Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E45


__ADS_3

Velan memasuki sebuah restoran mewah yang berada di salah satu hotel berbintang lima. Di lobi restoran tersebut terdapat kolam dengan miniatur air mancur berisi puluhan ekor ikan koi berukuran jumbo yang langsung menarik perhatian Velan.


"Kau suka ikan?" tanya Daren sambil mengulas senyumnya ke arah Velan.


Velan menjawab dengan anggukan yang cepat. Ikan hias tentu saja sangat memanjakan matanya.


Daren kembali tersenyum, mereka melanjutkan langkah menuju ke meja yang sudah direservasikan oleh Dinar. Meja mereka berada di samping jendela kaca besar, menampilkan pemandangan kelap-kelip lampu bak taburan sejuta bintang di bawah sana.


Pelayan segera datang membawakan buku menu untuk mereka berdua. Lagi-lagi Velan merasa kebingungan untuk memutuskan menu mana yang harus dipilihnya.


"Ada apa, Nona Velan?" tanya Daren.


"Saya bingung, semua menu ini nampak enak," jawab Velan.


Daren mengulas senyum.


"Kalau kau mau silakan pesan saja semuanya, yang penting dihabiskan," kata Daren.


"Ya ampun, Tuan, apa saya terlihat seperti orang yang kuat makan?" tanya Velan seraya tertawa.


Daren tetap tersenyum menatap Velan yang tertawa lepas.


...~...


Pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka. Velan tidak tahu harus memesan apa sehingga ia menyamakan dengan pesanan Daren. Daren memesan steak daging sapi wagyu dengan tingkat kematangan sempurna.


"Nona Velan, Anda pasti bertanya-tanya mengapa saya mengajak Anda makan malam," kata Daren sambil memotong-motong daging di piringnya.


Velan masih menikmati daging steak yang begitu lembut, ia terlena dengan kenikmatan daging steak tersebut sehingga hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan.


"Nona Velan, saya sudah mengetahui identitas suami Anda," kata Daren.


Deg...


Jantung Velan seakan berhenti berdetak. Sebuah pengakuan mengejutkan benar-benar membuat Velan kaget bukan main.


Klang...!


Kini giliran pisau dan garpu yang ada di tangan Velan meluncur bebas ke lantai.


"Eh," Velan hendak mengambil pisau dan garpunya.


"Nona Velan, tidak perlu diambil, minta pada


pelayan untuk mengambil pisau dan garpu yang baru," cegah Daren.


Velan menatap Daren yang mengulas senyum ramahnya.


Velan mengambil jus jeruk dan meneguk dengan cepat untuk menetralkan rasa terkejutnya.


"Nona Velan, Anda baik-baik saja?" tanya Daren yang melihat jelas Velan nampak begitu panik.


"Tu-Tuan, Anda sudah tahu siapa suami saya? Ba-bagaimana Anda bisa mengetahuinya?" tanya Velan masih dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa ditutupinya dengan baik.


Daren mengulas kembali senyumnya lalu menatap Velan lekat-lekat.


"Suami Anda yang datang pada saya dan mengakui segalanya," jawab Daren.


Velan merasa perutnya langsung melilit, seakan ia sedang mengalami sembelit. Keringat dingin mulai bercucuran, tenggorokannya benar-benar tercekat mendengar pengakuan mengejutkan pria itu.


Voren datang menemui Daren dan mengaku sebagai suami Velan. Terbayang dalam benak Velan bagaimana Voren mencecar Daren seperti yang biasa pria itu lakukan kepada Velan.

__ADS_1


Padahal Velan sudah berupaya untuk menutupi identitas asli suaminya kepada Daren. Namun pria itu justru membongkarnya dengan sempurna.


"Saya sungguh tidak menyangka ternyata Anda adalah istri Voren," lanjut Daren membuyarkan lamunan Velan.


"Sa-saya... benar-benar kaget, ba-bagaimana Anda dan Voren bisa saling mengenal, apa karena Anda adalah seorang brand ambassador yang menjadi rekan bisnis Voren?" tanya Velan masih berusaha agar menutupi rasa gugupnya.


Daren kembali menatap ke arah Velan, sudah saatnya ia mengungkap semuanya agar tidak ada kesalahpahaman lagi antara ia dan Velan.


"Nona Velan, sejujurnya, saya bukanlah seorang pria panggilan seperti yang Anda sangka selama ini," kata Daren.


Deg...


