
Doni segera kembali ke ruangan kerja Tuan Voren setelah mengantar pergi dua kakak ipar atasannya itu. Terlihat ekspresi para karyawan begitu penasaran melihat tamu Tuan Voren yang begitu menyita perhatian. Namun Doni memilih untuk mengabaikan hal tersebut. Doni memasuki ruang kerja Tuan Voren, kemudian mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar dalam benaknya.
"Tuan, Anda serius mau berbisnis dengan kakak-kakak ipar Anda?" tanya Doni.
Voren melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mengulas senyumnya dan menatap ke arah Doni.
"Doni, mengapa kau bertanya seperti itu?" Voren balik bertanya.
"Ya, karena kita bahkan tidak tahu band seperti apa yang mereka gawangi! Dan tiba-tiba saja mereka mau berbisnis dengan Anda! Bukankah jelas mereka sama saja meminta Anda untuk mendanai band mereka?" jawab Doni.
Voren masih mengulas senyum yang memamerkan dua lesung pipinya.
"Doni, kita tentu harus menghargai impian seseorang! Karena tidak semua orang memiliki impian yang bisa diraihnya! Aku sungguh kagum dengan orang-orang yang berjuang untuk meraih impian mereka," jawab Voren diplomatis.
"Lagipula aku sungguh menghargai mereka yang memilih jalan berbisnis ketimbang sekadar minta donasi," lanjut Voren.
"Anda sungguh bijaksana, Tuan!" kata Doni. "Saya pikir Anda menggunakan proposal sebagai alasan untuk menolak mereka secara halus," lanjut Doni.
Voren hanya mengulas senyumnya lagi.
"Tuan, saya juga mendapat beberapa proposal bisnis yang ditujukan untuk Anda melalui surat elektronik," kata Doni.
"Ah ya, periksa saja, beritahu aku yang mana yang paling menguntungkan," sahut Voren.
"Baik, Tuan," jawab Doni.
...~...
Taki dan Toro saling berpandangan dengan Joni dan Jay, berkutat di depan laptop untuk mencari contoh proposal bisnis yang harus mereka siapkan agar bisa bekerja sama dengan adik ipar mereka yang begitu luar biasa.
Pria hebat yang secara mendadak menjadi adik ipar mereka. Pria tampan, mapan, dan sukses, membuat Taki dan Toro ikut termotivasi agar bisa sukses dengan jalan mereka sendiri.
"Taki, kenapa kau tidak langsung minta adik iparmu untuk menjadi donatur band kita? Daripada harus membuat proposal bisnis seperti ini?" keluh Joni.
"Aduh, Jon! Awalnya aku juga berpikir begitu! Tapi adikku sudah mengancam kami agar tidak menyentuh suaminya!" kata Taki.
"Taki benar! Kau pasti bisa menebak bagaimana jika Taki minta sumbangan! Pasti dia akan memaksa!" sahut Toro.
"Lagipula, kalau hanya sekadar minta sumbangan, paling hanya satu kali, kalau berbisnis kan bisa kontinyu!" Taki menyeringai.
"Wah, tumben otakmu encer, Taki!" kata Jay.
__ADS_1
"Kalau bicara dengan pebisnis, kita tentu harus bicara seperti pebisnis juga!" Taki menepuk dadanya berkali-kali dengan rasa bangga.
"Ya, silakan saja kau berpikir begitu, Taki, tapi kau harus berpikir juga, bagaimana proposal bisnismu nanti bisa diterima? Kau tentu harus mempresentasikannya dengan baik di depan adik iparmu!" cibir Joni.
"Hah?! Presentasi? Apa itu, Joni?" tanya Taki keheranan.
"Aduh Taki, kau ini waktu sekolah ke mana saja? Yang namanya membuat proposal bisnis pasti harus dipresentasikan! Lain halnya kalau kau membuat proposal sumbangan acara tujuh belasan tingkat RT!" celetuk Joni.
Taki dan Toro kembali saling melemparkan pandangan mereka.
"Astaga! Sungguh aku tidak berpikir sampai ke situ, Jon!" keluh Taki.
"Sudah, sudah, lebih baik sekarang digarap saja proposalnya!" kata Toro.
...~...
