Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bulan Madu 2


__ADS_3

"Pak Doni, bisa minta tolong foto aku dengan latar belakang pemandangan laut itu?" tanya Velan.


"Baik, Nona," jawab Doni.


Velan begitu antusias saat tiba di sebuah hotel mewah yang menyuguhkan pemandangan laut. Hotel mewah dengan fasilitas kolam renang yang begitu luas dan menghadap langsung ke arah pantai tentu saja menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan untuk Velan. Seketika Velan menjadi seperti orang gunung yang baru pertama kali melihat pantai. Padahal unit apartemen yang ditempati Velan selama ini juga memiliki pemandangan laut. Hanya saja laut yang tersaji jelas sangat berbeda. Terlihat air laut yang berwarna biru cemerlang di sepanjang mata memandang, hamparan pasir putih yang berkilauan, semilir angin yang berhembus kencang menjadi satu harmoni yang begitu indah.


Lagi-lagi Velan terpana begitu memasuki kamar yang begitu mewah, kamar tersebut memiliki balkon yang menyuguhkan pemandangan laut. Kamar itu juga di fasilitasi dengan ruang tamu dan ruang makan, menghadap langsung ke arah laut biru. Begitu pula kamar mandi mewah, dilengkapi bathup, juga memiliki pemandangan laut lantaran dindingnya yang terbuat dari kaca.


Entah mengapa Velan jadi membayangkan, pasti menyenangkan sekali bisa berendam di bathup bersama suaminya sambil menikmati pemandangan matahari terbenam. Lagi-lagi pikiran Velan berpetualang seliar-liarnya.


"Istriku," kata Voren ke arah Velan.


Seketika lamunan Velan buyar karena Voren memanggilnya.


"I-iya, Suamiku?" sahut Velan.


"Aku dan Doni harus pergi, kalau kau mau jalan-jalan pastikan jangan sampai tersesat," kata Voren.


"Baik, Suamiku, aku mengerti," kata Velan.


"Permisi, Nona," Doni berpamitan.


...~...


Voren dan Doni sudah tiba di lobi hotel, Daren dan Dinar sudah menunggu kedatangan mereka. Dinar bisa melihat kehadiran sosok Voren dan atasannya yang jelas sekali menyita perhatian semua orang. Keduanya memiliki ketampanan di atas rata-rata pria pada umumnya.


Voren Lazaro memiliki kulit seputih susu dengan senyumnya yang menawan,sementara Daren Won memiliki aura maskulin yang sangat kentara. Jika disuruh memilih salah satu, tentu Dinar tidak mau memilih keduanya. Karena bagi Dinar kedua pria itu sungguh terlihat cocok bersama. Dinar sungguh berdebar-debar setiap kali melihat interaksi dua pria tampan itu, nampak sangat menggairahkan.


"Voren, kau terlihat lelah, apa kau mabuk perjalanan?" tanya Daren menyindir Voren yang nampak pucat


Voren tersenyum, ia tak mungkin mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia kerap tidur jauh malam lantaran harus memeriksa laporan investigasi dari tim sukses Voren untuk mencari-cari kesalahan Daren. Voren tentu tak bisa memeriksa laporan tersebut saat jam kantor, pekerjaan rutinnya saja sudah begitu banyak, sehingga mau tidak mau ia harus mengambil jam tidurnya.


"Aku tidak mabuk perjalanan, aku hanya mabuk cintamu, Daren," Voren membalas sindiran Daren.


Mendengar perkataan Voren, Dinar mati-matian menyembunyikan rasa girangnya.


Anda memang juara, Tuan Voren! Cinta memang harus diungkapkan, jangan hanya disimpan! Batin Dinar.

__ADS_1


"Haha," Daren tertawa.


"Mari kita langsung pergi meninjau Proyek Arvanas," kata Daren begitu ia selesai tertawa.


Mereka berempat segera memasuki mobil mewah yang sudah menunggu di pelataran hotel. Dinar segera duduk di samping sopir, sementara Voren dan Daren duduk di kursi tengah, lalu Doni duduk di kursi paling belakang mobil mewah tersebut.


Lokasi proyek tersebut berjarak satu jam perjalanan jika tidak ada kendala seperti kemacetan. Jalan raya nampak dipenuhi berbagai macam kendaraan yang membawa para wisatawan baik wisatawan lokal hingga turis mancanegara.


Proyek yang akan ditinjau oleh Voren bernama Proyek Arvanas. Proyek Arvanas adalah sebuah proyek pembangunan hotel dan resort mewah yang digadang-gadang akan menjadi mega proyek untuk Emperor Grup.


Voren segera turun dari mobil, Doni dengan sigap langsung memayungi Voren dari sinar matahari yang terasa begitu membakar. Meski sudah memakai sunblock namun tetap saja membuat kulit Voren yang seputih susu itu langsung nampak memerah.


Daren nampak begitu antusias saat memperlihatkan detail mega proyek yang saat ini ditanganinya, sementara Voren nampak mulai merasa gerah. Keringat nampak bercucuran dan itu membuatnya kurang nyaman.


