Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E37


__ADS_3

Voren berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ia memainkan pengait tirai penutup jendela besar tersebut. Tirai terbuka dan tertutup secara bergantian. Doni menghela nafas berat melihat kegabutan pria itu.


Yah, saat ini pria itu memang sedang sangat terpukul lantaran kemunculan pria idaman lain yang hadir di saat genting seperti ini.


"Doni, kau pasti sudah tahu bahwa aku sudah merencanakan apa saja yang akan kulakukan kepada pria idaman lain istriku saat aku bertemu dengan pria itu!" kata Voren masih tetap memainkan pengait tirai.


"Aku akan menjabat tangan pria itu, memberi pelukan hangat kepada pria itu, mempersilakannya duduk, lalu kami akan minum es Americano bersama!" lanjut Voren.


"Kemudian, aku akan menyuruh penembak jitu untuk menembak kepala pria itu dalam perjalanan pulang! Begitulah kira-kira skenario yang sudah kusiapkan untuk melenyapkan pria idaman lain istriku," Voren menuju ke sofa dan menjatuhkan dirinya.


"Seandainya saja pria itu bukan Daren, aku pasti sudah melenyapkannya Doni!" Voren mengacak rambutnya dengan kesal.


"Kesal! Kesal!" raung Voren.


"Tuan, saya mengerti perasaan anda! Tapi bagaimana jika kita memastikan dulu, apa benar Tuan Daren dan Nona Velan memang benar-benar berkencan atau tidak!" Doni berusaha menenangkan Tuan Voren yang mendadak gila.


"Kesal! Aku kesal! Ingin kuberkata kasar! Kasar!" Voren menendangi udara.


Doni mengerutkan keningnya melihat Tuan Voren dalam mode tantrum. Pria itu persis seperti balita yang marah karena keinginannya tidak tercapai.


"Tuan! Saya punya rencana! Saya punya rencana!" kata Doni.


Voren berhenti tantum, seperti balita yang melihat sesuatu yang membuat perhatiannya teralih dengan cepat.


"Apa rencanamu Doni?" tanya Voren sambil menyugar rambutnya.


"Bagaimana jika kita pergi piknik?" usul Doni.


"Piknik?" tanya Voren.


Doni mengangguk cepat dan mulai menjelaskan rencananya.


...~...


"Tuan Daren, saya sungguh minta maaf karena saya meminta Anda untuk datang padahal Anda begitu sibuk," Velan menunduk saat Daren menghampirinya di sebuah kedai kopi yang lokasinya masih berada tak jauh dari komplek apartemen mewah.


Velan dan Daren segera duduk di meja yang tak jauh dari meja barista.


"Suami saya mencurigai bahwa hubungan yang saat ini kita jalani adalah hubungan yang palsu, walau sebenarnya memang palsu," Velan menjelaskan pada Daren.


"Tidak apa-apa, bukankah Anda bilang suami Anda ingin bertemu dengan saya setelah sebelumnya melarikan diri?" Daren mengulas senyum ramah ke arah Velan.


Velan menyeringai.


"Ah, ya, suami saya langsung insinyur melihat Anda," kata Velan seraya terkekeh.


"Insinyur?" tanya Daren dengan keningnya yang berkerut. "Apa maksud Anda insecure?" tanya Daren.


"Eh, oh, insecure ya, ahaha," Velan tertawa menyadari bahwa ia sudah salah berucap.


Daren mengulas senyumnya.


"Tuan, Anda mau minum kopi apa? Biar saya yang traktir," kata Velan.


"Terima kasih, tapi saya tidak minum kopi," kata Daren.


"Oh begitu, kenapa Anda tidak minum kopi?" tanya Velan.


"Kafein bisa membuat saya insomnia," jawab Daren.


"Oh begitu," kata Velan.


Velan bahkan sangat menyukai kopi, ia sangat tergila-gila dengan bau kopi hitam yang baru saja diseduh.


Velan menunggu kedatangan Voren, pria itu benar-benar harus percaya bahwa Velan dan Daren adalah sepasang kekasih yang sesungguhnya.


