
Bulan madu yang berantakan dan suami yang masih ngambek menjadi dua hal yang saat ini harus dihadapi oleh Velan dengan lapang dada. Velan sungguh merasakan rasa sesak yang berlebih karena Voren memilih untuk mendiamkannya.
Velan sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan yang fatal, sehingga wajar jika suaminya semarah itu. Namun bagi Velan kemarahan Voren ini sungguh membuatnya semakin sesak. Lebih baik pria itu meluapkan kemarahannya daripada harus mendiamkan Velan seperti ini.
Meski Velan sudah mencoba minta maaf berkali-kali pun, Voren nampak hanya memasang sikap datar. Pria itu tetap diam dan jelas sekali terlihat menjaga jarak.
Velan segera mengambil pakaian kotor suaminya untuk dicuci di ruang penatu. Sebelum memasukkan semua pakaian itu ke dalam mesin cuci, Velan pasti memeriksa semua saku untuk memastikan tidak ada satu benda pun yang ikut tercuci.
Velan tertegun saat mendapati sebuah kotak hitam berbahan beludru berukuran panjang seperti cokelat batangan dari saku jas bagian dalam milik Voren. Velan membuka kotak tersebut dan mendapati sebuah kalung dengan liontin berlian berbentuk hati serta sepasang anting berlian dengan model lurus yang berkilau indah.
Velan meraba daun telinganya yang tak pernah memakai anting. Seketika ia mengulas senyumnya.
Apakah anting dan kalung berlian ini adalah hadiah kejutan dari suaminya? Batin Velan bertanya-tanya.
Kalung dan anting ini pasti untukku, tidak mungkin kan untuk Doni?
Velan cekikikan sendiri membayangkan Doni memakai kalung dan anting berlian mewah itu.
Cepat-cepat Velan menutup kembali kotak itu dan membawanya ke dalam kamar. Velan segera meletakkan kotak perhiasan itu di atas nakas lalu merapikan tempat tidur. Selanjutnya ia menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Voren yang saat ini tengah menikmati waktu mandi paginya. Ia segera meletakkan pakaian Voren di atas kasur dan segera menuju ke dapur dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Velan memasak sarapan pagi. Ia membuat roti lapis isi daging panggang dan telur rebus dengan banyak daun selada, potongan timun, dan tomat merah merona.
Terdengar pintu unit terbuka dan sosok Doni segera hadir seperti biasanya. Velan sungguh merasa canggung terhadap Doni. Meski Velan sudah meminta maaf, hanya saja rasanya masih ada ganjalan di hati Velan.
"Selamat pagi, Pak Doni," sapa Velan.
"Selamat pagi, Nona Velan," sapa Doni.
"Pak Doni, Anda sudah sarapan? Aku membuat banyak roti lapis isi daging panggang dan telur," kata Velan.
Doni mengulas senyum ramahnya.
"Anda tenang saja, saya tidak memasukkan sesuatu yang membahayakan siapapun lagi," kata Velan sambil menyeringai.
Velan mengambil sepotong roti lapis dan langsung mengunyah serta menelannya untuk membuktikan pada Doni bahwa makananan yang disajikannya benar-benar aman dan layak untuk dikonsumsi.
"Nona, terima kasih, saya hargai niat baik Anda, tapi untuk sementara sebaiknya Anda tidak perlu menyuguhkan apapun untuk Tuan Voren," kata Doni.
"Pak Doni, sungguh, aku tidak akan berbuat hal aneh yang membahayakan siapapun lagi, aku benar-benar sudah menyesal melakukan tindakan gegabah seperti itu! Saat itu aku hanya berpikir bagaimana agar suamiku bisa memberikan cinta untukku," kata Velan.
"Pak Doni, Anda pasti tahu kan, bahwa aku sangat mencintai suamiku, aku bahkan akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan cintanya," kata Velan menatap Doni dengan kesungguhan yang membuncah.
__ADS_1
Doni sungguh tak mampu berkata apa-apa saat melihat kesungguhan Nona Velan. Wanita ini benar-benar sangat mencintai Tuan Voren. Namun masalahnya Tuan Voren hanya mencintai Soraya. Terlebih saat ini Soraya sudah kembali dalam kehidupan Tuan Voren.
Kehadiran Soraya sudah jelas akan memengaruhi hubungan Nona Velan dan juga Tuan Voren. Sepertinya selain berusaha keras dibutuhkan keajaiban bahkan mukjizat dari para Nabi dan Rasul agar Tuan Voren bisa berpaling dari Soraya.
Mampukah Nona Velan bersaing dengan Soraya yang sudah mengisi hati Tuan Voren selama lima belas tahun lamanya?
Entahlah, Doni lebih baik diam dan mengamati semuanya. Yang pasti ia sudah memperingatkan Tuan Voren agar tidak bertindak gegabah. Doni hanya bisa berdoa agar kemungkinan terburuk yang ada dalam benaknya itu tidak terealisasi dengan baik.
Tak terbayangkan oleh Doni, Nona Velan akan bertengkar dengan Soraya, saling menjambak rambut, dan berteriak perebut laki orang. Kemudian perkelahian mereka berdua akan viral di media sosial hingga akhirnya menyeret nama Tuan Voren.
