
"Kencan?"
Velan mendelik gusar saat Voren mengajaknya untuk pergi berkencan. Pria itu mengulas senyumnya sambil mengangguk pelan menatap Velan dengan tatapan yang hangat.
"Istriku, aku sungguh minta maaf padamu, selama kita menikah, kita bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk bersama, sehingga aku pikir saat ini adalah momen yang tepat bagi kita berdua untuk sekadar menghabiskan waktu berdua," jawab Voren.
"Haha, sungguh kau tidak perlu repot-repot meluangkan waktumu untuk mengajakku pergi kencan! Sungguh, lebih baik sekarang aku pulang, aku lelah dan ingin beristirahat!" sergah Velan.
"Istriku, ketika kita bercerai, aku tidak ingin kau menjelek-jelekkanku di depan pria yang menggantikan posisiku! Jangan menjadikanku sebagai sosok mantan suami yang terkesan sangat buruk yang sama sekali tidak pernah membahagiakan istrinya! Padahal aku sudah menawarkan diri untuk membahagiakanmu, namun kau selalu menolaknya," Voren menjelaskan.
"Sebelum kita bercerai, setidaknya kita harus mengukir kenangan manis bersama meski hanya satu kali," lanjut Voren.
"Voren Lazaro, untuk apa kita harus mengukir kenangan manis? Bukankah lebih baik bagi kita untuk saling melupakan?" tanya Velan.
"Kau sungguh tidak perlu cemas, aku tidak akan menjelek-jelekkanmu untuk mendapat simpati dari pria lain! Aku tidak akan melakukannya! Bahkan jika suatu hari kita bertemu di jalan, aku akan berpura-pura tidak mengenalimu! Aku bahkan akan berusaha untuk tidak terlihat olehmu, dan kuharap kau juga akan bersikap demikian," lanjut Velan.
Voren mengulas senyumnya, namun saat ini perkataan Velan sungguh menghujam jantungnya bak belati yang begitu tajam. Sangat menyakitkan namun semua harus ditelannya. Ia sadar bahwa rasa kecewa Velan padanya benar-benar amat sangat dalam.
"Istriku, baiklah, jika itu maumu, tapi saat ini, aku ingin menikmati waktu kebersamaan kita yang masih tersisa. Anggap saja ini syarat terakhir dariku yang harus kau penuhi," kata Voren sambil menyodorkan tangannya.
Velan menatap skeptis ke arah Voren.
"Semalam kau mengajukan syarat agar aku tidur denganmu, sekarang kau mengajukan syarat untuk berkencan denganmu, jangan-jangan sebentar kau meminta ginjalku?!" tandas Velan.
Voren menghela napasnya. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi Doni.
"Doni, aku masih di luar kota sekarang, tolong segera urus perceraianku dengan istriku, saat aku kembali, aku mau akta perceraian itu sudah ada," kata Voren.
"Baik, Tuan," jawab Doni.
Voren menutup teleponnya lalu menatap Velan yang masih menatapnya skeptis.
"Aku kabulkan permintaanmu, Istriku," kata Voren.
Voren mengambil tangan Velan dan menggenggamnya.
"Mari kita pergi, Istriku," kata Voren sambil mengulas senyumnya.
...~...
Taman bermain yang dikunjungi Velan nampak sepi karena hari ini bukanlah akhir pekan.
"Bisakah kau melepas genggaman tanganmu? Aku merasa kau seperti menyeretku," keluh Velan.
"Istriku, maaf, aku akan tetap menggandeng tanganmu, bagaimana jika kau tersesat? Bagaimana aku bisa menghubungimu, sedangkan kau sudah memblokir nomor ponselku," kata Voren.
"Astaga, apa kau pikir aku ini anak kecil?" tanya Velan. "Aku memang sudah lama memblokir nomor ponselmu karena percuma saja aku meneleponmu, kau bahkan tidak pernah menjawab saat aku meneleponmu!" kata Velan dengan nada sinis.
"Aku minta maaf, Istriku, bukannya aku tidak menjawab teleponmu, kau pasti tahu kan, Doni yang selalu membawa ponselku. Kalau dia tidak ada, barulah aku yang membawa sendiri ponselku," Voren mencoba menjelaskan.
"'Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan apa pun padaku, toh itu sudah berlalu," sahut Velan. "'Aku sadar diri kok, kau pasti lebih memilih menjawab telepon dari orang yang kau prioritaskan!" tukas Velan dengan sinisnya.
