
Hujan masih begitu deras, suhu udara semakin dingin. Velan mengusap lengannya, bulu kuduknya meremang. Saat ini ia bisa melihat sorot mata Voren yang nampak menatapnya dengan tatapan memangsa.
Velan tertegun, pria ini bahkan menyebut namanya untuk pertama kali.
"Apa?! Kau mau aku bercinta denganmu?" tanya Velan dengan matanya yang membulat besar.
Voren tidak menjawab, namun pria itu terlihat meneguk ludahnya. Pria itu menahan debaran jantungnya yang menggila. Ia bahkan tidak sadar sudah mengatakan hal yang terdengar begitu murahan. Melemparkan sebuah undangan erotis kepada wanita yang saat ini masih melotot tidak percaya dengan ucapan Voren.
Voren sedang bertaruh dengan dirinya sendiri, wanita ini jelas akan menolaknya dengan sepenuh hati. Istrinya yang sudah kepincut hangatnya selimut Daren dan betapa heboh goyangan pria itu saat memuaskan sisi buas nan erotis istrinya.
Jika wanita itu menolak bercinta dengan Voren, otomatis perceraian mereka tidak akan terjadi. Kesempatan itulah yang harus dimanfaatkan oleh Voren agar istrinya berakhir dengan membatalkan perceraian mereka, lalu mereka akan hidup bersama seperti sedia kala.
"Siapa kau?! Apakah kau benar-benar Voren Lazaro? Jangan-jangan kau jin penunggu yang sedang menyerupai Voren Lazaro?!" tanya Velan.
"Apa maksudmu, Istriku?" Voren balik bertanya.
"Voren Lazaro bahkan tidak pernah menyebut namaku, dan kau baru saja menyebut namaku! Kau pasti bukan Voren Lazaro! Aku akan merapalkan semua doa yang kuingat, kau akan mati terbakar ke neraka!" Velan berseru dengan nada mengancam.
"Istriku, aku tahu namamu adalah Velandara, namun aku selalu memanggilmu istriku karena kau kan memang istriku! Apakah aku salah memanggilmu dengan sebutan istriku sementara kau memang istriku dan bukan istri orang lain?" Voren menjelaskan.
Velan menempelkan tangannya ke dahi Voren, memastikan bahwa pria itu tidak sedang demam tinggi. Voren terkesiap saat tangan Velan menempel di keningnya, degup jantungnya malah makin tak beraturan. Rasanya seperti terkena serangan jantung.
Velan segera menarik tangannya, masih mengawasi pria yang saat ini terlihat menegang.
"Istriku, aku baik-baik saja, aku tidak demam atau pun kerasukan setan!" kata Voren.
"Aku jadi semakin yakin bahwa kau bukanlah Voren Lazaro! Kau pasti jin genit penunggu hutan kan?! Mana mungkin Voren Lazaro mau bercinta denganku! Pria itu bahkan berlari seperti orang kerasukan setan ketika dulu aku menginginkannya! Yah, tapi itu dulu!" tukas Velan.
"Istriku, hentikan omong kosongmu itu! Kembali ke topik pembicaraan kita! Kau mau bercinta denganku sekarang atau tidak?!" kata Voren.
Velan menegang.
"Apa kau sedang mengancamku?" tanya Velan.
"Aku tidak sedang mengancammu, Istriku, aku hanya menawarkan pilihan untukmu! Dan aku harap kau bijaksana dalam menentukan pilihanmu karena sesungguhnya aku bukanlah seorang pria yang suka memaksakan kehendak!" jawab Voren.
"Huh, kau benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa kau mengajakku bercinta hanya karena Soraya tidak ada?! Dasar laki-laki murahan!"
"Murahan?" tanya Voren.
Voren merengkuh dagu Velan. Jempolnya mengusap lembut bibir Velan.
"Aku sungguh ingin tahu, bibir inikah yang membuat Daren tergila-gila?" tanya Voren.
__ADS_1
Voren melepas tangannya dan meraih kedua tangan Velan.
"Aku sungguh ingin tahu, bagaimana saat tangan ini menyentuh tubuh Daren?" tanya Voren.
Velan menepis tangan Voren dan menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Istriku, sekali lagi, aku tanya padamu! Apa kau mau tidur denganku sekarang?" tanya Voren.
