
Voren Lazaro adalah seorang pria yang membuat semua orang baik pria maupun wanita akan berdebar saat melihat penampilannya yang begitu rupawan paripurna. Jangankan kaum hawa, kaum adam pun begitu mengaguminya. Pemilik senyum jutaan volt yang mampu membius siapa pun yang melihatnya. Barang siapa yang melihat pria ini untuk pertama kalinya pastilah langsung memuji makhluk ciptaan Tuhan yang amatlah sempurna. Biar kata setiap orang diminta untuk menjaga pandangannya namun ketika melihat sosok Voren pastilah tak akan mampu mengalihkan pandangan dari sosok pria tampan itu. Memiliki mata yang sehat untuk melihat ketampanan seorang Voren tentulah membuatmu harus menjadi orang yang pandai-pandai bersyukur atas anugerah dari Tuhan.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Melihat pria tampan dengan kulit seputih salju, rambut sepekat malam, dan bibir merona merah yang menggiurkan. Pria yang memiliki segala keindahan yang didambakan oleh setiap kaum adam supaya ada pada diri mereka. Mulai dari wajah tampan tiada lawan, tubuh tinggi dan atletis, sikap santun dan senyum menawan, hingga kehidupan bergelimangan kekayaan.
Voren adalah anak dari Alren Lazaro dan Vega. Voren memiliki dua orang kakak perempuan dari pernikahan Alren dengan mantan istrinya yang terdahulu. Kakak Voren bernama Renata dan Renava. Hubungan Voren dengan kedua kakaknya tentu saja kurang harmonis lantaran kedua kakaknya itu kerap merundungnya bahkan sejak Voren masih kecil.
Dua nenek sihir, itulah panggilan Voren kepada dua kakak perempuannya yang kerap menabuh genderang perang terhadap Voren. Tak heran Voren akhirnya memutuskan untuk hidup sendiri daripada tinggal seatap dengan kedua kakaknya.
Sebagai satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki oleh Alren Lazaro tentu saja Voren mengemban misi suci untuk memberi penerus keluarga Lazaro yang tersohor akan kekayaannya. Maka tak heran, ibunya selalu mendesak Voren untuk segera menikah.
Awalnya Vega memberi kebebasan agar Voren memilih sendiri wanita yang diinginkan oleh pria itu. Namun Voren tak kunjung menikah hingga usianya menginjak tiga puluh enam tahun. Perjodohan pun akhirnya dipilih Vega agar Voren bersedia untuk menikah. Hanya saja lagi-lagi Voren masih belum bersedia untuk menikah.
Kehidupan pribadi seorang Voren Lazaro sangatlah tertutup. Tak pernah terdengar kabar tentang siapa kekasihnya atau pun siapa wanita yang menjadi pasangan kencannya. Tak heran di kalangan keluarga Lazaro, ia digadang-gadang untuk meneruskan jejak pamannya, Renal Lazaro yang memutuskan untuk hidup membujang hingga usianya sudah lebih dari setengah abad.
Hingga akhirnya Vega membawa seorang wanita asing ke hadapan Voren yang dalam waktu tiga hari ke depan akan menjadi istrinya.
Wanita itu bahkan sama sekali tidak menarik di mata Voren. Wanita itu bahkan sampai mimisan saat pertama kali bertemu dengan Voren.
Entah apa maksud dan tujuan ibunya meminta Voren menikah dengan wanita macam itu. Tak terbayangkan dalam benak Voren ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk bersama wanita yang hanya membuatnya sakit mata.
Voren bahkan sudah begitu lama menutup pintu hatinya lantaran seorang wanita yang pernah singgah dalam hatinya pergi dengan membawa semua cintanya yang tak pernah bertaut.
Apa tidak salah seorang Voren Lazaro yang sempurna ini harus menikah dengan wanita yang bahkan tak jelas darimana asalnya.
Meski wanita ini memakai riasan yang membuat penampilannya berubah tetap sama sekali tidak menggugah selera Voren. Voren pun terpaksa harus menerima pernikahan ini lantaran ia tentu tak bisa mengecewakan Ibunya. Terlebih ibunya bahkan sudah mengaturkan acara pernikahan tanpa persetujuan Voren.
