Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E65


__ADS_3

Pak Bimo, sekretaris Tuan Alren Lazaro membukakan pintu dan mempersilakan Voren untuk memasuki ruang kerja dari Presiden Direktur Emperor Grup. Voren segera duduk berhadapan dengan pria paruh baya yang kerap bersikap kaku dan sedingin es.


"Apa yang membawamu kemari, Voren?" tanya Alren.


Voren tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Ia segera meletakkan sebuah amplop putih bertuliskan "Pengunduran Diri" yang membuat Alren menatap tajam ke arah Voren.


Alren terperangah namun sebisa mungkin pria itu menyembunyikan keterkejutannya. Memasang wajah poker face sudah menjadi tuntutan untuk pria itu.


"Mengapa kau mengundurkan diri?" tanya Alren.


"Sebuah keharusan," jawab Voren singkat.


"Apa yang melatarbelakangi pengunduran dirimu, Voren?" tanya Alren lagi.


"Pak Presdir, bukankah Anda pernah bertanya kepada saya, apakah saya sudah pantas untuk mengisi posisi Presiden Direktur? Dan inilah jawaban saya!" jawab Voren dengan tegas.


Alren menghela napas berat, pria paruh baya itu masih menatap tajam ke arah Voren.


"Voren, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Alren.


"Saya yakin, Pak Presdir," jawab Voren dengan mantap.


Voren bisa melihat ayahnya terlihat kurang puas dengan pernyataan Voren.


"Saya merasa belum bisa memenuhi ekspektasi Anda!  Oleh karena itu, saya pikir, lebih baik saya menunjukkan hal lain daripada hanya sekadar memperebutkan sofa Anda," jawab Voren diplomatis.


Anak nakal ini, geram Alren.


Voren bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, saya pamit undur diri," Voren menunduk lalu bergegas pergi keluar dari ruang kerja ayahnya.


Alren mengusap wajah dengan gusar lantaran merasa kesal dengan anak laki-lakinya yang kerap bersikap semaunya sendiri.


...~...


Daren melangkah tergesa-gesa menuju ke ruangan kerja Voren. Doni segera mempersilakan pria itu untuk memasuki ruang kerja atasannya. Daren benar-benar terkejut mendengar kabar pengunduran diri Voren yang sudah tersebar di Emperor Grup.


"Voren, apa kau serius mengundurkan diri?" tanya Daren.


Voren yang berdiri di depan jendela ruang kerjanya berbalik, lalu berjalan menghampiri Daren.


"'Doni, dasi," perintah Voren.


Doni dengan sigap menyerahkan sebuah dasi ke tangan Tuan Voren.


"Voren, aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat bagimu untuk memasangkan dasi untukku," Daren menolak.


"Waktu yang tidak tepat bagimu untuk memakai dasi adalah saat kau mengenakan piyama, Daren!" Voren segera mengalungkan dasi ke leher Daren dan mulai membentuk simpul.


"Voren, kau pasti bercanda tentang pengunduran dirimu!" tukas Daren.


"Daren, aku bukan orang yang suka bercanda terhadap pekerjaan," kata Voren sambil menarik simpul dasi di leher Daren.


"Kenapa, Voren?" tanya Daren.


"Aku mundur, agar kau bisa maju menjadi Presiden Direktur, Daren," jawab Voren sambil merapikan dasi yang terpasang di leher Daren.


"Selesai," kata Voren.


"Ya, tapi kenapa, Voren?!" tanya Daren.


"Ini permintaan dari istriku, em, maksudku, mantan istriku," jawab Voren.


"Kekasihmu begitu mencintaimu dan ingin melihat kau menjadi Presiden Direktur agar dia menjadi Nyonya Presiden Direktur!" lanjut Voren dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Voren, aku dan Velan tidak punya hubungan seperti itu!" kata Daren.


"Daren, kau tidak perlu berbohong seperti itu! Mantan istriku bahkan bersikeras meminta perceraian agar dia bisa bersamamu!" lanjut Voren.


"Lagipula, dengan begini, aku tidak perlu menjadi saksi di pernikahanmu nanti! Kau bisa mencari saksi yang lain," tukas Voren sambil mengulas senyumnya.


"Voren!" sergah Daren.


Daren merasa kesal lantaran Voren memojokkannya seperti ini. Voren jelas melakukannya secara sengaja agar Daren merasa bersalah.


"Voren, aku sungguh tidak punya hubungan apa pun dengan Velan! Kami bertemu dan sepakat menjalin kerja sama! Velan ingin aku berpura-pura menjadi kekasihnya, agar suaminya segera menceraikannya lantaran ia mengaku tidak mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya!" kata Daren.