Daren terlihat menatap jam tangannya berkali-kali, membuat Velan merasa bersalah. Pria itu pasti ada janji lain yang harus dipenuhinya.

__ADS_1


Ya, Daren memang ada janji dengan Voren untuk melakukan perjalanan bisnis bersama.


"Oh, hai, Daren".


Daren menoleh ke arah pria yang menyapanya.


"Sungguh kebetulan bertemu dengan kalian lagi di sini," kata Voren.


"Tuan Daren, Nona," sapa Doni ke arah Velan dan Daren.


Voren mengulas senyumnya, memandangi wajah istrinya yang menyembunyikan ekspresi kesal ke arahnya.


"Mumpung kita sudah di sini, mari kita pergi bersama-sama sekarang," kata Voren.


Velan melotot ke arah Voren, apa maksudnya dengan pergi bersama-sama?


"Tunggu Voren, bukankah kita akan berangkat satu jam lagi?" tanya Daren.


"Kenapa harus menunggu nanti kalau bisa sekarang? Lagipula mumpung cuaca sedang bagus," sahut Voren.


"Maaf Voren, bukannya aku menolak ajakanmu, aku masih ada janji dengan kekasihku," kata Daren.


Voren menatap ke arah Velan yang masih melotot ke arahnya.


"Ajak saja kekasihmu untuk pergi bersama kita! Aku tidak keberatan, akan kuajak juga istriku sekalian," kata Voren sambil mengulas senyum ke arah Velan.


Daren menatap ke arah Velan yang tersenyum.


"Memangnya kalian mau pergi ke mana?" tanya Velan.


"Hanya perjalanan bisnis sekaligus piknik tipis-tipis," jawab Voren dengan cepat.


Voren mengulas senyumnya, ia sungguh yakin, dengan begini Velan tidak akan menolak untuk pergi bersama-sama.


"Bagaimana, Nona? Pasti menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama kekasih anda kan?" tanya Voren ke arah Velan.


"Daren, masa iya kau tega meninggalkan kekasihmu di sini sendiri?" tanya Voren.


Daren menatap ke arah Velan.


"Velan, kau boleh menolak jika merasa keberatan," kata Daren pada akhirnya.


Velan mengulas senyumnya, bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang direncanakan oleh pria ini. Apa pria ini benar-benar tidak memercayai bahwa Velan dan Daren adalah sepasang kekasih?


"Daren, jika kehadiranku sama sekali tidak mengganggumu, bagiku sungguh tidak masalah," kata Velan.


Velan tentu saja bertanya-tanya, bisnis macam apa yang dimaksud oleh Voren?


Terlintas dalam benak Velan, Daren dijadikan macam pria yang menjamu para tamu Voren. Daren akan menuangkan minuman beralkohol sambil menghibur para rekan bisnis Voren.


Oh Tuhan! Otakku benar-benar sudah rusak! Batin Velan.


...~...


Peserta piknik dadakan, itulah julukan yang tepat untuk diberikan kepada Velan yang mendadak mengikuti perjalanan bisnis sekaligus piknik tipis-tipis.


Velan turun dari mobil mewah Daren untuk berganti kendaraan yang akan mengantar mereka dengan kendaraan khusus medan terjal.


Sosok wanita yang nampak asing menatap takjub ke arah Velan. Wanita cantik itu langsung menghampiri Velan dan menjabat tangan Velan.


Wanita cantik bertubuh tinggi dan memancarkan aura keseksian yang begitu kentara. Tubuhnya dibalut kemeja hijau dengan celana jeans berpinggang tinggi.


"Oh, jadi anda ya, kekasih Pak Daren?" tanya wanita itu dengan antusias. "Nama saya Dinar, saya adalah sekretaris Pak Daren," wanita itu memperkenalkan dirinya.


Velan menyeringai, hebat sekali seorang pria panggilan sampai punya sekretaris? Mungkin maksudnya manajer, batin Velan.


