
"Soraya, ini bunga mawar merah kesukaanmu," kata Voren menyerahkan buket bunga kepada Soraya yang masih begitu sibuk menjahit pola dengan mesin jahitnya.
Soraya mengambil buket bunga mawar merah itu, lalu menyerahkan kembali kepada Voren.
"Voren, lebih baik kau berikan bunga ini kepada istrimu!" kata Soraya memasang ekspresi dingin.
"Soraya, bunga ini kuberikan untukmu, bukan untuk istriku," kata Voren.
"Voren, sikapmu yang seperti inilah yang pada akhirnya membuat istrimu salah paham padaku!" sergah Soraya.
"Soraya, apa maksudmu?" tanya Voren keheranan.
"Voren, kuharap kau bisa menjelaskan kepada istrimu bahwa hubungan kita hanya sebatas rekan bisnis!" kata Soraya.
"Voren, sungguh aku tidak tahu dan tidak mau tahu urusan rumah tanggamu, namun aku sungguh kurang berkenan saat aku harus dituduh merebutmu darinya," kata Soraya.
Voren tercengang mendengar penuturan Soraya. Doni cepat-cepat menutup mulutnya. Ia sungguh tak menyangka bahwa Nona Velan sampai nekat mendatangi Soraya.
Jika melihat dari karakter Nona Velan, Doni seakan bisa menebak bagaimana pembicaraan kedua wanita itu. Soraya sampai semarah ini, pasti Nona Velan mencecar Soraya seperti saat beliau mencecar Doni.
Nona Velan sungguh wanita yang mengerikan.
"Jadi Voren, sebaiknya kau pulang sekarang, daripada istrimu datang lagi dan memberiku pantun tentang pelakor!" kata Soraya menahan rasa geram.
Voren menghela napas berat, ia melemparkan buket bunga mawar itu kepada Doni lalu bergegas menuruni tangga dengan perasaan kesal yang berkecamuk di dada.
Doni meletakkan buket bunga mawar itu ke atas meja.
"Aku pergi dulu, Soraya," Doni berpamitan.
...~...
Velan mematut dirinya di depan cermin. Mengusapkan bedak jampi-jampi yang diberikan oleh Mbah Bucin kepadanya. Selanjutnya ia memulaskan perona bibir berwarna jingga kemerahan yang memberi rona segar pada wajahnya. Entah mengapa Velan merasa menjadi cantik seketika.
Ia jadi bertanya-tanya, apakah suaminya akan melihatnya seakan pria itu sedang melihat bidadari?
"Ya ampun, apa aku secantik itu?" Velan tersipu malu.
Rasanya ia sungguh berdebar-debar. Ia sudah melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa dan memakai bedak jampi-jampi.
Kali ini Voren pasti tak akan melepaskan pandangannya dariku, pikir Velan.
Velan tersenyum berputar-putar dengan memakai gaun hitam, satu-satunya gaun yang ia miliki. Ia juga menyisir rambutnya dengan rapi.
Malam ini, ia berharap suaminya tidak kabur meninggalkannya begitu saja seperti beberapa malam yang lalu.
Di saat Velan sudah luar biasa bergairah, tiba-tiba saja Voren justru lari setelah membohonginya. Betapa Velan sudah begitu senang saat Voren mengatakan siap untuk memulai kegiatan panas mereka.
Rasanya ditinggal saat sedang birahi tentu saja tidak akan membuatmu merasa jadi Iron Man!
Velan sekali lagi berputar di depan cermin sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menunggu kedatangan suaminya.
...~...
__ADS_1
"Selamat datang, Suamiku," Velan menyambut kedatangan Voren yang selalu diikuti oleh Doni.
Doni merasakan atmosfer ketegangan yang tak henti-hentinya ia rasakan karena sepanjang perjalanan pulang dari butik Soraya, Tuan Voren benar-benar bungkam seribu bahasa. Doni sudah hafal betul, jika Tuan Voren benar-benar sedang marah, pria itu hanya akan diam. Sehingga lebih bijaksana untuk tetap diam daripada memicu ledakan amarah beliau.
Voren duduk dengan tenang di sofa sambil melepas sepatunya dan menukarnya dengan sandal bulu berwarna hitam.
"Suamiku, aku sudah menyiapkan air mandi untukmu," kata Velan.
"Istriku, kemarilah," Voren menepuk sisi sofa yang kosong.
Velan berdebar-debar, ia segera duduk di samping Voren. Mereka saling bertatapan lama sebelum Voren akhirnya bicara.
"Istriku, tolong jangan ikut campur dengan urusan pribadiku, tolong hormati privasiku" kata Voren.
"Suamiku, apa maksud perkataanmu?" tanya Velan.
"Istriku, kau tidak perlu berpura-pura tidak tahu apa maksudku," Voren mengulas senyumnya.
"Apa kau pikir aku tidak tahu kau datang dan menemui Soraya?" tanya Voren.
Velan terkesiap mendengar pertanyaan Voren.
"Suamiku, apa salahnya aku menemui Bu Soraya?" tanya Velan.
"Apa kau tahu, menurutku kau lancang sekali karena sudah menemui Soraya," jawab Voren.
Velan menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. Velan bisa menebak bahwa Voren pasti akan membela pelakor itu.
"Suamiku, bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku melakukan kelancangan dengan menemui Soraya?" Velan balik bertanya.
"Begini, Suamiku, sebagai seorang istri sah yang begitu mencintaimu, aku tentu tidak bisa membiarkan kalian bermain api di belakangku," kata Velan menjaga nada bicaranya agar tetap tenang, padahal dalam hati ia mengumpat jengkel.
