
Hari sudah mulai gelap saat mobil yang dikemudikan oleh Daren berhenti di halte terdekat.
"Maaf tidak bisa mengantar Anda sampai di rumah, Nona Velan. Saya harus memenuhi panggilan mendadak," kata Daren sambil mengulas senyumnya.
"Tidak masalah, Tuan Daren, saya sungguh berterima kasih karena Anda sudah bersedia meluangkan waktu Anda untuk menemani saya," kata Velan sambil melepas sabuk pengamannya.
Daren kembali menatap dan tersenyum ramah ke arah Velan.
"Terima kasih dan selamat tinggal, Tuan Daren," kata Velan sebelum keluar dari mobil Daren.
"Nona Velan, semoga Anda sukses dalam meraih kebahagiaan Anda," kata Daren.
Velan mengangguk, menatap pria itu untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka berpisah. Velan melihat mobil mewah itu melesat meninggalkannya di halte yang kosong, sekosong hati Velan saat ini.
Velan berharap ini memang pertemuan terakhirnya dengan pria itu. Velan tentu tak ingin Daren terlibat lebih jauh ke dalam kehidupannya yang sudah kacau.
...~...
Voren melemparkan pandangannya ke luar pintu kaca. Ia mondar-mandir tak tenang, mengitari ruang tamu, menuju ke dapur, masuk ke kamarnya, hingga kembali ke ruang tamu lagi.
Doni yang sedang mencuci satu persatu akuarium mini memutuskan untuk fokus membersihkan tujuh akuarium yang sekarang sedang ia susun di meja makan. Doni mendelik gusar karena pekerjaan mengurus kebersihan akuarium mini ini kembali menjadi salah satu tugasnya setelah sebelumnya diambil alih oleh Nona Velan.
"Doni... Doni...," kata Voren dengan nada penuh kekesalan.
"Selama ini aku selalu bangga dengan hasil kerjamu yang selalu melebihi ekspektasiku! Kau selalu berpikir selangkah bahkan dua langkah ke depan! Jika kau hidup di zaman peperangan dinasti kuno Tiongkok, kau pasti adalah jenderal perang terhebat di zaman itu!" Voren memulai bicara.
Doni benar-benar hanya bisa diam mendengarkan Tuan Voren yang memulai ceramahnya. Anggap saja Doni sedang mendengarkan siraman rohani yang menggetarkan jiwa dan menyegarkan hati nurani.
"Empat detektif yang kau kerahkan benar-benar begitu mudah dikelabui oleh istriku! Pria idaman lain istriku yang begitu tampan, pria yang membuat istriku merasa lebih bahagia, ternyata adalah Daren! Bagaimana hal ini bisa terjadi, Doni?! Bagaimana bisa, Doni?! Bisakah kau jelaskan padaku?!"
"Apa jadinya jika Daren sampai tahu bahwa aku, Voren Lazaro, adalah suami dari kekasih Daren?! Istri Voren Lazaro mendambakan cinta dan kasih sayang seorang Daren karena Voren Lazaro tidak bisa memberi istrinya kebahagiaan!" teriak Voren penuh kemurkaan.
"Mau ditaruh di mana mukaku ini, Doni?! Mau ditaruh di mana?! Di dengkul?! Di bokong?!" cecar Voren.
"Bagaimana istriku bisa sampai jatuh ke pelukan Daren?! Bagaimana bisa istriku bisa mengencani Daren?! Kok Daren mau sih sama istriku? Aku saja yang suaminya saja rasanya enggan, Doni!" cecar Voren kepada Doni.
Doni meletakkan akuarium yang sudah ia cuci.
"Tuan, tarik napas, hembuskan perlahan," kata Doni.
"Doni, apa kau mengejekku?! Apa sekarang kau juga ikut-ikutan mengejekku seperti Daren?" tanya Voren.
"Tidak Tuan, sungguh, saya tidak bermaksud seperti itu! Maksud saya, coba tenangkan dulu diri Anda, Anda marah-marah seperti ini sampai lupa bernapas, sungguh berbahaya, Tuan," kata Doni.
__ADS_1
Voren menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Kemarahan benar-benar menguasainya.
"Tuan, ini hanya menurut pandangan saya, bagaimana seandainya Tuan Daren dan Nona Velan tidak benar-benar berkencan?" tanya Doni.
"Saya sudah mengerahkan empat detektif swasta terbaik untuk menyelidiki dan mengawasi kehidupan Nona Velan, mencari sosok pria idaman lain Nona Velan! Kesimpulan hasil penyelidikan pun sudah jelas menyatakan bahwa tidak ada pria yang dekat dengan Nona Velan! Hasil peretasan ponsel, semua hanya tentang bisnis kue Nona Velan, tidak ada telepon, atau pun pesan romantis yang muncul di ponsel Nona Velan!" lanjut Doni.
"Bisa saja mereka bertemu diam-diam! Bisa saja mereka saling mengirimkan surat cinta via pos?" tanya Voren.
Doni mendelik gusar, memutar bola matanya.
"Jika ini tahun 70-an mungkin saja," sahut Doni.
"Atau jangan-jangan mereka menggunakan jasa burung merpati untuk saling berkirim pesan mesra?" tanya Voren.
"Tuan, Anda pikir zaman sekarang masih bisa menggunakan mode komunikasi burung merpati? Di saat zaman sudah canggih, dengan pesan-pesan yang terenkripsi dengan baik!" sahut Doni.