Satu lagi pernyataan dari pria tampan yang sedang tersenyum ke arah Velan itu membuat jantung Velan seakan berhenti berdetak.


Velan tidak tahu harus bereaksi apa, rasanya saat ini ia terlalu terkejut dengan semua pernyataan yang terlalu mendadak dan tiba-tiba. Lagi-lagi perutnya terasa melilit seakan ia sedang mengalami kram haid.


Velan sungguh tidak tahu harus menaruh mukanya di mana, karena saat ini ia benar-benar sangat malu akibat sudah salah menduga pria tampan ini sebagai seorang pria panggilan penjaja cinta satu malam.


Bagaimana jika pria ini menuntut Velan atas tuduhan pencemaran nama baik?


Apa aku sebaiknya berpura-pura gila? Batin Velan yang tak bisa menutupi rasa malu dan rasa bersalahnya.


"Tu-Tuan, sa-saya sungguh minta maaf karena sudah berpikir demikian," kata Velan sambil menangkupkan tangannya, memohon pengampunan kepada pria itu.


"Saya sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga kalian, dan saya sadar bahwa saya tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian," kata Daren.


Velan tertegun mendengar perkataan pria itu. Masih dengan tangan yang gemetaran ia memberanikan diri untuk bicara.


"Tuan, apa Tuan mengatakan hal ini pada saya karena Anda tidak ingin bekerja sama dengan saya lagi?" tanya Velan.


Daren kembali mengulas senyum, wanita di hadapannya ini jelas bukan seorang wanita yang bodoh karena bisa dengan mudah mengerti arah dan tujuan pembicaraan Daren.


"Nona Velan, sebenarnya saya dan Voren masih memiliki hubungan kekeluargaan yang jelas akan memperkeruh keadaan jika kita tetap melanjutkan kerja sama ini," kata Daren.


Velan kembali terkejut karena lagi-lagi harus menerima sebuah kenyataan yang menghantamnya secara bertubi-tubi.


Velan benar-benar tak percaya bahwa selama ini ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri.


Kekasih pura-puranya ini ternyata bukanlah seorang pria panggilan dan masih memiliki hubungan persaudaraan dengan Voren?


Matilah kau, Velan!


Daren kembali mengamati Velan yang nampak mematung.


"Nona Velan, sejujurnya saya sungguh berkenan untuk membantu Anda, namun ternyata ada hal yang berada di luar prediksi kita," kata Daren.


Velan tiba-tiba menyadari bahwa Voren adalah pria yang sangat menjaga reputasi dan nama baik, hal itu sudah menjadi harga mati untuknya. Dengan demikian Daren pun pasti begitu juga.


Velan menarik napas dan menghembuskannya perlahan, ia berusaha menguatkan diri karena harus menerima sebuah kenyataan bahwa rencana cemerlangnya untuk segera bercerai dari Voren dengan meminta bantuan kepada Daren jelas harus diakhiri.


"Tuan Daren, saya benar-benar sangat berterima kasih atas kebaikan Anda kepada saya. Sejak awal pertemuan kita, Anda bahkan tidak pernah menolak kehadiran saya, itu sudah lebih dari cukup untuk saya," kata Velan.


"Saya benar-benar mengerti posisi Anda, di satu sisi Anda ingin membantu saya namun ternyata Anda merasa bahwa Anda salah membantu orang, benar begitu kan?" tanya Velan.


"Nona Velan," kata Daren yang jelas merasa tidak enak.


"Saya benar-benar minta maaf, sungguh saya tidak bermaksud untuk membuat Anda berada di posisi yang begitu sulit, saya paham Anda juga memiliki nama baik yang harus dijaga, jangan sampai Anda dianggap perebut istri orang, meski saat ini hubungan yang sedang terjalin di antara kita hanyalah sebuah kerja sama," kata Velan.


"Terlebih ternyata Anda dan Voren masih memiliki hubungan keluarga yang mana saya sungguh tidak pernah menduganya. Jika dari awal saya tahu bahwa Anda mengenal Voren, saya tidak mungkin menceritakan aib rumah tangga saya kepada Anda, karena Anda pasti akan berpikir bahwa saya menjelek-jelekkan saudara Anda! Sungguh, Tuan, tolong jangan berpikir seperti itu!" lanjut Velan.


Daren memandangi Velan yang nampak akan meneteskan air mata. Velan sadar bahwa ia tidak boleh meneteskan lagi air matanya untuk menangis karena Voren.

__ADS_1


Velan menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya dengan segera.


