
Velan segera turun dari pesawat jet pribadi yang membawanya ke tempat tujuan bulan madu yang diaturkan oleh ibu mertuanya. Liburan dadakan yang diaturkan oleh ibunya membuat Voren hanya bisa memasang ekspresi datar. Voren tentu saja komplain mengapa ibunya menyuruhnya untuk pergi liburan di saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya.
Voren mengerutkan alisnya, melihat istrinya yang sungguh norak sekali lantaran baru kali ini naik pesawat jet pribadi.
"Suamiku, pesawat ini aman saja, kan?" tanya Velan pada Voren.
"Aman, Istriku," sahut Voren sekenanya.
"Nanti mendaratnya di mana? Tetap di bandara atau di tempat lain?" tanya Velan lagi.
"Di bandara juga," jawab Voren.
"Suamiku, kalau nanti pesawatnya jatuh, apa kita akan dicari juga seperti pesawat konvensional?" tanya Velan lagi.
"Istriku, tolong jangan bicara ngawur seperti itu," sahut Voren sambil tersenyum namun dalam hati mendongkol.
Bisa diam tidak, sih? Bisa-bisanya mengatakan hal mengerikan seperti itu, rutuk Voren dalam hati.
Voren segera memakai kacamata hitam dan menempelkan earphone ke telinganya. Ia lebih baik mendengarkan musik daripada harus mendengarkan ocehan istrinya yang norak bin kampungan itu.
...~...
Velan kembali terpana melihat kemewahan vila yang akan menjadi tempat Velan dan Voren menghabiskan waktu bulan madu mereka. Vila yang mereka tempati bernuansa eksotik dan autentik, beserta kolam renang pribadi langsung menghadap ke luasnya samudera yang tersaji dari balik dinding kaca. Terdapat kamar mandi dengan bathup besar menghadap langsung ke arah laut biru nan indah.
"Bagus sekali! Gila! Kerennya!" seru Velan dengan heboh saat memasuki vila tersebut.
Velan langsung berlari ke arah kolam renang pribadi tersebut dan langsung menceburkan kakinya ke dalam air yang berwarna biru serta amat jernih.
"Sepertinya aku harus mengambil foto yang banyak di sini," kata Velan begitu antusias.
"Pak Doni, bisa minta tolong ambilkan beberapa foto?" tanya Velan sambil menyodorkan ponselnya.
"Baik, Nona," jawab Doni.
Doni segera memotret Velan, namun karena berasal dari bidikan kamera berkualitas rendah, tentu saja hasil gambarnya kurang bagus.
"Bagaimana, Pak Doni, apa hasilnya bagus?" tanya Velan.
"Maaf Nona, kualitasnya kurang bagus, akan saya potret ulang dengan ponsel saya saja," kata Doni.
__ADS_1
Velan menyeringai, tentu saja gambarnya kurang bagus, ponselnya jelas bukan ponsel keluaran terbaru dengan kamera super. Selama ponselnya masih bisa digunakan untuk menerima pesanan kue, itu sudah cukup bagi Velan.
Voren hanya duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah kolam renang, begitu tiba di vila ia hanya berkutat pada ponselnya saja. Voren mengarahkan pandangannya ke arah kolam renang pribadi, ia nampak kesal melihat Velan yang terlihat begitu bahagia saat menjadi objek foto Doni.
"Doni!" panggil Voren.
"Iya, Tuan," sahut Doni segera menghentikan aksi menjadi tukang foto dadakan.
Ia segera menghampiri Tuan Voren yang nampak memasang wajah cemberut.
"Doni, kau tidak lupa kan apa tujuan kita datang ke tempat ini?" tanya Voren.
"Maaf, Tuan," jawab Doni.
"Apa sudah dapat informasi di mana Daren menginap?" tanya Voren.
"Dinar baru saja mengabari, Tuan," jawab Doni sambil mengecek ponselnya.
"Lebih baik kita pindah penginapan saja, yang sama dengan Daren! Sehingga akan lebih efisien dan hemat waktu daripada nantinya saling tunggu di lokasi proyek," kata Voren.
"Baik, Tuan," kata Doni.