"Bermain api?" tanya Voren.
"Benar, Suamiku, tidak baik bermain api, terlebih api asmara di belakang karena bisa menimbulkan kebakaran yang tidak diinginkan!" jawab Velan.
Voren dan Velan saling menatap seakan saat ini tengah berperang dingin melalui kata-kata yang terjaga dan tertata.
"Suamiku, aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kita! Aku tentu tidak bisa membiarkanmu berlarut-larut dan hanyut lantaran terjebak nostalgia!" jawab Velan.
Voren mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menghela napas berat sambil melayangkan pandangannya pada Doni. Ia merasa stok kesabarannya untuk menghadapi wanita ini sudah mulai menipis.
Wanita ini dikasih hati malah minta jantung, pikir Voren sambil mengulas senyumnya.
"Suamiku, sungguh aku tidak ingin ada perselingkuhan yang mewarnai kehidupan rumah tangga kita," kata Velan berusaha mengatur kata-katanya.
"Perselingkuhan?" tanya Voren sambil memegangi dagunya.
"Suamiku, sungguh bukan hal yang baik menemui wanita lain terlebih tanpa sepengetahuanku sementara kita sudah menikah," jawab Velan.
"Aku tentu tidak punya hak untuk ikut campur terhadap masa lalu kalian, namun saat ini yang terpenting adalah kita terikat pernikahan yang sah, aku istrimu dan Bu Soraya adalah masa lalumu," lanjut Velan melontarkan argumentasinya.
"Haha," Voren tertawa mendengar penuturan Velan.
__ADS_1
"Istriku, hal yang perlu kau garis bawahi, hubunganku dengan Soraya bukanlah urusanmu!" kata Voren.
"Suamiku, bagaimana bisa hubungan yang kalian bina di belakangku bukanlah urusanku? Aku ini istrimu! Aku tentu tidak bisa membiarkan adanya perselingkuhan antara kau dan Bu Soraya!" kata Velan.
Voren memegangi dagunya sebagai bentuk kebiasaannya saat sedang berpikir. Ia tentu harus menyusun kata-kata yang tepat untuk membalas tudingan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Soraya.
"Istriku, menurutku perselingkuhan itu adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan posisi dua orang yang saling mencintai dan saling berkomitmen untuk setia satu sama lain. Ketika salah satu dari kedua belah pihak itu melakukan kecurangan, barulah bisa disebut sebagai perselingkuhan," Voren menjelaskan pemikirannya.
"Sementara kita tidak saling mencintai, sehingga jelas aku tidak melakukan perselingkuhan," lanjut Voren.
Velan tercengang mendengar perkataan Voren. Pria itu tetap mengulas senyum ramahnya.
"Istriku, terus terang aku memang mencintai Soraya," kata Voren.
Velan merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar pengakuan Voren. Bagaimana bisa pria itu tetap terlihat tenang saat mengatakan bahwa ia mencintai wanita lain di depan istrinya sendiri?
"Suamiku, aku ini istrimu! Apa kau sama sekali tidak memandangku?" tanya Velan.
"Istriku, kita memang menikah, kau memang istri sahku sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku! Namun apakah lantas dengan status tersebut akan menghalangi rasa cintaku pada Soraya?" tanya Voren.
"Istriku, bagiku pernikahan kita ini tak lebih hanya sekadar status! Jujur saja, aku menikahimu bukan karena inginku, tapi untuk memenuhi keinginan ibuku," lanjut Voren.
"Oleh karena itu, aku tidak pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan kita, sehingga menurutku kau pun harus bersikap demikian," tambah Voren.
Kepala Velan seketika langsung kosong, air mata langsung merebak memenuhi pelupuk matanya.
"Istriku, asal kau tahu, saat ini aku sedang berjuang untuk memperjuangkan cintaku, lebih bijaksana jika kau tidak melakukan intervensi konyol yang akan mengacaukan segalanya," kata Voren.
"Suamiku, bagaimana kau bisa berkata begitu? Aku ini istrimu dan kita terikat pada pernikahan! Bagaimana kau bisa seenaknya memperjuangkan cintamu pada wanita lain?" sergah Velan.
"Bukankah sudah jelas, itu artinya aku pun perlu bersiap untuk melepasmu!" jawab Voren.
Lagi-lagi Velan mendengar suara petir yang saling menyambar dalam benaknya.
"Su-suamiku, apa maksudmu?" tanya Velan yang langsung merasa panik.
"Istriku, pernikahan kita pada dasarnya bukanlah inginku! Lantas apa gunanya aku harus mempertahankan pernikahan ini? Sebelum kau terlalu jauh mencampuri urusanku, sebaiknya kita sudahi saja!" jawab Voren sambil mengulas senyumnya.
"Tunggu, Suamiku, apa kau bermaksud untuk menceraikanku?" tanya Velan.
"Sepertinya begitu," jawab Voren masih tetap mengulas senyumnya.
"Tidak! Tidak, Suamiku! Kumohon jangan ceraikan aku, Suamiku," Velan berlutut dan memohon di kaki Voren.
"Istriku, maaf keputusanku sudah bulat," kata Voren.
"Suamiku! Kumohon jangan ceraikan aku, Suamiku!" Velan memeluk kedua kaki Voren dan menangis mengiba.
Voren memutar bola matanya, mengarahkan pandangannya pada Doni.
Doni hanya menghela napas berat sembari membatin.
Maaf Nona Velan, Tuan Voren pantang menarik keputusan yang sudah beliau ambil.
__ADS_1
...~...