Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E48


__ADS_3

Doni segera memasuki unit apartemen mewah milik atasannya begitu ia tiba di kediaman beliau. Ia melihat Nona Velan yang begitu sibuk menjemur pakaian di balkon.


Doni segera duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Rasanya sungguh aneh ketika melihat Nona Velan kini kerap mengabaikan kehadiran Doni. Padahal dulu, wanita itu yang kerap menyambut kedatangan Doni. Tersenyum ceria dan ramah sehingga membuat Doni merasa sedang berada di rumah sendiri.


Wanita yang sudah terlanjur sakit hati benar-benar mengerikan. Nona Velan bahkan sudah membalas perselingkuhan yang dilakukan oleh Tuan Voren dengan begitu spektakuler. Siapa yang bisa menduga bahwa Nona Velan kini tengah mengencani Tuan Daren? Rekan sekaligus rival Tuan Voren dalam memperebutkan kursi presiden direktur Emperor Grup.


Doni benar-benar merasa malu dan menyesal karena sudah meremehkan wanita itu. Sepertinya meminum air bekas cucian kaki Nona Velan pun tidak akan cukup untuk membuat Nona Velan memaafkan kesalahan yang sudah dilakukan oleh Doni.


Belum resmi bercerai saja, Nona Velan sudah mengencani Tuan Daren, apalagi jika sudah bercerai nanti?


Wajar saja Tuan Voren sampai kebakaran jenggot, panik bukan kepalang, dan akhirnya justru malah membatalkan proses perceraian yang tengah berlangsung.


Doni mengerutkan keningnya saat melihat Tuan Voren yang keluar dari kamar dengan membawa koper.


Voren mengarahkan pandangannya ke arah Velan yang sudah selesai menjemur pakaian. Velan melewati kedua pria yang kini menjatuhkan pandangan ke arahnya.


"Doni, dompetku," kata Voren.


Doni mengambil tas kerja Tuan Voren dan mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam.


Voren menghampiri Velan yang duduk di meja makan sambil menyeruput teh beraroma stroberi. Voren meletakkan koper tersebut dan membuka koper berisi tumpukan uang tunai yang nyaris membuat Velan terlonjak kaget.


"Istriku, ambillah uang tunai senilai sepuluh milyar ini! Lalu, ambil juga kartu mana pun yang kau inginkan!" kata Voren sambil membuka dompetnya, memamerkan deretan kartu perbankan yang tersusun rapi.


"Aku tidak ingin kau menggunakan uang laki-laki lain lagi untuk memenuhi kebutuhanmu," kata Voren.


"Itu sama saja kau menjatuhkan harga diriku sebagai seorang pria yang berstatus sebagai suamimu," lanjut Voren.


Velan mengamati Voren yang nampak mengulas senyum ramahnya.


Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja pria itu menawarkan uang dalam jumlah yang sangat fantastis serta koleksi kartu perbankannya untuk Velan agar Velan tidak memakai uang laki-laki lain.


Apa pria ini benar-benar berpikir bahwa Velan hidup bergantung dari kemurahan hati pria lain?


Velan bahkan selalu berusaha keras mengumpulkan tiap sen dari hasil perahan keringatnya sendiri.

__ADS_1


"Aku harap kau bisa mengganti semua model pakaianmu! Belilah pakaian yang lebih bagus lagi! Pergilah ke salon, ubah model rambutmu itu, aku tidak suka melihatnya," kata Voren lagi.


Velan mengambil dompet Voren, mengulas senyum, lalu melemparkan kembali dompet itu ke wajah Voren.


Doni terperangah melihat kelakuan Nona Velan. Bagaimana bisa wanita itu bertindak tidak sopan seperti itu?


"Voren Lazaro! Apa kau pikir dengan uang yang kau berikan padaku akan membuatku menerima pembatalan perceraian kita?" tanya Velan.


"Asal kau tahu, meski kau membawakan rembulan ke pangkuanku, tetap tidak akan mengubah keputusanku untuk bercerai darimu!" cecar Velan ke arah Voren.


"Sana, hamburkan saja uangmu untuk Soraya! Tidak sudi aku menggunakan uang dari laki-laki sepertimu!" tandas Velan.


"Dan satu hal lagi, semua pakaianku, hingga model rambutku, semua ini kudapatkan bukan dari uangmu! Jadi jangan coba-coba mengaturku!" kata Velan dengan ketusnya.


Velan menyeruput teh stroberinya mengabaikan Voren yang nampak menghela napas berat.


Doni merasa hendak mengeluarkan busa dari mulut. Kata-kata Nona Velan benar-benar seakan memiliki efek bak menelan obat pembasmi serangga.


