
Velan ingin bersembunyi, namun saat ini tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi. Ia ingin menghindar, namun situasi tidak memungkinkan baginya untuk menghindar.
Velan benar-benar tidak menduga akan bertemu kembali dengan pria panggilan yang tempo hari ia temui untuk sekadar berkonsultasi. Bagaimana mungkin pria panggilan itu bisa ada di sini?
Siapa yang mengundangnya?
Apa acara ulang tahun nenek Voren membutuhkan pria panggilan untuk sekadar memeriahkan acara?
Halo? Kalau mau memeriahkan acara pesta ulang tahun harusnya memanggil badut ulang tahun, bukannya pria panggilan!
Pikiran liar Velan berpetualang, ia jadi membayangkan pria tampan berkemeja hitam itu sedang menari di atas tiang untuk menghibur para wanita kelas atas yang hadir sebagai tamu Alena. Para nenek-nenek bertepuk tangan heboh melihat kepiawaian pria tampan itu saat memanjat dan berputar-putar bak baling-baling helikopter.
Mungkinkah di balik kemeja hitam dan celana panjang hitam pria itu terdapat stocking jala-jala yang menggoda para wanita uzur yang tidak ingat umur?!
Oh Tuhan! Otakku rusak! Batin Velan menjerit, mengusir bayangan liar dalam benaknya tentang pria itu.
Mata Velan saling bertatapan dengan pria yang saat ini tengah mendekat ke arah Velan.
Bagaimana ini? Bagaimana jika dia mengenaliku?
Bagaimana jika ia membocorkan identitasku sebagai salah satu orang yang pernah menggunakan jasanya?
Bagaimana jika ia tahu bahwa aku adalah menantu dari keluarga Lazaro yang terhormat?
Menyewa pria panggilan untuk menceritakan aib suaminya tentulah tindakan yang saat ini menjadi tindakan yang patut Velan sesali.
Apa yang harus kulakukan?
Dalam benak Velan terdapat dua hal yang bisa ia pilih.
Yang pertama, tetap diam dan pura-pura tidak mengenali pria itu sebagai bentuk profesionalisme antara pelanggan dengan penyedia jasa. Yang kedua, mengajak pria itu bicara empat mata dan memohon agar pria itu bungkam.
Hal terakhir yang harus Velan pilih jika pria itu secara sengaja atau tidak dalam membocorkan identitas Velan, mungkin Velan perlu menerornya dengan melemparinya tanah kuburan!
Velan memilih pilihan pertama, yakni berpura-pura tidak mengenali pria itu.
"Tanteku sayang," pria itu langsung menghampiri seorang wanita berwajah angkuh yang langsung menyambut pria tampan itu dengan gayanya yang begitu angkuh.
Velan melotot, mencuri pandang ke arah pria panggilan yang langsung berpelukan seakan kedua orang itu sudah lama tidak saling bertemu.
Velan mengenali wanita bermata kucing itu sebagai Darla. Wanita yang memberikan Alena perhiasan batu giok dari Tiongkok.
__ADS_1
"Kau dari mana saja? Susah sekali menghubungimu!" keluh Darla.
"Maaf, banyak klien yang harus kutemui hari ini," kata pria itu.
"Jangan menggunakan alasan klien!" sergah Darla.
"Baiklah, maafkan aku, Tanteku yang cantik," kata pria itu lagi.
Velan kembali mencuri pandang ke arah Darla dan pria tampan yang memasuki ruang pertemuan.
Apakah pria tampan itu adalah simpanan wanita paruh baya bernama Darla?
Atau justru Darla yang bertindak sebagai "Mami" untuk menjajakan pria itu kepada orang-orang kaya yang menjadi tamu Alena?
Oh Tuhan! Itu sungguh bukan urusanku! Velan membatin.
Sungguh Velan harus menghindari pria itu, demi menjaga reputasi Velan dan juga keluarga Lazaro. Sumpah tidak lucu sekali jika pria itu sampai tahu bahwa Velan adalah menantu keluarga Lazaro yang sudah menyewa jasa pria penjaja cinta satu malam hanya untuk menceritakan permasalahan rumah tangganya.
Velan memutuskan untuk bersembunyi saja. Menghindar lebih baik daripada harus bertegur sapa dengan pria panggilan itu.
...~...
Velan menyusuri taman yang nampak temaram. Ia segera duduk di kursi taman. Saat ini dalam benaknya begitu banyak hal yang harus ia pikirkan. Mulai dari utang yang belum kunjung terselesaikan, rumah yang akan disita oleh pihak bank, biaya sewa lapak yang naik, hingga suami yang tidak tertarik pada wanita.