"Selamat datang, Suamiku," Velan menyambut kedatangan suaminya dengan penuh keceriaan.
Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Velan tentu harus menahan rasa kantuk yang menyerang demi menyambut kepulangan suaminya.
Voren hanya mengulas senyum, seperti biasa ia duduk di sofa sambil mengamati tujuh ekor ikan piaraannya yang begitu asyik berenang.
"Suamiku, ada hal yang harus kusampaikan padamu," kata Velan.
"Aku mendapat undangan reuni SMA, bisakah kau meluangkan waktu untuk menemaniku?" tanya Velan.
"Undangan reuni?" tanya Voren.
Velan mengangguk cepat, berharap sangat suaminya ini dapat menemaninya. Velan tentu tak sabar untuk memamerkan kesuksesannya karena berhasil mendapatkan suami yang begitu tampan dan kaya raya, meski pria ini tidak tertarik pada wanita, namun tetap saja status pria ini adalah suami Velan.
"Kapan?" tanya Voren lagi.
"Akhir pekan ini," jawab Velan.
Voren melemparkan pandangannya pada Doni.
"Nona Velan, saya tidak berani menjanjikan apapun, mengingat jadwal Tuan Voren yang begitu padat hingga bulan depan," sahut Doni.
"Suamiku, sungguh kau benar-benar sangat sibuk sekali?" tanya Velan. "Tidakkah kau bisa meluangkan waktu satu jam saja?" Velan memohon dengan sangat.
Voren kembali melirik ke arah Doni.
__ADS_1
"Istriku, begini saja, aku memang tidak bisa berjanji, tapi akan kuusahakan, bagaimana?" tanya Voren sambil mengulas senyumnya.
"Saya rasa itu ide yang bagus, Nona bisa datang lebih dulu ke tempat acara dan kami akan menyusul," Doni menimpali.
"Oh, begitu ya," kata Velan. "Baiklah, Suamiku, aku sungguh paham bahwa kau selalu dan begitu sibuk bekerja!" kata Velan.
Voren mencuri pandang ke arah Velan yang nampak mengulas senyum misterius. Voren meneguk ludah, karena rasa was-was yang menderanya.
Apa malam ini wanita ini akan melecehkanku lagi? Batin Voren bertanya-tanya.
Apa aku harus tidur di ruang kerjaku? Batin Voren, seketika langsung merasa resah dan gelisah.
Sungguh, ia merasa takut dengan wanita yang nampaknya begitu terobsesi untuk melecehkannya.
...~...
Velan memasuki sebuah rumah rias sekaligus penyewaan gaun-gaun pesta. Untuk menghadiri acara reuni tentu saja ia harus tampil maksimal, terlebih saat ini ia sudah menjadi istri orang kaya. Tentu saja ia harus berpenampilan sesuai dengan predikatnya. Ia tentu tidak bisa hanya mengenakan kemeja dan celana jeans untuk datang ke acara yang digelar di salah satu hotel berbintang lima yang ada di pusat kota.
"Selamat datang," pegawai di rumah rias itu menyambut kedatangan Velan.
"Selamat siang, saya butuh jasa rias sekaligus gaun untuk menghadiri acara," kata Velan.
"Mari, silakan, kami punya banyak koleksi gaun," kata pegawai tersebut mengulas senyum ramah.
"Apa ada tema tertentu untuk acara yang Anda datangi?" tanya pegawai itu lagi.
"Ini acara reuni sekolah," jawab Velan. "Oh ya, bagaimana dengan harga sewa baju dan riasnya?" tanya Velan.
"Baik, kami menyiapkan paket untuk riasan dan sewa gaun, atau hanya sewa gaun saja, dan jasa rias saja," pegawai tersebut menjelaskan.
"Untuk sewa gaun, kami meminta biaya deposit sebesar dua kali dari harga sewa gaun," lanjutnya lagi.
Velan tertegun, sewa gaun saja semahal ini, ya?
"Loh, Velan," seseorang menyapa Velan.
Velan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Velan mendapati pasangan suami istri yang mengulas senyum ramah ke arahnya.
"Mila! Oman!" sapa Velan.
Sial, kenapa malah bertemu mereka di sini? Velan mengumpat dalam hatinya.
__ADS_1
...~...