan yang sama seperti putri duyung malang itu?


Melakukan segala cara demi pria yang tidak mencintainya.


Namun Velan menyadari bahwa ia tidak boleh bernasib sama dengan putri duyung yang berakhir menjadi buih dengan membawa semua cintanya.


"Jangan jadi putri duyung yang menyedihkan!" Velan menepuk dadanya berulang kali.


Berusaha menguatkan dirinya dengan air mata yang kembali menetes, menangisi kehidupannya yang benar-benar berantakan.


Terdengar lantunan lagu dangdut koplo yang diputar oleh penjaga kios depo air isi ulang di sebelah kios Velan.


Apa salah dan dosaku sayang


Cinta suciku kau buang-buang


Lihat jurus yang kan kuberikan


Jaran goyang jaran goyang...


Dam du di dam aku padamu


I love you


I can't stop loving you oh darling


Jaran goyang menunggumu...


Velan tersenyum getir, menikmati lantunan lirik lagu dangdut yang menyindir keras kisah hidupnya.


"Haha," Velan tertawa menertawakan dirinya, menertawakan kebodohannya.


Cinta boleh hilang, tapi utang harus tetap dibayar lunas.

__ADS_1


...~...


__ADS_2