Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E63


__ADS_3

Velan menyeduh teh stroberinya. Aroma stroberi begitu semerbak memenuhi dapur. Velan duduk di belakang meja makan dengan tenang. Ia sudah selesai memasak sarapan sederhana. Hanya roti lapis isi daging dan telur untuk sekadar mengganjal perut.


"Istriku," Voren menghampiri Velan.


Pria itu muncul dari kamar sambil membawa dua buah dasi dan menyodorkannya kepada Velan.


"Istriku, menurutmu, dasi mana yang cocok untuk kukenakan?" tanya Voren.


Velan mengarahkan pandangannya ke arah Voren yang sudah terlihat tampan dan segar dalam balutan kemeja putih bergaris biru.


Sialan, kenapa dia selalu terlihat tampan sih? Kapan dia bisa terlihat jelek? Velan mengumpat dalam hatinya. Voren masih mempertahankan senyum pasta giginya. Ia terlalu bersemangat karena ingin Velan memilihkan dasi untuknya.


"Aku rasa dua-duanya bagus," sahut Velan nampak tidak tertarik.


"Kalau saja leherku ada dua, pasti akan kugunakan semua," tukas Voren. "Aku akan memakai dasi yang kau pilihkan, Istriku," rengek Voren.


Velan mendelik gusar melihat Voren yang merengek kepadanya.


"Istriku!" rengek Voren lagi.


Velan masih bersikap dingin kepada Voren.


"Istriku!" Voren masih bersikeras merengek.


"Apa sih? Kau itu seperti bayi yang minta disusui saja!" sergah Velan.


"Ya! Ya! Aku mau! Lekas buka pakaianmu lagi, Istriku! Biarkan aku menyusu lagi!" sahut Voren antusias.


"Hihhh! Dasar laki-laki murahan! Apa kau sungguh ingin aku menginjak lehermu sampai patah?!" geram Velan.


"Ya! Patahkan saja! Kalau itu bisa membuatmu senang! Lakukan saja!" Voren terkekeh. "Tapi aku lebih senang jika kau menciumi leherku daripada mematahkannya! Haruskah kita melakukannya lagi?"


Dasar laki-laki binal! Ya sudah, pilihkan saja!


Velan menyeruput teh stroberinya sebelum akhirnya menunjuk dasi berwarna abu-abu dengan corak biru gelap. Voren mengulas senyum penuh kemenangan.


"Istriku, tolong pasangkan aku dasi," pinta Voren.


"Aku rasa aku tidak bersedia, nanti aku mencekikmu seperti waktu itu," sahut Velan sekenanya.


Velan tentu tidak bisa lupa ketika ia terlalu grogi hingga akhirnya justru mencekik Voren.


Voren duduk di kursinya lalu mengambil tangan Velan.


"Istriku, kau harus banyak belajar memasang dasi, agar kelak saat kau menikah lagi dengan pria lain, kau tidak akan mencekiknya saat memasangkan dasi," kata Voren.


"Ya sudah, tidak usah menikah dengan pria yang memakai dasi," sahut Velan sekenanya.


"Ahaha," Voren tertawa. "Ya ampun, Istriku, kau sungguh sarkas sekali, sakit hatiku mendengarnya."


"Ya sudah, tidak usah didengar," sahut Velan lagi.


"'Istriku, kau benar-benar menggemaskan! Rasanya aku jadi bergairah lagi," Voren terkekeh.


"Jangan macam-macam atau aku benar-benar akan mencekikmu!" ancam Velan sambil menarik dasi yang sudah terkalung di leher Voren.

__ADS_1


Garis lengkung di bibir Voren merekah, dua lesung pipinya yang dalam terlihat jelas.


"Hmm, baiklah, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin kau memasang dasi untukku," kata Voren.


Velan masih melayangkan tatapan skeptis.


"Aku sudah lupa!" sahut Velan dengan cepat.


"Baiklah, aku akan mengajarimu," Voren mengambil tangan Velan dan memberi panduan.


Mereka berdua saling berpandangan, Velan merasakan gemuruh dalam dadanya yang begitu menyesakkan. Pria ini jelas sedang berupaya untuk menggoyahkan keinginan Velan untuk berpisah darinya.


"Perlahan tarik seperti ini," Voren menuntun tangan Velan untuk menarik simpul yang sudah terbentuk.


Adegan demi adegan terlihat bergerak dalam mode lambat. Bunga-bunga merah jambu beserta bentuk-bentuk hati berhamburan di sekeliling mereka.


"Selesai!" kata Velan.


"Apa sudah rapi?" tanya Voren.


"Lihat saja di cermin kalau kau ragu," sahut Velan.


"Hmm, padahal aku berharap, setiap hari kau bisa memasang dasi untukku," tukas Voren.


Doni baru saja tiba dan merasa kedua orang yang saling bertatapan itu jelas mengabaikan kehadiran Doni. Keduanya bahkan terlihat akur dan menyantap sarapan bersama.


"Suapi aku, Istriku!" Voren merampas tangan Velan dan langsung melahap roti di tangan Velan.


"Apa kau serius mau memakan tanganku juga?!" tanya Velan sambil berusaha menarik tangannya dari mulut Voren.


Voren terkekeh sambil menciumi tangan Velan dengan gemas.


Tak selamanya mendung itu kelabu! Batin Doni.


