
Seorang pria berpenampilan rapi memasuki sebuah kamar hotel begitu seorang pria membukakan pintu kamar tersebut. Pria itu mengulas senyum ramah dan menjabat tangan pria yang menyambutnya.
"Oh wah, Anda tampan sekali," puji pria berpenampilan rapi itu.
Doni mengulas senyumnya mendapat pujian dari pria tersebut.
"Terima kasih sudah datang kemari, mari ikuti saya," kata Doni.
Pria berpenampilan rapi itu langsung terpana saat melihat sosok pria lain yang sedang duduk menunggu di sofa. Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali, tak percaya dengan netranya sendiri. Pria di sofa itu begitu tampan dalam balutan jas berwarna biru gelap. Rambutnya hitam, tebal, dan tertata rapi, begitu kontras dengan kulit putihnya yang terlihat begitu lembut dan sehat tanpa ada tanda-tanda penuaan.
Sungguh mengagumi ketampanan pria itu bak mengagumi lukisan di museum!
Apa dia selebriti? Aktor? Tampan sekali! Bahkan lebih tampan dariku! Batin pria itu.
Pria itu segera mengakhiri keterpanaannya. Ia datang kemari untuk bekerja, bukan untuk mengagumi.
"Jadi, siapakah klien saya sekarang? Apa kita akan melakukannya bertiga?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Tidak, Tuan, kami mengundang Anda kemari untuk mengajak Anda berdiskusi mengenai beberapa hal. Seperti yang kami tahu bahwa Anda memiliki latar belakang yang begitu memukau dalam bidang yang Anda geluti," jawab Doni.
Voren menatap skeptis ke arah pria panggilan yang dipanggil Doni. Apa lagi-lagi Doni memanggil komedian tunggal?
"Pria ini adalah pria panggilan nomor satu di agensinya, Tuan," kata Doni meyakinkan atasannya.
Doni tentu saja harus mendatangkan mentor untuk kelas privat memuaskan wanita. Sebagai pria yang sama sekali tidak berpengalaman dengan wanita, Doni jelas tidak bisa memberi informasi yang hanya beredar melalui media sosial.
Mencari referensi melalui film biru, jelas adalah tindakan yang kurang tepat karena media jenis film sudah melalui tahap penyuntingan yang terlalu berlebihan.
...~...
"Doni, menurutmu apa yang membuat istriku begitu tertarik pada Daren? Aku bahkan lebih tampan dari Daren! Daren bahkan tidak punya dua lesung pipi sepertiku!" kata Voren.
"Aku bahkan memiliki tubuh yang lebih seksi dari Daren! Aku tidak memiliki keriput, padahal aku lebih tua daripada Daren!" lanjut Voren.
"Menurut pandangan saya, Tuan Daren lebih berpengalaman dengan wanita! Apalagi menurut Anda, Tuan Daren dulunya adalah pria yang gemar berganti kekasih! Itu artinya Tuan Daren sangat paham bagaimana menaklukkan wanita! Pelayanan Tuan Daren pasti sangat memukau makanya Nona Velan sampai tergila-gila seperti itu!" beber Doni.
"Pelayanan? Pelayanan apa maksudmu?" tanya Voren.
"Tuan, apakah Anda pernah mendengar sebuah istilah, para pria yang baik pergi ke surga sedangkan para pria yang nakal memberimu surga?" tanya Doni.
Voren terkesiap mendengar pertanyaan Doni.
"Jika Anda adalah pria baik yang pergi ke surga maka Tuan Daren adalah pria nakal yang sudah memberi surga untuk Nona Velan! Itu artinya, Anda harus berusaha menjadi pria baik yang pergi ke surga dan juga memberi surga untuk Nona Velan!" Doni menjelaskan.
"Jadi, apa yang harus kulakukan untuk pergi ke surga dan memberi surga itu, Doni?" tanya Voren.
"Kita minta saja kisi-kisi dari pemegang kunci surga dunia, Tuan!" jawab Doni diplomatis.
...~...
"Saya ini sudah melayani berbagai macam wanita, mulai dari wanita yang amatiran hingga profesional, dari wanita yang junior hingga super senior! Semua karakter wanita, saya sudah paham!" pria itu menjelaskan portofolionya secara singkat.
