Jodoh Instan

Jodoh Instan
Debt Collector


__ADS_3

Velan menunggu dengan tidak sabar, menatap ponselnya berulang kali. Berhari-hari ia menunggu kabar dari Madam Yue, pakar perjodohan gaib yang mau tidak mau harus dibayarnya untuk membantu mendapatkan pria yang sesuai kriterianya dengan tujuan menjadikan pria itu sebagai suami.


Velan bahkan sudah membayar Madam Yue dengan perhiasan emas pemberian ibunya. Hanya perhiasan emas itu saja barang berharga milik Velan yang tersisa.


Sungguh Velan sudah tidak punya waktu untuk pergi kencan buta dalam rangka mencari suami kaya yang akan membantunya keluar dari masalah pelik yang sedang dihadapi.


Velan tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia tidak memiliki kecantikan luar biasa. Velan sendiri memiliki perawakan kurus dengan tinggi seratus enam puluh sentimeter. Ia sampai terlihat begitu kurus karena terlalu banyak beban yang harus ditanggungnya. Terlebih Velan adalah tulang punggung keluarga. Velan memiliki rambut berpotongan model bob sebatas leher yang nampak acak-acakan karena kurang dirawat. Kulitnya yang kusam itu juga kurang terawat lantaran Velan begitu sibuk bekerja dan mengurus rumah. Velan juga tidak memiliki penampilan yang modis. Ia selalu mengenakan kaos longgar dan celana jeans sebagai penampilan sehari-harinya.


Sadar akan penampilannya yang sama sekali tidak menarik, membuat Velan memilih untuk mengambil jalan pintas. Mau tidak mau ia harus meminta bantuan paranormal kondang, ahli perjodohan yang banyak direkomendasikan oleh anggota forum mistis. Velan menemukannya beberapa waktu lalu saat berselancar di dunia maya setelah mendengar obrolan dua orang wanita paruh baya yang kebetulan sedang berbincang di depan kios Velan.


Velan mencoba menelpon Elya, asisten Madam Yue yang menjadi perantaranya untuk berkomunikasi dengan Madam Yue. Setiap hari Velan menghubungi Elya untuk mendapat informasi perkembangan penelusuran Madam Yue.


Saat cara manusiawi kiranya tidak bisa ia gunakan, mau tidak mau Velan harus meminta bantuan secara gaib yang jauh lebih instan. Terlebih kabarnya bisa request mau dapat jodoh yang seperti apa. Yah, bagi Velan, saat ini ia sedang melakukan pertaruhan dengan dirinya sendiri. Apakah Madam Yue memang bisa mendatangkan jodoh sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Velan?


"Halo, Elya, ini Velan, apa sudah ada kabar dari Madam Yue?" tanya Velan segera kembali menelepon Elya.


"Maaf Nona Velan, nanti akan kami kabari kembali," jawab Elya.


"Baik, terima kasih," kata Velan sebelum menutup teleponnya.


Velan mengacak rambutnya yang memang sudah acak-acakan. Kurang dari seminggu lagi, ia sudah harus mendapatkan suami idamannya itu.


"Awas saja sampai paranormal itu menipuku! Akan kubuat viral dia!" geram Velan sambil melempar ponselnya.


Saat ini Velan sungguh tak punya banyak waktu yang tersisa. Ia benar-benar harus mendapatkan pria lajang yang baik, tampan, dan tentunya kaya raya untuk membawanya keluar dari masalah yang begitu besar.


Sebelum debt collector dan pihak bank datang untuk menyita tempat tinggalnya, sudah pasti ia harus mendapatkan seorang suami yang bisa membantu menyelesaikan masalah yang timbul gara-gara ulah kakaknya.


Sambil menunggu orderan masuk, Velan kembali menunggu di kiosnya yang sempit. Alangkah bagusnya jika ia punya suami kaya raya yang mampu memberinya dukungan penuh untuk mengembangkan usahanya ini.


Ponsel Velan berdering, ia mengabaikan telepon yang masuk,  karena itu pasti dari pihak bank yang meneleponnya berkali-kali lantaran tagihan yang sudah lama jatuh tempo.


Velan sungguh tak tahu harus membayar dengan apa, saat ini ia bahkan tidak punya modal yang cukup untuk menjalankan usahanya. Ia juga sudah terlanjur berjanji pada Desi untuk mengembalikan pinjaman modalnya itu. Velan merasa sudah nyaris gila dan tak mampu berpikir sehat lagi. Ini semua karena ulah kakaknya.


