
Lamunan Voren buyar tatkala ponselnya yang berada di atas meja kembali berdering. Voren mengabaikan telepon yang masuk dari sang ibu. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting yang harus diurusnya.
Voren kembali menatap lurus ke arah monitor komputer dengan kedua telapak tangan menopang dagu. Ia mengamati angka-angka, kemudian memijat pelipisnya yang mendadak nyeri.
"Kok harga saham Rumah Sakit M bisa turun?" tanya Voren ke arah Doni.
"Ada masalah antara pihak manajemen rumah sakit dengan masyarakat lantaran regulasi terbaru terkait asuransi dari pemerintah yang dinilai merugikan pihak rumah sakit, dengan adanya hal tersebut berimbas pada menurunnya kredibilitas rumah sakit tersebut, Tuan," Doni menjelaskan.
"Sepuluh persen sahamku akhirnya terkena dampaknya!" gerutu Voren.
"Tapi kabar baiknya, investasi bitcoin Anda mengalami kenaikan sepuluh persen dari minggu lalu, Tuan, juga ada kabar baik mengenai beberapa investasi yang Anda tanamkan beberapa tahun silam sudah membuahkan hasil yang cukup signifikan!" kata Doni sambil membaca hasil analisis yang muncul di layar tablet cerdasnya.
"Cih, tetap saja sahamku ada yang turun! Doni, periksa dan kontrol baik-baik semua investasi yang sudah kutanamkan! Aku ini bukan lembaga sosial yang bermurah hati untuk berinvestasi tanpa ada keuntungan!" gerutu Voren.
"Segala sesuatu harus memberi lebih banyak manfaat daripada mudarat! Tinggalkan saja yang lebih banyak mudaratnya! Sesungguhnya manusia yang tidak bisa meninggalkan kemudaratan adalah manusia yang merugi," Voren mengeluarkan sabdanya.
"Anda benar, Tuan," sahut Doni mengamini sabda pria itu.
"Lalu, bagaimana hasil penyelidikan mengenai pria idaman lain istriku? Apakah kau sudah menemukan titik terangnya, Doni?" tanya Voren.
"Maaf Tuan, saya masih berupaya untuk menyelidikinya," jawab Doni.
Voren mencebik, rasanya akhir-akhir ini masalahnya jadi bertambah banyak dan sungguh membuatnya tidak tenang. Terlebih masalah pria idaman lain yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan istri yang akan diceraikannya.
Ponsel Voren kembali berdering dengan menampilkan nama ibunya di layar datar tersebut. Di saat ia sedang rapat internal dengan Doni, kenapa ibunya harus meneleponnya berkali-kali?
"Tuan, mungkin ada hal yang begitu penting yang ingin disampaikan oleh Nyonya Vega," kata Doni.
Voren menggeser tanda hijau pada layar gawai cerdasnya dan mengaktifkan pengeras suara.
"Iya, Mama," jawab Voren pada akhirnya.
"Voren, kenapa sulit sekali menghubungimu?" tanya Vega.
"Maaf Ma, aku sedang sibuk," jawab Voren.
"Mama sedang dalam perjalanan menuju ke restoran di Hotel B, kita makan malam bersama ya," kata Vega.
"Mama, tapi aku masih sibuk," kata Voren.
__ADS_1
"Voren, bagaimana kau bisa tetap sibuk di akhir pekan? Segera kemari ya, Mama tunggu!" kata Vega sebelum menutup teleponnya.
Voren menyugar rambutnya yang selalu dan senantiasa tertata rapi.
"Kenapa sih, ibuku selalu memaksa seperti itu?!" keluh Voren.
Tuan, Anda dan Nyonya Vega memang benar-benar ibu dan anak, sifat pemaksa kalian sama persis! Doni membatin.
Voren mengambil cermin ajaibnya yang berada di salah satu laci di bawah meja kerjanya. Ia mengambil cermin itu dan merapikan rambut.
"Doni, besok jadwalkan pertemuanku dengan dermatologisku!" kata Voren.
"Tuan, bukannya jadwal Anda ke dermatologis masih dua minggu lagi?" tanya Doni.
"Doni, apa kau tidak melihat kerutan samar di bawah mataku ini? Saat aku tersenyum, kerutannya jadi terlihat jelas! Kalau harus menunggu dua minggu lagi, nanti kerutan di bawah mataku jadi sebanyak kerutan milik Daren! Sungguh aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, Doni!" sahut Voren tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin ajaibnya.
Doni mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat, sepertinya Tuan Daren tidak punya kerutan sebanyak itu dan kerutan Tuan Voren juga nyaris tidak terlihat serta tidak sebanyak kerutan yang ada di wajah Doni.
