
Voren masih tetap menatap Velan, memandangi setiap detail wajah wanita yang berada di hadapannya. Wanita yang saat ini sedang menghancurkan setiap butir obat yang akan diminumnya.
Mengamati secara saksama mata yang tidak besar dan tidak pula kecil, alis yang tidak tebal, hidung yang mancung, dan bibirnya yang mungil serta tipis. Kulitnya memang tidak seputih salju dan semulus porselen. Rambutnya yang bergelombang itu membuat Voren kesal melihatnya karena tangannya jadi gatal ingin menariknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Velan saat pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Velan.
Voren terkesiap, ia tentu gengsi jika harus menjawab bahwa ia sedang menelaah wajah Velan.
"Pori-porimu besar dan terlihat jelas," jawab Voren sambil mengulas senyumnya.
Velan balas mengulas senyumnya dan langsung menjejalkan sendok berisi obat yang belum terlalu halus ke mulut Voren dengan kesal.
"Uhuk...uhuk...," Voren tersedak dan terbatuk-batuk.
"Tidak usah pedulikan pori-poriku! Pori-poriku tidak butuh perhatianmu!" celetuk Velan.
Velan beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Voren yang masih terbatuk-batuk karena tersedak butiran kasar obat.
"Uhuk... Istriku!" geram Voren menahan rasa kesalnya.
...~...
"Dia kenapa sih? Apa sakit maag membuat otaknya juga bermasalah?! Untuk apa dia mengomentari pori-poriku?! Apa dia mau pamer mentang-mentang dia makhluk tanpa pori-pori?!" gerutu Velan begitu keluar dari kamar Voren.
Velan menatap ke luar pintu kaca, hujan masih belum juga kunjung reda. Velan sungguh merasa terjebak di tempat ini bersama pria yang begitu menyebalkan.
...~...
Voren terbangun dari tidurnya, ia merasa tubuhnya jauh lebih segar setelah tertidur. Ia meraih ponsel yang berada di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Voren perlahan bangkit dan turun dari tempat tidur. Perlahan melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Sayup-sayup, ia mendengar suara Velan yang sedang berbincang. Wanita itu sedang duduk di belakang meja makan.
"Iya, Say, maaf hari ini tidak bisa! Hari ini libur dulu ya, besok saja akan langsung kuantar," kata Velan berbincang di telepon.
Dia berbincang dengan siapa? Batin Voren bertanya-tanya.
"Iya, Say, aku buatkan yang spesial untukmu! Penuh dengan limpahan cintaku, makanya kau jadi ketagihan kan? Hehe...," lanjut Velan.
__ADS_1
Apa?! Sesuatu yang spesial? Limpahan cinta? Ketagihan? Kenapa dia bicara hal-hal menjijikkan seperti itu?
"Baiklah, sampai ketemu besok, aku akan langsung ke tempatmu!" kata Velan.
Voren langsung melompat ke tempat tidurnya, mengambil air di atas nakas lalu mengguyurkan ke wajah dan tubuhnya.
"Uhuk...uhuk... Istriku!" seru Voren sambil berpura-pura batuk.
Velan memilih mengabaikan panggilan Voren. Velan berkutat di depan ponsel untuk membuat rekapitulasi pesanan yang rencananya akan mulai digarapnya begitu hujan reda serta menunggu banjir yang surut. Malam ini ia berencana untuk menginap di kios saja.
Merasa panggilannya diabaikan, Voren kembali berseru lebih keras.
"Istriku! Uhuk... hueek... huekk...," seru Voren dengan kemualan yang dibuat-buat.
Velan tetap tak bergeming, sebodoh amat dengan pria itu. Saat ini pesanan dari pelanggan jauh lebih penting.
Voren kesal wanita itu benar-benar mengabaikannya karena lebih fokus kepada pria idaman lain yang berbincang dengan begitu mesra saat terdengar di telinga Voren.
"Ya, teruskan saja kau abaikan panggilanku, Istriku! Di mana hati nuranimu, Istriku?! Aku ini sedang sakit! Aku ini sedang dalam kondisi lemah tak berdaya! Istriku!" seru Voren.
Velan memutar bola matanya mendengar seruan Voren. Ia segera membuka pintu kamar pria itu.
"Apa?! Kau sibuk apa?!" tanya Voren. "Kau sibuk dengan pria idaman lainmu itu?!"
"Kenapa?! Apakah itu menjadi masalah buatmu?" tanya Velan dengan nada menantang.
