
Satu per satu gaun pengantin segera dikeluarkan oleh pramuniaga ke hadapan Velan. Velan diminta untuk mencoba semua gaun yang malah membuatnya kebingungan sendiri. Semua gaun itu begitu cantik dan bagus membuat Velan merasa ragu apakah ia pantas mengenakan gaun-gaun indah dalam model dan beraneka macam bentuk. Mulai dari gaun berpotongan lurus hingga mengembang seperti gaun para putri raja.
"Ada apa, Velan?" tanya Vega menghampiri Velan yang nampak bingung saat melihat banyaknya gaun yang harus dipilihnya.
"Bu, saya bingung pilih yang mana, semuanya begitu bagus," jawab Velan.
"Memang semuanya bagus, tapi pasti ada yang paling cocok untukmu," kata Vega.
"Menurut Ibu, yang mana yang bagus untuk saya?" tanya Velan.
Vega menatap ke arah Velan, seorang gadis yang nampak tidak terawat dengan baik seperti banyaknya gadis yang biasa ia jumpai di sekitarnya. Namun ia yakin, pada dasarnya semua wanita itu cantik, tergantung bagaimana perawatannya saja. Oleh karena itu Vega-lah yang akan menjadi ibu peri untuk Cinderella-nya ini.
"Velan, kamu pilih saja gaun yang sangat ingin kau pakai, itu saja pesan Ibu," kata Vega.
"Bu, bagaimana jika aku mengenakan kemeja dan celana jeans saja?" tanya Velan menyeringai kikuk.
"Yah, kalau Ibu sih tidak masalah ya, tapi masa' ya, kamu kalah mewah dengan para tamu yang datang?" tanya Vega sambil tersenyum lembut ke arah Velan.
Seketika Velan merasa bahwa pertanyaan Vega membuatnya terkesiap. Velan benar-benar melupakan hal tersebut. Menikah dengan orang kaya tentunya membuat Velan harus bertemu dengan orang-orang level atas. Itu artinya Velan tentu harus menjaga sikap.
"Velan, tidak apa-apa, ayo segera putuskan karena agenda kita masih banyak," kata Vega.
"Baik, Bu," jawab Velan dengan tangan gemetaran, mulai mencari satu gaun yang akan dipakai di hari pernikahannya yang begitu mendadak.
...~...
Apa yang dikatakan Vega mengenai agenda pernikahan yang padat memanglah benar. Ia dan Vega menemui wedding organizer untuk membahas konsep pernikahan kilat yang membuat pihak wedding organizer harus bisa bekerja secepat kilat.
Vega begitu antusias dalam menyiapkan pernikahan anaknya. Ia ingin pesta yang mewah dan meriah.
"Velan, nanti disiapkan saja daftar tamu yang akan diundang, ya," kata Vega.
"Baik, Bu," jawab Velan.
"Oh ya, kita pergi makan malam sekarang ya, sekalian bertemu dengan calon suamimu," kata Vega begitu antuasias.
"I-iya, Bu," jawab Velan.
__ADS_1
Entah mengapa Velan merasa begitu berdebar-debar. Ia akan bertemu dengan calon suaminya.
Setampan apa pria itu, ya?
Jika melihat dari penampilan Vega yang begitu cantik meski telah berumur, anak laki-lakinya pastilah tampan.
Vega dan Velan segera memasuki restoran yang berada di salah satu hotel berbintang lima. Mereka duduk di depan sebuah meja bundar. Pelayan segera menyambut mereka dengan menyodorkan buku menu sambil mencatat pesanan mereka.
"Voren lama sekali," keluh Vega.
Voren, sepertinya itu nama pria yang akan menjadi suamiku, pikir Velan.
Sungguh bagi Velan saat ini tak masalah jika memang ia harus menikah mendadak. Toh pada dasarnya ia juga memang sudah ingin menikah. Mengingat semua teman-temannya kebanyakan sudah melepas status lajang. Lagipula sekarang Velan juga sedang terdesak untuk menyelesaikan masalah utang yang sedang menjeratnya. Satu hal lagi yang menjadi pertimbangan Velan adalah dengan menikah, ia sudah tak punya tanggung jawab lagi untuk mengurus keempat kakaknya. Ia tak perlu menjadi tulang punggung keluarga lagi. Dengan begitu keempat kakaknya bisa sadar bahwa mereka harus lebih mandiri. Anggap saja pernikahan Velan menjadi solusi dari semua masalah yang timbul di tengah keluarganya saat ini.