Velan menatap Doni yang nampak menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.
"Pak Doni? Anda baik-baik saja?" tanya Velan.
"Ah, saya baik-baik saja, Nona," jawab Doni.
"Apa efek obatnya masih tersisa, Pak Doni?" tanya Velan nampak cemas.
Doni hanya bisa mengulas senyumnya.
"Saya baik-baik saja Nona, Anda tidak perlu cemas," kata Doni.
"Hanya saja, saya penasaran bagaimana Anda bisa mendapatkan obat perangsang seperti itu?" tanya Doni.
"Pak Doni, apa Anda juga mau membeli obat tersebut?" tanya Velan sambil menyeringai.
Tak akan kubiarkan kau menggunakan obat itu untuk suamiku, batin Velan.
"Nona Velan, maksud saya bukan seperti itu, hanya saja setahu saya obat perangsang jenis itu tidak dijual secara bebas di toko-toko obat terdekat, Anda sungguh luar biasa bisa mendapatkan obat tersebut," kata Doni.
Doni tentu saja harus menyelidiki pelan-pelan dari mana asal obat perangsang tersebut karena Nona Velan hanya bungkam saat Tuan Voren bertanya langsung. Dugaan Tuan Voren, Nona Velan bisa saja merupakan orang suruhan dari salah satu pesaingnya. Hanya saja berdasarkan penyelidikan, sementara ini Nona Velan sama sekali tidak terkait dengan pihak manapun kecuali dari Nyonya Vega sendiri.
"Pak Doni, sungguh, jika saja suamiku tertarik padaku, aku tidak mungkin akan menggunakan obat macam itu hanya agar suamiku mau meniduriku," kata Velan memasang ekspresi memelas.
Membuat musuhmu bersimpati padamu merupakan salah satu strategi untuk memenangkan peperangan, itulah yang ada dalam benak Velan saat ini.
Doni nampak mengulum senyumnya membuat Velan merasa harus menahan rasa kesalnya.
"Pak Doni, Anda tidak perlu menahan tawa Anda! Nanti anda mencret loh!" kata Velan.
Ya, silakan saja tertawai aku sampai kau puas, Pak Doni! Menurutmu pasti aku sungguh menggelikan! Betapa aku harus menghalalkan segala cara agar suamiku bersedia meniduriku! Batin Velan.
__ADS_1
Seandainya saja suamiku tertarik pada wanita, sungguh aku tak memerlukan obat laknat itu! Gara-gara obat laknat itu suamiku jadi menuduhku yang tidak-tidak! Keluh Velan dalam hatinya.
"Pak Doni, ini kan hari Minggu, kenapa suamiku masih bekerja juga?" tanya Velan keheranan.
"Nona, waktu Tuan Voren memang lebih banyak tersita untuk mengurus pekerjaan! Anda pasti tahu sendiri bahwa Emperor Grup bukanlah perusahaan kelas kecap," jawab Doni diplomatis.
"Tapi, bukankah menyenangkan jika kita bisa pergi piknik di hari Minggu, atau pergi ke mall, nonton di bioskop, bermain di area permainan keluarga, lalu dilanjutkan dengan wisata kuliner," Velan mengutarakan rencananya.
Doni hanya bisa tersenyum. Doni jelas menaruh simpati pada Nona Velan. Miris sekali mendengar rencana beliau hanya tetap menjadi rencana tanpa pernah bisa terealisasi.
"Pak Doni, aku benar-benar sungguh iri padamu," kata Velan.
"Hampir seluruh waktu suamiku dihabiskan bersama Anda, apa Anda tahu, aku benar-benar sangat cemburu," lanjut Velan seraya tertawa.
Doni kembali mengulas senyumnya.
Astaga, Nona! Anda salah jika cemburu pada saya!Makanya Anda harus berusaha keras untuk mendapatkan hati Tuan Voren, Nona Velan! Batin Doni.
"Suamiku," sapa Velan dengan ekspresi ceria begitu melihat Voren keluar dari kamarnya.
Ekspresi ceria yang selalu Velan pasang untuk menutupi rasa sedih karena merasa sangat bersalah.
Voren hanya menanggapi dengan ekspresi datar.
"Suamiku, aku sudah membuatkan sarapan untukmu," kata Velan.
"Maaf Istriku, aku sudah terlambat," kata Voren.
"Suamiku, apa kau takut aku menaburkan sesuatu pada makananmu?" tanya Velan.
Voren hanya mengulas senyum tipis.
"Suamiku, sungguh aku minta maaf padamu, aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi, kumohon," kata Velan dengan ekspresi memelas yang menjadi-jadi.
Voren masih mengulas senyumnya.
"Aku pergi dulu," kata Voren berpamitan.
"Permisi, Nona," kata Doni.
Kedua pria itu segera pergi meninggalkan Velan yang menatap sedih.
__ADS_1
"Kapan suamiku akan memberiku kecupan di kening sebelum dia pergi ya?" gumam Velan.
...~...