Jodoh Instan

Jodoh Instan
Pesta Ulang Tahun Nenek Part 1


__ADS_3

Velan memasuki kamar dan mendapati Voren terlihat berkutat di depan cermin. Pria itu terlihat sibuk menata rambutnya dengan gel rambut. Velan selalu terpesona melihat suaminya yang senantiasa tampan dan segar. Parfum beraroma maskulin itu menguar sempurna. Bahkan meski Voren sudah pergi pun aroma parfum mewah itu tetap tertinggal.


Velan masih mengamati suaminya, dalam benaknya perkataan Taki terus terngiang dengan amat sangat jelas. Velan sudah resmi menikah dengan Voren, Velan adalah istri sah pria tampan itu. Sudah jelas bahwa Velan punya hak yang lebih banyak daripada para sugar baby kepada para sugar daddy-nya.


Velan mendekati Voren yang nampak mulai memasang dasi.


"Suamiku, aku bantu pasangkan dasi," kata Velan.


"Terima kasih Istriku, aku bisa sendiri," tolak Voren.


"Suamiku, apa kau marah karena tempo hari aku terlalu kencang mengikat dasi untukmu?" tanya Velan terdengar ragu-ragu.


Kau baru sadar sekarang, ya? Voren membatin.


"Tidak, aku hanya merasa lebih cepat memasang sendiri," jawab Voren memasang dasi dengan cepat.


Velan menatap Voren yang nampak sibuk memasang dasinya sendiri.


"Suamiku, Ibu mengabari bahwa hari ini ada acara perayaan ulang tahun nenek," kata Velan.


Voren hanya diam, ibunya memang sudah mengabari acara perayaan ulang tahun neneknya sejak beberapa hari sebelumnya. Namun Voren sungguh tidak tertarik untuk datang dan berkumpul di acara keluarganya. Ia bahkan kerap mangkir dari acara keluarga dan lebih memilih untuk menghindar. Makanya tak mengherankan saat acara pesta pernikahannya banyak kerabat dari pihak keluarganya yang tidak datang karena Voren yang lebih memilih untuk menarik diri dari keluarganya.


"Kita diminta datang berdua, oleh karena itu menurutmu hadiah apa yang akan kita berikan untuk nenek ya?" tanya Velan.


"Istriku, maaf, sepertinya aku tidak akan datang ke acara tersebut. Nanti aku akan meminta pada Doni agar menyiapkan hadiah untuk nenekku," jawab Voren.


"Begitu ya? Tapi ini kan ulang tahun nenekmu, kita bahkan tidak tahu, apakah tahun selanjutnya kita masih bisa merayakan ulang tahun nenekmu," kata Velan.


Voren tersenyum mendengar perkataan Velan.


"Istriku, jangan jadi manusia pesimis begitu! Aku yakin nenekku akan berumur panjang! Jadi kau tidak perlu mencemaskan hal yang tidak penting!" kata Voren.


"Tapi Suamiku, menurut ibu kedatangan kita sungguh dinantikan oleh nenek," kata Velan.


"Istriku, kalau kau memang mau pergi, silakan saja! Saat ini pekerjaanku jauh lebih penting," kata Voren sambil memakai jasnya.


Ia mematut sekali lagi penampilannya di depan cermin sebelum keluar dari kamar. Voren segera melangkah keluar, entah mengapa ia merasa kesal karena wanita ini begitu memaksanya untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan," sapa Doni yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Doni, ayo kita pergi sekarang," kata Voren.


"Suamiku, tunggu!" kata Velan segera berlari ke arah dapur.


Velan segera mengambil bungkusan yang sudah ia siapkan. Karena tahu suaminya pasti akan pergi ke kantor terburu-buru dan tak sempat untuk sarapan, maka Velan menyiapkan bekal agar suaminya bisa memakannya di perjalanan.


"Suamiku, tenang saja, aku tidak memasukkan sesuatu yang aneh lagi ke dalam makananmu," kata Velan menyerahkan bungkusan itu pada Voren.


"Baiklah, terima kasih," kata Voren mengambil bungkusan itu.


"Suamiku, tidak adakah sesuatu yang akan kau berikan padaku?" tanya Velan sebelum Voren pergi.


"Apa?" tanya Voren.


Velan menunjuk keningnya, ia ingin Voren memberinya kecupan sebelum pria itu pergi.


"Kepalamu sakit? Minumlah obat lalu beristirahatlah," kata Voren.


"Permisi, Nona," kata Doni berpamitan.


Apa suaminya itu tidak peka?


Apa Velan perlu memaksanya?


