
"Huek..."
Voren tidak memuntahkan apapun lagi di wastafelnya. Tubuhnya sudah terlalu lemah, ia berjalan terhuyung keluar dari kamar mandi, pandangannya seakan gelap dan akhirnya malah ambruk di tempat tidurnya. Voren merasa ia mengalami komplikasi, penyakit maag yang kambuh, vertigo, demam, hingga flu dan batuk.
Semua penyakit langsung mengeroyoknya lantaran akhir-akhir ini beban pikirannya benar-benar luar biasa membludak. Saham-saham pribadinya yang anjlok, hasil evaluasi direksi tahap dua di luar ekspektasinya, ayah yang lebih memihak saingannya, ibu yang memintanya menikahi Soraya dan segera punya anak, hingga istri yang memiliki pria idaman lain yang sungguh membahayakan posisinya. Semua masalah menggempurnya bertubi-tubi tanpa ampun. Membuat Voren akhirnya stres sendiri.
Penyakit maag merupakan penyakit rutinnya yang kerap kambuh secara berkala terlebih ketika ia sedang stres akibat banyaknya beban pikiran. Penyakit tersebut didapatnya ketika menurunkan berat badan sebanyak lima puluh kilogram dalam empat bulan ketika ia lulus dari SMA. Sehingga saat ia memasuki dunia perkuliahan, ia benar-benar menjelma menjadi sosok pangeran idaman yang tampan dan sempurna.
Voren mengambil ponsel di atas nakas dengan tubuhnya yang gemetaran, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Harus ada dokter yang menanganinya, kalau tidak ia benar-benar akan terkapar lantaran penyakit maagnya yang cukup akut.
"Do-Doni...," Voren menelepon Doni.
"Tuan, mohon bersabar, saat ini situasi tidak memungkinkan untuk mendatangkan Dokter Steve, tapi Dokter Steve sudah menuliskan resep obat untuk Anda. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Nona Velan untuk mekanismenya," kata Doni.
"Do-Doni, aku benar-benar bisa mati, huek...!"
"Tuan! Sebentar saya akan menghubungi Nona Velan, bertahanlah, Tuan," kata Doni sebelum menutup teleponnya.
"Do-Doni...," VorenĀ menahan kembali rasa mualnya.
Kepalanya benar-benar pusing, mata berkunang-kunang, disertai pandangan yang mulai gelap.
...~...
Velan memasuki kamar Voren dan mendapati pria itu dalam posisi menelungkup seperti sendok di atas piring, menahan rasa sakit di ulu hatinya.
Velan membawakan nampan berisi satu lusin obat dan air minum, lalu meletakkannya di atas nakas.
"Cepat minum semua obat ini," kata Velan.
Voren menoleh ke arah Velan yang menatapnya dingin seakan tengah menertawakan kondisi Voren yang terlihat mengenaskan. Voren berguling dan menyandarkan tubuhnya di atas tumpukan bantal lalu melayangkan tatapan skeptis.
"Uhuk... apa kau mau membuatku over dosis dengan meminum semua obat itu sekaligus?" tanya Voren.
"Entahlah, itu bukan urusanku," jawab Velan dengan dingin.
"Ke mana Soraya? Kenapa dia tidak ada di sini saat kau sedang terpuruk seperti ini? Apa kalian hanya bersama-sama saat sedang bersenang-senang saja?" tanya Velan.
Voren menghela napas berat karena Velan terus mencecarnya seperti itu.
"Oh ya, kau jangan besar kepala! Aku tidak bermaksud untuk merawatmu! Aku hanya orang yang kebetulan berada di sekitarmu saat ini!" kata Velan.
"Jadi katakan pada Soraya, dia tak perlu cemburu padaku!" lanjut Velan.
__ADS_1
Voren kembali menghela napas berat, ia benar-benar terlalu lemah untuk membalas semua cecaran wanita ini.
"Istriku, aku sungguh tidak ingin berdebat denganmu! Aku ini sedang sakit! Huek...!" Voren kembali mual.
"Istriku!" kata Voren menahan rasa mualnya yang makin menjadi.
"Jangan memanggilku dengan sebutan menyedihkan itu! Sana panggil saja Soraya untuk mengurusmu! Wanita yang kau cintai, wanita yang kau inginkan, dan wanita yang akan kau nikahi!" cecar Velan.
"Istriku, huek, bantu aku minum obat, huek...," kata Voren.