Daren membuka kalungnya dan menyerahkan sebuah cincin pada Voren.


"'Velan memberiku cincin ini sebagai bentuk kesepakatan kami!" Daren mencoba menjelaskan.


"Daren, terima kasih sudah mencoba menjelaskan padaku. Toh pada akhirnya, aku dan istriku sudah selesai karenamu," kata Voren.


"Voren, apa kau sungguh menyalahkanku atas perceraianmu?" tanya Daren.


"Menurutmu bagaimana?" Voren bertanya balik.


Voren mengulas senyumnya lagi.


"Daren, hati-hati, karma akan berlaku bagi siapa pun yang merusak rumah tangga orang, baik disengaja maupun tidak."


Daren menghela napas berat, rasa bersalah jelas menderanya.


"Daren, sudahlah, terima saja jabatan giveaway ini! Sedari awal toh, kau jauh lebih diunggulkan karena kompetensimu yang begitu diagung-agungkan! Bahkan oleh Papaku sendiri!" tandas Voren.


"Daren, aku sudah lelah karena semua usaha keras yang kulakukan selama ini sama sekali kurang mendapat apresiasi seperti yang kuharapkan! Oleh karenanya aku harus sadar diri terhadap posisiku!" lanjut Voren.


...~...


Voren memasuki unit apartemennya. Ia segera menuju ke sofa dan duduk sambil memandangi tujuh buah akuarium mini berisi ikan hias peliharaannya. Ia mengambil pakan ikan di sudut meja dan mulai menaburkan sedikit ke setiap akuarium mini. Butiran-butiran halus berwarna cokelat itu mengambang di permukaan air dan langsung dimakan dengan lahap oleh setiap ikan. Butiran-butiran pakan itu benar-benar sama persis dengan perasaan Voren saat ini, mengambang tak jelas dan terombang-ambing.


"Ya, aku akan melakukannya sendiri," sahut Voren.


"Baik, Tuan," kata Doni.


"'Kau bisa pulang sekarang, Doni," perintah Voren.


"Baik, Tuan," jawab Doni. "Kalau begitu, saya permisi," Doni segera pamit undur diri.


Voren menghela napas berat, ia mengedarkan pandangannya ke unit apartemen yang kini benar-benar hening. Padahal beberapa waktu yang lalu unit apartemen ini selalu diwarnai dengan pertengkaran antara Voren dan Velan. Keributan yang kerap terjadi di antara mereka setiap kali mereka bicara.


Voren membuka jas dan dasinya, lalu meletakkannya di sofa. Ia juga membuka sepatu untuk menukarnya dengan sandal bulu berwarna hitam yang saat ini tidak ada di bawah sofa. Biasanya sandal itu sudah ada di bawah sofa.


Voren menggeleng karena tiba-tiba teringat istrinya yang akan datang padanya untuk membawakan sandalnya.


Dia sudah tidak ada, batin Voren.


Voren menuju ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral yang tak ditemukannya di atas meja. Ia membuka lemari penyimpanan dan mendapati sekotak teh stroberi. Ia membuka dan menemukan hanya tersisa dua kantung teh di dalam kotak tersebut.


Teh stroberi yang selalu diminum oleh Velan. Voren bahkan masih mengingat dengan jelas aroma stroberi yang tertinggal saat ia berciuman dengan Velan.


Siapa yang akan menduga bahwa pagi itu menjadi pagi terakhir yang mereka lewatkan bersama sebelum Velan benar-benar pergi dengan membawa semua barang-barangnya.


"Tuan, bagaimana jika kita susul Nona Velan? Beliau pasti ada di rumah keluarganya," usul Doni.


"Doni, aku rasa tidak perlu! Karena pasti akan sia-sia saja. Istriku sangat keras kepala! Aku sungguh tidak ingin dia berakhir seperti Soraya!" tukas Voren dengan penuh kegetiran.


Ya, semenjak tragedi Soraya, Voren sungguh tidak ingin lagi memaksakan kehendaknya. Ia tidak ingin menjadi pria pemaksa yang justru akan membuat orang lain terluka.


Voren segera memanaskan air dalam teko listrik, begitu mendidih, ia segera menyeduh kantong teh dalam cangkir berwarna putih yang selalu digunakan Velan untuk minum teh. Aroma stroberi menguar, menggelitik penciumannya. Voren membawa cangkir teh itu ke dalam ruangan kerjanya.

__ADS_1


Ia berencana untuk mengepak barang-barang yang ada di ruang kerja. Ia memutuskan untuk pindah dari unit apartemennya karena ia sudah menyerahkan kepemilikan apartemen ini untuk Velan. Namun wanita itu justru menolaknya.


