Jodoh Instan

Jodoh Instan
Istri Sah


__ADS_3

"Sayang! Teganya kau mengkhianatiku seperti ini! Teganya kau berselingkuh dariku! Aku begitu mencintaimu, tulus, ikhlas, lahir, batin, dunia, dan akhirat!" wanita itu menjerit, menangis histeris saat mengetahui perselingkuhan suaminya.


Wanita itu sungguh tak percaya bahwa selama ini ternyata suaminya yang begitu baik dan bukan tipe pria yang akan berani macam-macam ternyata berani berulah macam-macam di belakang sang istri.


Sang sekretaris yang menjadi pasangan tidak resmi dari sang suami nampak menyembunyikan senyum kemenangan lantaran akhirnya perselingkuhan yang dilakukan antara ia dan atasannya diketahui istri sah atasannya.


"Maafkan aku Sayang, aku sungguh mencintaimu dan juga mencintainya," kata sang suami dengan ekspresi yang tidak menunjukkan rasa menyesal karena sudah berbuat curang.


"Sayang! Kau harus memilih! Pilih dia atau aku!" kata sang istri masih dengan linangan air mata yang menganak sungai.


"Sayang, maaf, masalahnya saat ini, aku benar-benar mencintainya!" kata sang suami.


Sang istri merasa kesabarannya telah habis, wanita itu meluapkan kemarahannya pada sang sekretaris binal dan gatal yang selama ini sudah menggoda suaminya. Sang istri sah langsung menjambak rambut sang sekretaris.


"Tolong! Tolong!" teriak sekretaris itu.


"Sayang, lepaskan! Jangan kau sakiti dia!" sergah sang suami yang berusaha melerai perkelahian yang terjadi antara istri dan selir hatinya.


"Sayang! Kau sudah salah! Dan semakin salah karena membela yang salah!" teriak sang istri penuh kemurkaan, masih tetap menjambak rambut selir suaminya.


"Sayang, lepaskan! Inilah kenapa aku tidak suka melihat kebrutalanmu! Aku muak dengan sikapmu ini!" bentak sang suami.


Wanita itu nampak terpukul karena sang suami justru lebih membela wanita idaman lainnya. Sang istri sah pun hanya bisa menangis sejadi-jadinya diiringi dengan latar musik yang menjadi andalan untuk para istri yang disakiti suami.


Kumenangis...


Velan menguap lebar, ia memaksakan matanya untuk menyaksikan sinetron yang semalaman sudah menemani untuk mengusir rasa sepinya. Hampir semua sinetron dengan tema perselingkuhan memiliki alur yang sama. Bahkan akhirnya pun sama. Suami yang dibutakan cinta dari selir hatinya akan lebih memilih selir hati itu daripada istri sah. Semakin keras dan tertindas istri sah, maka wanita idaman lain akan merasa semakin senang lantaran merasakan kemenangan yang hakiki. Merasa senang di atas penderitaan orang lain. Merasa menang karena sudah berhasil merebut suami dari istri dan ayah dari anak-anak.


Velan bisa membayangkan, Doni sang asisten pribadi suaminya saat ini pasti merasa begitu senang lantaran menduga bahwa Velan pasti akan terpuruk dengan perbuatan nista bin biadap alias tak bermoral yang telah dilakukan oleh Doni terhadap suaminya.


Velan kembali menguap, entah mengapa ia merasa kantuk menyerangnya padahal semalam memejamkan mata pun tak bisa lantaran menahan rasa kesalnya pada Doni.


Asisten pribadi itu harus tahu berhadapan dengan siapa!


...~...

__ADS_1


Velan terbangun dari tidurnya, ia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Rupanya Velan terlalu lelah dan terlelap di ruang tamu.


Suaminya benar-benar tidak pulang ke rumah karena tergoda bujukan dan rayuan dari pria binal dan gatal yang minta digaruk dengan sikat kawat!


Velan berusaha untuk berpikir positif, mungkin apa yang dikatakan oleh Doni benar. Bahwa suaminya itu mabuk dan numpang menginap di tempat Doni.


Velan segera memasak untuk menyiapkan bekal makan siang suaminya. Setelah selesai memasak ia segera berdandan dan berpakaian yang rapi.