Doni sungguh kaget karena tiba-tiba saja Nyonya Vega memintanya untuk mengaturkan jadwal agar Tuan Voren dapat pergi berbulan madu di saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya seperti saat ini.
Voren pun sebenarnya tidak tertarik untuk pergi liburan di saat pekerjaannya sedang banyak. Hanya saja kebetulan ada proyek pekerjaan yang harus ditinjau langsung oleh Voren akhirnya Voren pun setuju untuk pergi namun tujuannya tentu saja untuk mengurus pekerjaan, bukan untuk pergi berbulan madu seperti perintah ibunya saat datang menemuinya.
...~...
"Pokoknya aturkan agar selama satu minggu penuh Voren dan istrinya harus pergi berbulan madu!" kata Vega memberi perintah pada Doni.
Vega menatap ke arah Voren yang nampak masih sibuk bekerja di belakang meja kerjanya. Pagi-pagi Vega langsung menyambangi kantor anaknya itu dengan tujuan untuk mendiskusikan masalah bulan madu. Vega nampak tenang duduk di sofa berhadapan dengan Doni.
"Nyonya Vega, tapi saat ini pekerjaan Tuan Voren masih begitu banyak dan belum bisa ditinggal," kata Doni.
"Doni, tolong beri waktu agar Voren dan istrinya bisa menikmati liburan romantis! Siapa tahu begitu pulang liburan, saya langsung mendapat oleh-oleh calon cucu," kata Vega antusias.
Doni mengulas senyumnya sementara Voren nampak memasang ekspresi datar.
"Mama, aku lebih memprioritaskan pekerjaanku daripada pergi bulan madu," kata Voren.
__ADS_1
"Voren, kurang piknik tidak baik untuk kesehatan, terutama kesehatan mental!" kata Vega.
Voren nampak mendelik gusar.
"Voren, nanti akan Mama aturkan semuanya, kau dan istrimu cukup menikmatinya saja, bagaimana?" tanya Vega.
Voren dan Doni saling bertukar pandang.
"Tapi Ma, aku tentu tidak bisa meninggalkan anak-anakku terlalu lama tanpa pengawasan!" sahut Voren menjadikan ikan-ikan cup*ng peliharaannya sebagai alasan.
Vega memutar bola matanya, bagaimana bisa Voren menganggap ikan-ikannya itu sebagai anak-anaknya?
Aku lebih butuh anakmu yang berwujud manusia daripada ikan, batin Vega.
"Voren, ada Doni yang bisa mengurus ikan-ikanmu itu! Kau fokus berbulan madu saja, hanya berdua dengan istrimu," kata Vega.
Voren nampak diam dan berpikir.
"Baiklah Ma, aku akan pergi berbulan madu dengan dua syarat, yang pertama Doni harus ikut dan yang kedua harus ada orang yang bertanggung jawab penuh terhadap anak-anakku!" kata Voren pada akhirnya.
...~...
"Kenapa kita pindah penginapan?" tanya Velan pada Voren.
"Suamiku, apa kau kurang suka tempat ini?" tanya Velan lagi.
"Padahal tempat ini sangat bagus sekali, ada kolam renang pribadinya juga," kata Velan.
"Istriku, maaf mengecewakanmu, tapi saat ini aku masih harus mengurus pekerjaanku, dan lokasi tempat ini cukup jauh dari lokasi proyek yang harus kutinjau," kata Voren menjelaskan.
"Apa yang dikatakan Tuan Voren benar, Nona, kita tentu harus mempertimbangkan resiko jika menginap di tempat yang jauh, seperti kondisi jalan yang macet misalnya," Doni menambahkan.
"Lagipula bukankah tadi kau sudah cukup puas mengambil banyak gambar kan, Istriku?" tanya Voren.
"Baiklah," kata Velan yang sebenarnya merasa berat hati.
Padahal tempat ini sangatlah bagus, Velan bahkan sempat berselancar untuk mengetahui lokasi tempat menginapnya ini. Per malamnya saja nominal yang harus dibayar amatlah fantastis bagi Velan. Sayang sekali rasanya tidak bisa dinikmati meski hanya satu malam saja.
...~...
__ADS_1