
Velan begitu sibuk mengurus pesanan kue. Ia sungguh senang karena beberapa hari ini banyak pesanan yang harus digarapnya. Pikirannya kini benar-benar hanya terfokus untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Selain berjualan, Velan juga mengikuti beberapa wawancara kerja. Begitulah, Velan akhirnya benar-benar fokus untuk menyibukkan diri.
Sebentar lagi, ia akan mendapat uang kaget yang berasal dari dana kompensasi perceraiannya. Velan sudah memperhitungkan, dengan uang kompensasi itu, ia akan melunasi utang dan menjadikan sisanya sebagai modal untuk mengembangkan usahanya.
Velan mengemas semua kue brownis ke dalam stoples kertas. Mendata ulang semua pesanan yang sudah selesai dan bersiap untuk mengantarkan semua pesanan tersebut ke pelanggannya.
Sebuah mobil mewah terhenti di depan kios. Velan mendelik gusar melihat pengemudi yang turun dari mobil mewah lantaran langsung mengundang perhatian semua orang yang berada di sekitar kios Velan.
Velan mengabaikan kehadiran Doni yang mengulas senyum ramahnya.
"Nona Velan, saya datang menjemput Anda," kata Doni.
"Maaf ya, Pak Doni, aku sedang sibuk! Pergilah!" Velan mengusir Doni.
Doni masih tetap tersenyum ramah. Ini sudah kelima kalinya Nona Velan menolak ajakan makan malam bersama Tuan Voren.
"Nona, Tuan Voren menunggu Anda, beliau sungguh ingin makan malam bersama Anda sebagai bentuk rasa terima kasih karena Anda sudah merawat beliau saat sedang sakit," kata Doni kembali mengutarakan alasan yang begitu konsisten sejak pertama kali menyampaikan ajakan makan malam bersama Tuan Voren.
"Tidak perlu!" sahut Velan dengan ketusnya.
Velan segera membawa semua pesanan kue keluar dari kios dan meletakkannya di sepeda motor.
"Tapi Nona, Tuan Voren benar-benar menunggu Anda!" kata Doni memelas.
"Masa bodoh!" sahut Velan.
Velan segera menutup kiosnya lalu mengunci pintu kios.
"Velan, sudah mau pergi ya?" tanya Wulan, si penjaga kios konter pulsa.
"Iya Mbak Wulan, duluan ya," sahut Velan.
Velan segera pergi meninggalkan kiosnya bersama Doni yang lagi-lagi menghela napas berat.
__ADS_1
...~...
Voren merengut ke arah Doni yang datang menemuinya di restoran hotel berbintang lima hanya seorang diri tanpa membawa serta istrinya. Voren meneguk air mineral, sudah lima gelas air mineral ia minum selagi menunggu selama dua jam di restoran tersebut.
"Doni, apa begitu susah mengajak istriku untuk datang ke restoran ini?!" tanya Voren.
"Lima kali aku menunggu di tempat ini selama dua jam, sudah sepuluh jam waktuku terbuang hanya untuk menunggu di tempat ini selama lima kali!" keluh Voren pada Doni.
Anda belum tahu betapa keras kepalanya Nona Velan, ya, Tuan, batin Doni.
"Tuan, Nona Velan benar-benar sangat sibuk. Sepertinya sekarang momen yang kurang tepat untuk mengajak Nona Velan makan malam," kata Doni.
"Haha, memangnya istriku sibuk apa? Memangnya dia CEO sebuah perusahaan?" tanya Voren.
"Aku rasa kesibukan hanya alasan dia saja untuk menolak kemurahan hatiku! Aku sangat yakin sekali, dia hanya tidak mau pria idaman lainnya itu cemburu! Wanita itu begitu licik! Dia tidak mau pria idaman lainnya sampai tahu bahwa dia akan makan malam bersamaku! Haha! Pasti begitu!" kata Voren sambil tertawa kesal.
"Tuan, menurut saya, bagaimana jika Anda sendiri yang mengajak Nona Velan untuk makan malam bersama Anda?" tanya Doni.
"Apa?! Doni, bukankah mengajak makan malam itu adalah rencanamu?! Harusnya kau yang menangani mekanismenya!" jawab Voren diplomatis.