Voren segera mengambil kotak dan mulai memasukkan barang-barang yang ada di meja kerjanya ke dalam kotak tersebut. Saat membuka laci meja kerjanya, ia menemukan sebuah kotak berisi satu keping CD yang membuat jantungnya berdebar-debar.


Voren membuka file yang tersimpan dari kepingan CD itu melalui laptopnya. Kedua tangannya sudah bertumpu di atas meja kerjanya dan matanya sudah tertuju pada layar laptop.


Adegan dibuka dengan Voren yang saat itu sedang mematut dirinya di depan cermin dalam balutan tuksedo putih. Kemudian ia melangkah menuju ke tempat acara prosesi pernikahannya. Paman Renal dan ibunya menyambut kedatangan Voren dengan suka cita.


Adegan selanjutnya menunjukkan Velan yang terlihat begitu senang begitu selesai mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang megah. Voren terpana melihat senyum Velan yang terlihat begitu hangat ke arah kamera.


Adegan demi adegan bergulir membuat Voren terhanyut seakan sedang menyaksikan film bergenre romantis. Voren melihat dirinya yang menyematkan cincin kawin di jari manis kiri Velan. Terlihat Velan tersenyum begitu bahagia saat menyematkan cincin kawin di jari manis kanan Voren.


Voren memegangi cincin kawin yang masih tersemat di jari manisnya, meski sudah dua bulan ia dan Velan resmi bercerai.


Voren kembali menyaksikan saat ia dan Velan memotong kue bersama-sama, saling menyuapkan kue, berdansa, hingga melemparkan buket bunga kepada para tamu yang begitu antusias untuk menangkap buket bunga pengantin.


Air mata Voren mengalir tanpa disadarinya. Ia baru menyadari betapa Velan terlihat sangat bahagia saat bersamanya di hari pernikahan mereka. 


"Suamiku, kumohon jangan ceraikan aku, aku sangat mencintaimu, Suamiku! Kumohon beri aku kesempatan! Suamiku!" Velan menangis sambil memeluk kaki Voren.


Voren menangis saat mengingat hal itu. Ia menangis karena menyesal dengan keputusan yang dibuatnya saat itu. Voren memilih melepaskan istri yang mencintainya demi wanita yang sama sekali tidak mencintainya.


"Aku sudah melukaimu, tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk mengobati luka yang telah kutorehkan untukmu?" tanya Voren sambil menangis tersedu-sedu di depan layar laptop yang menampilkan wajah Velan yang sedang tersenyum hangat ke arahnya.


"Apakah kau sengaja melakukannya untuk balas dendam padaku?!"


"Kenapa kau begitu keras kepala?!"


"Kenapa kau tidak bisa memaafkanku, Velan?!"


Voren hanya bisa bermonolog di depan layar laptopnya. Rasa bersalahnya begitu besar dan amat sangat menyakitkan.


Seandainya saja saat itu Voren menerima pernikahan itu dengan sebaik-baiknya, saat ini mereka berdua pasti sangat berbahagia.


Voren membayangkan dirinya sedang mengelus perut Velan yang membesar karena kehadiran buah hati mereka.


"Mama, apa ini kakinya?" tanya Voren sambil mengelus tonjolan yang muncul di permukaan perut Velan.


"Papa, Mama rasa ini sikunya," sahut Velan.


"Wow! Mungilku aktif sekali!" Voren bersorak karena merasakan pergerakan aktif di perut Velan.


"Kalau dielus terus ya begini," sahut Velan.


"Cepatlah lahir, Mungilku," Voren menciumi perut Velan.


"Kalau lahir sekarang, bayi kita prematur, Papa!" keluh Velan.


"Maksud Papa, lahirnya kalau sudah waktunya," Voren cepat-cepat memberi klarifikasi.


"Kalau anak kita laki-laki, pasti setampan Papa ya," kata Velan.


"Hmm, harus! Kalau tidak setampan Papa, masa iya anak tetangga," cibir Voren.


"Ihh, Papa!" Velan merengek manja dalam pelukan Voren.


Tangis Voren makin tak terbendung, membuyarkan khayalan pria itu. Penyesalannya benar-benar teramat dalam. Ia telah kehilangan semua hal penting dalam hidupnya hanya karena salah dalam membuat keputusan.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu!"


Voren mengucapkan kata cinta yang selama ini tersangkut di tenggorokannya lantaran ia tidak percaya bahwa ia bisa jatuh cinta kepada Velan.


"Aku mencintaimu, Velan."


Tangis pria itu kembali pecah dalam kesendiriannya.

__ADS_1


...~...


__ADS_2