"Aku ini sedang sakit, Istriku! Aku ini sakit!" kata Voren.
"Memangnya kenapa kalau kau sakit? Masalah untukku?!" tanya Velan.
Voren tercengang mendengar pertanyaan Velan.
"Apa kau sama sekali tidak bisa menunjukkan kepedulianmu saat aku sedang sakit seperti ini?" tanya Voren.
"Memangnya kau pernah peduli padaku?" tanya Velan tersenyum sinis ke arah Voren.
"Kau tidak peduli padaku sehingga aku rasa lebih baik tidak perlu peduli padamu! Kita bahkan sudah berada pada posisi di mana kita tidak perlu lagi saling peduli satu sama lain!" cecar Velan.
__ADS_1
"Minta saja Soraya untuk peduli padamu! Minta saja pada Soraya! Wanita yang kau cintai! Wanita yang kau inginkan! Untuk apa kau minta dipedulikan oleh wanita yang tidak kau inginkan? Mentang-mentang hanya ada aku di sekitarmu saat ini lantas kau bisa berbuat sesukamu dan menyuruhku melakukan apa maumu?!" cecar Velan.
Voren hanya bisa terdiam mendengar cecaran dari Velan. Ia ingin marah, namun tidak bisa karena apa yang dikatakan wanita ini benar adanya.
"Haha, kau lebih membela pria idaman lainmu itu, daripada aku yang saat ini adalah suami sahmu secara hukum yang berlaku!" kata Voren.
"Haha!" Velan balas menertawakan Voren.
"Voren Lazaro! Kau jangan pura-pura lupa! Siapa yang lebih kau bela antara Soraya, wanita yang begitu kau cintai selama lima belas tahun, ataukah aku, Velandara, wanita yang menjadi istri sahmu sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku?" tanya Velan seraya tertawa dingin.
"Yah, silakan saja! Aku terima kau lebih memilih Soraya! Toh kau lebih menginginkan dia daripada aku! Tidak apa-apa! Aku rapopo! Aku rapopo!" lanjut Velan.
"Istriku, coba kau tengok aku ini, aku ini sedang sakit, bajuku basah lagi karena keringat, dan tubuhku masih begitu lemah! Di mana rasa kemanusiaanmu yang terus mencecarku seperti ini?" tanya Voren.
"Aku tidak mencecarmu! Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan agar telingamu itu bisa digunakan untuk mendengar! Bukan hanya sekadar mendengar kata-kata manis dan rayuan-rayuan pulau kelapa yang dilontarkan oleh Soraya!" sahut Velan masih dengan nada ngegas tanpa bisa direm lagi.
"Istriku, bisa tidak sih, kita tidak melibatkan Soraya dalam pembicaraan kita? Kasihan sekali Soraya karena kita terus membicarakannya! Kita benar-benar seperti tukang ghibah yang membicarakan orang di belakang! Jangan suka berghibah, nanti di neraka akan ada tombak panas yang menghujam mulutmu hingga hancur! Siksa neraka itu amatlah pedih, Istriku!" kata Voren mengeluarkan sabdanya.
"Hahaha!" Velan tertawa dengan tawanya yang dibuat-buat.
"Voren Lazaro, apa kau itu panitia hari kiamat? Apa kau itu pemegang kunci surga? Apa kau begitu yakin bisa masuk surga? Apa kau pikir dengan kekayaanmu kau bisa menyuap para malaikat agar meloloskanmu ke surga?!" Velan mencecar Voren dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan setelah mati.
"Kalau ghibah itu berdosa, lantas apakah perselingkuhanmu dengan Soraya itu adalah perbuatan berpahala?!" tandas Velan.
"Ah, ya, kau kan tidak berselingkuh, kau hanya mencintai Soraya! Hanya aku yang merasa terzalimi oleh perbuatanmu! Hanya aku!" cecar Velan.
Voren merasa jengah dengan perdebatan mereka, ia pun langsung menarik tangan Velan dan menjatuhkan Velan ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!" teriak Velan.
"Coba kau pegang pakaianku, basah kan?" tanya Voren sambil memandangi Velan.
Voren mengulas senyumnya saat mereka saling menatap. Voren mendekatkan wajahnya ke wajah Velan.
Velan mengulas senyumnya, menutup matanya lalu menghantamkan keningnya ke wajah Voren.
Jdug...!
__ADS_1
"Arghhh!" raungan Voren pun menggema memenuhi unit apartemennya.
...~...