"Bagaimana dengan wanita yang keras kepala, kasar, dan brutal?" Voren mengajukan pertanyaan.
"Tuan, kunci utama untuk menghadapi wanita adalah dengan kesabaran dan kelembutan!" jawab pria itu.
"Anda pasti pernah mendengar istilah bahwa wanita selalu ingin dimengerti! Karena wanita memang seperti itu! Mau bagaimana pun karakternya, hanya itu saja poin utamanya!" pria itu menjelaskan.
"Manjakan wanita dengan kelembutan Anda, maka Anda pasti akan sukses untuk mendapatkan hatinya!" lanjut pria itu.
"Cepat tunjukan saja, apa yang harus dilakukan untuk memanjakan wanita!" kata Voren.
__ADS_1
"Baiklah, kita langsung mulai saja prakteknya!" sahut pria itu.
"'Doni, kau saja!" perintah Voren.
"Tuan, Anda lebih berhak daripada saya!" Doni menolak.
"Kemarilah, tidak apa, saya tidak akan menggigit Anda walaupun sebenarnya ingin," pria itu terkekeh.
Voren bergidik ngeri saat pria itu mengundangnya untuk naik ke atas tempat tidur.
"Tolong ingat baik-baik setiap detailnya, semua ini saya dapatkan dari pengalaman pribadi dan sejujurnya ini pertama kalinya saya membagikan hal ini kepada orang lain, terutama klien saya!" kata pria itu seraya terkekeh.
"Baiklah," sahut Voren. "Tapi tolong jangan terlalu dekat, saya kurang nyaman!"
"Oh, baik, baik," sahut pria itu.
"Anda sungguh belum pernah menyentuh wanita mana pun?" tanya pria itu pada Voren.
"Kalau saja saya pernah menyentuh wanita, saya tidak mungkin repot-repot mengundang Anda kemari," sahut Voren dengan kesalnya.
"Oh waah, Anda benar-benar pria yang sangat konservatif! Jangan-jangan Anda masih perjaka!" tebak pria panggilan itu.
"Aku bukannya orang yang konservatif, hanya saja, aku sangat memegang teguh prinsip!" sahut Voren membela diri.
"Oh, waah, lalu bagaimana Anda memenuhi kebutuhan biologis Anda? Apakah selama ini Anda selalu bersolo karir? Hehe," pria panggilan itu terkekeh.
Voren mencebik, ia melotot sinis ke arah Doni yang cepat-cepat menyembunyikan senyumnya.
"Bisakah Anda tidak mengorek-ngorek kehidupan pribadi saya? Mau saya bersolo karir atau pun membentuk grup itu sungguh bukan urusan Anda!" sergah Voren.
"Oh maaf, maaf, semua hanya intermezo, Anda jangan terlalu kaku begitu! Wanita suka dengan pria yang punya selera humor yang receh! Terlebih saat berada di tempat tidur! Membuat wanita merasa nyaman adalah kunci sukses di atas ranjang!" pria panggilan itu menjelaskan.
Voren segera naik ke tempat tidur, pria panggilan itu mengulas senyumnya.
"Anda benar-benar luar biasa tampan, dengan wajah ini Anda bisa dengan mudah menaklukkan hati wanita! Bahkan sepuluh wanita sekaligus siap bersedia Anda gilir!" puji pria panggilan itu.
Haha, sepuluh?! Satu wanita saja menolaknya! Batin Doni sambil berusaha mati-matian menyembunyikan senyumnya.
"Jadi, yang harus Anda lakukan adalah kontak mata yang membangkitkan gairah! Seperti ini," pria itu memberi contoh kepada Voren.
"Usahakan, untuk menjaga kontak mata!"
"Berkedip boleh?" tanya Voren.
"Kalau Anda bisa melepas bola mata Anda, silakan," jawab pria itu.
Pria itu menuntun hingga Voren berbaring di tempat tidur. Voren terkesiap karena sudah berada di bawah kungkungan pria itu.
Doni meneguk ludahnya menyaksikan adegan demi adegan yang diperagakan langsung oleh si pria panggilan. Doni bahkan merasa tubuhnya panas dingin sendiri.