Voren menghela napasnya, lagi-lagi Velan mencoba mempermainkan emosinya dengan mengungkit hal-hal yang lalu.
"Baiklah, baiklah, Istriku! Biarkan aku menjadikanmu sebagai prioritasku!" kata Voren.
"Tidak, tidak, kau tidak perlu bermurah hati begitu!"
"Istriku, tolong untuk hari ini saja, kita nikmati kebersamaan kita yang tersisa," kata Voren sambil menatap Velan.
Pria itu mengulas senyumnya menatap Velan dengan sorot matanya yang terlihat penuh dengan kegetiran.
"Hari ini saja, setidaknya berpura-puralah bahagia saat berada di sisiku," kata Voren.
"'Haha! Apa kau pikir berpura-pura bahagia itu tidak melelahkan?!" tanya Velan seraya tertawa.
Voren segera mendaratkan sebuah kecupan lembut ke kening Velan, seketika Velan berhenti tertawa.
"Apa yang kau lakukan?!" Velan mendorong Voren.
"Istriku, tertawalah, kalau tidak, aku akan membawamu ke tempat sepi dan kita akan mengulang kembali apa yang sudah terjadi semalam!" Voren terkekeh sambil mencubit dengan gemas kedua pipi Velan.
"Dasar cabul!" seru Velan sambil mendorong kembali Voren.
"Haha, tapi kau suka kan?!" goda Voren langsung membawa Velan ke dalam dekapannya.
"Apa sih?!" Velan mendorong keras tubuh Voren namun Voren menahannya sambil tertawa.
"Jadi, kau mau memainkan wahana permainan apa, Istriku?" tanya Voren.
Velan hanya diam, tak memberikan jawaban.
"'Apa kau mau naik roller coaster?" tanya Voren.
Velan masih tetap diam.
__ADS_1
"Istriku, apa kau tidak pernah pergi ke taman bermain sebelumnya?" tanya Voren.
Velan merutuk, bagaimana pria itu bisa menebaknya dengan tepat?
"Saat masih kecil dulu, aku sangat ingin pergi ke taman bermain bersama Papaku, namun karena Papaku begitu sibuk, akhirnya aku tidak pernah pergi ke taman bermain! Kenapa kau tidak pernah pergi ke taman bermain?" tanya Voren.
Velan mendelik gusar, sebelum menjawab pertanyaan Voren.
"Dulu aku pernah pergi ke kebun binatang bersama seluruh anggota keluargaku, kakak-kakakku sangat bandel, gara-gara mereka semua pengunjung di kebun binatang begitu panik karena berpikir mungkin, kakak-kakakku sudah menjadi santapan hewan-hewan buas, ternyata mereka sedang bermain petak umpet!" gerutu Velan.
"Sejak saat itu, orang tuaku tidak mau lagi mengajak kami untuk pergi ke tempat-tempat umum," lanjut Velan mengenang semua itu.
"Haha, aku bisa membayangkan betapa repotnya orang tuamu! Tapi, pasti seru sekali ya, punya banyak saudara laki-laki! Aku rasa aku jadi ingin punya banyak anak laki-laki dan membawa mereka semua ke taman bermain!" Voren tertawa.
"Ya, kau dan Soraya pasti akan dianugerahi banyak anak! Anak-anak kalian pasti benar-benar akan terlahir dengan paras rupawan dan menawan! Anak-anak perempuan kalian pasti akan secantik Soraya, dan anak laki-laki kalian pasti akan setampan kau!" Velan menanggapi.
Voren tertawa namun dalam hatinya ia hanya bisa meratapi nasib. Soraya bahkan pergi dari hidupnya dan mengubur semua impian Voren.
"Kenapa tidak kau saja yang melahirkan anak-anakku, Istriku?" tanya Voren.
"Haha! Tidak! Aku tidak mau merusak visual generasi penerusmu! Itu sama saja seperti mengawinkan kucing kampung dengan kucing persia!" sahut Velan seraya tertawa.
"Haha! Istriku! Kau sungguh menggemaskan!" Voren mengacak rambut Velan dengan gemas.
"Apa yang kau lakukan!" Velan mendorong tangan Voren.
Voren menangkap tangan Velan dan langsung memberi kecupan lembut ke bibir Velan. Pria itu pun segera berlari usai mencuri ciuman Velan.
