Jodoh Instan

Jodoh Instan
Sejujurnya


__ADS_3

"Mari kita pergi," ajak Voren.


Doni segera mengawal pasangan pengantin baru itu menuju ke parkiran bawah tanah tempat Doni memarkirkan mobil mewah milik Voren. Velan lagi-lagi terpana karena mobil mewah ini bahkan berbeda dari mobil yang hari itu ia tumpangi dalam rangka mencari cincin kawinnya.


Sekaya apa ya suamiku ini? Velan membatin.


Ada berapa banyak mobil yang ia miliki ya?


Doni dengan sigap membuka pintu untuk Tuan Voren dan kemudian membukakan pintu mobil mewah itu untuk Velan. Velan nampak bersusah payah saat memasuki mobil lantaran gaunnya yang begitu mewah dan megah.


"Wah, mobil ini bagus sekali," puji Velan.


"Suamiku, ini mobilmu juga?" tanya Velan yang masih tak henti-hentinya terpana dengan interior dalam mobil mewah tersebut.


"Tentu saja Nona," Doni menjawab pertanyaan Velan.


"Apa kau mau juga?" tanya Voren sambil mengulas senyumnya.


"Ti-tidak, aku tidak bisa mengemudikan mobil!" jawab Velan.


"Anda bisa ikut kelas mengemudi Nona," kata Doni.


"Ti-tidak, kalau aku yang membawa mobil nanti harus membuat jalan baru!" sahut Velan seraya terkekeh.


Doni segera mengemudikan mobil mewah itu menyusuri area parkiran bawah tanah yang temaram. Meski dalam pencahayaan yang temaram namun pesona ketampanan Voren nampak begitu bercahaya dalam gelap.


Suamiku makan apa ya, sampai bercahaya seperti ini? Apakah dia memakan bola lampu LED?


Velan terkekeh sendiri membayangkan suaminya yang mengunyah lalapan bola lampu LED. Bukannya lucu malah menyeramkan bak pemain Kuda Lumping yang kerasukan setan.


Tak henti-hentinya Velan mengulas senyum bahagia lantaran mendapatkan pria sempurna macam Voren sebagai suaminya. Pria lajang, luar biasa tampan, baik, dari keluarga baik-baik yang terpandang, dan tentu saja kaya raya.


Velan sungguh yakin sekali, semua orang pasti sungguh iri melihatnya bisa bersanding dengan pria yang bagi Velan tentunya hanya dianggap sebagai sosok pria impian.


Siapa yang akan menduga bahwa Velan benar-benar akan sukses mendapatkan sosok pria impian yang bisa membuatnya bangga hingga tujuh turunan.

__ADS_1


Madam Yue, tunggu saja aku pasti akan membayar mahal atas jasamu! Batin Velan.


***


Mobil yang ditumpangi Velan terhenti di parkiran bawah tanah sebuah gedung apartemen yang berada di kawasan paling elit di pusat kota. Velan segera turun dari mobil mewah yang dikemudikan oleh Doni.


Doni sendiri adalah asisten pribadi Voren. Pria murah senyum itu sebenarnya juga tampan hanya saja karena selalu berada di sisi Voren membuatnya terlihat seperti kentang yang disandingkan dengan berlian. Doni tidak setinggi Voren, namun yang pasti pria itu lebih tinggi dari Velan. Doni memiliki kulit kuning langsat yang cerah dan bersih serta berperawakan ramping.


Doni bergegas mengikuti Voren yang berjalan menuju ke lift khusus yang di jaga ketat oleh petugas keamanan. Velan tergopoh-gopoh menyeret gaunnya sambil menyampirkan tas ransel di bahunya.


Saat ini Velan benar-benar sedang berdebar tak karuan, ia akan dibawa pulang ke tempat tinggal suaminya. Velan segera keluar dari lift dan menyusuri koridor yang nampak begitu sepi. Sungguh berbeda dengan perumahan tempatnya tinggal di mana ia bisa melihat orang-orang tua yang sibuk mencari kutu di depan rumah hingga para tetangga yang sibuk menggunjingkan tetangga lain yang membeli lemari baru.


