
Pria tampan itu berlari di atas treadmill, setiap menit ia menekan tombol pada panel alat tersebut untuk menambah laju papan pacuan. Keringat membasahi kulitnya yang seputih salju, kaos putih yang dikenakannya basah oleh keringat dan mencetak jelas otot-otot atletisnya, membuat iri para kaum adam yang melihatnya.
Asisten pribadi pria itu hanya bisa mengamati seperti halnya para wanita yang tak dapat melepaskan pandangan dari pria tampan yang kehadirannya begitu menyita perhatian para pengunjung pusat kebugaran ternama eksklusif di kota ini.
"Pria itu tampan sekali, tapi kenapa berlari seperti orang gila ya?"
"Benar, seperti dikejar setan saja, hihi," sahut para wanita.
Doni menekan tombol kecepatan untuk mengurangi laju treadmill. Ia tentu tak ingin melihat atasannya itu menjadi tontonan orang-orang lantaran berlari dalam kecepatan yang tidak wajar yang pada akhirnya mengundang perhatian semua orang.
"Doni!" sergah Voren segera menepis tangan Doni.
"Tuan Voren, Anda tidak boleh berlari terlalu kencang! Anda bisa jatuh terpelanting dan itu benar-benar berbahaya bagi keselamatan Anda," kata Doni.
Voren menyeka keringat di wajah dan mengatur napasnya yang memburu. Voren melangkah menuju ke alat fitness yang lain, instruktur fitness sudah menunggu Voren untuk melakukan latihan-latihan demi mempertahankan bentuk otot-ototnya.
Berolahraga rutin tentunya dipilih Voren untuk menjaga kebugaran tubuh dan menghilangkan stres akibat tekanan pekerjaan serta stres dengan kehidupan pribadinya.
Tak mengherankan jika Voren selalu dan senantiasa pulang ke rumah di malam hari karena ia selalu meluangkan waktu untuk berolahraga setiap malam selama maksimal dua jam.
Sambil mengangkat tumpukan besi-besi padat yang digunakannya sebagai latihan beban, ia berusaha mengosongkan pikirannya. Namun bayangan Soraya yang pergi meninggalkannya lagi benar-benar kembali menghantui.
Rasanya ia masih tidak bisa merelakan cintanya yang benar-benar berakhir karena Soraya telah pergi dari hidupnya.
Bayangan dua orang wanita terpantul dari dinding cermin di hadapan Voren, nampak melambaikan tangan mereka ke arah Voren. Wanita-wanita dengan tatapan mata yang seakan menjadikan Voren sebagai mangsa untuk diburu. Voren bergidik ngeri, ia benar-benar kurang nyaman jika mendapat tatapan seperti itu. Membuatnya jadi teringat pada wanita yang menjadi istrinya. Seorang wanita yang begitu terobsesi untuk melecehkannya. Jelas sekali wanita itu hanya menjadikan Voren sebagai objek fantasi seksual saja.
"Voren, kembalilah pada istrimu," perkataan Soraya kembali terngiang-ngiang dalam benak Voren.
__ADS_1
"Argh kesal!" Voren menjatuhkan latihan bebannya.
Dengan kekesalan yang memuncak, ia beranjak meninggalkan instruktur dan juga Doni yang menungguinya.
Doni hanya bisa menghela napas berat. Saat ini ia hanya bisa memaklumi bahwa Tuan Voren tengah mengalami pergolakan batin yang membuat akal sehat pria itu tengah diuji. Kehilangan orang yang sudah dicintai selama separuh hidupnya tentu bukan hal yang bisa diterima oleh pria itu. Belum lagi perceraian yang harus dihadapi oleh Tuan Voren. Sungguh bukan hal yang mudah untuk mengurus perceraian dari pernikahan yang baru berlangsung selama tiga bulan tanpa menimbulkan berita miring. Reputasi dan nama baik Tuan Voren benar-benar akan dipertaruhkan.
...~...
Velan sudah tiba di depan pintu unit apartemen mewah itu. Langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Voren yang juga baru tiba di depan pintu.
Mereka saling menatap dalam diam, ketegangan langsung tercipta di antara keduanya. Doni segera membukakan pintu dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk.
"Silakan, Tuan, Nona," kata Doni.
