Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E14


__ADS_3

Voren dan Doni memasuki restoran yang berada di salah satu hotel berbintang lima. Restoran tersebut tidak terlalu ramai dikunjungi. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang nampak begitu sibuk menikmati santap siang mereka.


Voren segera duduk di salah satu meja bundar bertaplak putih dengan hiasan bunga krisan kuning yang berada tepat di tengah meja. Doni segera duduk di samping pria itu. Keduanya duduk menunggu sebelum akhirnya pelayan datang mengantarkan buku menu.


Seorang pria berkacamata hitam dengan memakai kaos longgar berwarna merah muda terang segera menghampiri meja mereka. Pria itu memakai celana kulit ketat dan sepatu boot bak penyanyi rock. Tak lupa jaket kulit dengan banyak aksesori berupa peniti berbagai ukuran. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan berperawakan kurus.


"Mr. Damien?" tanya pria itu sambil menurunkan kacamata hitamnya.


Doni segera berdiri dari kursi dan menjabat tangan pria itu.


"Detektif Shareloc," kata Doni. "Silakan duduk."


"Detektif Sherlock, maksud Anda seperti Sherlock Holmes?" tanya Voren ke arah pria itu.


"Tidak, Pak, Shareloc singkatan dari share location, berbagi lokasi, begitulah sejarah nama Shareloc untuk saya," jawab pria berpenampilan nyentrik itu seraya terkekeh, lalu melepaskan kacamata hitamnya yang besar seperti kaca muka.


"Shareloc hanya panggilan saya saja, nama saya Kogoro," kata pria itu memperkenalkan diri.


"Kogoro, maksud anda seperti Kogoro Tidur dalam serial Detektif Conan?" tanya Voren lagi.


Voren tentu harus mengorek informasi kepada pria yang menurut Voren tidak nampak seperti detektif. Kogoro terlihat mengulas senyumnya ke arah kliennya yang nampaknya punya pengetahuan luas tentang serial detektif.


"Hoho, Anda tahu banyak ya, Pak," kata Kogoro. "Tapi itu hanya nama singkat saya saja," lanjut Kogoro.


"Anda sungguh punya banyak nama panggilan ya, Detektif Kogoro," komentar Voren.


"Salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang detektif adalah harus pandai menyamar! Dan menggunakan banyak identitas demi menjaga keselamatan, terutama keselamatan saya sendiri," sahut Kogoro seraya terkekeh.


"Jadi Detektif Kogoro...," kalimat Doni terputus karena Detektif itu mengangkat tangannya.


"Saat ini jangan sebut saya detektif, Pak, panggil Kogoro saja," kata Kogoro.


"Oh begitu, baiklah, Pak Kogoro," kata Doni seraya mengulas senyum kecut lantaran Tuan Voren memandang skeptis ke arahnya.

__ADS_1


"Pak Kogoro, bagaimana dengan hasil penyelidikan Anda?" tanya Doni.


Kogoro mengeluarkan sebuah amplop dari jaketnya dan meletakkannya di atas meja. Voren sebenarnya sudah tidak sabar untuk membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Hanya saja ada gengsi yang harus dijaga.


"Ini adalah hasil penyelidikan saya selama tiga hari terakhir," kata Kogoro.


Doni mengambil amplop tersebut dan membuka isinya. Terdapat foto-foto Nona Velan yang diambil secara tersembunyi.


"Mr. Damien, Anda mengatakan bahwa Anda mencurigai istri Anda ini memiliki pria idaman lain, namun dalam penyelidikan saya selama tiga hari ini, saya sama sekali tidak melihat adanya gerak-gerik khas seseorang yang melakukan perselingkuhan," kata Kogoro.


"Apa maksud Anda, Pak Kogoro?" tanya Voren.


"Selama tiga hari saya mengawasi dan mengikuti istri Anda, saya tidak melihat istri Anda menemui seorang pria! Istri Anda mulai pergi ke tempat kerjanya pukul sembilan pagi. Pergi ke pasar dan membeli bahan-bahan kue lalu kembali ke kios sebelum pukul sebelas siang. Kemudian beliau sibuk mengeksekusi pesanan. Mengantar pesanan kue ke semua pelanggan, kemudian kembali ke kios untuk beristirahat! Selanjutnya beliau akan pulang ke apartemen pukul sembilan malam," Kogoro melaporkan kegiatan pengintaiannya.


