Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E08


__ADS_3

Taki, Toro, dan Doni segera memasuki lift yang akan membawa mereka bertiga ke lantai dasar. Di dalam lift, Taki dan Toro saling lempar pandangan.


"Mas Bro, apa adik ipar benar-benar mau berinvestasi dengan kami?" tanya Taki pada Doni.


"Iya, Mas Bro, jangan sampai kami cuma diberi harapan palsu," Toro menimpali.


"Pak Taki, Pak Toro, Tuan Voren adalah pria yang sangat memegang kata-katanya sendiri. Beliau adalah tipe orang yang sangat menghargai orang-orang yang memiliki mimpi besar dan mendedikasikan diri untuk meraih impian," Doni menjelaskan.


"Wah, adik ipar sungguh pria yang berhati mulia," puji Toro.


"Namun tetap masih dalam konteks bisnis, kerja sama saling menguntungkan," Doni menambahkan.


"Ah iya, adik ipar suka berinvestasi ya?" tanya Taki.


"Benar, Tuan Voren gemar berinvestasi daripada menjadi pria yang hanya sekadar rajin menabung," jawab Doni.


"Dan, melihat Tuan Voren begitu serius menanggapi kalian, itu artinya Tuan Voren melihat potensi besar yang ada pada kalian. Dengan demikian, saya berharap kalian bisa memenuhi ekspektasi Tuan Voren," lanjut Doni.


Taki dan Toro menyeringai, entah mengapa mereka langsung merasa begitu bersemangat usai mendapat wejangan dari asisten pribadi adik ipar mereka ini.


Mereka bertiga keluar dari lift, berjalan menyusuri lobi yang dipenuhi orang-orang yang menatap mereka dengan penuh tanda tanya.


"Terima kasih sudah mengantar, Mas Bro," kata Taki.


"Terima kasih Mas Bro, sampai ketemu lagi nanti," kata Toro.


"Sampai bertemu lagi, Pak Taki, Pak Toro," Doni menjabat tangan kedua pria itu bergantian.


Doni bergegas kembali ke ruangan kerja Tuan Voren.


"Pak Doni, ada tamu untuk Anda," resepsionis cantik bernama Ajeng menghentikan langkah Doni.


"Tamu untuk saya?" tanya Doni.


"Tamu Pak Doni, menunggu di ruang tamu," jawab Ajeng.


Doni menautkan kedua alisnya, ia bahkan tidak punya temu janji dengan siapa pun.


Doni bergegas menuju ke ruang tamu untuk menemui tamunya. Begitu membuka pintu ruang tamu, dua gadis muda langsung menyambut kemunculan Doni dengan suka cita.


"Kejutan!" dua gadis muda itu berseru heboh.


"Dini, Dinda," Doni terkejut mendapati dua keponakannya.


Kedua gadis muda itu langsung mengambil tangan Doni dan bergantian mencium punggung tangan Doni. 


Dini dan Dinda adalah keponakan Doni dari adik Doni yang bernama Nada. Keduanya merupakan kakak beradik yang kini sudah mengenyam bangku kuliah. Keduanya memiliki postur tubuh bongsor dan berkulit eksotis karena mengikuti gen ayah mereka.


"Ada apa kalian datang kemari? Memangnya kalian tidak kuliah?" tanya Doni. "'Abah sudah mahal-mahal membayar uang kuliah kalian!" kata Doni.


"Iya Abah, kami benar-benar kuliah dengan sungguh-sungguh! Minggu depan kami baru mulia kuliah!" sahut Dinda.


"Makanya kami datang menemui Abah sekalian memberi kejutan untuk Abah!" Dini menyerahkan sebuah kotak untuk Doni.


"Selamat ulang tahun, Abah!" seru dua gadis itu serempak.


Doni memutar bola matanya.


"Dinda, Dini, sekarang bukan ulang tahun Abah," kata Doni.

__ADS_1


"Loh, tapi bukannya di KTP Abah, ulang tahun Abah sekarang ya?" tanya Dini.


"Iya, kata Bunda Nining Abah ulang tahunnya sekarang!" sahut Dinda.


"Akte kelahiran Abah tertukar dengan akte kelahiran Bunda Nining! Maklum dulu kakek dan nenek buat akte kelahirannya kolektif, jadi tanggal lahirnya banyak yang tertukar," Doni menjelaskan.


"Yah, penonton kecewa," cibir Dini.


"Yah, orang zaman orde baru ya begitu," cibir Dinda.


"Sudah, sudah, Abah berterima kasih kalian sudah memberi kado untuk Abah! Sebenarnya, asal kalian serius kuliah, IP cumlaude, dan lulus cepat, itulah kado yang paling Abah minta dari kalian," kata Doni.


"Tapi, kakek dan nenek mau Abah segera menikah," kata Dini.


"Iya, aku dengar, nenek mau menjodohkan Abah dengan anaknya Pak Haji Imam," kata Dinda.


"Tapi, kakek maunya Abah dijodohkan dengan anaknya Pak Zainal," sahut Dini.


"Tapi, teman-teman Bunda Novia katanya banyak yang naksir sama Abah," Dinda terkekeh.


"Abah ini memang rebutan ya," sahut Dini.


"Aduh kalian tidak usah ikut campur masalah perjodohan Abah! Kalian ini masih kecil! Kuliah yang benar!" sergah Doni.