"Tuan, sungguh saya tidak masalah jika Anda ingin mengakhiri kerja sama kita demi kemaslahatan umat," kata Velan sambil berusaha mengulas senyum.


"Anda benar-benar pria yang sangat baik, Tuan, Anda bahkan menraktir saya makan di restoran mewah seperti ini," lanjut Velan.


Daren mengulas senyum, wanita di hadapannya ini sungguh unik. Saat bicara sungguh sulit untuk berhenti. Daren belum mengatakan apa pun, wanita ini sudah bicara panjang lebar.


"Tuan, bagi saya, Anda sungguh seorang juru selamat! Tak terbayangkan oleh saya jika saya membawa pria kaleng-kaleng dan mengenalkan pria itu kepada Voren! Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana Voren akan menertawakan saya hingga ke liang kubur! Bahkan hingga di neraka pun, pria itu jelas akan mengejek saya! Namun, begitu saya membawa Anda, pria itu benar-benar tidak bisa berkomentar apa-apa!" kata Velan seraya tertawa.


"Haha," Daren tertawa mendengar perkataan Velan.


Velan menyeringai.


"Nona Velan, maaf, saya bukannya bermaksud menertawakan Anda, hanya saja, baru kali ini saya mendengar ada orang yang optimis masuk neraka," kata Daren.


"Tuan, saya ini sudah banyak melakukan dosa! Saya  sudah pasrah jika memang harus masuk neraka," kata Velan seraya terkekeh.


"Haha," Daren kembali tertawa. "Nona Velan, Anda ini panitia hari kiamat ya? Sampai bisa begitu yakin masuk neraka," kata Daren.


"Yah, mungkin semua yang menimpa saya saat ini merupakan perwujudan azab yang nyata dari Tuhan! Ini azab saya karena salah pilih jodoh!" kata Velan kembali tertawa.


Daren pun ikut tertawa.


"Tuan, karena kerja sama kita terpaksa harus berakhir, saya tidak tahu harus membayar Anda dengan apa, untuk membalas kebaikan Anda," kata Velan.


"Nona Velan, berapa kali harus saya katakan bahwa saya bukanlah pria panggilan," kata Daren.


"Iya, saya tahu, Tuan, tapi kan saya tetap harus membalas kebaikan Anda," kata Velan.


Daren kembali mengulas senyumnya, ia membuka kalung yang ia kenakan di balik kemeja hitam yang ia kenakan. Pria itu menyerahkan kembali cincin kawin milik Velan yang selama ini menjadi jaminan kerja sama mereka.


"Saya harus mengembalikan cincin kawin Anda, selama ini saya membawanya karena takut jika saya menghilangkannya," kata Daren.


Velan menatap nanar cincin kawinnya yang tergeletak di tengah meja.


"Tuan, saya lebih suka tidak melihat cincin ini lagi, setiap kali melihat cincin ini, saya kembali merasa sakit akibat semua kepalsuan yang harus saya hadapi," kata Velan.


"Voren memilih sendiri cincin ini saat kami akan menikah, namun ternyata semua hanyalah simbolis semata," kata Velan.


"Cincin ini sudah tidak ada artinya lagi untuk saya, kenapa? Karena saya pun sama sekali tidak ada artinya di mata Voren," lanjut Velan sambil tersenyum penuh kegetiran.


"Eh, ah, kenapa saya jadi curhat?! Ahaha! Maaf ya Tuan Daren, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan saudara Anda! Tapi kalau Anda mau mengatakannya tidak apa-apa, siapa tahu, Voren langsung menceraikan saya tanpa harus menunda-nunda lagi!" Velan kembali terkekeh.


"Haha," Daren tertawa lagi.


"Jadi Tuan, apakah hubungan kita harus berakhir sekarang?" tanya Velan.


Daren menatap Velan lekat-lekat, mengangguk perlahan sebagai jawabannya.


Velan benar-benar merasa nelangsa mendapat jawaban dari Daren. Hubungan kerja sama mereka harus berakhir padahal Velan belum resmi bercerai dari Voren.


Seseorang yang akan keluar dari restoran tersebut terhenti saat melihat Velan dan Daren yang duduk di salah satu meja. Keduanya bercengkerama dengan akrabnya hingga membuat orang itu bertanya-tanya.


Ada hubungan apa mereka berdua?


...~...


Pembaca setia othor..


Terima kasih sudah baca sampai chapter ini ya..

__ADS_1


Tetap dan selalu jaga kesehatan sampai karya ini selesai.


💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2