"Saya juga sudah meretas ponsel beliau, dan saya tidak melihat adanya aktivitas mencurigakan seperti melakukan telepon mesra, percakapan teks saling menggoda, atau pun pertemuan rahasia dengan pria lain!" lanjut Kogoro.


"Bagaimana saat malam hari? Bisa saja istriku berkomunikasi dengan pria idaman lainnya saat malam hari saja!" kata Voren.


"Bagaimana jika dia punya ponsel lain? Zaman sekarang sudah hal yang wajar seseorang punya lebih dari satu ponsel," Doni menyela.


Kogoro menggeleng, sementara kedua pria yang duduk di hadapannya telihat memasang ekspresi serius.


"Saya sudah memastikan sendiri, istri Anda hanya punya satu ponsel. Saat saya bertanya apakah beliau punya nomor lain yang bisa saya hubungi jika nomor ponsel beliau tidak aktif, istri Anda mengatakan dengan jelas bahwa ia hanya punya satu nomor telepon. Ponselnya hanya satu dan hanya tersedia satu slot kartu telepon!" Kogoro menjelaskan.


"Lalu saat saya tanya mengapa teleponnya selalu di nonaktifkan saat jam sembilan? Beliau menjawab, beliau harus beristirahat karena seharian sudah bekerja," lanjut Kogoro.


Voren dan Doni saling melemparkan pandangan.


"Apa Anda mau saya memperpanjang pengintaian saya?" tanya Kogoro.


"Bagaimana?" Doni mengarahkan pandangannya pada Voren.


Voren nampak diam dan berpikir.

__ADS_1


"Aku rasa tidak perlu, terima kasih atas kerja keras Anda, Pak Kogoro," kata Voren.


"Hoho, itu sudah menjadi pekerjaan saya! Saya ini ahlinya mengungkap kasus perselingkuhan! Mau seperti apa pun bentuk perselingkuhan, saya sudah khatam!" Kogoro menepuk dadanya dengan penuh kebanggaan.


Voren mengulas senyumnya sementara Doni bisa menangkap bahwa sebentar lagi ia akan terkena badai amukan Tuan Voren yang jelas merasa tidak puas dengan hasil kerja detektif yang disewa oleh Doni.


...~...


Badai pasti berlalu. Badai pasti berlalu. Kalimat itu menjadi mantra bagi Doni yang saat ini harus menghadapi cecaran Tuan Voren yang jelas melontarkan kalimat-kalimat komplain atas kerja Doni.


"Detektif swasta ternama ahli membongkar perselingkuhan! Detektif salah alamat yang katamu kinerjanya luar biasa! Detektif alamat palsu yang benar-benar membuat orang tersesat dalam kesesatan yang benar-benar menyesatkan!" cecar Voren sambil menatap sinis Doni yang sibuk mengemudikan mobil.


"Istriku jelas-jelas mengatakan bahwa dia memiliki pria idaman lain, bahkan sampai mengubah penampilannya juga demi pria idaman lain! Dan detektif buta peta itu bilang istriku tidak punya pria idaman lain?!" Voren masih mencecar Doni.


"Detektif peta palsu itu bahkan sampai meretas ponsel istriku namun tidak mendapatkan apa-apa! Itu artinya istriku jauh lebih pintar dari detektif konyol itu! Dia benar-benar pandai menyembunyikan pria idaman lainnya hingga bisa mengecoh detektif banyak cingcong itu, Doni!" lanjut Voren.


Doni benar-benar hanya bisa diam dan fokus mengemudi. Doni sungguh baru menyadari bahwa Nona Velan dan Tuan Voren benar-benar memiliki kesamaan dalam hal cecar-mencecar.


Kata orang jodoh itu kan cerminan diri, apakah mereka sejatinya berjodoh ya? Batin Doni.


"Hihh! Betul-betul kau ya, Doni! Kau itu sebenarnya mencari detektif swasta atau komedian tunggal?! Sungguh lucu sekali detektif pelawak itu! Banyak bicaranya tapi hasil kerjanya tidak ada! Sungguh menyebalkan! Doni, lebih baik kau saja yang menyelidiki pria idaman lain istriku itu!" omel Voren.


"Saya, Tuan?" tanya Doni keheranan.


"Ya kau lah! Masa' aku?!" celetuk Voren dengan kesalnya.


Doni menghela napas berat yang harus pandai-pandai disembunyikannya.


Sebenarnya Nona Velan itu benar-benar punya pria idaman lain atau tidak sih?


Sungguh merepotkan sekali, batin Doni.


...~...

__ADS_1


__ADS_2