Velan menyeruput tehnya dengan tenang, mengabaikan dua pria yang saat ini saling berpandangan. Doni segera mengambil dompet milik Tuan Voren yang terjatuh di lantai lalu kembali menyerahkannya kepada pria itu.


"Aku bahkan punya begitu banyak uang yang tidak bisa kau habiskan sendiri meski dua kali tujuh turunan sebagai hasil kerja kerasku bekerja siang dan malam, tujuh hari seminggu, tiga puluh hari sebulan, tiga ratus enam puluh lima hari setahun!" lanjut Voren.


"Maaf, aku tidak tertarik untuk menggunakan uangmu barang sepeser pun! Jangan mentang-mentang kau merasa aku menggunakan uangmu lantas kau bisa mendikteku, menuruti semua perkataanmu yang penuh dengan omong kosong itu! Aku bahkan tidak peduli meski kau bekerja keras, toh itu untuk dirimu sendiri!" tandas Velan.


"Istriku, asal kau tahu, aku bekerja keras untuk kita!" kata Voren.


"Kita?! Siapa kita?!" tanya Velan dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.


"Siapa kita? Indonesia!" jawab Voren sambil bertepuk tangan heboh.


Voren menghentikan tepuk tangannya karena Velan melemparkan tatapan skeptis ke arahnya.


"Istriku, sungguh, berapa pun akan kuberikan padamu, asalkan kau segera akhiri hubunganmu dengan Daren," kata Voren.


"Haha!" Velan tertawa keras-keras dengan tawanya yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Istriku, jangan tertawa seperti itu, nanti kau kesambet jin!" kata Voren.


"Voren Lazaro! Kau menyuruhku untuk mengakhiri hubunganku dengan Daren! Itu sama saja seperti kau menyuruh Nyonya Anggun untuk jadi duta sampo lain!" Velan kembali tertawa.


"Aku putus dari Daren?! Nggak! Nggak akan! Ahaha!" lanjut Velan seraya tertawa.


"Istriku!" keluh Voren merasa frustrasi.


"Sudahlah, Voren Lazaro! Kau tidak usah pedulikan hubunganku dengan Daren! Urus saja hubunganmu dengan Soraya! Bukankah kalian sudah akan menikah? Ibumu bahkan sudah begitu senang menyambut kehadiran menantu barunya! Oleh sebab itu, kau harus sadar diri! Sadar posisimu! Jadi orang jangan L-A-N-C-A-N-G!" cecar Velan.


Velan segera beranjak dari meja makan menuju ke ruang penatu. Ia mengambil tasnya, lalu meninggalkan dua pria yang saat ini hanya bisa terbungkam seribu bahasa.


"Tuan, jujur saja saya sungguh merindukan sosok Nona Velan yang selalu cengar-cengir dan tersenyum ramah. Bukan sosok menakutkan seperti ini. Sakit hati yang dialami Nona Velan jelas terlalu dalam hingga membangunkan sisi monster beliau," kata Doni sambil menepuk-nepuk bahu Tuan Voren.


"Doni, jadi maksudmu, kau menuduhku menciptakan monster begitu?!" Voren menepis tangan Doni.


Pria itu melemparkan tatapan tajam yang membuat Doni bergidik.


"Kau pikir yang mengalami rasa sakit hanya dia saja? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Aku ini juga sakit karena Soraya meninggalkanku!" cecar Voren.


"Ya, tapi masalahnya Nona Velan jelas sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, Tuan! Anda benar-benar harus melakukan sesuatu sebelum masalah ini semakin runyam!" kata Doni.


"Doni, aku bahkan sudah menawarkan padanya semua uang milikku! Tapi lihat sendiri betapa dia lebih memilih Daren daripada semua uang yang kumiliki!" tandas Voren.


"Tuan Voren, Nona Velan jelas bukan wanita yang bodoh! Nona Velan jelas tidak bersedia menerima uang Anda karena ia mendapat hal yang diinginkan semua wanita! Nona Velan mendapat uang dan cinta dari Tuan Daren! Nona Velan telah mendapat kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan selama menikah dengan Anda!" Doni menjelaskan.


"'Oh, jadi maksudmu, yang bisa membahagiakan istriku hanya Daren?! Aku tidak bisa membahagiakannya begitu?!" tandas Voren.


"Ya, itu kan memang kenyataannya, Tuan! Karena Nona Velan berpikir bahwa Anda sudah bahagia bersama Soraya!" sahut Doni.


"Doni! Beraninya kau bicara seperti itu!" Voren langsung menerjang Doni dan menyikut leher Doni.


"Ugh! Tuan!" seru Doni meronta-ronta dalam kuncian pria itu.


"Mati kau, Doni! Mati!" raung Voren.

__ADS_1


...~...


__ADS_2