
"Bapak, Ibu," Velan mengecup punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Ibu Velan tersenyum melihat kedatangan Velan ke rumah mereka setelah Velan menikah.
"Maaf baru sempat pulang ke rumah, Bu," Velan memeluk ibunya.
"Iya, Ibu tahu, kamu pasti sibuk mengurus suamimu, kan?" tanya ibu sambil membalas pelukan Velan yang begitu erat.
Velan melepas pelukannya dan menatap ibunya lekat-lekat.
"Velan," keempat kakak laki-laki Velan langsung merangkul Velan.
"Cie, pengantin baru, sibuk sekali sampai baru muncul," goda Yoyok.
"Aku sudah tidak mencium lagi aroma-aroma keperawanan," kata Taki sambil mengendus Velan.
"Kak Taki, tolong ya?!" rutuk Velan mendorong wajah Taki yang mengendus Velan seperti babi yang mengendus makanan.
"Hihi, akhirnya Velan bukan perawan lagi!" Tomi terkekeh geli.
"Kak Tomi!" Velan melotot ke arah Tomi.
"Loh, adik ipar tidak ikut bersamamu, Velan?" tanya Toro.
"Kak Toro, suamiku mana mungkin bisa keluyuran siang-siang begini! Tolong jangan samakan suamiku dengan kalian, ya?!" sahut Velan dengan nada penuh kebanggaan.
"Vels, kau jangan lupa, suamimu dan kami itu sama-sama laki-laki! Barang dia dan barang kami itu sama, yang beda mungkin hanya ukuran saja!" seloroh Taki.
"Kak Taki!" Velan melotot ke arah Taki yang kembali terkekeh.
"Sudah, sudah, kalian jangan ribut begitu," sergah ibu.
"Ibu, Kak Taki menyebalkan sekali," gerutu Velan.
"Taki, sudah, jangan menggoda adikmu seperti itu!" kata ibu.
Taki hanya meringis, rasanya senang sekali bisa menggoda pengantin baru.
"Velan, Ibu dan Bapak akan kembali ke kampung hari ini," kata ibu.
"Cepat sekali, Bu," kata Velan.
"Bapak harus kembali menjalani pengobatan," ibu melanjutkan. "Lagipula acara pernikahanmu sudah selesai."
__ADS_1
Velan menatap ibunya lekat-lekat, rasanya baru saja keluarga mereka berkumpul untuk menghadiri acara pernikahan Velan.
"Salam saja untuk Ibu Vega dan suamimu! Ibu sungguh paham mereka semua orang-orang yang begitu sibuk," kata ibu.
"Baik Bu, aku mengerti," kata Velan.
"Kalian semua harus saling menjaga satu sama lain dan yang lebih penting, jangan merepotkan Velan lagi! Velan sudah punya suami yang harus diurusnya dengan baik," ibu menasehati empat anak laki-lakinya.
Keempat kakak Velan hanya bisa saling melemparkan pandangan secara bergantian.
"Kalian mulailah berpikir untuk serius bekerja, kemudian menikah! Umur kalian sudah banyak! Tidak enak jadi bahan omongan tetangga!" pesan ibu lagi kepada keempat anak laki-lakinya itu.
"Ibu, kalau tidak enak kasih kucing saja," sahut Taki sambil terkekeh.
"Taki!" Toro melotot ke arah Taki.
Ibu tersenyum ke arah empat anak laki-lakinya. Mau marah kepada mereka sungguh percuma, hanya membuang-buang energi. Sudah cukup bapak yang terkena stroke akibat ulah anak-anak mereka ini.
"Ingat, kalian jangan bertengkar! Jangan membuat keributan! Kalian bukan tinggal di hutan!" lanjut ibu yang masih memberi wejangan kepada semua anak-anaknya.
"Baik, Bu!" sahut mereka serempak.
"Kalau begitu, Ibu dan Bapak pergi dulu," kata ibu berpamitan.
Velan kembali memeluk sang ibu sebelum ibunya memasuki mobil.
Mobil yang membawa kedua orang tua mereka bergerak menjauh dari pandangan, diiringi lambaian tangan Velan dan kakak-kakaknya.
"Kak Yo, hal penting apa yang yang Kak Yo maksud?" tanya Velan begitu mereka masuk kembali ke dalam rumah.
Yoyok segera menuju ke dapur dan membuka lemari es, mengambil sesuatu dari rak pembeku dan menyerahkannya pada Velan.
"Surat ini datang dua hari yang lalu, karena takut ketahuan ibu, makanya kusimpan di rak pembeku," kata Yoyok.
