
Velan memarkirkan sepeda motor tepat di depan rumahnya. Yoyok yang begitu sibuk berkutat di depan koleksi tanaman hiasnya langsung menyambut kedatangan Velan. Pria itu dengan sigap membantu Velan membawa tas kain berisi banyak barang.
"Terima kasih, Kak Yo," kata Velan.
"Kau habis belanja ya, Velan?" tanya Yoyok.
Velan hanya mengangguk singkat. Ia baru saja kembali dari kegiatan berbelanja di pasar.
"Kak Yo, di mana Kak Toro?" tanya Velan.
"Ada di dalam, masih tidur," jawab Yoyok.
"Astaga, jam berapa sekarang dan mereka masih tidur? Yah, tidak heran sih," celetuk Velan.
"Entahlah apa yang sedang Toro dan Taki lakukan! Setiap hari mereka pulang pagi, bukan lagi dini hari," sahut Yoyok.
Velan dan Yoyok memasuki rumah, terlihat Tomi yang rebahan sambil menyaksikan sinetron. Sementara Taki dan Toro teronggok tak sadarkan diri di lantai. Velan sungguh tak percaya bahwa ia masih mendapati kakak-kakaknya begitu konsisten dengan gaya hidup mereka. Ya, pemandangan ini nantinya akan segera dihadapi Velan lagi pasca perceraiannya dengan Voren.
"Eh, Velan, tumben kau datang!" kata Tomi.
"Kakak, aku membeli daging belly, mari kita makan bersama," kata Velan.
"Daging?!" seru Taki tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Astaga, Taki! Bikin kaget saja!" sergah Yoyok.
"Taki begitu dengar daging, biar sekarat juga pasti langsung bangun," kata Tomi.
"Aku lapar, makanya bangun!" sahut Taki sambil menepis kepala Tomi.
"Aduduh!" Tomi mengelus kepalanya.
"Ayo kita makan! Aku sudah lapar!" ajak Taki.
"Bangunkan Kak Toro," kata Velan.
"Nanti Toro bangun sendiri kalau mencium aroma daging!" sahut Yoyok.
"Bukan begitu, nanti semua dagingnya habis dimakan Taki, hehe," Tomi terkekeh.
__ADS_1
"Tomi!" Taki langsung mencekik Tomi dengan sikunya membuat Tomi menggelepar heboh.
Velan segera membongkar belanjaannya, ia membeli daging belly yang rencananya akan dipanggang. Makan di restoran BBQ tentu saja akan mengeluarkan kocek yang dalam sehingga lebih murah jika memasak dan makan di rumah saja.
"Toro bangun!" Yoyok membangunkan Toro yang masih terlelap.
Toro menggeliat dan mulai mengumpulkan nyawanya untuk bangun lantaran mencium aroma daging panggang yang begitu semerbak. Ia langsung bergabung membentuk lingkaran bersama saudara-saudaranya.
"Daging!" kata Toro dengan mata besarnya yang berbinar-binar.
"Toro, minimal sikat gigi dan cuci muka dulu!" tegur Tomi.
"Sudah, aku sudah cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur!" sahut Toro antusias.
"Nah, begini dong Vels, kau datang dan membawa daging!" kata Taki begitu antusias saat menunggu daging panggang matang.
"Ada acara apa ini?" tanya Toro keheranan.
"Kak Toro, hari ini kan hari ulang tahun Kakak," jawab Velan.
"He? Benarkah?" tanya Toro.
"Coba kau lihat kalender, sekarang ulang tahunku atau ulang tahunmu?" tanya Toro.
Velan mengulas senyumnya kepada semua kakak-kakaknya yang selalu ramai. Velan benar-benar merasa sangat merindukan keramaian ini setelah beberapa bulan terperangkap dalam kesunyian dan kesepian yang menggila. Hidup di unit apartemen mewah dan eksklusif namun harus merasakan rasa hampa yang berkepanjangan. Setiap hari hanya menunggu pergantian siang dan malam. Setiap hari hanya duduk di sofa, menunggu bersama tujuh ekor ikan yang begitu tenang. Setelah perceraiannya dengan Voren, Velan jelas akan kembali tinggal bersama kakak-kakaknya. Kembali menjalani kehidupan yang diwarnai dengan perseteruan-perseteruan kecil seperti harus antri saat ke kamar mandi, berebut menyaksikan siaran televisi, hingga kunjungan tetangga yang mengomel karena keributan mereka.
