Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E54


__ADS_3

Velan merasa kurang nyaman karena saat ini semua mata tengah tertuju padanya.


Apa penampilan Velan benar-benar terlalu berlebihan hanya untuk sekadar menghadiri acara makan malam keluarga?


Tapi masalahnya acara makan malam ini bukanlah acara makan malam sembarangan. Dan benar saja, Velan bisa melihat semua orang yang duduk di belakang meja makan berpenampilan mewah dan memukau.


Mata Velan langsung tertuju pada sosok Daren yang duduk di samping Darla. Darla melayangkan tatapan sinis ke arah Velan. Velan masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana wanita paruh baya itu melayangkan tudingan-tudingan aneh setelah mengguyur Velan dengan secangkir teh.


Velan tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia benar-benar berkencan secara serius dengan Daren, entah apa yang akan dilakukan oleh ibu Daren terhadapnya. Punya ibu mertua macam Darla pasti menyebalkan. 


Voren merasa suhu tubuhnya naik cukup drastis. Pasalnya gaun yang dikenakan Velan benar-benar mengekspos bahu wanita itu. Pikiran Voren pun jadi berpetualang liar. Entah mengapa Voren jadi membayangkan saat bibirnya menyusuri bahu Velan sembari memberikan kecupan-kecupan lembut yang penuh gairah. 


Cih, menyebalkan! Bagaimana pikiranku bisa serendah itu?! Ia kembali mengumpat dalam hati.


Voren beranjak dari kursi, ia segera menarik kursi di sebelahnya.


"Silakan duduk, Istriku," kata Voren mempersilakan Velan untuk duduk.


Velan hanya diam dengan netra yang bersiaga penuh, ia segera duduk di kursi tersebut. 


"Baiklah, aku mengundang kalian semua kemari untuk mendiskusikan solusi dari masalah yang saat ini tengah terjadi dan menimbulkan gesekan-gesekan yang sungguh membahayakan keutuhan keluarga kita," kata Alren. 


"Ya, masalah ini tentu tidak akan timbul jika saja, Voren tidak perlu menghalalkan segala cara demi mendapatkan posisi presiden direktur! Sungguh bukan hal yang bijaksana saat kau harus menggunakan istrimu untuk memperdaya Daren, Voren!" Tandas Darla. 


"Tante Darla," Voren menyela perkataan Darla. "Aku sungguh tidak terima dengan tuduhan seperti itu!" 


"Voren, sungguh aku lebih menghargai jika kau bersikap jujur!" Sergah Darla. 


"Tante Darla, sejujurnya, aku malah berpikir bahwa justru Daren-lah yang sengaja menjebakku. Daren memanfaatkan istriku untuk menjatuhkanku! Perselingkuhan yang dilakukan Daren dengan istriku, pada akhirnya merusak reputasi dan nama baikku!" Voren melontarkan argumentasinya. 


"Apa?!" seru Darla tertahan. 


"Daren begitu ingin memenangkan kompetisi ini, menggunakan istriku untuk melakukan kudeta terhadapku! Mendapatkan kursi presiden direktur sekaligus merebut istriku! Sungguh luar biasa kan?! Inikah yang kau sebut sebagai kompetisi yang jujur dan adil, Daren?" lanjut Voren.


Velan terperangah mendengar argumentasi Voren. Ia ingin sekali mengatakan hal yang sejujurnya namun Daren seakan melarangnya untuk melakukan hal itu dari tatapan mata pria itu. 

__ADS_1


"Cukup!" sergah Alren. 


Semua orang langsung terdiam. 


"Bukankah dari awal aku mengatakan kepada kalian untuk sama-sama membicarakan masalah ini agar menemukan titik terang?! Jika semua masih saling menyalahkan seperti ini, tidak akan ada penyelesaiannya!" tandas Alren dengan suaranya yang sedingin es. 


Alren melemparkan pandangannya ke arah Velan yang langsung merasa gentar. 


"Menantuku," kata Alren. 


"I-iya, Tuan, eh, Ayah mertua, eh Tuan," Velan tergagap. 


"Sekarang aku tanya padamu, apa solusimu untuk masalah ini?!" tanya Alren. 


"Alren, Suamiku, mengapa kau bertanya pada Velan?" Vega menyela pertanyaan Alren. 


"Menurut pandanganku, perselingkuhan itu terjadi karena adanya kesempatan dan kesepakatan antara kedua belah pihak! Siapa pihak yang menggoda dan siapa pihak yang tergoda tentu bukan urusan pihak eksternal karena itu merupakan urusan internal mereka! Aku bertanya kepada Menantu, karena menurutku dia lebih paham dengan situasi yang dihadapinya!" Alren mengutarakan pemikirannya. 


Velan merasa ayah mertuanya merupakan seorang pria yang berpikiran sangat kritis. 


