
Velan segera berpamitan untuk menuju ke toilet lantaran mengalami mimisan. Terburu-buru ia berjalan sambil menengadahkan kepalanya, ia bahkan terjatuh karena menghindar saat akan menabrak pelayan yang membawa nampan berisi piring kotor.
"Aduduh," keluh Velan yang bangkit dengan tertatih-tatih menuju ke toilet.
Terlihat semua orang memandang heran ke arahnya. Tak terkecuali calon suami Velan yang saat ini tak lepas memandang penuh keheranan ke arah Velan tanpa sepengetahuan Velan. Pria itu bersitatap dengan Doni yang turut mengerutkan alisnya.
Apa ibunya tidak salah, menjodohkan Voren dengan wanita seperti itu?
Velan segera membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Kepalanya memang langsung memanas saat melihat senyum calon suaminya. Pria setampan itu akan menjadi suami Velan!
Pria dengan senyum begitu memikat yang langsung membuat Velan mimisan.
Pesona yang dipancarkan oleh pria itu sungguh menggetarkan jiwa Velan.
Hasrat ingin memamerkan pria tampan itu sebagai suaminya kepada semua orang membuncah dalam dadanya. Ia benar-benar ingin menunjukkan terutama kepada pria yang dulu pernah mengecewakan Velan bahwa Velan bisa mendapatkan pria yang berjuta-juta kali lebih hebat daripada pria itu.
Velan benar-benar akan mengundang nama-nama pria yang dulu pernah menolak perasaannya. Juga kepada para tetangga nyinyir yang selalu bertanya kapan Velan akan menikah.
Belum lagi teman-teman yang selalu menunggu kapan giliran Velan membagikan undangan lantaran Velan selalu berada di pihak yang menerima undangan pernikahan.
Lihat, aku dapat pria luar biasa tampan, begitu ramah, dan kaya raya yang akan membuat kalian juga bisa mimisan sepertiku! Haha! Tawa Velan dalam hatinya.
Terlihat pengunjung toilet bergidik ngeri karena Velan cekikikan sendiri sambil menyumpalkan tisu ke lubang hidungnya.
Saat ini yang ada dalam pikiran Velan adalah bagaimana mungkin Madam Yue benar-benar sungguh mengabulkan permintaannya. Tak sia-sia rasanya Velan datang ke Madam Yue untuk minta dicarikan jodoh. Meminta pria dengan kriteria lajang, tampan, baik, dan kaya raya sebagai tipe pria idaman. Tak disangka Madam Yue sungguh mendatangkan pria tersebut.
Pria dengan ketampanan di atas rata-rata yang terlihat begitu tampan paripurna. Pria yang sama sekali berbeda dengan pria yang pernah ditemui Velan selama ini.
Velan merasa berdebar-debar, sepertinya ia merasa sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang akan menjadi suaminya itu.
Velan bahkan melompat-lompat kegirangan sambil tetap menengadahkan kepalanya, berharap mimisannya segera hilang.
Rasanya Velan ingin berlari kencang seperti pemain bola yang berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Madam Yue! I love you full!!
__ADS_1
...~...
Voren menatap lurus ke arah Vega. Ia sungguh terkejut dengan keputusan Vega yang tiba-tiba saja menyiapkan calon istri untuk dinikahinya tiga hari lagi. Selama ini ia kerap menolak saat ibunya mengaturkan perjodohan untuknya. Ia merasa lebih tertarik untuk bekerja daripada harus menikah.
"Mama, bagaimana bisa Mama langsung memintaku menikahi wanita yang bahkan tidak kukenal?" tanya Voren.
"Kenalannya bisa nanti setelah kalian menikah," jawab Vega.
"Tapi, Mama...," kata Voren.
"Voren, sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk menikah," kata Vega.
"Mama, aku rasa aku tidak siap untuk menikah, aku merasa pernikahan bukan hal yang cocok untukku," kata Voren berusaha mengutarakan penolakannya.
"Lagipula wanita itu tidak kukenal, tidak kuketahui asal-usulnya, tidak jelas juntrungannya! Bagaimana bisa aku menikah dengannya, Ma?" tanya Voren.
"Voren, bukankah selama ini kau selalu menolak semua wanita pilihan Mama yang kau kenal? Jadi Mama pikir, lebih baik kau tidak mengenal calon istrimu sekalian, sehingga kau akan mencari tahu sendiri," jawab Vega diplomatis.
