Jodoh Instan

Jodoh Instan
Pesta Ulang Tahun Nenek Part 3


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, Bu."


Alren Lazaro mengecup punggung tangan Alena dan memberi pelukan lembut.


"Terima kasih sudah menyempatkan datang, Alren," kata Alena sambil menatap lembut ke arah Alren.


"Papa," sapa Alren pada Rendarto yang duduk di samping Alena.


Rendarto hanya mengulas senyumnya kepada anak laki-laki sulungnya itu.


"Kak Alren," sapa Renal yang duduk di samping Rendarto.


Alren hanya memberi anggukan yang nyaris tak terlihat oleh siapa pun sebagai bentuk respon terhadap adiknya.


Velan menatap sosok ayah mertuanya. Pria bertubuh tinggi dalam balutan jas yang menyempurnakan penampilannya. Pria itu memiliki raut wajah tegas dan pembawaan yang dingin. Rambutnya masih terlihat hitam dengan tatanan yang rapi. Pria itu memiliki aura mengintimidasi yang begitu kentara sehingga menambah kesan horor pada pria berkumis tipis dengan jenggot yang tertata rapi bak tokoh Tony Stark dalam film superhero Iron Man.


Alren melemparkan tatapan kepada seluruh keluarganya.


"Papa," kedua putri Alren langsung menyapa Alren.


"Alren, Suamiku," sapa Vega.


Alren hanya melirik ke arah mereka tanpa berkata apa-apa. Dua orang pengawal segera menarik kursi untuk Alren, Alren segera duduk di samping Alena.


"Silakan duduk," kata Alren kepada keluarganya yang masih berdiri.


Mata Alren tertuju pada sosok asing yang duduk di samping Vega. Sosok berperawakan mungil yang membuatnya bertanya-tanya.


"Siapa dia?" tanya Alren ke arah Velan.


"Alren Suamiku, dia adalah Velan, istri Voren," jawab Vega.


Velan tersenyum kikuk, senyumnya justru terlihat seperti seringaian.


"Istri Voren?" tanya Alren dengan sebelah alisnya yang terangkat tinggi.


"Benar, Suamiku, kau tidak menghadiri acara pernikahan Voren karena kata sekretarismu, kau masih ada urusan di Amerika," jawab Vega.


"Lantas di mana Voren?" tanya Alren.


"Voren masih sibuk mengurus pekerjaannya, Suamiku," jawab Vega.


Alren kembali mengarahkan pandangannya kepada Velan.


"Perkenalkan dirimu," kata Alren dengan nada memerintah.


Seketika Velan merasa tegang karena semua mata tertuju padanya. Velan segera berdiri dari kursinya.


"Selamat malam, nama saya Velandara, biasa dipanggil Velan, saya adalah istri dari Voren," kata Velan sambil membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Apa pendidikan terakhirmu?" tanya Alren.


"Saya lulusan S1 dari salah satu perguruan tinggi negeri," jawab Velan.


Terlihat Alren mengangguk, rupanya menantunya merupakan wanita berpendidikan.


"Bisa ceritakan mengenai keluargamu?" tanya Alren.


Dalam hati Velan bertanya-tanya, apakah ini semacam wawancara untuk mempromosikan portofolionya di hadapan ayah mertuanya?


Itu artinya Velan harus mengatakan semua hal yang bagus tentang keluarganya. Tapi apa hal bagus yang bisa ia ceritakan tentang keluarganya agar memberi kesan bahwa Velan bukanlah keluarga kelas menengah biasa. Cepat-cepat otak Velan berpikir keras di tengah tatapan penuh rasa penasaran yang kini menghujamnya bertubi-tubi.


"Kedua orang tua saya merupakan pensiunan dari perusahaan multinasional, saya punya empat orang kakak laki-laki yang saat ini sedang berusaha meniti karir untuk mengikuti jejak orang tua saya," jawab Velan.


Mereka hanya pengangguran dengan cita-cita yang terlalu tinggi, Velan membatin.


Terlihat ekspresi anggota keluarga itu nampak cerah. Terlebih Vega, ia sangat yakin bahwa menantunya ini akan dianugerahi banyak anak laki-laki mengingat banyaknya saudara laki-laki Velan.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Alren lagi.


"Saya menjalankan bisnis kuliner, untuk skalanya masih kecil, namun saya yakin ke depannya pasti akan berkembang seiring berjalannya waktu, karena saya melihat prospek yang bagus pada bisnis saya ini," jawab Velan.


Velan rasanya ingin menangis terharu ia bisa bicara sebagus itu. Setidaknya ia harus memberi kesan yang bagus kepada ayah mertuanya yang nampaknya sangat menuntut menantu yang sempurna. Menjawab setiap pertanyaan dengan penuh rasa percaya diri dan mantap adalah kunci sukses pada setiap tes wawancara.


"Wah, kau berbisnis kuliner, kalau boleh tahu kuliner apa yang kau garap?" tanya Renata.


"Saya mengelola bisnis makanan ringan," jawab Velan.


"Ya, saya sudah belajar memasak sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena saya percaya bahwa makanan adalah kebutuhan primer setiap manusia yang hidup di muka bumi ini," jawab Velan.


"Wah, istri Voren ternyata memiliki portofolio yang sangat menarik ya, seorang pebisnis muda yang juga mengurus rumah tangga," puji Alena.


"Terima kasih atas pujian Nenek, saya sangat menyukai tantangan yang bisa menjadi cambuk untuk terus memotivasi saya agar semakin berkembang dengan lebih baik lagi," kata Velan.


"Velan, aku jadi tidak sabar untuk mencicipi produk yang kau luncurkan ke publik," kata Renata.