"Apa kau sungguh akan menceraikanku jika aku bercinta denganmu sekarang?" tanya Velan.
Voren mengulas senyumnya, ia merasa sudah menang karena sudah memegang kartu As.
"Apa jaminanmu?" tanya Velan lagi.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Voren.
"Apa pria pendusta sepertimu bisa dipercaya?" Velan balik bertanya.
Voren mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan langsung menghubungi Doni.
"Sial, di sini tidak ada sinyal," keluh Voren.
"Aku tanya padamu sekali lagi, Voren Lazaro! Apa aku akan mendapatkan perceraian yang kuinginkan jika aku bersedia tidur denganmu?" tanya Velan.
Voren terdesak dengan pertanyaan dari Velan. Voren sungguh tidak menyangka bahwa negosisasi mereka akan berlangsung seruwet ini.
Voren menatap Velan yang terlihat sedang mempertimbangkan keputusan yang akan menentukan kelanjutan pernikahan mereka. Lanjut atau berhenti di sini.
Ketika menginginkan sesuatu maka harus ada yang dikorbankan. Putri Duyung bahkan mengorbankan suara indahnya demi mendapatkan sepasang kaki. Itu artinya Velan tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, aku akan tidur denganmu!" kata Velan.
Voren tertegun mendengar jawaban Velan.
"Apa?!" tanya Voren.
"Aku akan tidur denganmu! Aku akan bercinta denganmu!" jawab Velan.
"'Aku akan bercinta denganmu sekarang!" kata Velan dengan kemarahan yang menyelimutinya.
"Huh," Voren berdecih.
"Apa maksudmu dengan bersikap seperti itu?" tanya Velan.
__ADS_1
"Aku tidak mau bercinta dengan wanita yang terdengar begitu terpaksa melakukannya! Bukankah aku sudah mengatakan padamu, bahwa aku bukan pria yang suka memaksa! Aku mau kau melakukannya atas keinginanmu sendiri! Tanpa merasa terpaksa dan atas kesadaranmu sendiri," jawab Voren.
Velan menatap Voren yang mendekat ke arahnya. Velan bisa merasakan hembusan napas pria itu menyapu wajahnya.
"Lakukanlah apa yang kumau, maka akan kuberikan apa yang kau mau," kata Voren.
"Ya, aku akan melakukan yang kau mau, jadi berikan yang kumau!" tandas Velan.
Velan menegang saat Voren menyapu bibir Velan dengan jemarinya. Tangan pria itu menyusuri wajahnya lalu turun ke lehernya.
Gemuruh jantung mereka berdua terdengar begitu jelas, namun saat ini mereka mengabaikannya lantaran terfokus pada bibir mereka yang saling bertaut.
"Velan, lakukan seperti saat kau menciumku waktu itu," kata Voren.
Velan memejamkan matanya dengan air mata yang ikut mengalir turun. Voren segera menarik Velan ke atas pangkuannya dan mulai melakukan apa yang harus dilakukan.
Velan merasakan adanya ketegangan yang makin menjadi di antara mereka. Lenguhan lolos saat mereka berdua saling mengambil napas.
Tangan Voren mulai berpetualang untuk membuka apa yang bisa dibukanya.
Voren bertanya-tanya dalam hati. Seperti inikah saat Velan bercumbu dengan Daren?
Seperti inikah saat Velan berada dalam pelukan Daren?
Seperti inikah sentuhan yang diberikan Daren?
Sialan! Aku harus benar-benar melakukan hal yang lebih baik dari Daren! Voren mengumpat dalam hatinya.
Debaran jantung mereka makin menggila, setiap detik sesuatu yang bergerak melawan gravitasi meminta pembebasan diri.
"Tu-tunggu!" Velan menghentikan Voren yang kini memburu lehernya.
"Ada apa?" tanya Voren.
"Aku mau kau pakai pengaman!" sahut Velan.
Mata mereka saling bertemu. Voren jelas tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Saat ini ia sudah terlalu lapar dan ingin segera menyantap hidangan utamanya.
"Velaan," Voren merengek.
Pria itu membenamkan wajahnya di dada Velan, Velan mendorong wajah Voren dengan segenap tenaganya.
"Silakan lanjutkan dengan pengaman!" Velan bersikeras.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Voren akhirnya mengalah.
...~...