Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E60


__ADS_3

Voren benar-benar melakukan semua yang telah ia pelajari dari mentor kelas privat memuaskan wanita. Semua gerakan dilakukan dengan penuh kelembutan. Manuver-manuver cantik yang membuat mereka berdua sedang melayang di awang-awang.


Velan memandangi kaca jendela yang berembun karena deru napas mereka yang bersatu padu, menciptakan harmoni yang selaras dan seirama.


Awalnya Velan jelas merasakan rasa sakit yang mengoyak dirinya saat pria itu mengoyak keperawanannya. Namun selanjutnya, entahlah, apakah ini yang namanya kesenangan yang salah?


Voren masih mempertahankan posisinya, pria itu masih tetap memegang kendali dan membiarkan Velan terhanyut dalam buaiannya.


Velan tersentak kaget karena Voren melakukan manuver kecil yang membuat Velan kini bertukar posisi.


"A-apa yang kau lakukan?!" Velan terkejut karena Voren langsung meraup pegunungan erotis yang begitu menggodanya.


"'Ugh!" Velan tak bisa menahan dirinya untuk mendekap lebih erat pria yang saat ini memberinya kenikmatan yang tak pernah dirasakan seumur hidupnya.


Tidak! Tidak! Ini enak sekali! Ya Tuhan! Batin Velan menjerit histeris.


Berdosakah aku menikmatinya seperti ini?!


Velan mengatup erat mulutnya, jangan sampai ia meracau hal yang memalukan.


"Ada apa, Istriku? Apakah kau benar-benar menyukainya?" tanya Voren.


Velan tak menjawab karena ia benar-benar merasa malu untuk mengakuinya.


Voren masih bergerak dengan tempo yang teratur, lembut namun sangat bertenaga. Setiap detik yang berlalu membuat Velan benar-benar lupa diri.


"Velan," kata Voren sambil menatap Velan.


Velan menegang, tulangnya seakan lumer saat kembali meraih rasa nikmat yang begitu menggoda dan tak tertahankan. Voren mengulas senyumnya dan kembali membenamkan bibirnya ke bibir Velan sambil melepaskan apa yang sudah ditahannya.


Hosh..


Hosh..


Voren mengakhiri permainan membara mereka. Voren menciumi puncak kepala Velan. Mereka sama-sama menikmati keheningan yang terjadi di antara mereka. Menit demi menit berlalu, mereka masih mengatur napas bersama.


Voren membelai lembut kepala Velan, masih tak melepaskan dekapannya untuk saling berbagi kehangatan.


"'Istriku, tidakkah kau pikir yang kita lakukan saat ini persis seperti adegan di film Titanic saat Jack dan Rose bercinta di dalam mobil?" kata Voren.


"'Harusnya, sebelum kita memulai semua ini, aku perlu melukismu," Voren menggerakkan jarinya menyusuri garis tubuh Velan.


Velan menggeliat karena merasa geli, ia menepis tangan Voren.


"Titanic dari Hongkong?!" celetuk Velan sambil menggeser tubuhnya, namun Voren kembali menahannya.


"Haruskah kugunakan lidahku seperti ini?" Voren menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Ahaha, kau seperti anjing!" ejek Velan seraya tertawa.


"Hmm, kalau anjing, berarti seperti ini kan?!" Voren segera menukar posisi.


"'Argh! Apa yang kau lakukan, Voren?!" Velan tersentak karena Voren sudah kembali memasukinya dari belakang.


"Melanjutkan sesi berikutnya," jawab Voren dengan mantap.


"Voren, tunggu! Ah.. Ahh..," Velan melenguh.


Velan kembali terbuai karena Voren yang melakukan pemompaan dengan begitu lembut namun bertenaga.


"Ah!" Velan melenguh lagi, tubuhnya kembali berguncang hebat dalam posisi ini.


Voren memberi sebuah ciuman yang dalam, gerakannya makin cepat dan makin tak beraturan.


Saat ini ia sudah berada dalam batasnya, ia ambruk dan mendekap erat Velan yang sudah lebih dulu kelelahan.


...~...


Hari masih begitu pagi dan udara masih begitu dingin saat Velan keluar dari minimarket usai menumpang ke toilet untuk sekadar membersihkan diri.


Ia merapatkan jas milik Voren yang dikenakannya. Ia duduk di sebuah meja bundar dengan sebuah payung besar yang berada di depan minimarket yang buka selama dua puluh empat jam.


Voren keluar dari minimarket dengan membawa dua buah mie cup yang sudah diseduhnya lalu meletakkannya di atas meja. Mie cup yang sudah dipesan Velan.