"Lantas bagaimana caranya mereka bisa berkomunikasi tanpa diketahui?" tanya Voren. "Jangan-jangan mereka berdua menggunakan ajian melepas sukma dari raga dan bertemu di dunia gaib?" tanya Voren.
Mulut Doni rasanya ingin mengeluarkan busa begitu mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol dari Tuan Voren. Pos burung merpati, ajian melepas sukma, dari mana pria ini punya pemikiran gila seperti itu?
"Tuan, bagaimana jika kita memastikan lagi apakah benar Tuan Daren adalah kekasih Nona Velan? Ini kan baru pertemuan pertama, tidak bisa serta-merta langsung menjadi sebuah kesimpulan. Bagaimana jika mereka berdua hanya bersandiwara saja?" tanya Doni.
Voren memegangi dagunya sambil berpikir. Selama ini bagi Voren, Doni adalah orang yang sangat ia percaya di muka bumi.
Pintu unit apartemen Voren terbuka, sosok Velan muncul dengan memasang wajah tanpa ekspresi.
"Istriku," Voren menyambut Velan dengan senyum yang ramah.
Velan memasang ekspresi dingin, melewati kedua pria itu seakan mereka adalah makhluk astral penunggu dapur.
"Istriku, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Voren langsung menarik tangan Velan.
Voren menatap dingin tangan yang tadi memeluk mesra Daren di tepi pantai.
"Lepaskan tanganku," Velan menyentak tangan Voren.
"Baiklah," Voren melepaskan tangannya.
"Apa yang mau kau bicarakan? Jika bukan tentang tanggal perceraian kita, lebih baik kita tidak usah bicara!" kata Velan dengan nada sinis.
"Istriku, aku benar-benar sungguh heran! Masih segar dalam ingatanku, bagaimana kau berlutut dan memohon di kakiku agar aku tidak melepasmu! Tapi lihat kini kau bahkan selalu menantangku seperti ini," kata Voren.
"Haha!" Velan tertawa sinis. "Yah, aku akui bahwa aku begitu bodoh karena dulu menangis mengiba memohon padamu agar kau tidak menceraikanku! Tapi kini semua berubah, Voren Lazaro!" Velan mengulas senyum sinis yang membuat Voren merasa kesal.
__ADS_1
"Apa karena Daren?" tanya Voren.
"Tentu saja! Siapa lagi?!" Velan bertepuk tangan seakan Voren berhasil menebak jawaban kuis dengan benar.
"Aku benar-benar merasa menjadi wanita yang paling berbahagia di alam semesta ini karena berhasil mendapatkan Daren! Daren sungguh pria yang luar biasa! Gagah di segala medan dan di segala posisi! Sama sekali tidak bisa dibandingkan denganmu!" Velan kembali bertepuk tangan heboh.
"Apa?!" Voren begitu terkejut mendengar perkataan Velan.
"Istriku, apa jangan-jangan selama ini kau dan Daren sudah melakukan perselingkuhan di belakangku sejak awal pernikahan kita?!" tuding Voren.
"Apa?! Perselingkuhan?!" seru Velan dengan ekspresi dibuat-buat.
"Haha!" Velan tertawa terbahak-bahak.
"Doni, kata majikanmu ini, aku melakukan perselingkuhan?! Huahaha," Velan kembali tertawa terbahak-bahak.
"Voren Lazaro, perselingkuhan adalah kata yang lebih tepat menggambarkan posisi saat dua orang yang saling mencintai untuk saling berkomitmen setia satu sama lain! Saat salah satu dari mereka melanggar komitmen itu, barulah bisa disebut sebagai perselingkuhan!" Velan mengembalikan kata-kata yang pernah diucapkan oleh Voren.
"Kita tidak saling mencintai! Kau tidak menginginkan pernikahan ini! Wanita yang kau cintai dan kau inginkan adalah Soraya!" lanjut Velan.
"Karena kau tidak mencintaiku dan tidak menginginkanku, jangan salahkan aku mencari dan mendapatkan pria yang mencintai dan menginginkanku, yakni Daren!" kata Velan berapi-api.
"Pokoknya, aku tidak mau tahu, kita bercerai sekarang juga! Biarkan aku berbahagia bersama Daren!" lanjut Velan.
Doni bisa melihat betapa Tuan Voren begitu tenang, apa karena beliau sudah terbiasa bertengkar dengan Nona Velan?
"Istriku, sayangnya, meski kita berpisah, kau tetap tidak akan bisa bersama dengan Daren," kata Voren.
"Apa maksudmu?" tanya Velan.
"Apa Daren tidak memberitahumu bahwa dia sudah bertunangan dengan wanita lain yang lebih segalanya darimu?" jawab Voren.
Velan mengulas senyumnya.
"Voren Lazaro! Kau saja yang jelas-jelas sudah menikah denganku, memilih melepaskanku demi cintamu kepada Soraya! Apalagi Daren yang baru bertunangan!" kata Velan.
"Soraya saja bisa dengan mudah merebutmu dariku hanya bermodalkan cintamu padanya! Maka aku juga akan meminta hal yang sama pada Daren! Daren akan memilihku karena dia mencintaiku!" Velan tersenyum penuh kemenangan.
"Posisi kita satu sama, Voren Lazaro!" kata Velan sambil menyibak rambutnya lalu memasuki ruang penatu.
Kedua pria itu hanya bisa terdiam.
Nona Velan benar-benar wanita yang mengerikan! Batin Doni dengan tubuhnya yang bergetar hebat.
__ADS_1
...~...