Tidak, memaksa malah justru membuat Voren semakin memperjauh jarak di antara mereka. Velan merasa pria itu seakan sedang membangun tembok gaib sebagai akibat dari ulah Velan sendiri.


Velan mendengus kesal, segera ia menuju ke ruang penatu dan melihat gaun hitam yang sudah ia cuci. Gaun yang akan ia kenakan di acara ulang tahun nenek Voren.


"Gaun ini cantik meski sederhana sekali, pasti akan sangat cocok jika aku memakai kalung dan anting berlian itu. Penampilanku pasti benar-benar akan terlihat mewah jika memakai kalung tersebut," Velan terkekeh sendiri.


"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa suamiku sampai sekarang belum memberiku kalung dan anting itu ya?" Velan bertanya-tanya.


Velan kembali ke kamar, ia mencari keberadaan kotak berisi kalung dan anting berlian yang hari itu ia temukan dalam saku jas suaminya. Ia mencari keberadaan kotak itu, di dalam nakas, di dalam lemari pakaian, di lemari aksesoris, namun tidak ada, kotak itu seakan menguap tak meninggalkan jejak.


"Ke mana kalung dan anting berlian itu ya?" Velan kembali bertanya-tanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin kan, kalung dan anting itu untuk Doni?!"


Dalam benak Velan, terbayang Doni mengenakan gaun malam berwarna hitam dengan potongan dada yang rendah nampak memamerkan kalung dan anting berlian itu dengan pose yang menggoda.


"Haah! Otakku rusak!" Velan menepuk kepalanya dengan keras agar halusinasinya tentang Doni segera sirna.


"Ke mana perginya kalung dan anting berlian itu ya?" Velan bermonolog lagi.


...~...


Velan segera turun dari mobil yang ia tumpangi. Mobil mewah itu merupakan mobil yang menjemput Velan atas perintah dari Vega. Velan sudah tiba di sebuah rumah mewah yang begitu jauh dari pemukiman penduduk. Velan tidak tahu bahwa di kota ini ada tempat yang begitu eksklusif sebagai tempat kediaman keluarga Lazaro.


Mobil-mobil mewah terparkir sempurna di halaman yang begitu luas. Rumah mewah bercat putih itu pun nampak begitu berkilauan di tengah hari yang semakin gelap.


Velan sungguh merasa celingukan, ia bahkan tidak mengenal tamu-tamu yang datang. Para tamu itu pun nampak terlihat berpenampilan mewah membuat Velan merasa rendah diri.


Para pelayan segera menyambut kedatangan para tamu dan mempersilakan para tamu untuk menuju ke ruangan tempat acara berlangsung. Tak henti-hentinya Velan berdecak kagum dalam hati karena mengagumi kemewahan yang ada di rumah itu.


Lampu-lampu kristal nan mewah menggantung di langit-langit yang tinggi. Lantai marmer yang mengilap nampak membuat ilusi adanya genangan air di lantai. Lukisan-lukisan abstrak nampak menghiasi dinding.


Para pelayan membukakan pintu ruangan tempat acara berlangsung. Ruangan itu menyerupai aula yang luas, langit-langitnya menyajikan pemandangan ribuan bintang yang menghiasi langit malam. Ruangan itu didekor dengan dekorasi bak acara resepsi pernikahan mewah. Lampu-lampu kristal dengan bunga-bunga menghiasi meja-meja bundar bertaplak putih.


"Velan," Vega langsung menyambut kedatangan Velan.


"Ibu," Velan segera meraih tangan Vega, mengecup punggung tangan Vega, lalu bercipika-cipiki, dan diakhiri dengan pelukan lembut.


"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang," kata Vega. "Voren memang keterlaluan, neneknya ulang tahun, dia malah tidak datang," keluh Vega.


"Ibu, maaf, saya tidak berhasil membujuk Voren," kata Velan.


"Yah, mau bagaimana lagi, Voren memang begitu sibuk. Baginya pekerjaan masih tetap nomor satu," keluh Vega.


"Ibu sungguh berharap kalian segera dianugerahi anak, sehingga Voren benar-benar bisa menjadikan keluarga sebagai prioritas utamanya," lanjut Vega menatap penuh arti ke arah Velan.


"Bagaimana Velan, apa sudah ada tanda-tanda kehamilanmu?" tanya Vega.


Velan merasa sangat tertohok mendengar pertanyaan Vega. Entah ia harus menjawab apa. Ia tentu tak bisa mengatakan secara terang-terangan mengakui bahwa ia bahkan belum pernah disentuh oleh Voren.

__ADS_1


...~...


__ADS_2