"Haha! Kau benar-benar pria tidak tahu diri, Voren Lazaro! Saat kau sehat, kau bersama Soraya, begitu kau sakit seperti saat ini, kau malah meminta bantuanku!" cecar Velan lagi.
"Huekk, istriku apa kau tidak punya rasa kemanusiaan?" tanya Voren.
"Rasa kemanusiaan? Memangnya kau manusia?" Velan bertanya balik.
"Hueek...!" Voren memuntahi piyamanya.
"Hihh! Kau benar- benar jorok!" sergah Velan.
"Huek...," Voren kembali muntah sebelum akhirnya berbaring tanpa daya.
Velan benar-benar membenci pria itu. Pria itu sudah mendustainya, mengecewakannya, bahkan menyakitinya. Namun rasa kemanusiaan dan perjanjiannya dengan Doni, membuat Velan terpaksa mengurus Voren.
Velan mengambil pakaian ganti untuk Voren. Ia menyiapkan air hangat dan handuk kecil. Mengganti pakaian Voren yang kotor karena muntahan lalu menyeka keringat pria itu dengan handuk dan air hangat. Dengan telaten Velan mengeringkan tubuh Voren yang limbung bak layang-layang putus dengan handuk kering lalu memakaikan piyama ganti.
"Uhuk!" Voren menggeleng, hanya berbaring dengan mata tertutup lantaran menahan rasa sakit.
Velan hanya memasang ekspresi datar ketika mulai mengganti bawahan piyama Voren yang juga basah dengan bawahan piyama yang bersih. Entah mengapa Velan sungguh merasa tidak tergiur lagi dengan tubuh Voren.
Apa karena setiap sel-sel di tubuhnya sudah merasa sangat kecewa dengan pria ini?
Ya, sepertinya begitu.
Velan sudah terlalu kecewa dengan pria ini hingga ke pori-porinya.
Velan mengambil obat dan memilah mana yang harus diminum pria itu sebelum makan.
"Minum ini," kata Velan menyodorkan empat butir obat ke arah Voren.
Voren menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa menelannya, semua obat itu rasanya akan tersangkut di kerongkonganku," tolak Voren.
__ADS_1
"Apa kau pikir kau itu bayi?!" gerutu Velan.
Velan mengambil obat berbentuk tablet dan menghancurkannya dengan sendok hingga berbentuk bubuk, lalu mencampurkannya dengan satu sendok air.
Voren membuka mulutnya lalu meminum obat yang sudah larut dengan air. Velan melakukan hal yang sama hingga semua obat sudah selesai diminum Voren.
"Istriku, aku lapar," kata Voren dengan suaranya yang lemah.
"Minta Pak Doni memesan makanan untukmu!" sahut Velan dengan ketusnya.
"Doni saja tidak bisa datang, bagaimana dia bisa membawakan makanan untukku?" keluh Voren.
"Kau kan bisa pesan secara daring! Ke mana sih otakmu itu?!" kata Velan masih dengan ketus.
Voren menggeleng lagi, ia tentu tidak bisa sembarangan memakan apa pun tanpa ada pengawasan dari Doni.
"Apa kau tidak takut, jika aku memasak makanan, aku akan menaburkan racun yang bisa membunuhmu?" tanya Velan.
"Tidak masalah, yang penting aku mati dalam keadaan kenyang," sahut Voren.
Velan mendengus kesal, ia segera keluar dari kamar meninggalkan Voren yang masih terbaring lemah.
...~...
Velan menuju ke dapur dan mulai memasak sesuatu yang bisa dimakannya.
"Aku memasak untuk diriku sendiri! Terserah dia mau makan atau tidak! Aku tidak peduli," kata Velan.
...~...
Voren masih terbaring begitu lemah saat melihat Velan kembali masuk ke kamarnya. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada sambil memasang ekspresi dingin.
"Aku sudah memasak, kalau kau mau makan, makanlah di dapur!" kata Velan masih dengan nada ketus.
Voren kembali meringkuk sambil memeluk gulingnya dengan erat.
"Istriku, apa hanya dengan minum obat aku bisa langsung sembuh?" tanya Voren.
Velan merasa jengah melihat pria itu bertingkah sok imut.
Velan mendelik gusar, ia kembali ke dapur dan menyiapkan semangkuk sup daging, lalu membawanya ke kamar Voren. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas lalu bergegas pergi.
Voren menahan kepergian Velan.
__ADS_1
"Istriku, suapi aku," kata Voren menatap ke arah Velan.
...~...