
"Menginap?" tanya Velan.
Daren mengangguk pelan sambil menatap lurus ke arah Velan.
"Maaf, ini sungguh agenda mendadak, saya pikir hari ini akan segera selesai dan saya bisa mengantar Anda pulang," kata Daren.
"Saya sungguh minta maaf, saya sungguh tidak enak jika nanti suami Anda menuding saya membawa lari Anda," lanjut Daren.
Velan mengulas senyumnya, entah mengapa ia merasa bersalah pada pria yang saat ini sedang memasang ekspresi wajah yang jelas terlihat cemas.
"Tuan Daren, sungguh Anda tak perlu mencemaskan saya. Urusan suami saya, biar saya yang mengurusnya," kata Velan.
"Saya sungguh tak akan menganggap Anda sebagai pria yang membawa kabur istri orang. Sejujurnya saya merasa beruntung karena bisa diajak ke tempat yang bagus seperti ini. Sudah lama saya tidak pernah pergi berlibur," lanjut Velan.
Daren mengulas senyumnya.
"Tuan, silakan kembali lanjutkan pekerjaan Anda," kata Velan lagi.
Daren mengangguk, lalu mereka kembali menyusuri jalan setapak menuju ke balai pertemuan.
"Tuan Daren, tempat ini sungguh bagus sekali, udaranya sejuk, dan benar-benar jauh dari hiruk pikuk keramaian," kata Velan.
"Anda benar, Nona Velan, saat ini saya dan tim memang sedang mengembangkan tempat wisata yang berkonsep kembali ke alam, menikmati keindahan alam sambil tetap menjaga kelestariannya," kata Daren.
"Wah, pemikiran yang sangat bagus sekali, Tuan Daren," kata Velan.
"Saya sungguh berharap proyek ini sukses besar di pasaran. Mengingat gaya hidup manusia modern yang lebih senang berkeliling di pusat perbelanjaan daripada berkeliling menikmati pemandangan hutan seperti ini," kata Daren.
"Saya secara pribadi memang lebih menyukai tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah daripada melihat koleksi tas bermerek di pusat perbelanjaan," kata Velan seraya tertawa.
Yah, masalahnya mau beli tidak ada uangnya, Velan membatin.
"Hmm, begitu ya," Daren mengulas senyumnya.
"Nona Velan, Anda termasuk orang yang takut dengan tempat gelap?" tanya Daren.
"Tidak, saya bahkan tidak bisa tidur kalau lampu masih menyala," jawab Velan sambil menyeringai.
"Oh begitu, maksud saya, jika Anda tidak keberatan, malam ini ada satu tempat yang ingin saya tunjukkan pada Anda," kata Daren.
"Apakah itu tempat yang menyenangkan?" tanya Velan antusias.
"Kita lihat saja nanti," Daren tersenyum misterius.
...~...
Velan memasuki sebuah cottage yang berada di area berbukit. Terdapat empat buah cottage yang berada di area tersebut. Cottage tempat Velan dan Dinar menginap menyerupai rumah tipe 45. Terdapat ruang tamu, dua kamar tidur, dan dua kamar mandi dengan interior yang berkonsep minimalis bergaya modern.
"Nona Velan, Anda tidak bawa barang bawaan?" tanya Dinar sambil meletakkan kopernya di ruang tamu.
Dinar segera duduk di sofa, lelah juga harus berjalan dan mendaki ke bukit untuk mencapai cottage ini.
"Tidak, Dinar, saya diajak secara mendadak," jawab Velan.
"Oh begitu, jadi Anda tidak bawa baju ganti sama sekali?" tanya Dinar.
"Kalau baju ganti, saya selalu menyiapkannya dalam tas," jawab Velan.
__ADS_1
Dinar mengulas senyumnya.
"Nona Velan, saya pikir Anda akan menginap di cottage yang sama dengan Pak Daren," kata Dinar. "Ternyata Anda justru memilih satu cottage dengan saya," lanjut Dinar seraya tertawa.
"Oh, ahaha," Velan ikut tertawa.
"Oh ya, Nona Velan, Anda sudah lama ya berkencan dengan Pak Daren?" tanya Dinar ingin tahu.
Velan tidak segera menjawab.
"Sungguh saya awalnya tak percaya bahwa Pak Daren punya kekasih wanita! Habisnya saya selalu berpikir bahwa Pak Daren punya hubungan spesial dengan Tuan Voren!" kata Dinar.
"Hubungan spesial?" tanya Velan keheranan.
"Saya awalnya sangat yakin dua pria tampan itu punya hubungan romantis! Mereka berdua bahkan terlihat cocok saat bersama! Tiba-tiba saja mendadak Tuan Voren menikah! Saya sampai berpikir bahwa pernikahan Tuan Voren itu hanya sekadar status saja untuk menutupi hubungan romantis Tuan Voren dan Pak Daren!" jawab Dinar begitu antusias.
Velan merasa seakan ada sembilu yang menghunus jantungnya. Ia dulu bahkan berpikir seperti itu tentang Voren.
"Tapi, begitu melihat Nona Velan, kapal saya harus kandas sebelum berlayar! Ahaha," Dinar kembali tertawa.