__ADS_1
Biasanya ibunya hanya memintanya untuk datang ke acara perjodohan ataupun kencan buta bukannya langsung mempersiapkan pernikahan seperti ini.
Jika Voren bersikeras menolak, tentu saja nantinya akan mempermalukan ibu dan nama baik keluarganya. Itulah yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa Voren tidak berkeras menentang pernikahan mendadak yang telah diaturkan oleh ibunya.
Dan kini wanita itu sedang terkapar tak sadarkan diri di atas sofa, masih dalam balutan gaun pengantin yang megah dan berkilau indah.
"Istriku," panggil Voren ke arah wanita itu.
"Sepertinya istri Anda pingsan, Tuan," kata Doni.
Voren beranjak dari sofa lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es yang ada di dapur. Ia segera mengambil kursi dan duduk di belakang meja makan berbahan kaca tersebut. Doni segera bergabung di depan atasannya itu.
"Tuan, apakah Anda serius mengatakan pada istri Anda bahwa Anda tidak tertarik pada wanita?" tanya Doni keheranan.
Voren meneguk air mineralnya. Ia menatap skeptis ke arah Doni.
"Aku tidak tertarik pada wanita sepertinya, apakah aku mengatakan hal yang salah?" tanya Voren lagi.
Voren kembali meneguk air mineralnya.
Entah mengapa Doni merasa bahwa apa yang dimaksud oleh Tuan Voren berbeda dengan apa yang ditangkap oleh Doni, terlebih istri Tuan Voren.
"Doni, sekarang aku tanya padamu! Jika kau ada di posisiku sekarang, kau tiba-tiba menikah dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya, tidak sesuai dengan tipemu, bukan seleramu, apakah kau akan menerimanya begitu saja?" tanya Voren.
Doni tidak langsung menjawab pertanyaan Tuan Voren.
"Sungguh Doni, aku benar-benar tidak bisa menerima pernikahan inì," kata Voren.
__ADS_1
"Menurutmu apa langkah yang tepat untuk menghadapi wanita yang kini menjadi istriku itu, Doni?" tanya Voren.
"Haruskah aku menjadi sosok jahat, yang kejam dan tidak berperasaan padanya?" tanya Voren lagi.
"Menurut saya Anda jangan melakukan hal itu, Tuan," jawab Doni.
"Mengapa aku tidak boleh melakukan itu, Doni?" tanya Voren.
"Tuan, jika Anda menjadi sosok pria jahat, kejam, dan tak berperasaan, tentu akan merusak citra sempurna Anda sebagai seorang pria santun yang berakhlak mulia!" kata Doni.
"Bagaimana jika istri Anda melaporkan Anda ke komnas perlindungan perempuan dan anak?! Anda dilaporkan lantaran melakukan tindakan kurang menyenangkan! Anda tentu tidak mau kan wajah Anda diliput oleh pihak media saat Anda digiring ke kantor polisi dengan memakai pakaian tahanan yang sama sekali tidak modis!" Doni melanjutkan argumentasinya.
"Lagipula menurut saya pribadi, ibu Anda jelas sekali mendukung istri Anda! Terlihat jelas betapa beliau begitu antusias dalam mengaturkan pernikahan mendadak Anda," kata Doni lagi.
"Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan, Doni?" tanya Voren lagi.
"Tuan, satu-satunya hal yang harus Anda lakukan sekarang adalah menunjukkan citra suami yang sempurna demi menjaga reputasi Anda, Tuan!" jawab Doni mantap.
Doni bisa melihat keraguan yang terpancar dari sorot mata Tuan Voren. Saat ini yang bisa dilakukan oleh Doni adalah meyakinkan pria itu agar tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa merusak nama baik Tuan Voren.
Doni meraih tangan Voren dan menggenggamnya, mereka saling menatap.
"Tuan, Anda pasti bisa! Saya akan mendukung Anda!" kata Doni.
"Tuan, saya akan selalu ada untuk Anda."
...~...
__ADS_1