"'Dasar laki-laki murahan! Cari mati ya?!" seru Velan mengejar Voren yang berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
...~...
"Tolong buatkan gulali kapas yang warna jingga! Ukuran paling besar! Bentuknya harus hati! Akan kubayar sepuluh kali lipat!" perintah Voren kepada penjual gulali kapas.
"Bentuk hatinya harus yang simetris," lanjut Voren. "Ini pewarnanya dari pewarna makanan kan?! Jangan sampai anda pakai pewarna pakaian!"
"Ih, cerewetnya orang ini! Bikin saja sendiri tidak usah beli!" omel si pedagang gulali.
"Pak Tua, aku ini cerewet karena aku ini pembeli! Pembeli itu adalah raja!" Voren membalas omelan pedagang.
Velan mendelik gusar, Voren benar-benar sungguh memalukan.
"Aku beli semuanya ini! Berapa?!" tantang Voren.
"Voren, hentikan!" Velan melotot ke arah Voren.
"Pak, saya beli yang sudah terbungkus itu saja," Velan menunjuk.
"Tidak, tidak, itu tidak istimewa, warnanya juga bukan jingga dan bentuknya bukan hati!" cegah Voren.
"Sudah Pak, tidak usah dengarkan orang cerewet ini, abaikan saja," kata Velan.
"Istriku, mana bisa!" sergah Voren.
Voren terdiam karena Velan menyuapkan gulali kapas ke mulut Voren. Voren memejamkan matanya, merasakan gulali kapas yang mencair di lidahnya.
"Sst! Berisik!" desis Velan.
"Berapa, Pak?" tanya Velan kepada penjual gulali.
"Biar aku yang bayar!" sahut Voren.
Velan mengulas senyumnya melihat Voren yang nampak seperti orang mabuk. Gulali kapas yang begitu manis jelas membuat Voren harus beradaptasi.
"Kenapa? Apa gulalinya terlalu manis? Kau seperti menelan racun saja," ejek Velan.
"Hmm, menurutku, senyummu jauh lebih manis daripada gulali kapas ini," kata Voren dengan ekspresinya yang begitu serius. "Jadi, teruslah tersenyum seperti ini sampai aku diabetes!"
"Apa kau sedang berusaha menggombal? Receh sekali gombalanmu itu!" cibir Velan.
"Aku tidak sedang menggombalmu! Aku hanya menyampaikan apa yang kulihat dan kurasakan," sahut Voren. "Bagaimana? Apa kau juga melihat dan merasakan hal yang sama?" tanya Voren.
"Tidak!" sahut Velan sambil melangkah pergi.
Voren mengerucutkan bibirnya karena mendapat sikap dingin dari Velan.
...~...
Dor..Dor..
Voren menembak tumpukan kaleng yang berada di salah satu stan tembak untuk mendapatkan hadiah utama berupa sebuah boneka kucing berukuran besar dengan warna jingga.
"Argh, sedikit lagi!" geram Voren.
"Kesempatan Anda satu kali lagi, ini yang terakhir," sahut penjaga stan sambil mengulas senyum meremehkan.
__ADS_1
Velan mendelik gusar, sudah lebih dari tiga puluh menit ia menonton Voren yang bersikeras untuk merobohkan menara kaleng itu.
"Cih, berapa kau jual itu boneka kucing?! Aku beli berapa pun harganya!" Voren berdecih.
"Itu tidak dijual, Tuan, itu hadiah!" sahut penjaga stan lagi.
"Baiklah, akan kudapatkan boneka itu, demi istriku ini!" geram Voren.
Dor.. Satu tembakan keras langsung merobohkan menara kaleng dan membuat Voren bersorak kegirangan.
"Hahaha! Aku menang! Aku menang!" seru Voren.
Penjaga stan langsung memberikan boneka kucing berukuran besar itu kepada Voren. Voren langsung menyerahkannya kepada Velan.
"Kenapa kau begitu bersikeras untuk mendapatkan boneka kucing ini?" tanya Velan.
"Istriku, ketika kita bercerai, boneka kucing oren ini akan membuatmu teringat padaku! Bukan karena bonekanya, tapi bagaimana perjuanganku untuk mendapatkannya!" jawab Voren.
...~...
Velan menegang saat menaiki wahana kereta luncur. Voren yang duduk di sampingnya mengulas senyum jahil.