"Iya, sungguh, aku penasaran dengan makanan ringan yang kau katakan," kata Renava.


"Baik Kakak ipar, nanti akan saya siapkan," kata Velan.


Vega tersenyum bangga pada Velan, ia sungguh tidak salah memercayakan Madam Yue untuk mencarikan Voren jodoh. Velan sungguh wanita yang mengagumkan. Kepribadiannya yang hangat, santun, dan cepat membaur sungguh memberi kesan yang baik untuk keluarga Lazaro. Alren pun berusaha menyembunyikan rasa senangnya karena menantunya nampak mudah akrab dengan kedua putrinya.


...~...


"Terima kasih kepada semua yang sudah menghadiri acara ulang tahun saya, saya sungguh bersyukur Tuhan masih memberi saya kesehatan agar saya masih bisa mendapat nikmat berupa umur yang panjang," kata Alena ke hadapan semua tamu yang hadir.


"Pada kesempatan yang berbahagia ini saya juga ingin memperkenalkan seseorang yang baru bergabung menjadi anggota baru dalam keluarga ini," lanjut Alena.


"Velan, selamat datang di keluarga ini," kata Alena yang langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para tamu.

__ADS_1


Velan berdiri dari kursinya, lalu membungkuk untuk menyapa semua mata yang tertuju padanya. Kemudian Velan kembali duduk di kursinya.


Satu tamu yang tidak bertepuk tangan dan nampak mengabaikan pengumuman tersebut adalah Darla. Darla sungguh tak sudi melihat pemandangan yang baginya sangatlah menjemukan.


Saat ini yang ada dalam pikiran Darla adalah bagaimana cara untuk mendapatkan perhatian dari dewan komisaris agar anak laki-lakinya bisa mendapat dukungan penuh. Darla mengarahkan pandangannya kepada Vega yang nampaknya sudah tersenyum puas seakan menikmati kemenangannya. Bagi Darla, hanya anak laki-lakinya yang pantas untuk menjadi pemegang kuasa penuh atas Emperor Grup. Ia bahkan sudah mengatur banyak strategi, salah satunya dengan mengumpulkan dukungan dari para pemegang saham lain.


Darla merutuk dalam hati sambil memerhatikan ponselnya. Ia sudah berkali-kali mencoba untuk menghubungi Daren. Namun Daren belum juga menjawab teleponnya.


Dalam benak Darla, ini adalah saat yang sempurna untuk mengumpulkan dukungan dari dewan komisaris. Alren memang mengatakan bahwa ia mendukung Daren, karena melihat kompetensi yang dimiliki oleh Daren. Namun Darla tidak bisa merasa tenang karena Vega dan Voren nampak terus membayangi langkah Darla dan Daren.


Cih, kau salah jika merasa sudah menang Vega, batin Darla sambil meneguk minumannya dengan perasaan kesal yang membuncah.


...~...


Velan menatap lekat-lekat kalung dan anting yang dikenakan oleh Renata dan Renava. Dalam benaknya muncul begitu banyak pertanyaan. Kalung dan anting yang dikenakan oleh kedua kakak iparnya, benar-benar sama persis dengan kalung dan anting yang ia temukan saat akan mencuci pakaian Voren.


Jika kalung dan anting itu memang untuk Velan, harusnya Voren memberikan perhiasan itu sesegera mungkin bersama gaun yang juga akan diberikan untuk Velan. Kenapa hingga detik ini Voren belum kunjung menyerahkan kejutan itu ya?


Renata menyadari bahwa Velan sedari tadi tak putus menatap ke arahnya dan juga Renava.


"Velan, ada apa?" tanya Renata.


Velan terkesiap, cepat-cepat ia mengulas senyumnya untuk membuyarkan pikirannya.


"Kalung dan anting yang Kak Renata dan Kak Renava kenakan sungguh bagus sekali," jawab Velan.


"Terima kasih," sahut Renava.


"Apa kalung dan anting itu sedang menjadi tren ya, makanya kalian kembaran begitu?" tanya Velan.


"Kau benar, Velan, ini adalah kalung dan anting keluaran dari rumah mode ternama di Eropa, sekarang sedang menjadi tren dan tentunya perhiasan ini adalah perhiasan edisi terbatas," jawab Renava antusias.


"Kami sungguh beruntung bisa mendapatkan perhiasan eksklusif ini," Renata menimpali.


"Wah, pantas saja begitu indah dan cantik! Kalian sungguh sempurna mengenakannya," kata Velan.


Velan kembali merasa berdebar-debar. Suaminya bahkan sudah membeli perhiasan eksklusif itu. Velan sungguh tak sabar untuk mendapatkan kejutan dari suaminya.


...~...


Velan melangkah keluar dari ruangan pertemuan. Ia membutuhkan udara segar lantaran merasa sulit untuk bernapas lega. Ia merasa seluruh syaraf di tubuhnya menegang seketika.


Entah mengapa ia merasa gundah lantaran hampir semua ucapan manis yang ia lontarkan di hadapan keluarga suaminya semata-mata adalah omongan yang bersifat hiperbola.


Yah, namanya juga Velan ingin berusaha menunjukkan kesan pertama yang baik di depan keluarga suaminya. Ia tentu tidak mau dipandang sebelah mata.


Tidak masalah miskin, yang penting sombong! Kalau menunggu kaya barulah sombong, kapan kayanya?


Mata Velan menangkap sosok pria yang membuat jantung Velan seakan berhenti berdetak. 

__ADS_1


Pria tampan itu adalah pria penjaja cinta satu malam yang tempo hari ia panggil untuk mendengarkan keluh kesahnya.


...~...


__ADS_2