"Baik Tuan, saya akan mengatur ulang jadwal kunjungan Anda," sahut Doni.
Doni menggerutu dalam hati karena mengatur ulang jadwal ke dermatologis secara mendadak pastilah rumit. Terlebih dermatologis yang dipilih Tuan Voren adalah dermatologis terbaik dan paling populer pilihan para pasien. Untuk mendapatkan jadwal konsultasi saja harus menunggu selama dua minggu, dan kini tiba-tiba Tuan Voren meminta jadwal mendadak. Doni harus tebal-tebal muka dan telinga untuk mendengar komplain dari pasien yang jadwalnya harus bergeser lantaran Doni mau tidak mau harus menyerobot antrian.
"Ayo, Doni, kita pergi menemui ibuku," kata Voren segera beranjak dari kursi kerjanya.
...~...
"Voren," Vega menyambut senang begitu Voren menghampirinya yang sudah menunggu kedatangan Voren.
"Mama," Voren mengecup punggung tangan Vega lalu memberikan pelukan lembut.
Pria yang baik adalah pria yang menghormati dan menghargai ibunya, itulah yang selama ini selalu diyakini oleh Voren, ia sangat percaya bahwa surga ada di telapak kaki ibu.
"Nyonya Vega," Doni menyapa Vega.
"Doni," Vega membalas sapaan Doni.
Doni segera menarik sebuah kursi agar Tuan Voren duduk di kursinya. Vega tersenyum sumringah ke arah Voren.
"Voren, kenapa kau hanya datang bersama Doni, di mana Soraya?" tanya Vega.
__ADS_1
Voren dan Doni saling melemparkan pandangan.
"Mama, kenapa Mama mencari Soraya?" Voren balik bertanya.
"Voren, Mama pikir kau datang bersama Soraya, ada hal yang harus kita diskusikan bersama-sama," kata Vega menjawab pertanyaan Voren.
"Memangnya apa yang hendak Mama diskusikan?" tanya Voren.
"Tentu saja mendiskusikan pernikahan kalian!" jawab Vega antusias.
Sudah tahu luka di dalam hatiku, sengaja kau siram dengan air garam!
Ingin rasanya Doni menyanyikan lirik lagu dangdut klasik tersebut untuk menghibur Tuan Voren yang jelas langsung memasang ekspresi murung yang ditutupinya dengan baik.
"Tapi sebelum membahas pernikahanmu dengan Soraya, bagaimana proses perceraianmu dengan Velan?" tanya Vega.
"Nyonya Vega, maaf jika saya lancang menjawab pertanyaan Anda, saat ini Tuan Voren dan Nona Velan sudah memasuki tahap pemberkasan," jawab Doni.
"Jadi kapan kira-kira Voren dan Velan akan bercerai, Doni?" tanya Vega.
"Yang pasti belum bisa dalam waktu dekat ini, Nyonya, karena Tuan Voren tentu tidak bisa gegabah dalam bertindak demi menjaga nama baik," jawab Doni.
"Voren, kau dan Soraya kan sudah sama-sama dewasa! Mama tahu hubungan kalian tentu bukan sekadar pegang-pegang tangan saja! Mama tidak mau kalian punya anak dari hasil hubungan sebelum pernikahan resmi yang nantinya justru akan menjadi aib bagi keluarga Lazaro!" kata Vega.
Voren menangis dalam hatinya, ibunya terus menerus menaburkan garam pada lukanya yang masih menganga dan berdarah.
"Jadi segeralah menikah! Niat baik tidak boleh ditunda-tunda dan harus disegerakan!" kata Vega.
"Apalagi saat ini nenekmu benar-benar mengharapkan adanya buyut sebagai penerus keluarga Lazaro!" lanjut Vega.
Voren benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia melirik ke arah Doni yang nampak menggeleng pelan.
"Mama," kata Voren.
"Mama sudah mendengar kabar bahwa papamu bahkan terang-terangan mendukung Daren pada rapat dewan komisaris! Dan saat ini Mama juga mendengar bahwa Daren akan dijodohkan dengan putri dari Wier Trade agar Daren mendapat dukungan penuh dari dewan komisaris lain yang berkongsi dengan Wier Trade!" Vega menjelaskan informasi yang sudah susah payah dikumpulkan dari para informannya.
"Apa kau tahu, apa artinya itu?" tanya Vega.
"Dukungan mereka akan membuat Daren mendapatkan posisi Presiden Direktur," jawab Voren tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Oleh karena itu, kau harus mendapat dukungan dari nenekmu, Voren! Segeralah punya anak, dan nenekmu pasti akan meminta papamu untuk berbalik mendukungmu!" kata Vega.
...~...