
Teriknya matahari sama sekali tidak dihiraukan oleh Velan, ia berjalan menerobos ke perkampungan yang nampak temaram padahal hari masih siang. Rumah-rumah yang rapat dan kumuh itu berada di gang yang sempit, hampir semua terbuat dari kayu dan nampak sudah reyot dimakan waktu.
Kali ini Velan mendatangi rumah salah satu paranormal yang direkomendasikan salah satu forum mistis. Jika Madam Yue merupakan pakar perjodohan gaib yang mampu menjodohkan secara instan, maka lain halnya dengan paranormal yang kali ini disambangi oleh Velan.
Mbah Bucin, begitulah para anggota situs forum mistis menyebut paranormal kondang ahli pemikat lawan jenis ini. Kesaktiannya konon mampu membuat lawan jenis menjadi budak cinta secara instan. Itulah sebabnya paranormal itu dipanggil Mbah Bucin.
Para pelanggan Mbah Bucin kebanyakan adalah wanita penjaja kenikmatan sesaat yang memerlukan pemikat untuk mewiraswastakan kemolekan tubuh mereka supaya laris manis.
Bagi Velan, hanya ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk mendapatkan cinta suaminya secara instan. Velan tidak mungkin bisa mengalahkan pesona Soraya yang sejak masih berbentuk janin pastilah sudah cantik paripurna. Oleh karena itu, meminta bantuan secara gaib pun dipilih oleh Velan untuk memenangkan hati suaminya.
Yah, namanya juga usaha! Lagipula cara yang dilakukan Velan ini tentu saja benar. Sebab lawan jenis yang akan dipikat oleh Velan adalah suaminya sendiri, bukan suami orang lain. Masalah benar atau salah itu tergantung sudut pandang saja. Sesama manusia tentu tidak bisa saling menghakimi.
Setelah mengantre kurang lebih selama hampir satu jam lamanya, kini giliran Velan pun tiba untuk menemui Mbah Bucin. Asisten Mbah Bucin bernama Cici, Cici sendiri merupakan wanita berperawakan bongsor yang ramah.
"Silakan masuk, Mbak," kata Cici mengenali pasien Mbah Bucin yang datang, sebab sebelumnya sudah reservasi secara daring sebelum melakukan kegiatan luring alias tatap muka dengan Mbah Bucin.
Cici membawa Velan menuju ke kamar yang nampak tertutup. Cici mengetuk pintu kamar dan membukakan pintu untuk Velan. Velan memasuki ruangan bercat ungu, dengan karpet bulu yang juga berwarna ungu.
Mbah Bucin memiliki perawakan yang gemuk, memakai kebaya berwarna ungu dengan kain jarik. Rambutnya yang hitam disanggul dengan sanggul berbentuk cobek batu besar berhiaskan tujuh buah kembang goyang berwarna emas serta bunga melati kuncup yang dironce. Wajahnya didempul dengan riasan yang tebal.
"Mbah, ini Mbak Velan, yang mau konsultasi," kata Cici.
Mbah Bucin mengamati Velan kemudian mengulas senyum ramah. Cici segera meninggalkan Velan dan Mbah Bucin untuk bicara empat mata.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Mbah Bucin.
"Mbah, saya dengar konon kabarnya, Mbah bisa membuat orang menjadi budak cinta secara instan?" tanya Velan.
__ADS_1
"Yah, tidak bisa dibilang instan, sih," jawab Mbah Bucin seraya tertawa. "Semua butuh proses, tapi yang pasti jauh lebih cepat daripada hal-hal yang alami! Karena kita di sini dibantu dengan hal-hal yang bersifat gaib," Mbah Bucin melanjutkan perkataannya.
Mbah Bucin bisa melihat sorot mata Velan nampak skeptis.
"Mbah, tapi apa benar target yang diinginkan akan benar-benar menjadi budak cinta?" tanya Velan.
Mbah Bucin tertawa, lalu menepuk dadanya berkali-kali. "Mbak, saya ini bukan satu dua hari berkecimpung dalam dunia paranormal ini! Pasien saya itu banyak dan bukan kaleng-kaleng! Mulai penjaja cinta satu malam dari berbagai level sampai para wanita simpanan, mulai dari simpanan pria kelas teri hingga pria kelas kakap!" Mbah Bucin begitu berapi-api dalam menjelaskan portofolionya.
"Apa kau tahu, klien saya itu ada yang simpanannya jenderal bintang tiga loh! Simpanan anggota dewan juga banyak! Kalau kau tahu, anggota dewan yang wajahnya sering masuk berita di televisi, yang dari komisi YY itu, itu simpanannya klien saya!" lanjut Mbah Bucin.