Ponsel Velan kembali berdering, ia benar-benar tidak berani mengangkat. Namun entah mengapa ia merasa harus menjawab telepon itu.


"Halo," jawab Velan.


"Benar ini dengan Nona Velan?" terdengar suara wanita di seberang sana menyapa Velan.


"Be-benar," jawab Velan.


"Saya Vega, saya mendapat nomor ponsel Anda dari Elya," kata wanita itu.


Seketika hati Velan merasa lega karena yang meneleponnya bukanlah pihak bank.


...~...

__ADS_1


Menjelang sore, Taki dan Toro sibuk menyanyi sambil bermain gitar di teras rumah. Sedangkan Yoyok sibuk mengurus tanaman hias yang potnya tersusun pada rak tempel di dinding sudut teras. Sementara Tomi begitu sibuk menyaksikan sinetron sore. Kedamaian mereka terusik tatkala seorang pria bertampang sangar dengan kulit hitam legam memasuki pekarangan rumah mereka.


Taki segera berhenti bernyanyi, begitu pun dengan Toro yang langsung berhenti memetik gitar. Sementara Yoyok juga ikut berhenti menyemprot tanaman hias koleksinya.


"Selamat sore, saya mencari Ibu Velandara," kata pria itu.


Taki dan Toro segera menghampiri pria itu. Terlihat pria garang berjaket kulit warna hitam itu nampak memasang ekspresi dingin.


"Tidak ada yang namanya Velandara di sini!" sergah Taki yang menjadikan Toro sebagai tamengnya.


"Bagaimana bisa? Alamat yang tercantum jelas adalah alamat rumah ini," sahut pria itu.


"Siapa kau?" tanya Toro dengan memasang ekspresi tak kalah sangar dari pria itu.


"Saya Reza, debt collector dari Bank M, saya mencari Ibu Velandara untuk menagih tagihan yang sudah lewat dari jatuh tempo," jawab pria itu masih dengan ekspresi dingin yang tak tertebak.


Yoyok nampak mematung di sudut teras, ia sungguh tak menduga bahwa hari ini debt collector akan datang untuk menagih Velan.


Taki dan Toro hanya bisa saling bertukar pandang. Mereka jelas sudah melakukan kesalahan besar lantaran membuat adik mereka terjerat utang. Gara-gara mereka menyerahkan uang yang telah susah payah dikumpulkan oleh Velan secara cuma-cuma kepada perusahaan label musik gadungan, akhirnya adiknya harus menunggak dalam membayar utang.


Velan yang baru saja pulang dari kiosnya terkejut melihat Taki dan Toro yang nampak bersitegang dengan seorang pria asing. Yoyok kebetulan melihat Velan yang masih berada di pinggir jalan, segera melambaikan tangan untuk mengusir Velan.


"Jangan kemari, pergi dulu!" kata Yoyok tanpa suara.


Rupanya debt collector itu menyadari tingkah Yoyok, pria bertampang sangar itu menoleh ke arah jalan.


Velan bahkan sampai tak berani menjawab telepon tanpa nama yang masuk ke ponselnya, lantaran setiap hari ia diteror oleh pihak bank untuk menanyakan masalah pembayaran angsurannya yang sudah menunggak.


Velan sudah siap tancap gas, namun di hadapannya muncul pria bertampang sangar lain yang menghentikannya.


"Anda Ibu Velandara?" tanya pria itu.


"B-bukan," jawab Velan ragu-ragu.


Pria itu menunjukkan ponselnya, terpampang jelas foto Velan di layar datar, membuat Velan tak bisa mengelak. Velan segera menuju ke teras dengan langkah gontai.


"Bu Velandara, Anda harus bisa mulai membayar angsuran yang sudah menunggak, selain harus menanggung bunga berjalan, nanti Anda bisa masuk dalam daftar hitam yang membuat nama Anda rusak di dunia perbankan," kata debt collector bernama Reza itu pada Velan.


"Iya, Pak, ini saya sedang berusaha," kata Velan merasa gentar dengan gaya mengintimidasi mereka.


"Semua nasabah pasti begitu bicaranya, Bu," sahut rekan debt collector tersebut menanggapi perkataan Velan.


Velan mengepalkan tangannya, ia sungguh merasa malu karena harus ditagih utang seperti ini. Ini semua bukan salahnya, namun semua harus ditanggungnya. Sungguh kegilaan yang membuat kewarasan Velan benar-benar diuji.