Voren terlihat berpikir, ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Entah mengapa ia merasa menyesal karena selalu menolak wanita yang ditawarkan sang ibu padanya. Mereka semua adalah gadis-gadis cantik dari keluarga berpengaruh di dunia bisnis. Ada pula pengusaha-pengusaha cantik hingga putri politikus pun pernah hendak dijodohkan dengannya. Kebanyakan dari mereka memang dikenal oleh Voren. Bagi Voren, saat itu ia menolak semua perjodohan tersebut karena ia memang belum siap menikah. Alasan lain karena ia mengenal wanita-wanita tersebut, sungguh tidak enak jika nantinya harus bermasalah dengan mereka karena pasti akan menjadi skandal yang akan merusak reputasi Voren dan keluarganya.
Vega tentu harus bisa meyakinkan Voren, mengingat ramalan Madam Yue yang mengatakan bahwa saat ini Voren harus menikah. Jika tidak, Voren sungguh tak akan pernah menikah seumur hidupnya. Belum lagi pihak keluarga besar suaminya sudah menuntut Voren untuk segera mempunyai penerus keluarga akibat terjadinya krisis generasi penerus keluarga Lazaro.
Vega memutar bola matanya.
"Voren, kakak-kakakmu memilih tidak menikah karena Papamu yang tidak mengizinkan mereka untuk menikah dengan pria yang bukan pilihannya! Tolong jangan samakan dirimu dengan mereka! Mereka tidak meneruskan darah Lazaro pada keturunan mereka, karena mereka perempuan! Sedangkan saat ini semua orang bergantung padamu untuk memberikan penerus keluarga Lazaro!" beber Vega.
"Voren, apa kau serius ingin hidup membujang seperti pamanmu?" tanya Vega.
Voren tidak langsung menjawabnya. Ia sungguh tidak ingin menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Seorang wanita yang pernah hadir dalam hatinya masih tak lekang oleh waktu sampai saat ini. Sungguh ia merasa tidak bisa lagi mencintai wanita lain karena wanita itu telah membawa semua cintanya.
Sungguh ironis, namun itulah kenyataannya. Hanya saja Voren dapat menutupi semua hal itu dengan baik.
"Voren, tolong jangan kecewakan Mama," Vega nampak memelas.
Voren sungguh terdesak oleh desakan Vega. Saat ini jelas Voren seakan tak punya pilihan lain selain memenuhi permintaan sang ibu.
__ADS_1
"Baiklah Ma, aku hargai keputusan Mama," kata Voren.
"Terima kasih Voren, segera siapkan daftar tamu yang akan kau undang di pesta pernikahanmu," kata Vega.
"Baik Ma, aku akan mendiskusikannya dengan Doni," sahut Voren.
"Baik Tuan, saya mengerti," kata Doni.
...~...
Velan kembali duduk bergabung dengan calon keluarga barunya. Ia menatap ke arah pria yang berdiri di sebelah Voren.
Apa dia tidak pegal berdiri seperti petugas keamanan begitu, ya? Pikir Velan.
"Pak, kenapa tidak duduk?" tanya Velan.
Doni mengulas senyumnya.
"Terima kasih, Nona Velan," jawab Doni menolak.
"Pak, minta tolong jangan panggil saya Nona, saya canggung mendengarnya, panggil Velan saja," kata Velan pada Doni.
"Maaf, Nona, tapi rasanya kurang pantas jika saya langsung memanggil dengan nama Anda," kata Doni sambil tersenyum ramah.
"Velan, mumpung ada Voren di sini, kalian bisa berbincang santai," kata Vega.
"Voren ini begitu sibuk, sulit untuk bertemu dengannya, sebagai orang tuanya saja rasanya Ibu sulit untuk menemui anak sendiri," lanjut Vega.
"Mama bisa tanya langsung pada Doni bagaimana jadwal harianku yang begitu padat," jawab Voren.
Velan kembali menunduk saat tatapan matanya dan tatapan mata pria tampan itu saling bertabrakan.
Jantung bodoh ini sungguh tidak bisa dikondisikan! Velan membatin sambil menunduk.
"Velan, kenapa menunduk terus? Nanti kamu mimisan lagi," kata Vega sambil tersenyum.
__ADS_1
Velan tersenyum malu-malu karena pria tampan yang akan menjadi suaminya itu lagi-lagi memamerkan dua lesung pipi yang membuat senyumnya benar-benar menawan tiada lawan.
...~...