Nasi panas sudah terhidang, daging panggang pun sudah matang. Dengan lahap, Velan dan keempat saudara laki-lakinya memulai acara makan siang bersama mereka. Sungguh jarang mereka bisa makan lauk daging sapi mengingat harga daging sapi yang mahal. Hanya di saat-saat tertentu saja mereka bisa makan daging. Hal tersebut jelas berbeda saat mereka masih kecil. Orang tua mereka begitu memanjakan mereka semua dengan makanan-makanan enak.
Velan menarik napasnya sebelum mulai berbicara.
"Kakak, sebelumnya aku sungguh minta maaf, karena aku sudah bersikap begitu arogan terhadap kalian," kata Velan menghentikan keramaian kakak-kakaknya.
Semua kakak-kakak Velan tertegun mendengar permohonan maaf Velan.
"Kak Taki, Kak Toro, aku sungguh minta maaf karena selama ini aku sudah meremehkan impian kalian! Sejujurnya, aku bukannya bermaksud meremehkan, hanya saja, aku selalu berusaha untuk lebih realistis. Lantaran berpikir bahwa kita hanyalah serpihan rengginang di kaleng biskuit Lebaran. Mimpi yang terlalu muluk, akan membuat kita hanya terbuai angan-angan yang justru membuat kita sakit saat terbangun dari mimpi," kata Velan mengarahkan pandangannya kepada Taki dan Toro bergantian.
Velan benar-benar menyadari bahwa mimpinya pun terlalu muluk. Mimpinya memiliki sosok suami yang tampan, baik, dan kaya raya serta menjalani kehidupan rumah tangga yang begitu bahagia hingga maut memisahkan itu pun terpaksa kandas bahkan sebelum mulai berlayar.
"Velan," kata Yoyok yang mengamati perubahan ekspresi Velan yang begitu drastis.
__ADS_1
"Vels, sungguh aku berjanji akan sukses bersama bandku! Aku dan Toro akan berusaha keras hingga tetes darah penghabisan! Ini hanya masalah waktu saja!" sahut Taki.
"Kak Taki, terima kasih sudah berusaha!" kata Velan menanggapi sahutan Taki.
"Kakak! Aku akan melunasi semua utang yang ada! Tak akan kubiarkan kita semua menggembel di jalan! Tapi berjanjilah padaku bahwa masalah ini menjadi masalah terakhir kita semua! Untuk selanjutnya jangan ada lagi masalah utang yang menjerat keluarga kita!" kata Velan ke arah semua kakaknya, terutama Taki dan Toro.
"Velan, serius kau akan melunasi semua utang?" tanya Tomi.
"Apakah akhirnya kau meminta bantuan suamimu?" tanya Yoyok.
"Puji Tuhan!" seru Toro.
"Vels, terima kasih!" seru Taki.
"Yah, pokoknya ini terakhir kalinya! Jangan sampai ada lagi masalah!" kata Velan.
Keempat kakak laki-laki Velan langsung merangkul Velan. Mereka semua menangis penuh haru. Velan tentu saja ikut menangis, namun tangisnya bukanlah tangis haru, melainkan tangis karena ia akan membayar semua utangnya dengan mengorbankan keutuhan rumah tangga.
Sebuah perceraian yang akhirnya menjadi solusi semua masalah utang Velan. Dana kompensasi yang diberikan pasca perceraian adalah satu-satunya dana dalam jumlah besar yang bisa diperoleh oleh Velan secara instan.
Jika saat itu Velan menjadikan pernikahan sebagai solusi semua masalah utangnya, namun siapa yang bisa menduga bahwa bagi Velan, justru perceraiannya yang akhirnya menjadi solusi.
Toh setelah Velan pikir-pikir, menikah dengan Voren sama sekali tidak membuatnya merasa bahagia. Pria itu hanya lembut di luar namun kejam dan tak berperasaan di dalam.
"Ayo, ayo, kita berfoto!" seru Tomi.
"Sudah lama sekali kita tidak berfoto bersama pasca Velan menikah!" sahut Yoyok.
"Velan, kemarikan tanganmu!" kata Toro langsung mengambil tangan Velan.
"Tangan ini, adalah tangan yang sudah menyelamatkan kita semua!" kata Toro sambil memotret tangannya yang menggenggam erat tangan Velan dengan kamera ponselnya.
"Wah, ternyata selain hanya bermain gitar, Kak Toro punya bakat memotret," puji Velan saat melihat hasil jepretan kamera ponsel Toro.
"Hahaha! Itu efek kamera jahat!" Taki tertawa meledek Toro.
"Aku akan memasangnya di status aplikasi pesanku," kata Velan.
...~...
__ADS_1