"Bu, saran saya, segera dibayar angsurannya, Anda sudah didenda dengan bunga berjalan yang kini jumlahnya mulai merangkak mendekati nilai pokok pinjaman! Jadi Anda harus paham pentingnya membayar angsuran tepat waktu," lanjut Reza lagi.


"Baik Pak, saya mengerti, akan segera saya usahakan secepatnya," kata Velan.

__ADS_1


Bagi debt collector tersebut, sudah tugasnya untuk menagih debitur mereka demi menjaga proforma NPL yakni Non Performing Loan cabang mereka.


"Bu Velandara, sekali lagi saya ingatkan betapa pentingnya pembayaran angsuran tepat waktu, karena akan memengaruhi kepercayaan pihak bank saat akan memberi kredit untuk Anda! Jika nama Anda masuk dalam daftar hitam perbankan, sudah jelas Anda tidak akan bisa mendapat pinjaman dari bank mana pun lagi! Kecuali Anda meminjam dana dari para lintah darat," lanjut Reza lagi.


"Baik Pak, saya mengerti," jawab Velan.


"Kami hanya mengingatkan pada Anda, karena Anda sudah menjadikan rumah Anda ini sebagai agunan, sehingga Anda pasti sudah paham dengan kewajiban Anda," sahut rekan pria berkulit gelap itu dengan perkataan yang terdengar seperti ancaman di telinga Velan.


"Baik Pak, saya mengerti, terima kasih sudah mengingatkan," kata Velan menanggapi.


"Tolong ya Bu, jangan lama-lama pembayarannya, disegerakan, rumah Anda bisa disita, Bu," lanjut pria bertampang sangar itu.


"Aih, sakitnya telingaku kau itu bicara seperti itu terus!" sergah Taki.


"Iya, pergi sudah kalian! Nanti pasti dibayar, kok!" sergah Toro.


"Pak, kami ini tidak akan datang kemari kalau pembayaran debitur lancar-lancar saja!" balas debt collector yang tidak kalah ngegas dari Taki dan Toro.


"Ya, kalau ada uangnya langsung dibayar, kok!" Taki mendorong keras debt collector di depannya.


"Ada masalah apa Anda dorong-dorong saya?!" balas debt collector itu ke arah Taki.


"Apa?! Pergi kalian semua!" sergah Taki dengan menantang.


"Pergi sana!" sergah Toro.


Aksi saling dorong antara Taki dan Toro bersama dua debt collector itu tak dapat dihindari. Velan sungguh tak tahu harus berbuat apa. Namun tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah tersebut.


Seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian serba hitam turun dari mobil mewah tersebut saat sopir membukakan pintu untuk beliau. Wanita itu langsung mengarahkan pandangannya pada Velan yang nampak masih sibuk melerai saudaranya yang hendak baku hantam dengan debt collector. 


"Permisi, Nona Velan?" 


Velan menoleh ke arah wanita berpenampilan rapi tersebut. Wanita berparas cantik dan lembut yang langsung membuat Velan seakan terhipnotis. Wanita itu berjalan menghampiri Velan dengan langkahnya yang luar biasa anggun.


"Saya Vega, yang tadi siang menghubungi Anda," kata wanita berusia paruh baya itu begitu ramah pada Velan.


Velan sungguh tak menyangka wanita bernama Vega itu benar-benar datang menemuinya, karena Vega hanya menelepon dan mengatakan bahwa ia mendapat nomor ponsel Velan dari Elya.


...~...


Sebelumnya, setelah mendapat nomor ponsel dari Elya, Vega langsung meluncur mencari alamat rumah Velan, ia sungguh tak mau membuang-buang waktu lagi untuk menemui calon istri yang sudah disiapkan oleh Madam Yue untuk anak laki-lakinya itu.


Bagi Vega yang sudah menjadi klien lama Madam Yue, tentu saja ia sangat memercayai paranormal yang memang sudah lama menjadi penasehat spiritualnya. Vega tentu tak akan pernah ragu dengan ucapan Madam Yue yang memiliki kemampuan di atas manusia normal pada umumnya.


Vega sungguh tak akan ragu untuk menikahkan anaknya dengan wanita pilihan Madam Yue, meski secara pribadi Vega tidak mengenal wanita tersebut.


Yah, memang lagi-lagi kembali pada konsep kepercayaan yang dianut oleh Vega terhadap Madam Yue. Sehingga Vega tak perlu merasa bimbang dan meragu.

__ADS_1


...~...


__ADS_2