"Apa?! Serius dia berpikir seperti itu?!" tanya Voren yang mulai terkena efek penyedap buatan yang ditaburkan oleh Doni.
"Tentu saja, Tuan! Saya bisa membaca dengan jelas hal tersebut, kuat dugaan saya bahwa hingga kini Nona Velan tidak tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Anda dan Soraya!" jawab Doni.
Voren memijat tengkuk belakang lehernya yang mendadak kram. Voren dan Doni memang sepakat untuk merahasiakan kenyataan pahit yang harus diterima Voren guna menjaga gengsi Voren yang lebih tinggi dari Pegunungan Everest, lebih panjang dari Sungai Nil, lebih dalam dari Palung Mariana, bahkan lebih luas dari Samudra Pasifik.
...~...
Velan menghela napas berat saat berdiri di depan pintu unit apartemen Voren. Entah berapa lama lagi ia harus tinggal di tempat mewah ini?
Velan terus bertanya-tanya, kapan ia dan Voren resmi bercerai sehingga Velan bisa segera mendapatkan dana kompensasi. Membayar utang-utangnya lalu memulai kehidupan baru.
Velan membuka pintu unit apartemen itu, matanya tertuju pada dua pria yang berdiri di depan pintu, seakan mereka adalah patung selamat datang.
__ADS_1
"Selamat datang, Istriku!" Voren menyambut dengan senyum yang menampilkan jelas kedua lesung pipinya.
"Selamat datang, Nona Velan," Doni membungkuk.
Velan menatap jengah kedua pria yang jelas sedang merencanakan sesuatu. Velan melewati keduanya seakan kedua pria itu adalah makhluk gaib yang kasat mata. Ya, Velan langsung menuju ke ruang penatu tanpa peduli pada kedua pria itu.
Voren terkesiap mendapat perlakuan dingin dari Velan, ia melotot geram dan langsung hendak mencekik wanita itu dari belakang. Ia sudah menunggu wanita itu hingga mengabaikan pekerjaannya. Namun wanita itu malah mengabaikan sambutan hangatnya.
"Tuan!" Doni dengan sigap langsung meringkus Tuan Voren.
"Doni, sok cantik betul sih dia!" cibir Voren dengan suara tertahan.
"Tuan, sabar, Tuan! Harap maklum, wanita kalau sudah marah memang seperti itu," kata Doni.
"Huh!" Voren mendengus kasar.
"Tuan, Anda punya misi untuk mengajak Nona Velan makan malam, saya harap Anda benar-benar serius mengajak beliau! Jika Anda berhasil, sudah pasti pria idaman lain Nona Velan akan unjuk gigi!" kata Doni.
Voren menghela napasnya.
"Tuan, Anda pasti bisa! Tunjukan pesona Anda! Masa' Anda kalah dengan pria idaman lain Nona Velan! Pria itu mungkin punya kuasa, tapi belum tentu punya ketampanan dan penampilan yang begitu menarik seperti Anda," kata Doni.
Voren menyugar rambutnya lalu tersenyum sinis.
"Tentu saja, Doni, paling pria idaman lain istriku itu hanya pria botak dan berperut buncit! Makanya istriku menyembunyikan keberadaan pria itu rapat-rapat!" sahut Voren.
"Saya jadi menduga bahwa kemungkinan besar pria idaman lain Nona Velan adalah suami orang, Tuan! Pria yang sudah punya istri dan banyak anaknya! Sehingga mereka jelas harus merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun!" kata Doni menduga-duga.
"Begitukah?" tanya Voren keheranan.
"Pasti begitu, Tuan! Seandainya pria itu adalah pria lajang, pasti mereka akan sering sekali bertemu! Tidak perlu menunggu waktu seperti pria yang sudah beristri!" sahut Doni.
"Bagaimana kau bisa tahu sedetail itu, Doni?" tanya Voren keheranan.
__ADS_1
Doni mengulas senyumnya, tentu saja itu hanya asumsi Doni yang sudah diberi bumbu penyedap dan pemanis buatan. Memang ya, semua hal akan terasa lebih sedap kalau ditambahi dengan bumbu penyedap buatan.
...~...