"Pemanasan sangat penting! Ingat ya, lakukan tanpa tergesa-gesa, karena kepuasan wanita terletak pada pemanasan yang membara agar tahap selanjutnya berjalan lancar!" kata pria panggilan itu sambil membalik tubuh Voren.
"Ugh!" Voren meronta dalam kuncian pria itu.
"Posisi ini sangat bagus untuk mengunci, tapi jangan terlalu kasar, pasangan Anda bisa mati tercekik!" pria panggilan itu melepaskan kunciannya.
Voren merasa kehabisan napas, ia terbatuk-batuk heboh. Ini teknik bercinta atau mau melakukan pembunuhan berencana? Batinnya gusar.
Jika saja Doni diizinkan tertawa, Doni benar-benar ingin tertawa sambil berguling-guling hingga terkencing-kencing.
"Kalau ini posisi yang sangat bagus untuk mendapatkan sensasi lebih dan tidak membuat Anda cepat keluar! Bersetubuh sama saja seperti perang! Ada saat harus menyerang, dan banyak-banyaklah bertahan untuk memenangkan perang! Buat wanita terpuaskan lebih dulu, semakin puas wanita Anda, semakin Anda tak akan pernah bisa dilupakannya!" pria panggilan itu kembali memberi penjelasan panjang lebar.
__ADS_1
"Ingat ya, kunci sukses seorang pria di atas ranjang adalah tidak bersikap egois!" pria panggilan itu menambahkan.
Doni mendengarkan dengan saksama penjelasan sang mentor. Ia cukup ragu, apakah Tuan Voren bisa mengendalikan ego beliau mengingat pria itu adalah pria yang sangat egois.
"Nah, baiklah, kalau begitu, silakan Anda ulangi, apa yang sudah saya ajarkan."
"Doni, kemari!" perintah Voren.
Doni terkesiap, Voren mengulas senyum sinisnya. Ia harus membalas dendam karena Doni sudah tertangkap basah menertawakannya.
"Sa-saya, Tuan?!" tanya Doni tergagap.
Voren menaikkan sebelah alisnya. Doni mau tidak mau harus menjadi rekan untuk melakukan review apa yang sudah diajarkan oleh sang mentor.
Doni segera berbaring di atas tempat tidur dengan Voren yang sudah berada di atasnya. Sang mentor mengawasi dengan saksama.
"Tatap mataku, Doni!" perintah Voren.
Doni berguling menyamping lalu menarik selimut dan menyembunyikan diri.
"Doni, apa yang kau lakukan?!" tanya Voren menarik selimut yang menutupi Doni.
"Tuan, setidaknya matikan dulu lampunya!" sahut Doni malu-malu.
"Apa?!" seru Voren sambil menepuk bokong Doni. "Doni, bagaimana kau bisa berpikiran cabul begitu! Dasar laki-laki murahan!"
"Tuan, saya hanya mencoba mendalami peran!" Doni membela diri.
...~...
"Ughh!!"
Ada rasa asing yang kini menghantam tubuhnya.
"Voren! Stop!" Velan menjerit menahan pria yang saat ini sedang menyerang inti dirinya.
Voren tak peduli, ia terus memberi serangan otot tak bertulang yang membuat tubuh Velan meliuk heboh.
"Voren aku mau pipis! Ugh!"
Tubuh Velan terhempas gelombang kenikmatan, rasanya tulangnya benar-benar akan meleleh.
Perasaan apa ini?
Velan benar-benar macam tubuh tak bertulang saat Voren sudah memposisikan dirinya untuk memberi serangan utama.
Voren menyobek sebuah pengaman dan memasangnya dengan hati-hati sesuai dengan apa yang sudah dipelajarinya. Sungguh tidak praktis sih, tapi mau bagaimana lagi?
"Velan, apakah Daren juga melakukan ini padamu?" bisik Voren tepat di telinga Velan.
Velan menatap Voren yang kini mulai memasuki dirinya. Rasa sakit yang tak tertahankan mengoyaknya tanpa ampun.
Voren mengerutkan keningnya saat melihat noda darah yang muncul.
"Velan, kau dan Daren tidak pernah?" tanya Voren keheranan.
Velan hanya bisa meneteskan airmatanya. Tubuhnya bergetar merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.
Voren membawa Velan ke dalam dekapannya, membiarkan keheningan kembali menyergap mereka.
...~...
__ADS_1