"Menantuku, aku tahu, sungguh tidak etis jika aku langsung menghakimi perselingkuhan yang kau lakukan dengan Daren, karena di balik setiap perselingkuhan, pasti ada alasannya! Hanya saja, aku rasa itu urusanku! Namun kau pasti tahu kan, bahwa setiap perbuatan yang kau lakukan pasti akan menimbulkan akibat yang harus kau pertanggungjawabkan?" Alren kembali melanjutkan penuturannya. 


"Aku rasa tidak perlu, Alren, sudah jelas kan, anak dan menantumu memang ingin menghancurkan Daren demi mendapatkan posisi presiden direktur?!" Sergah Darla.


"Oh ya ampun, Darla, bukankah Daren juga sangat ingin mendapatkan posisi Presiden Direktur? Bahkan menginginkan istri Voren juga!" Vega menimpali. 


"Oh, ya ampun, jangan bicara yang tidak masuk akal, Vega! Untuk apa Daren menginginkan istri Voren? Kecuali menantumu yang menggoda Daren untuk menjebaknya!" tandas Darla menyanggah Vega. 


"'Darla! Voren sudah begitu sempurna, untuk apa menantuku masih menggoda Daren, kecuali Daren yang menggoda menantuku!" Vega membalas sanggahan Darla. 


Alren menghela napas berat melihat istri dan sepupunya saling bertengkar seperti itu. Saling menyalahkan jelas bukan tujuan utama Alren saat ini. 


"Maaf," Velan memberanikan diri untuk bicara.


Semua mata langsung tertuju pada Velan. Velan tentu harus meluruskan masalah ini sebelum semuanya jadi semakin rumit. Velan tentu tidak bisa terus-menerus membiarkan Daren harus terkena getah akibat dari kebohongan yang Velan buat. Tudingan perselingkuhan yang menimpa Daren jelas merusak citra Daren, wajar saja ibu Daren sampai mengamuk seperti itu kepada Velan.

__ADS_1


 "Mohon maaf sebelumnya, namun izinkan saya untuk menyampaikan apa yang harus saya sampaikan," lanjut Velan.


"Sebelumnya saya ingin memberi klarifikasi atas tudingan yang dilayangkan untuk saya," Velan berusaha memikirkan apa yang harus dikatakannya.


Singkat, padat, dan langsung ke intinya saja!


"Yang pertama mengenai tudingan bahwa saya dan Voren berkomplot untuk menjebak dan menjatuhkan Daren, itu sungguh tidak benar! Saya bahkan tidak tahu kursi atau bahkan sofa apa yang sedang diperebutkan oleh mereka!" kata Velan.


Semua mata masih tertuju pada Velan, tatapan yang begitu mengintimidasi dan membuat nyali Velan ambyar. Namun Velan tentu harus melanjutkan.


"Lalu yang kedua, mengenai hubungan yang saya bina bersama Daren, bukanlah hubungan perselingkuhan," lanjut Velan.


"Bukan perselingkuhan? Lantas kau sebut apa hubungan yang kau bina bersama Daren, Istriku?" potong Voren.


Velan melirik sekilas ke arah Voren yang nampak mengulas senyum kecut ke arah Velan.


"Lantas kau sebut apa hubungan yang kau bina bersama Soraya hingga kau lebih memilih menceraikanku, Suamiku?" tanya Velan.


"Ibu bahkan mendukung keputusan Voren untuk menceraikan saya lantaran Voren lebih memilih cinta pertamanya yang sudah semacam ambil kredit perumahan presiden!" Velan mengarahkan tatapannya kepada Vega.


Voren terkesiap mendengar penuturan Velan, begitu pula dengan Vega. Daren mengulas senyum yang sedari tadi di tahannya. Renata dan Renava terperangah, mereka benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Sungguh, saya dan Daren, tidak memiliki hubungan seperti yang ditudingkan kepada kami! Hubungan kami murni karena bisnis!" tambah Velan.


Mata Voren membulat mendengar pengakuan Velan. Di mata Voren, terlihat jelas bahwa Velan sedang melindungi Daren, hingga wanita itu membongkar masalah rencana perceraian mereka. Voren benar-benar hanya bisa memilih untuk diam sebelum Velan kembali membongkar masalah lain yang tidak seharusnya diketahui oleh keluarganya.


"Oh benar juga, Velan mempunyai usaha kuliner," kata Renata dan Renava serempak.


"Jadi isu perselingkuhan antara saya dan Daren sungguh tidak benar! Entah siapa yang menyebarkan rumor tidak bertanggung jawab itu!" Kata Velan.


Velan jelas harus melindungi Daren karena Velan sudah berjanji pada pria itu saat mereka melakukan kesepakatan.


"Jadi, kau dan Daren hanya rekan bisnis?" tanya Alren ke arah Velan.


"Benar, karena saya tidak mungkin menjalin kerja sama bisnis dengan seseorang yang akan menjadi mantan suami saya! Demi menjaga profesionalisme!" jawab Velan diplomatis.

__ADS_1


Skak mat, Voren.


...~...


__ADS_2