"Istriku, apa kau merasa takut?" tanya Voren.
"Tidak!" sahut Velan.
"Peganglah tanganku, kalau kau merasa takut," Voren menyodorkan tangannya.
"Tidak, terima kasih," sahut Velan lagi.
Voren mengulas senyumnya, ia segera memegang tangan Velan begitu kereta luncur mulai bergerak. Kereta luncur menukik tinggi, Velan menutup matanya saat kereta meluncur turun diikuti teriakan para penumpang lain. Teriakan yang begitu histeris lantaran adrenalin yang dipacu secara gila-gilaan.
Begitu kereta mendarat, permainan kereta luncur itu pun berakhir. Velan tertawa terbahak-bahak melihat Voren yang langsung memuntahkan isi perutnya. Pria itu ternyata justru menjerit paling histeris selama permainan berlangsung.
"Bagaimana bisa pembalap F1 sepertimu menjerit ketakutan begitu?" ejek Velan.
"Uhuk! Uhuk! Istriku, kuakui, saat berkendara aku kerap ngebut karena aku sendiri yang mengendalikan laju mobilku, jadi kecepatan bisa kuatur sendiri! Berbeda dengan permainan gila yang tidak bisa kukendalikan!" Voren memberi klarifikasi.
"Haha! Aduh, aduh! Kasihan sekali kau ini, Voren! Apa kau benar-benar sungguh seorang pria?" tanya Velan dengan nada mengejek.
"Istriku, bukankah kau sudah memastikan sendiri bahwa aku adalah seorang laki-laki?!" tanya Voren. "Apa perlu kita melakukannya lagi sekarang? Apakah aku berganti jenis kelamin sesuai dengan pergantian hari?" tanya Voren dengan nada menantang.
"Apa sih?! Dasar laki-laki murahan!" sahut Velan yang langsung memalingkan wajahnya yang memanas.
"Bagaimana, Istriku? Perlukah kita mencari tempat yang sepi sekarang?" tanya Voren.
"Dasar laki-laki gatal!" sembur Velan.
"Tapi kau suka kan, Istriku?!" Voren kembali menggoda Velan.
"'Ih! Apa sih?! Jangan dekat-dekat!"
"Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat? Kau sedang birahi ya?" tanya Voren masih terus menggoda Velan.
"Apa sih?! Dasar menyebalkan!" Velan mendorong Voren menjauh darinya.
Namun lagi-lagi, Voren malah merangkul Velan dengan gemas.
...~...
Velan melemparkan tatapan skeptis ke arah Voren yang saat ini sedang menyantap makan siangnya dengan begitu lahap. Pria itu memesan semua menu yang ada di restoran seakan sedang melakukan perjamuan.
"Ayo dimakan, Istriku, jangan hanya dipandang saja," kata Voren begitu antusias.
"Bukannya kau sedang diet?" tanya Velan.
"Hmm, Istriku, kau harus tahu, berat badanku itu mudah sekali naik! Aku rasa bernapas saja, beratku langsung bertambah," sahut Voren.
"Haha, kau terlalu berlebihan!" ejek Velan.
"Apa kau tahu, dulu aku benar-benar gendut seperti ikan buntal?" kata Voren seraya terkekeh.
Velan mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kau sungguh tidak percaya? Aku bahkan sampai terkena sakit maag saat melakukan diet ekstrem!" Voren kembali terkekeh.
"Aku tidak berbohong, Istriku! Dulu pipiku seperti ini," Voren menunjukkan pipinya yang membesar.
"Tidak usah sok imut! Dasar menyebalkan!" sungut Velan.
"Istriku, apa kau tahu, semakin ketus sikapmu, aku benar-benar makin gemas! Aku sungguh ingin mengenalmu lebih jauh," kata Voren.
"Kau tak perlu mengenalku lebih jauh, nanti kau tersesat!" Velan menimpali.
"Sungguh bagiku tidak masalah jika aku harus menjadi domba-domba yang tersesat! Asalkan tersesat bersamamu, itu sudah cukup!" kata Voren.
__ADS_1
Velan mencebik mendengar gombalan receh dari Voren, namun entah mengapa ia merasa berdebar-debar. Sebuah kepingan rasa yang masih tersisa di dalam hatinya yang hancur menggelitik sanubarinya. Rasa yang tertinggal dari perasaan cinta yang pernah ada dalam hatinya.
...~...