"Haha, begitu ya," Velan tertawa.
"Padahal mereka benar-benar terlihat serasi! Pak Daren yang begitu maskulin dengan Tuan Voren begitu kharismatik!" kata Dinar begitu antuasias.
"Haha, ya, ya, bisa saya bayangkan!" sahut Velan ikut tertawa.
Dinar terdiam lalu memandang ke arah Velan.
"Nona Velan, Anda tidak merasa aneh dengan pemikiran saya?" tanya Dinar.
"Anda tidak merasa aneh dengan pemikiran saya yang lebih suka menyandingkan pria tampan dengan pria tampan?" tanya Dinar.
"Dinar, itu kan hak Anda dalam berpikir! Sesama manusia tidak boleh saling menghakimi dan merasa paling benar! Selama kau merasa bahagia dengan apa yang kau sukai dan kau inginkan, masa bodohlah dengan kata-kata orang!" jawab Velan diplomatis.
Dinar menatap Velan dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
"Nona Velan! Anda benar-benar luar biasa! Pantas saja Pak Daren sangat menyukai Anda!" Dinar langsung memeluk Velan dengan erat.
"Haha," Velan hanya bisa tertawa.
"Ayo Nona, sebentar lagi kita akan makan malam, kata Doni menunya barbeque," ajak Dinar.
...~...
Para pelayan terlihat begitu sibuk menyiapkan meja, peralatan makan, hingga bahan makanan yang akan disajikan.
Doni sudah berkutat di depan pemanggang dengan bara api yang menyala-nyala. Pria itu dengan telaten memanggang potongan daging sapi segar.
"Doni, kau jago memanggang daging ya," puji Dinar seraya menghampiri Doni.
Doni hanya mengulas senyumnya. Tuntutan pekerjaan membuatnya harus menjadi seorang pria yang multitalenta.
Velan mengambil saus barbeque dan mencicipinya. Merasa saus itu kurang bumbu, ia pun kembali meraciknya kemudian memanggang beberapa bahan makanan sambil mengolesinya dengan saus racikannya.
"Nona Velan, Anda pandai memasak ya?" tanya Dinar.
"Tidak bisa dibilang pandai," jawab Velan.
__ADS_1
"Wah, aromanya sedap sekali," puji Dinar. "Saya jadi tidak sabar untuk mencicipinya," kata Dinar.
"Benar, aromanya wangi sekali, Nona Velan," kata Doni.
"Coba kau cicipi, Pak Doni," kata Velan.
Doni mengambil garpu dan mengambil satu ekor udang bakar, memberi sedikit tiupan lalu mencicipinya.
"Hmm, enak sekali, Nona Velan, sudah lama sekali saya tidak mencicipi masakan Anda," kata Doni dengan senang.
"Sudah lama sekali?" tanya Dinar.
Pertanyaan Dinar membuat Velan dan Doni langsung mematung.
"Maksud saya, sudah lama sekali tidak mencicipi masakan seenak masakan Anda, Nona Velan," kata Doni cepat-cepat memberi klarifikasi.
"Oh begitu, saya juga mau mencicipinya," kata Dinar antusias.
Entah mengapa Dinar merasa bahwa Doni dan Nona Velan sudah saling mengenal. Nona Velan tanpa sungkan langsung meminta Doni mencicipi masakannya. Doni bahkan tidak ragu langsung mencicipi, seakan pria itu sudah biasa mencicipi masakan Nona Velan.
Oh, Nona Velan kan wanita yang ramah, wajar saja seperti itu, batin Dinar.
Daren segera menghampiri Dinar, Doni, dan Velan yang berkumpul di depan pemanggang.
"Wah, sepertinya enak sekali, wanginya begitu semerbak," puji Daren.
"Nona Velan yang memasaknya, Pak, enak sekali loh," kata Dinar.
"Benarkah, apa boleh aku cicipi?" tanya Daren ke arah Velan.
Velan mengambil garpu dan mengambil sepotong daging panggang yang telah matang.
"Silakan, hati-hati masih panas," kata Velan menyerahkan garpu kepada Daren.
"Terima kasih," kata Daren sambil memberi tiupan kecil pada sepotong daging yang menancap di garpu.
Hap...
Voren dengan gesit langsung mencatut daging panggang itu lalu mengunyahnya.
Semua orang hanya bisa tercengang melihat kelakuan Voren.
"Cuihh, panas! Panas!" Voren meludah karena lidahnya terbakar.
"Anda baik-baik saja Tuan?!" Doni segera menyodorkan sebotol air mineral untuk Tuan Voren.
Voren dengan cepat meneguknya.
"Ugh, apa-apaan itu daging panggang atau karet yang kau panggang?!" celetuk Voren. "Daren, sepertinya kekasihmu ini tidak bisa memanggang daging yang baik dan benar! Gigimu bisa rontok jika kau makan daging yang dipanggangnya!" lanjut Voren.
"Doni, kau saja yang memanggang dagingnya! Jangan biarkan amatiran melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukannya!" perintah Voren.
"Baik Tuan," sahut Doni.
Velan geram melihat kelakuan Voren, ingin rasanya ia menjejalkan bara api ke mulut pria itu.
...~...
__ADS_1