"Nama saya Velan," kata Velan sambil mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Wah, anda mungil dan manis sekali," Dinar langsung memeluk Velan.


"Dinar," Daren mengulas senyumnya ke arah Dinar.


Dinar langsung melepaskan pelukannya dari Velan.


"Maaf, Pak Daren, saya hanya terlalu senang pada akhirnya bertemu dengan kekasih Anda," kata Dinar.


"Oh ya Voren, katamu tadi kau akan mengajak istrimu juga," kata Daren.


"Istri Tuan Voren?" tanya Dinar begitu antusias.


"Oh, maaf, istriku begitu sibuk," jawab Voren sambil melemparkan kembali senyuman misteriusnya.


Velan merasa bahwa Voren jelas menantangnya. Pria itu pasti masih belum percaya bahwa Velan dan Daren adalah sepasang kekasih meski kenyataan yang sebenarnya memang hanya sebagai kekasih palsu.


"Tuan, silakan, kendaraan sudah siap," kata Doni.


"Kenapa hanya satu mobil, Doni?" tanya Daren keheranan.


"Maaf Tuan, perjalanan kita akan menempuh jarak yang cukup jauh, sehingga lebih aman jika kita bergantian mengemudi," jawab Doni.


"Oh begitu," kata Daren.


"Doni, aku boleh ya duduk di depan," kata Dinar. "Aku sering pusing jika tidak duduk di kursi depan," lanjut Dinar.


Dinar menatap Doni dengan tatapan memelas. Yah, meski Dinar merasa tidak enak dengan tragedi salah kado yang ia berikan, namun Dinar harus bersikap profesional di depan Doni.


"Tuan Voren, saya mohon, saya ini mudah mabuk perjalanan," kata Dinar memelas.


"Baiklah," sahut Voren mengalah pada Dinar.


Doni hanya mengulas senyumnya pada Dinar. Tuan Voren bahkan mengalah kepada seorang wanita, sungguh pria yang gentle kan?


Voren mendelik gusar karena ia terpaksa harus duduk di kursi paling belakang. Ia menatap kesal ke arah Velan dan Daren yang duduk di kursi tengah berdua.


Kenapa aku kesal sekali ya?! keluh Voren dalam hatinya.


Pasti karena duduk di kursi paling belakang yang jelas kurang nyaman! Ia meyakinkan dirinya sendiri.


...~...


Mobil yang dikendarai oleh Doni melaju melintasi kawasan hutan. Jalan menukik berkelok-kelok melalui lembah dan kawasan perbukitan yang masih begitu rimbun dengan banyaknya pepohonan, menciptakan suasana asri dan sejuk.


Kemudian laju mobil berkurang ketika memasuki jalan dengan area yang terjal dan belum terjamah oleh aspal. Sungguh medan jalan yang kurang baik jika dilalui saat hujan turun atau pun pasca hujan. Tekstur tanahnya masih berupa tanah liat yang berbahaya jika dilalui kendaraan. 


"Doni, masih jauh ya?" tanya Dinar dengan nada mengeluh.


Dinar sudah terlihat begitu mabuk perjalanan. Sedari tadi wanita itu nampak berusaha menahan keinginannya untuk muntah.


"Sebentar lagi sampai," jawab Doni.


"Doni, kau sudah mengatakannya sekitar satu jam yang lalu!" keluh Dinar sambil menghirup dalam-dalam minyak anginnya.


Dinar benar-benar heran melihat penumpang yang duduk di kursi belakang bisa tertidur dengan nyenyak.


Pak Daren yang bersandar di samping pintu, kekasih Pak Daren yang bersandar di sisi lain pintu, lalu Tuan Voren yang terlihat menjadi penguasa kursi belakang. Entah pria itu sudah tertidur atau belum karena pria itu mengenakan kacamata hitam.


"Hoamm...," Doni menguap karena merasa mengantuk.


Tiba-tiba saja ia menginjak pedal rem dalam-dalam. 


Velan yang terlelap seketika limbung dan akan menghantam kursi Dinar.


"Istriku!"


...~...

__ADS_1


__ADS_2