...~...
"Daren, tolong jangan panggil Ibumu ini tante! Kau mau menjadi anak durhaka?!" rutuk Darla saat melangkah bersama Daren menuju ke ruang pertemuan.
"Ibu, Ibu masih begitu cantik, Ibu lebih tepat kupanggil tante dengan penampilan Ibu yang sekarang," kata Daren sambil menyeringai.
Saat ini yang bisa Daren lakukan agar ibunya tidak marah adalah dengan merayu ibunya. Daren sudah datang sangat terlambat, ia bahkan mengabaikan telepon ibunya yang masuk hampir sebanyak seratus kali. Belum lagi ibunya masih menyimpan kekesalan lantaran Daren tidak datang ke kencan buta yang hari itu sudah diaturkan oleh Darla. Sehingga Daren perlu bersikap manis dan manja di depan ibunya.
"Daren, jangan bicara omong kosong begitu!" Darla mencubit perut Daren.
"Aduh, sakit, Bu," Daren mengaduh sambil mengusap perutnya.
"Itu tidak sebanding dengan rasa kesal Ibu yang harus menunggumu datang begitu terlambat ke acara ulang tahun Bibi Alena!" sergah Darla.
"Kau harus mendapatkan banyak dukungan dari keluarga Lazaro agar kau terpilih menjadi Presiden Direktur!" tandas Darla.
"Iya Bu, aku mengerti," sahut Daren.
__ADS_1
Darla memasang ekspresi sinis ke arah Daren. Daren langsung merangkul lengan ibunya dengan sikap manja.
"Iya Bu, aku akan berusaha dengan baik, Ibu tenang saja! Ibu harus terus tersenyum supaya Ibu senantiasa terlihat cantik," kata Daren.
"Daren, hentikan gombalanmu itu! Dari mana kau belajar menggombal konyol seperti itu?!" cibir Darla yang sebisa mungkin menahan senyumnya.
Anak laki-lakinya ini memang pandai merayunya jika suasana hatinya begitu buruk.
...~...
Daren menemui keluarga Lazaro, melakukan ramah tamah dan basa-basi singkat yang nampaknya sudah menjadi tradisi. Daren berbincang sebentar dengan Alren serta beberapa anggota keluarga Lazaro.
Daren segera mengambil minuman, rasanya rahangnya kaku lantaran harus terus mengulas senyum setiap saat.
"Hai Daren," sapa para bibi Daren.
"Tante Deby, Tante Daisy," sapa Daren.
"Daren kau datang sendiri?" tanya Deby.
"Begitulah, Tante," jawab Daren.
"Daren, kenapa kau masih belum menikah juga?" tanya Daisy.
Daren hanya mengulas senyumnya, setiap datang ke acara keluarga pasti harus mendengar pertanyaan klise itu.
"Jadi, kapan kau akan menikah, Daren? Sudah tidak sabar untuk datang ke acara pernikahanmu," kata Daisy.
"Kak Daisy, Kak Deby, Daren tentu tidak akan menikah dengan wanita sembarangan! Daren akan menikah dengan wanita pilihanku! Hanya wanita terbaik yang bisa menjadi istri Daren!" kata Darla yang kebetulan mendengar sepupunya nampak merundung Daren.
"Darla, kau jangan terlalu banyak memilih, apa kau tidak takut, nanti Daren malah sukanya sama laki-laki karena kau terlalu mengekangnya?" sahut Deby seraya tertawa.
"Coba kau tirulah Vega, Vega membebaskan Voren terserah mau menikah dengan wanita mana pun, asalkan benar-benar wanita," Daisy terkekeh.
"Sebentar lagi kudengar Vega bahkan akan punya cucu! Bibi Alena benar-benar senang karena dalam waktu dekat akan memiliki buyut," Deby menimpali.
Darla terlihat berusaha menahan emosinya.
"Tante-tante, silakan lanjutkan obrolan kalian, saya permisi dulu," kata Daren segera menarik dirinya dari obrolan yang nampak membuat tensi ibunya meninggi.
Yah, daripada Daren harus jadi sasaran ledakan amarah ibunya, lebih baik Daren meninggalkan tempat acara untuk sekadar menghindar.
__ADS_1
Daren segera menuju ke taman yang lokasinya tak jauh dari ruang pertemuan. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat sosok seorang wanita yang nampak mematung saat melihat ke arahnya.
...~...