Velan gemetaran membaca surat peringatan dari bank tentang utang Velan yang belum kunjung terbayar. Keempat kakak Velan segera mengitari Velan yang membaca surat peringatan itu dengan penuh penghayatan.
"Velan, kenapa kau dapat surat peringatan dari bank? Kau belum membayar hutangmu, ya?" tanya Tomi.
"Vels, kau kan sudah jadi istri orang kaya! Segera minta suamimu untuk melunasi utangmu!" Taki menimpali.
"Benar Velan, harusnya kan kau sudah melunasinya dengan mudah," Toro menanggapi.
"Kakak, aku memang sudah menjadi istri dari orang kaya! Tapi ya, ada etikanya dong! Jangan sampai aku dicap sebagai wanita materialistis!" kata Velan membela dirinya.
__ADS_1
"Velan, ini bukan masalah materialistis! Tapi utang harus segera dibayar sebelum kita kehilangan tempat tinggal," kata Yoyok.
"Benar, Velan, melunasi utang harus disegerakan!" sahut Tomi.
"Ya, Kak, aku paham dengan situasi saat ini! Tapi kalian juga harus memahami situasiku! Aku ini bukan menikahi pria yang sekedar kaya, tapi pria yang berasal dari keluarga terhormat! Jangan sampai kita dianggap macam parasit! Kita harus jaga gengsi juga!" kata Velan.
"Vels, kalau kau memang takut untuk meminta suamimu melunasi utangmu, biar aku yang melakukannya! Akan kutemui suamimu dan kupalak dia! Hehe," kata Taki.
"Kak Taki! Jangan sampai kau melakukan itu!" sergah Velan.
"Kenapa, Vels? Apa kau ragu dengan kemampuanku dalam melakukan pemalakan?" tanya Taki.
Taki tentu saja begitu percaya diri, karena sejak kecil ia sudah jago melakukan pemalakan. Saat masih sekolah dulu ia bahkan dikenal sebagai raja pemalak yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
"Tenang saja, Toro cukup melotot dan suamimu pasti akan langsung membuka dompetnya!" Taki terkekeh sambil menyikut perut Toro.
"Kak Taki, kalau kau berani melakukan hal itu, putus persaudaraan kita!" ancam Velan.
"Loh kenapa begitu, Velan? Taki sudah mencoba membantumu," kata Tomi.
"Kak! Kalau kalian berani melakukan pemalakan kepada suamiku, justru kalian akan berurusan dengan polisi! Kalian mau dijebloskan ke penjara?" tanya Velan.
Keempat kakak laki-laki Velan terlihat saling berpandangan.
"Nanti akan kulunasi utang-utang itu! Suamiku itu kan sangat kaya raya, Kak! Uangnya pasti tidak ada nomor serinya! Terlebih dia selalu bekerja keras siang dan malam! Sungguh berbeda sekali dengan kakak-kakak!" kata Velan dengan nada penuh kebanggaan.
"Vels, kami juga bisa sukses suatu hari nanti! Saat bandku terkenal nanti, aku akan bekerja keras siang dan malam untuk menghibur penggemarku!" kata Taki.
"Aduh Kak Taki, lebih baik lupakan saja impian kakak itu! Lihat akibat dari memperjuangkan impian kosong itu, kita semua harus menanggung akibatnya! Entah mengapa aku jadi merasa tidak etis jika harus meminta suamiku untuk melunasi utang karena kesalahan Kak Taki yang sudah tertipu perusahaan rekaman gadungan!" cecar Velan.
"Velan! Itu musibah! Kami juga mana mungkin mau ditipu perusahaan rekaman gadungan! Tapi aku yakin suatu saat nanti akan ada perusahaan rekaman yang tidak akan menipu kami!" kata Toro membela diri.
"Lagipula Vels, ini bukan masalah etis dan tidak etis! Kau sudah menikah dan suamimu yang bertanggung jawab penuh atas hidupmu, termasuk utang yang harus dibayar atas namamu!" sahut Taki.
"Sudah, sudah! Kalian jangan bertengkar!" kata Tomi.
"Tidak enak didengar tetangga," Yoyok menimpali.
Velan menghela napas berat, ia segera menuju ke kamarnya dan mengambil pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam koper. Ia benar-benar merasa kesal kepada Taki dan Toro. Akibat perbuatan mereka, Velan harus terkena dampaknya.
"Kakak, aku akan berusaha untuk melunasi utang akibat ulah kalian! Kuharap ke depannya kalian tidak membuat masalah lain gara-gara impian kosong kalian itu!" kata Velan kepada Taki dan Toro.
Velan mendorong kopernya dan pergi meninggalkan rumah dengan perasaan kesal yang berkecamuk begitu besar dalam dadanya.
__ADS_1
...~...