"Belum lagi, wanita-wanita simpanan pengusaha kaya raya! Sampai ada perang itu antara istri sah dengan wanita-wanita simpanan itu saat tahu suaminya direbut!" Mbah Bucin menceritakan kisah suksesnya untuk meyakinkan para calon pasien.
"Maaf Mbah, saya tidak bermaksud meragukan Mbah, hanya saja saya sedang dikejar tenggat waktu," kata Velan mencoba menjelaskan.
"Tenggat waktu?" tanya Mbah Bucin.
Mbah Bucin mengulas senyumnya.
"Anda maunya yang bagaimana? Saya di sini menawarkan banyak paket-paket yang kiranya bisa jadi bahan pertimbangan Anda," kata Mbah Bucin seraya terkekeh.
"Paket?" tanya Velan seraya mengerutkan alisnya.
"Ya, semua paket-paket ini berkaitan dengan harga yang harus dibayar! Paket-paket ini tentunya bukan paket kaleng-kaleng!" kata Mbah Bucin dengan tatapan penuh makna.
Velan kembali melemparkan tatapan skeptis yang membuat Mbah Bucin harus mengeluarkan penawaran menyenangkan untuk calon pasiennya ini.
"Coba ceritakan masalah Anda ini apa, sehingga paket yang akan saya tawarkan bisa menjadi solusi Anda, daripada saya menjelaskan panjang lebar! Mengingat banyaknya pasien yang sudah mengantre untuk mendapatkan pelayanan saya," Mbah Bucin melemparkan umpan kepada Velan.
__ADS_1
Velan ragu, apakah ia harus menceritakan masalah yang saat ini tengah melandanya? Ia harus bersaing dengan wanita yang akan merebut Voren. Wanita yang selama ini menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Velan. Melawan seorang wanita yang menjadi cinta pertama Voren tentu bukan hal yang mudah bagi Velan. Terlebih selama ini Voren sampai mendustainya dengan mengaku tidak tertarik pada wanita demi menutupi perselingkuhannya dengan Soraya. Velan kembali berpikir, ia tentu tidak boleh mengungkap identitasnya atau pun identitas Voren dengan tujuan untuk menjaga nama baik. Ia tentu tak mau serta merta menceritakan hal ini kepada Mbah Bucin. Tidak ada jaminan Mbah Bucin akan merahasiakan identitas setiap pasiennya. Contohnya saja Mbah Bucin tanpa ragu menceritakan wanita-wanita simpanan anggota dewan!
"Begini Mbah, saya ini ingin terlihat lebih menarik dan sedap dipandang oleh pria karena saya merasa sama sekali tidak menarik! Yah, saya maunya pria yang melihat saya itu tidak bisa menolak kehadiran saya! Itu bagaimana, Mbah? Bisa?" tanya Velan.
Mbah Bucin tertawa dengan tawanya yang melengking membuat Velan terkesiap dan bergidik ngeri.
"Hoho!" tawa Mbah Bucin akhirnya terhenti.
"Itu mudah sekali, Mbak! Saya bisa menawarkan beberapa paket, mulai dari yang ekonomis sampai yang premium! Semuanya bisa disesuaikan dengan anggaran Anda," kata Mbah Bucin.
"Serius, Mbah?" tanya Velan.
"Apa saya terlihat seperti orang yang bercanda?" Mbah Bucin balik bertanya.
"Yah, sebenarnya ya, saya ini tidak mematok harga, hanya saja para pasien harus paham bahwa pekerjaan saya ini tidak mudah! Banyak sajian-sajian yang harus dipenuhi dan ritual-ritual rumit yang harus dilakukan! Karena pada dasarnya ritual tersebut bertujuan untuk meminta kepada rekan-rekan gaib yang kiranya bisa membantu untuk mencapai tujuan yang diinginkan," Mbah Bucin menjelaskan.
"Manusia saja, kalau ada maunya pasti akan mendapat entertain kan? Hal-hal gaib juga membutuhkan hal-hal semacam itu! Simbiosis mutualisme, kira-kira seperti itu, Mbak," lanjut Mbah Bucin.
Mbah Bucin masih melihat bahwa Velan begitu skeptis terhadapnya.
"Tapi ya, itu kembali lagi pada keyakinan Anda! Setiap hal yang diinginkan pasti butuh modal untuk mendapatkannya! Ada rupa, ada harga," lanjut Mbah Bucin.
"Begitu ya Mbah, kalau begitu, bisakah Mbah menjelaskan pada saya tentang paket ekonomis?" tanya Velan.
Mbah Bucin kembali mengulas senyumnya. Orang yang skeptis hanya perlu diyakinkan saja. Karena pada hakikatnya semua hal tergantung pada apa yang diyakini.
...~...
__ADS_1