Berjalan di tengah teriknya matahari sambil mengelilingi lahan yang begitu luas tentulah membuat Voren benar-benar merasa ia sedang berada di neraka.


"Jadi, nanti di sana akan dibangun wahana permainan air dengan kolam renang yang luas," kata Daren.


Voren nampak terhuyung, Doni dengan sigap langsung menahan tubuh Voren yang nampak seperti layang-layang putus.


"Tuan Voren!" seru Doni yang merasa kewalahan mengingat Tuan Voren memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dari bawahannya itu.


Daren segera membopong Voren yang nampak setengah pingsan.


"Dinar, tolong payungi Tuan Voren!" Doni menyerahkan payung tersebut pada Dinar.


Voren segera dievakuasi ke tempat yang lebih teduh dan sejuk. Voren segera berbaring di sofa. Doni cepat-cepat membawakan air mineral dan membantu pria itu untuk minum.


"Tuan Voren, Anda baik-baik saja?" tanya Doni.


Voren nampak masih terdiam lantaran rasa pusing yang menderanya.


"Voren, sepertinya kau harus kembali ke hotel dan beristirahat," kata Daren.


"Tuan Voren, Anda harus menjaga kondisi Anda," Dinar menimpali.


Voren sejatinya merasa malu, sungguh konyol rasanya ia harus limbung seperti itu lantaran serangan panas yang memang benar-benar menyengat. Panasnya seperti neraka bocor saja.

__ADS_1


"Tuan Voren, apa sebaiknya kita kembali lebih dulu?" tanya Doni lagi.


"Ya, sepertinya memang harus seperti itu," sahut Voren.


"Baiklah, kalau begitu, mungkin peninjauan bisa dilanjut besok pagi, saat cuaca masih sejuk," kata Daren.


Lemah sekali kau ini Voren, baru panas dunia saja kau sudah seperti ini, Daren berkata-kata dalam hatinya.


Wah, Tuan Voren benar-benar pria manja, sangat cocok dengan Pak Daren yang macho! Dinar bersorak kegirangan dalam hatinya.


...~...


Hotel tempat Velan menginap memiliki kolam renang berukuran besar yang begitu ramai dikunjungi oleh pengunjung. Pria, wanita, tua, muda, wisatawan lokal, hingga turis asing nampak tumpah ruah menjadi satu. Mereka berenang, bercengkerama, dan bercanda di area kolam renang. Ada juga sebagian pengunjung yang lebih memilih untuk hanya sekadar rebahan sambil menikmati matahari sore.


Velan hanya melongo melihat pemandangan para turis asing maupun lokal yang nampak santai hanya dalam balutan bikini untuk para wanita dan celana renang untuk para pria.


Wajar saja mereka pamer badan, badan mereka kebetulan bagus, coba saja penuh koreng dan selulit serta lemak-lemak bandel! Potong kuku jariku jika mereka masih berani pakai bikini, batin Velan yang entah mengapa merasa julid melihat kemolekan tubuh para wanita cantik itu.


Terlihat rombongan pria bertubuh atletis singgah menghampiri kumpulan pria bertubuh atletis lain yang saat ini sedang duduk bersantai di kursi malas di bawah payung besar, lokasinya bersebelahan dengan tempat Velan duduk termenung sendiri.


Wah, mereka memang keren, tapi suamiku jauh lebih indah lagi, Velan membatin.


"Bagaimana? Malam ini jadi?" tanya salah seorang pria bertubuh kekar yang langsung bergabung dengan kumpulan pria metroseksual tersebut.


"Jadi, dong! Acara arisan kali ini nominalnya fantastis! Tapi siapkan banyak stamina!" sahut pria berparas tampan itu menyahut.


"Emang klien umur berapa?" tanya yang lain.


"Umur tidak masalah, yang penting uangnya!" sahut pria bertubuh kekar itu sambil memainkan jari telunjuk dan jari jempolnya.


"Sip! Jam berapa jadi?" tanya mereka lagi.


"Sudah, nanti info di grup saja," sahut pria itu lagi.


"Oke, yuk bubar! Siap-siap!" pria tampan lain menimpali.


Rombongan pria metroseksual itu pun pergi dari tempat itu. Sementara Velan hanya bisa terperangah lantaran mencuri dengar pembicaraan pria-pria bertubuh atletis berparas rupawan tersebut.

__ADS_1


Cepat-cepat Velan mengabaikan pikirannya yang mulai berpetualang liar sebagai akibat dari mencuri dengar pembicaraan orang lain. Ia segera membuka ponselnya, memeriksa pesan yang masuk dari aplikasi berlogo hijau. Velan sudah memberi pengumuman bahwa sementara ia tidak menerima pesanan kue dulu. Ia sungguh ingin menikmati liburan sekaligus bulan madu yang sudah diaturkan oleh ibu mertuanya. Lagi-lagi Velan langsung berdebar-debar hanya dengan membayangkan bisa berduaan dengan sang suami. Sungguh persiapan Velan sudah mencapai seratus persen, sehingga malam inilah yang tepat untuk merealisasikan semua rencananya itu.


...~...


__ADS_2