Jodoh Instan

Jodoh Instan
Makan Bersama


__ADS_3

Voren mengelus keningnya yang langsung terasa nyut-nyutan karena menghantam kepala Velan yang tiba-tiba muncul dari dalam air. Spontan kehadiran Velan membuatnya terlonjak kaget.


Kenapa dia muncul mengagetkan seperti ini sih?! Keluh Voren dalam hatinya.


Padahal Voren baru saja menikmati kenyamanan saat berendam dalam air hangat dan menikmati ketenangan yang ada.


"Aduh," Velan masih mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Suamiku, kau tidak apa-apa?" tanya Velan yang langsung begitu panik karena melihat Voren nampak kesakitan.


"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Voren.


Sakit sekali tahu! Bisa benjol ini keningku! Rutuk Voren dalam hati namun ia tetap berusaha mengulas senyumnya.


"Suamiku, maafkan aku, maafkan aku, ya," kata Velan memohon.


Aduh, keningnya sampai memerah begitu, pikir Velan.


"Istriku, sebenarnya apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengagetkanku seperti itu?" tanya Voren.


"Ta-tanganku tergelincir," jawab Velan malu-malu.


Mana bisa aku mengatakan kalau sejujurnya aku ingin menyentuhmu, suamiku! Batin Velan.


"Kau harus lebih berhati-hati, ya," kata Voren yang masih menahan rasa nyeri di keningnya.


Voren segera menyambar jubah mandinya yang ia letakkan di pinggir bathup. Ia segera menuju ke bilik pancuran yang letaknya tak jauh dari posisi bathup. Segera ia membilas tubuhnya dengan air yang mengalir untuk membersihkan sisa sabun ditubuhnya.


Bebek karet menyebalkan! Lagi-lagi Voren membatin dengan kesal.


Suamiku marah, ya? Suamiku marah, ya? Velan bertanya-tanya dalam hati.


Ia menyesal mengapa harus pakai acara tergelincir dan malah mengagetkan suaminya itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia tentu wanita sehat dan normal yang mana bisa hanya diam saat melihat keindahan suaminya. Lagipula Velan tentu harus memastikan sendiri, apakah suaminya itu benar-benar tidak tertarik pada wanita.


...~...


Voren segera keluar dari kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Keningnya yang memerah itu benar-benar menyita perhatiannya. Ia segera keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur.


"Loh, mandinya sudah selesai, Tuan?" tanya Doni.


Voren menatap skeptis ke arah Doni. Doni melihat kening atasannya itu nampak memerah.


"Tuan, apa yang terjadi pada kening Anda?" tanya Doni.


"Doni, ini gara-gara mandi sama bebek karet!" keluh Voren sambil menjatuhkan dirinya ke atas kursi.


"Kok bisa, Tuan?" tanya Doni yang dengan sigap langsung mengambil es batu dari dalam lemari es dan memasukkannya ke dalam kantong kain.

__ADS_1


"Pakai ini, Tuan," kata Doni menyerahkan kantong berisi es tersebut.


Doni juga segera mengambil kotak obat, mencari obat pereda nyeri.


"Permisi Tuan, akan saya oleskan salep pereda nyeri ini," kata Doni.


"Aku jadi tidak mau mandi bersama istriku lagi, Doni! Baru mandi begini saja, aku sudah benjol begini," rutuk Voren.


"Bagaimana bisa, Tuan? Memangnya apa yang Anda lakukan?" tanya Doni sambil mengoleskan salep berwarna putih itu ke kening Voren yang masih nampak memerah.


"Tidak tahu, aku bahkan baru merasa rileks, tiba-tiba saja dia muncul dari dalam air lalu menghantamku! Benar-benar wanita gila!" jawab Voren sambil memejamkan matanya.


...~...


Velan segera keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan jubah mandi lantaran merasa bersalah sudah melukai Voren meski kejadian tersebut terjadi karena ketidaksengajaan. Velan pun segera keluar dari kamar dan lagi-lagi mendapati pemandangan yang membuat hatinya terasa cenat-cenut.


Di mata Velan adegan tersebut nampak bergerak secara lambat. Doni nampak penuh kelembutan mengoleskan salep ke kening Voren yang terlihat memejamkan mata. Seakan menikmati sentuhan yang diberikan oleh Doni.


Ini tidak bisa dibiarkan!


"Suamiku," Velan langsung menyeruduk Doni.


Doni terhuyung dan nyaris jatuh, untunglah ia mampu menopang tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan. Diseruduk macam banteng yang melihat kain merah dikibarkan oleh matador tentu membuat Doni syok bukan main.


Waduh, kuat juga tenaga Nona Velan ini! Pantas Tuan Voren sampai benjol begitu! Batin Doni.