...~...
Semua pengunjung di restoran maupun pelayan nampak terpana dan terpesona tatkala seorang pria melangkah dengan penuh percaya diri. Semua mata tak henti-hentinya menatap sosok bertubuh tinggi dalam balutan jas berwarna hitam yang membuat penampilan pria tersebut begitu mewah. Pria itu melangkah seakan hanya ia makhluk paling istimewa di muka bumi.
Decak kekaguman pun terlontar, memuja dan memuji pria bervisual serbuk berlian tersebut. Sementara pria yang mengekor di belakang nampak memasang ekspresi datar. Sudah biasa ia nampak tak kasat mata karena penampilan atasannya ini benar-benar membuatnya jadi nampak seperti cumi-cumi.
Sosok pria tampan bervisual serbuk berlian itu segera menghampiri meja Vega dan Velan. Velan sampai lupa cara berkedip karena begitu terpesona pada sosok yang langsung mengambil tangan Vega, mengecup punggung tangan, lalu memeluk Vega.
Senyum terulas menampilkan dua lesung pipi yang langsung menggetarkan jiwa dan raga Velan. Dalam hidupnya baru kali ini Velan bertemu dengan pria tampan bak blasteran penghuni surga.
"Bu Vega," sapa pria yang mengekori makhluk rupawan itu sambil menunduk.
"Doni," sapa Vega pada asisten pribadi anaknya itu.
"Voren, kenapa lama sekali datangnya?" tanya Vega.
Pria yang dipanggil Voren itu segera duduk di samping Vega sementara Doni tetap berdiri di posisinya.
"Maaf Ma, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," kata pria benama Voren itu dengan suara beratnya yang dalam.
"Voren, perkenalkan, Velan ini adalah calon istrimu," kata Vega mengarahkan pandangannya pada Velan.
Velan terkesiap, ia benar-benar begitu kikuk saat matanya saling berpandangan dengan pria yang terlihat begitu luar biasa tampan di mata Velan. Pria itu memiliki potongan rambut yang rapi, dan ditata dengan gel rambut agar rambut hitamnya selalu rapi. Kulitnya yang putih itu nampak berkilau dan begitu kontras dengan setelan jas hitam yang dikenakannya. Alisnya tebal, hitam, dan rapi membingkai sempurna wajah tampan dengan hidung mancung yang tinggi. Dua lesung pipi membuat senyum pria bernama Voren itu benar-benar memukau. Deretan giginya yang putih begitu rapi dengan bibir yang tipis dan nampak merona merah.
__ADS_1
"Calon istri?" tanya Voren dengan senyum yang mengembang, memperlihatkan jelas dua lesung pipinya.
Doni nampak terkejut namun sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
Wanita ini akan menjadi calon istri Tuan Voren? Apa tidak salah? Doni bertanya-tanya dalam hati.
"Iya, kalian akan menikah sesegera mungkin, semua persiapan sudah Mama aturkan," kata Vega begitu antusias.
"Mama, ini begitu mengejutkan," kata Voren yang masih tetap mempertahankan senyum memikatnya.
Vega tersenyum ke arah Voren.
"Voren, Mama sangat tahu yang terbaik untukmu," kata Vega.
Voren mengangguk, ia mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang nampak menatapnya tanpa berkedip.
Yah, semua wanita memang selalu menatapnya seperti itu.
"Jadi kapan Tuan Voren akan menikah, Bu Vega?" tanya Doni.
Doni tentu harus menanyakan hal tersebut untuk mengatur jadwal atasannya ini.
"Tiga hari lagi Voren akan menikah," jawab Vega mantap.
Voren kembali tersenyum, namun tiba-tiba ia terkejut karena melihat hidung wanita di hadapannya itu mengeluarkan darah.
...~...
Catatan Author
Pengenalan Tokoh
Voren Lazaro (Voren)
Anak laki-laki Vega yang berwajah rupawan dengan visual serbuk berlian. Pria tampan yang selalu menolak perjodohan lantaran belum bisa move on dari cinta pertamanya. Pria inilah yang dijodohkan dengan Velan.
Doni Damien (Doni)
__ADS_1
Asisten sekaligus sekretaris pribadi Voren. Pria murah senyum yang selalu menjadi tim sukses untuk Voren.