Pintu unit apartemen mewah itu terbuka, Voren segera masuk diikuti Doni lalu disusul oleh Velan. Velan terpana melihat isi unit apartemen mewah yang biasanya hanya ia saksikan di iklan penjualan apartemen di televisi. Unit apartemen itu berkonsep minimalis dan modern. Terdapat dapur mewah, serta ruang tamu dengan pintu kaca yang menampilkan pemandangan laut.


Voren segera menjatuhkan dirinya di sofa berbahan beludru berwarna hitam. Di samping sofa terdapat meja dengan rak berbentuk pohon yang memuat tujuh buah akuarium mini berisi ikan cup*ng tujuh warna. Voren mengambil pakan ikan dan mulai menaburkan sedikit ke setiap akuarium.


"Wah, anak-anakku sepertinya kelaparan sekali, Doni," kata Voren saat mengamati satu per satu ikan cup*ng dalam akuarium itu memakan pakan ikan dengan lahapnya.


"Tadi pagi Tuan memang tidak sempat memberi makan mereka karena terburu-buru pergi," kata Doni.


Suamiku ini sungguh baik dan penyayang binatang, sungguh sempurna sekali ciptaan-Mu, lagi-lagi Velan membatin.


"Istriku," kata Voren tanpa teralih dari kegiatannya memberi makan ikan koleksinya itu.


"Kemarilah," kata Voren mengalihkan pandangannya dari ikan-ikan peliharaannya lalu menepuk sisi sofa yang kosong.


Velan terkejut karena pria tampan itu memanggilnya dengan sebutan 'istriku' yang langsung membuat Velan menjadi makin salah tingkah.


Velan tak tahu harus membalas apa. Saat ini ia terlalu berdebar-debar hingga tak mampu bicara. Velan segera bergabung di sisi Voren. Senyum pria itu benar-benar menghipnotisnya.


"Ada beberapa hal yang harus kita diskusikan terkait dengan pernikahan kita ini," kata Voren menatap lurus Velan.


"I-iya," kata Velan terbata.


"Berhubung pernikahan kita ini amatlah mendadak, kita bahkan belum mengenal dengan baik satu sama lain," kata Voren.

__ADS_1


"I-iya," kata Velan lagi.


Voren menatap lembut ke arah Velan, Velan merasa wajahnya benar-benar memanas. Suaminya ini benar-benar terlihat semakin tampan dilihat dari jarak dekat. Bulu matanya nampak panjang dan tebal. Kulitnya begitu mulus tanpa ada pori-pori yang terlihat. Sudut hidungnya begitu tajam saking mancungnya.


"Namun karena kita sudah menikah, kita sudah menjadi sepasang suami istri, tentu tak perlu ada yang harus ditutupi lagi," kata Voren.


"Ma-maksudnya?" tanya Velan tak mengerti maksud ucapan pria yang kini telah menjadi suaminya.


"Sejujurnya, aku tidak tertarik pada wanita...," kata Voren tertahan.


"Apa?!" seru Velan langsung memotong ucapan Voren.


Voren terkesiap karena wanita di sampingnya ini tiba-tiba saja berseru heboh.


Astaga, kagetnya aku! Batin Voren berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


Velan merasa mendengar suara latar musik khas sinetron yang biasa ditonton oleh Tomi. Yang mana wajah aktor atau aktrisnya ditampilkan secara close up memenuhi layar televisi. Pengambilan gambar yang dilakukan berulang-ulang dengan mata melotot lebar seakan sang aktor atau aktrisnya tengah tersedak biji kedondong.


Apa?! Suamiku tidak tertarik pada wanita?!


Jderr....!


Latar suara petir yang sambar menyambar turut memeriahkan pikiran Velan yang mendadak kosong.


Velan masih nampak tegang dan kehilangan kata-kata. Jiwanya saat ini sedang terbang melayang meninggalkan raganya.


Pria berparas rupawan yang begitu menawan dan hartawan yang menjadi idamannya ternyata tidak tertarik pada wanita.


Lantas untuk apa mereka menikah kalau pria ini tidak tertarik pada wanita?


Kepala Velan langsung terasa pusing seakan ada orang yang melempar batu bata dari belakang.


"Istriku!" seruan itu terdengar beberapa saat sebelum semuanya nampak gelap bagi Velan.


...~...

__ADS_1


 


__ADS_2