"Ih Abah, kami ini bukan anak kecil lagi!" cibir Dini.


"Kami ini anak kecil yang bisa bikin anak kecil," Dinda menimpali lalu tertawa diikuti Dini.


"Dinda! Dini! Jangan bicara yang aneh-aneh! Abah beritahu ya, Abah tidak mau dijodoh-jodohkan! Kalau sudah waktunya, nanti Abah pasti akan menikah!" kata Doni.


"Kapan itu, Abah?" tanya Dini.


"Apa jangan-jangan Abah sudah punya pacar ya? Atau jangan-jangan Abah sudah nikah siri? Makanya tidak mau dijodohkan!" ujar Dini.


"Aduh, kalian ini!" keluh Doni.


Dinda dan Dini terkekeh geli.


"Oh ya Abah, ngomong-ngomong, bisakah Abah membelikan kami tiket konser?" tanya Dinda.


"Iya Abah, ini permohonan seumur hidup," kata Dini.


"Oh, jadi kalian sampai datang mengunjungi Abah, memberi Abah kado, karena kalian ingin tiket konser?" tanya Doni penuh selidik.


Dinda dan Dini saling berpandangan, paman mereka ini memang pria yang cerdas.


"Abah, meski kami sudah menabung, tapi masih belum cukup!" kata Dinda.


"Iya Abah, kami sudah bela-belain selama enam bulan tidak ada jajan, agar bisa membeli tiket konser, tapi ternyata tiket konsernya mahal sekali! Itu baru tiket, belum beli album dan marchendise!" kata Dini.


"Abah!" Dinda dan Dini memelas pada Doni.


Bagi kedua gadis itu, paman mereka ini adalah harapan mereka satu-satunya. Pria lajang, sukses, dan berduit yang begitu dibanggakan oleh keluarga mereka.


"Baiklah, Abah akan membelikan tiket konser untuk kalian berdua, tapi dengan beberapa syarat mutlak yang harus kalian penuhi!" kata Doni.


"Kami akan kuliah yang benar, dapat IP cumlaude, lulus kuliah cepat," kata Dinda.


"Dapat pekerjaan yang bagus," Dini menambahkan.

__ADS_1


"Satu lagi," kata Doni.


"Kami tidak akan membuat masalah," sahut Dinda dan Dini serempak.


"Bagus," kata Doni.


"Terima kasih, Abah!" seru Dinda dan Dini langsung merangkul Doni.


"Sudah, sudah, kalian pulanglah! Abah harus kembali bekerja," kata Doni melepas rangkulan dua keponakannya.


"Oke, Abah, selamat bekerja!" sahut mereka berdua.


Dinda dan Dini kembali mencium punggung tangan Doni sebelum mereka pergi. Tidak sia-sia mereka mendatangi paman mereka itu demi tiket konser boyband idola mereka.


Doni mengantar kepergian Dinda dan Dini. Lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah kotak yang dibawanya. Entah apa kado yang diberikan keponakannya itu.


Doni bergegas menuju ke lift, di dalam lift ia berpapasan dengan Dinar.


"Kau ulang tahun ya, Doni?" tanya Dinar memelototi kotak hitam dengan pita berwarna perak itu.


"Oh, ya, bisa dianggap begitu," jawab Doni.


Dinar mengulas senyumnya, namun dalam hati ia bertanya-tanya, terlebih saat melihat keakraban kedua gadis itu dengan Doni.


Siapa dua gadis muda yang tadi menjadi tamu Doni?


Apakah mereka para sugar baby-nya Doni?


Dinar mencuri pandang ke arah Doni yang nampak mengulas senyum sambil memandangi kotak kado tersebut. Dan itu sungguh membuat Dinar merasa kesal.


...~...


"Apa yang kau bawa itu, Doni?" tanya Voren begitu Doni memasuki ruangan kerjanya.


"Oh, ini hadiah dari keponakan saya, Tuan," jawab Doni.


"Apa sekarang kau berulang tahun?" tanya Voren keheranan.


"Ini hadiah sogokan, Tuan, keponakan saya ingin dibelikan tiket konser," jawab Doni.


"Coba aku mau melihat, apa isinya? Jangan bilang makanan seperti dulu, gara-gara kau tidak membukanya akhirnya menimbulkan bau busuk!" kata Voren.


"Baik, Tuan," jawab Doni sambil menyeringai karena merasa bersalah saat lupa membawa pulang hadiah yang dulu pernah diberikan oleh keponakannya itu.


Doni membuka pita perak dan tutup kotak. Ia terperangah melihat isi kotak tersebut. Ada sebuah borgol, pecutan, alat kontrasepsi pria dengan aneka tekstur, hingga mainan seksual. 


Semua isi kado tersebut membuat Doni benar-benar kehilangan kata-katanya.


...~...


"Dinda, menurutmu, apakah Abah suka dengan hadiah yang kita berikan ya?" tanya Dini.


"Mungkin Abah akan suka, karena iklan di online shop mengatakan, isi mistery box itu adalah barang-barang yang disukai pria dewasa," jawab Dinda.


"Kira-kira isinya apa ya? Kita bahkan tidak membukanya karena begitu datang langsung kita bawa ke kantor Abah," kata Dini.


"Yah, semoga saja bermanfaat untuk Abah!" Dinda menimpali.


...~...

__ADS_1


__ADS_2