Voren masuk lagi ke dalam minimarket lalu kembali ke meja dengan membawa enam buah apel, satu sterofoam berisi anggur, serta enam botol air mineral.


Voren menatap Velan yang terlihat lahap memakan mie cup.


"Istriku, makanan tinggi garam itu kurang baik untuk tubuh," kata Voren.


"Begitukah? Daren bahkan juga memakan mie cup ini dan dia baik-baik saja," sahut Velan.


"Apa?! Daren makan mie cup? Kapan itu?" tanya Voren.


"Kami makan mie cup bersama saat pertama kali bertemu," jawab Velan.


Voren meletakkan apel yang sudah digigitnya lalu mengambil mie cup yang tersisa. Voren segera menyeruput mie cup tersebut tanpa merasa bersalah.


"Sekarang kita makan mie cup bersama," kata Voren.


"'Voren Lazaro, aku dan Daren sungguh tidak memiliki hubungan apa pun!" kata Velan. "Kami tidak berselingkuh seperti yang kau tuduhkan!"


"Tapi kau mencintainya?" tanya Voren.


"Tidak," jawab Velan dengan cepat.

__ADS_1


"Kau tidak mencintai Daren, karena kau mencintaiku," kata Voren menarik kesimpulan.


"Ya, itu dulu, tapi sekarang tidak," sahut Velan dengan cepat.


"Kenapa kau tidak mencintaiku lagi? Cintai saja aku! Aku mengizinkanmu untuk mencintaiku!" tukas Voren.


"Tidak, terima kasih! Daripada mencintaimu, lebih baik aku mencari cinta yang baru!" sahut Velan dengan tegas.


Voren terdiam, ia menatap Velan yang menyeruput mie cupnya. Voren jadi kehilangan selera makannya padahal saat ini ia sedang lapar sekali.


"Voren Lazaro, aku sudah memberi apa yang kau mau! Maka sudah saatnya kau memberiku apa yang kuinginkan!" kata Velan.


"Istriku, tidak bisakah kau pikirkan sekali lagi keputusanmu untuk bercerai dariku?" tanya Voren.


"Voren, apa kau berpikir ulang ketika mengambil keputusan untuk menceraikanku demi Soraya?" Velan balik bertanya.


Velan menahan air matanya yang menggenang. Voren menunduk dan mengusap wajahnya dengan gusar. Ia menatap Velan yang menyeka air matanya. Voren mengambil tangan Velan dan menggenggamnya erat.


"Istriku, aku salah! Aku yang salah! Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?! Apa yang harus kutunjukkan agar kau percaya bahwa aku menyesali keputusan yang kubuat saat itu?! Istriku, kumohon!"


"Kau hanya perlu menceraikanku," kata Velan menatap Voren yang mulai meneteskan air mata.


"Istriku, apa kau benar-benar tidak bahagia saat bersamaku?" tanya Voren.


Velan menyeka air matanya yang kembali turun.


"Aku bahkan tidak ingat seperti apa rasanya bahagia saat bersamamu," jawab Velan.


Voren mengambil air mineralnya lalu meneguknya dengan cepat. Keheningan kembali menyergap mereka. Keduanya bahkan mengabaikan hangatnya sinar matahari yang merangkak naik ke ufuk timur.


...~...


Velan sudah mengganti gaunnya dengan sebuah baju terusan berwarna biru gelap dengan aksen pita berwarna putih. Dari semua pakaian yang ada di butik ini, Velan pikir gaun terusan inilah yang lebih nyaman dikenakannya daripada harus memakai gaun megah yang membuat jejak cinta semalam yang diukir Voren di bahu kirinya terekspos jelas.


Pegawai butik terpana saat melihat Voren yang keluar dari ruang ganti. Pria itu mengenakan kaus berwarna biru gelap dengan kemeja berwarna cokelat yang senada dengan celananya.


"Anda benar-benar sangat tampan!" puji pegawai butik yang tanpa sadar memuji Voren.


Voren mengabaikan pujian pegawai butik dan langsung membayar semua tagihan pakaian ganti mereka.


Ia segera menyambut Velan yang keluar dari ruang ganti.


"Ayo kita pergi, Istriku," ajak Voren.


"Memangnya kita mau pergi ke mana? Pengadilan agama?" tanya Velan.


Voren mengulas senyumnya menatap Velan yang masih memasang sikap skeptis ke arahnya.

__ADS_1


"Ayo kita berkencan, untuk pertama dan terakhir kalinya," jawab Voren.


...~...


__ADS_2