"Suamiku, apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, Suamiku," kata Velan begitu panik persis orang kebakaran jenggot.


Apa kau buta?! Aku sampai benjol begini! Dasar wanita bar-bar! Voren mengumpat dalam hati.


"Suamiku, sungguh aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja, aku sungguh tak bermaksud melukaimu," kata Velan memohon.


"Iya Istriku, tidak apa-apa, lagipula Doni sudah membantu mengobati memarku," kata Voren menenangkan Velan.


"Nona, sungguh Anda jangan cemas," kata Doni ikut menenangkan Velan.


"Aku mau berganti pakaian dulu," kata Voren segera beranjak dari kursi.


"Akan saya siapkan pakaian, Tuan," kata Doni.


"Pak Doni, biar saya saja," kata Velan dengan cepat.


Saat ini yang bisa Velan lakukan adalah berusaha untuk mengakrabkan diri dengan suaminya. Velan jelas menaruh curiga pada Doni yang menjadi asisten pribadi suaminya ini. Jangan-jangan Doni adalah pria yang menarik hati suaminya hingga suaminya tidak tertarik pada wanita.


"Istriku, aku bisa sendiri," kata Voren.


"Aku akan membantumu, Suamiku," kata Velan bersikeras.

__ADS_1


Voren melemparkan pandangannya ke arah Doni.


Doni, lakukan sesuatu pada wanita ini! Voren melotot ke arah Doni.


"Baiklah Tuan, Nona, silakan berganti pakaian, setelah itu kalian bisa makan bersama," kata Doni.


...~...


Velan merasa berdebar-debar saat kembali memasuki kamar Voren. Voren membuka lemari pakaiannya untuk mengambil selembar kaos dan celana panjang berwarna hitam. Velan memerhatikan dengan saksama struktur isi lemari pakaian Voren agar ke depannya ia yang akan menyiapkan segala keperluan suaminya itu.


Velan tak henti-hentinya terpesona pada suaminya yang memiliki postur tubuh tinggi dan tegap terbungkus dalam kaos hitam yang mencetak jelas otot-otot atletisnya.


Meski pria ini tidak tertarik pada wanita namun jika Velan berusaha dengan segenap kegigihannya pasti akan membuahkan hasil yang diinginkan.


Velan juga segera memakai pakaian ganti berupa kaos dan celana jeans yang menjadi pakaian andalannya.


Usai berpakaian mereka segera keluar dari kamar dan kembali menuju ke dapur. Doni sudah begitu sibuk menata meja makan yang kini dipenuhi dengan aneka hidangan.


Mata Velan menangkap hidangan yang didominasi salad sayuran dan olahan ikan panggang serta sup ikan. Voren segera duduk di kursinya diikuti Velan.


Doni mengambil setiap hidangan yang ada di meja dalam piring kecil dan mencicipinya terlebih dahulu. Tugas Doni tentu saja memastikan semua makanan yang akan dikonsumsi Tuan Voren layak untuk dimakan.


"Tidak ada nasi, ya?" tanya Velan.


"Nona, Tuan Voren tidak mengonsumsi nasi saat makan malam," jawab Doni.


"Oh begitu, kalau aku sih, asalkan ada nasi biar lauknya hanya sambal itu sudah cukup, yang penting kenyang," komentar Velan seraya tertawa.


"Ini piring Anda, Tuan," kata Doni segera meletakkan piring ke hadapan Voren.


Doni segera mengisi piring Voren dengan salad sayur dan ikan panggang. Ia juga mengambil mangkuk dan menuangkan sup ikan.


"Sup ikannya segar sekali, Tuan," kata Doni sambil meletakkan mangkuk berisi sup ikan ke hadapan Voren.


"Benarkah?" kata Voren yang langsung mencicipi kuah sup ikan tersebut.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Doni.


"Kau benar, ini enak sekali," jawab Voren.


Velan mengerutkan alisnya, saat ini di mata Velan kedua pria itu nampak seperti suami yang sedang memuji masakan istrinya.


Velan mengambil mangkuk dan menuangkan sup ikan ke dalam mangkuknya. Ia pun mencicipinya, dilihat dari mana pun sup ikan ini nampak seperti ikan yang direbus dalam air bening saja.


Byuurr....!


Voren dan Doni terlonjak kaget saat Velan menyemburkan kuah sup ikan dari mulutnya. Kerongkongannya menolak untuk menelan sup ikan yang sama sekali tidak ada rasanya.

__ADS_1


Voren pun langsung kehilangan selera makan lantaran merasa wanita ini benar-benar jorok dan membuatnya hilang feeling.


...~...


__ADS_2