Velan melangkah masuk lebih dulu, rasanya udara yang dihirupnya begitu sesak karena ia harus bertemu dengan Voren.
Selama beberapa waktu ini Voren memang tidak ada pulang ke apartemen lantaran sibuk menemani Soraya di rumah sakit. Belum lagi rutinitas pekerjaan membuat Voren hampir-hampir tidak pernah pulang ke rumahnya.
Velan rasanya tidak sanggup untuk melihat Voren yang sekarang pasti sedang merasa berbahagia karena sebentar lagi pria itu akan menikah dengan Soraya.
Voren segera memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.
"Pak Doni," kata Velan memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.
"Ada apa, Nona Velan?" tanya Doni.
"Jadi, kapan tepatnya aku dan suamiku akan bercerai?" tanya Velan.
__ADS_1
Doni mengulas senyumnya.
"Apa Anda sudah menandatangani semua dokumen yang tempo hari saya berikan?" tanya Doni.
Velan menuju ke lemari es dan mengambil sebuah amplop yang dilapisi plastik dari rak pembeku. Velan sudah terbiasa menyimpan dokumen-dokumen penting di rak pembeku yang menurutnya jauh lebih aman. Seperti sertifikat rumahnya yang dulu juga ia simpan di lemari pembeku sebelum ia menggadaikannya sebagai jaminan.
Velan sudah menandatangani semua dokumen tersebut, meski hatinya harus hancur tercabik-cabik. Namun begitu memikirkan kembali dana kompensasi yang akan diterimanya pasca bercerai, Velan jadi merasakan adanya embusan angin segar yang bertiup menerbangkan rasa gelisahnya.
Setelah dipikir-pikir kembali oleh Velan dengan kepala dingin, hati yang terbuka, dan pikiran yang lebih rasional, dana kompensasi tersebut cukup untuk melunasi semua utangnya dan menjadi modal untuk menyambung hidup.
Bagi orang yang tidak punya pekerjaan serta berpenghasilan tidak tetap jelas membuat Velan merasa uang kompensasi perceraiannya sangatlah berguna. Macam acara pemberian uang kaget yang ada di televisi. Dalam hitungan jam Velan harus menghabiskan uang tersebut untuk membayar utangnya. Ia juga bisa menggunakan sisanya untuk kesenangan pribadi. Terlintas bahwa Velan mungkin bisa menggunakan uang tersebut untuk membayar pria-pria panggilan yang kiranya bisa menghibur rasa sedih dan kecewanya karena rumah tangga yang hancur lebur.
Memangnya hanya pria itu saja yang bisa pamer gandengan baru?
Akan kucari pria panggilan yang luar biasa tampan dan membawanya ke acara pernikahan Voren dan Soraya. Itulah yang ada dalam benak Velan.
Velan menyerahkan dokumen tersebut pada Doni.
"Pak Doni, jadi bisakah aku mendapatkan uang muka dari uang kompensasi tersebut?" tanya Velan.
Velan sungguh berharap adanya uang muka dari dana kompensasi, agar ia bisa membayar pinjaman dari Desi. Mengingat Desi akan segera menikah dan membutuhkan uang tersebut, maka jelas uang Desi adalah prioritas Velan.
"Nona Velan, dalam surat perjanjian pasca cerai, disebutkan bahwa dana kompensasi akan diberikan setelah ada keputusan resmi dari pengadilan," jawab Doni diplomatis.
"Ya, saya tahu, Pak Doni, oleh karena itu saya hanya meminta uang mukanya saja dulu," kata Velan.
"Nona Velan, dana kompensasi yang diberikan oleh Tuan Voren merupakan bentuk apresiasi beliau kepada Anda, selama Anda bersikap baik dan tidak berbuat hal yang kiranya dapat merugikan nama baik Tuan Voren dan keluarga Lazaro selama menjadi istri Tuan Voren maupun setelah Anda tidak lagi menjadi istri Tuan Voren," Doni menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Dengan kata lain dana kompensasi itu sama saja seperti uang tutup mulut agar aku tidak perlu menjelaskan alasan perselingkuhan Tuan Voren sebagai pemicu keretakan rumah tangga kami," Velan mengemukakan kesimpulan yang dengan mudah ditarik berdasarkan asumsinya.
...~...