Saatnya istri sah beraksi untuk merebut kembali perhatian suaminya.


...~...


Ponsel Doni berdering saat ia tengah mendiskusikan laporan dengan Tuan Voren. Melihat nama Nona Velan membuat Doni ragu untuk menjawabnya.


"Siapa yang telepon? Kenapa tidak diangkat?" tanya Voren.


"Istri anda, Tuan," jawab Doni.


"Oh," Voren hanya ber-oh singkat.


Doni menarik napas berat, kemudian menghembuskannya pelan. Latihan pernapasan untuk mengurangi rasa tegangnya.


"Selamat siang, Nona Velan," jawab Doni.


"Pak Doni, aku ada di lobi gedung Emperor Grup! Para karyawan di perusahaan ini menganggap bahwa aku hanya wanita halu yang mengaku sebagai istri dari Voren Lazaro," kata Velan.


Doni terkesiap, ia memijat pelipisnya.


"Nona Velan, baiklah, tunggu sebentar, saya akan menjemput Anda," kata Doni sebelum menutup teleponnya.


"Ada apa, Doni?" tanya Voren.


"Nona Velan ada di lobi bawah, bolehkah saya menjemput beliau, Tuan?" tanya Doni.


"Mau apa istriku kemari, Doni?" tanya Voren keheranan.

__ADS_1


"Tentu saja untuk menemui Anda, Tuan, memangnya mau apa lagi?" Doni balik bertanya.


"Aduh, aku tidak mau menemuinya, Doni! Sebentar lagi aku harus ke butik untuk menemui Soraya!" keluh Voren.


"Tuan, menurut saya Anda harus menemui istri Anda dulu, semalam Anda bahkan tidak pulang dan membuat saya harus mendapat teror dari istri Anda!" kata Doni.


Doni sungguh menjadi tumbal atas keegoisan Tuan Voren.


"Tuan, saya harus menjemput Nona Velan, sebelum   beliau berurusan dengan petugas keamanan!" tandas Doni.


Voren nampak merengut sambil melipat kedua tangannya di depan meja. Doni segera keluar dari ruang kerja Tuan Voren. Ia menyusuri koridor menuju ke lift. Di dalam lift berdinding cermin itu Doni melatih senyum di wajahnya.


"Anggap saja tidak tahu apa-apa!" kata Doni bermonolog saat menatap pantulan dirinya.


Begitu pintu lift terbuka, Doni segera menyusuri lobi. Benar saja, petugas keamanan nampak sudah berada di sekeliling Nona Velan. Dua orang resepsionis berparas cantik itu tentu tidak serta merta percaya bahwa wanita berpenampilan sederhana yang menemui mereka itu mengaku ingin menemui Tuan Voren Lazaro karena beliau adalah istri pria tersebut.


"Permisi, Bapak-bapak sekalian, silakan kembali bekerja," kata Doni ke arah dua petugas keamanan.


"Pak Doni, tapi Pak...," sergah keduanya.


Doni hanya memberi kode dengan anggukan. Ajeng dan Dian, dua resepsionis cantik itu melongo saat Doni juga mengangguk kepada mereka.


"Nanti saya jelaskan," kata Doni tanpa suara ke arah Ajeng dan Dian.


"Mari Nona, silakan ikuti saya," kata Doni.


Velan menatap sinis ke arah dua resepsionis yang yang tidak percaya saat Velan mengaku sebagai istri Tuan Voren.


"Mbak, yang datang ke perusahaan ini dan mengaku sebagai istri Tuan Voren Lazaro, bukan cuma Mbak saja!" kata Ajeng sambil mengulas senyum ramah.


"Saya juga kalau hanya sekadar mengaku, bisa saja saya mengatakan saya istri Tuan Voren," sambung Dian.


"Kalau Mbak cuma datang untuk mengantar proposal sumbangan, silakan titipkan saja pada kami, akan kami sampaikan," lanjut Ajeng.


Oleh karena itu, Velan segera menelepon Doni agar pria itu menjemputnya dan membuktikan bahwa Velan bukanlah peminta sumbangan atau pun wanita halu yang mengaku sebagai istri Tuan Voren.

__ADS_1


...~...


__ADS_2