"Istriku, apa menurutmu sebaiknya aku hentikan saja dietku? Jadi kita bisa makan makanan enak bersama-sama setiap hari," kata Voren.


"Terserah! Mulut-mulutmu, selera-seleramu," sahut Velan dengan ketusnya.


Voren menyeringai mendapat jawaban ketus dari Velan.


"Istriku, melihatmu ketus begini, aku benar-benar semakin bergairah! Rasanya aku jadi ingin bercinta denganmu lagi!" kata Voren.


"Kalau kau lakukan itu, kau akan kukebiri!" Velan mengulas senyum ceria.


"Baiklah, tidak masalah, ayo kita lakukan sekarang!" Voren menarik Velan ke atas pangkuannya.


"Kau benar-benar mau dikebiri ya?" tanya Velan.


"Kalau itu bisa membuatmu senang, lakukan saja," Voren tersenyum sambil memburu bibir Velan.


Keduanya kembali berciuman dengan penuh gairah.


"Istriku, haruskah kita bercinta sekarang?" tanya Voren sambil membuka ikat pinggangnya.


"Kau benar-benar minta dikebiri!" Velan menahan tangan Voren yang mulai kembali bergerilya.

__ADS_1


"Baiklah, setelah kita bercinta!" bisik Voren yang kembali memagut bibir Velan.


Doni terperangah melihat kedua pasangan yang saat ini terlihat seperti orang yang sedang dimabuk asmara.


Bukankah mereka akan bercerai? Bagaimana bisa mereka berciuman semesra itu?


Apa-apaan mereka itu? Apa mereka serius akan bercinta di depanku? Oh yang benar saja! Batin Doni dengan gusarnya.


"Uhuk..Uhuk..," Doni terbatuk.


Voren dan Velan terperangah melihat kehadiran Doni. Seketika Velan langsung beranjak dari pangkuan Voren.


"Oh Doni, kapan kau datang?" tanya Voren dengan ekspresi kesal.


"Saya baru datang, Tuan," jawab Doni.


Voren memutar bola matanya, dalam hati ia merasa kesal karena Doni muncul di saat yang tidak tepat.


Berterima kasihlah karena saya datang tepat sebelum Anda dikebiri, Tuan! Batin Doni.


Voren segera merapikan kembali pakaiannya lalu memakai jasnya, Velan bergegas menyiapkan sepatu yang akan dipakai Voren.


"Terima kasih, Istriku," kata Voren.


Velan mengantar Voren ke depan pintu. Sebelum pergi, pria itu terhenti dan menatap Velan lekat-lekat. Ia memberi kecupan lembut di kening Velan.


"Sampai nanti, Istriku," kata Voren.


"Kami pergi dulu, Nona Velan," tukas Doni.


Velan hanya diam menatap kepergian dua pria itu. Tanpa terasa air mata Velan kembali menetes membasahi pipinya. Velan teringat ketika pria itu bahkan mengira Velan sakit kepala saat Velan memberi kode agar pria itu memberinya kecupan sebelum meninggalkan rumah. Namun kini pria itu mewujudkan salah satu keinginan Velan.


Velan benar-benar merasa risau. Ia benar-benar bimbang, apakah harus melanjutkan pernikahan ini ataukah mengakhirinya sebelum semuanya terlalu jauh?


Jika harus mengingat hal yang lalu, tentu saja Velan benar-benar merasakan sakit yang tak tertahankan. Entah berapa banyak air mata yang sudah dikeluarkan oleh Velan.


Velan tentu tidak bisa lupa bagaimana pria itu sampai berbohong mengenai orientasi seksualnya demi menutupi kenyataan bahwa pria itu ternyata bermain api di belakangnya. Pria yang terang-terangan memilih untuk menceraikannya karena menginginkan wanita lain.


Velan tidak bisa melupakan bagaimana ketika ia harus melakukan segala cara untuk mendapatkan cinta Voren namun ujung-ujungnya pria itu tetap bersikeras menceraikannya tanpa pernah memberinya kesempatan.


Velan juga tidak boleh melupakan bagaimana ibu mertuanya yang begitu mudahnya memihak apa pun keputusan Voren. Ibu mertuanya bahkan mendukung Soraya untuk menikah dengan Voren pasca pria itu menceraikannya.


Velan bahkan sudah ikhlas dan berusaha berbesar hati menerima perceraian ini. Namun kenapa saat ini pria itu justru menggoyahkan hati Velan?


Voren yang pada awalnya bersikeras bahwa ia tidak merasa bersalah atas perbuatannya pada Velan selama ini, pada akhirnya mengaku bersalah. Pria itu benar-benar ingin memulai kembali pernikahan mereka. Kehidupan pernikahan yang semula harus berakhir tanpa pernah dimulai.


Velan kembali menyeruput teh stroberinya. 


Apakah ia harus memberi kesempatan kedua kepada Voren?


Pria itu menawarkan kepada Velan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang didambakan oleh Velan. Pria itu berjanji untuk memenuhi semua yang diinginkan oleh Velan.


Velan menimbang-nimbang, apa yang harus dilakukannya?


Saat ini ia sedang mempertaruhkan masa depan dan kebahagiaannya.

__ADS_1


Tujuh ekor ikan warna-warni dalam akuarium mini itu pun hanya bisa terdiam melihat Velan yang merasa bimbang dan ragu untuk membuat keputusan.


...~...


__ADS_2