
Langit-langit ruang penatu menjadi pemandangan pertama yang dilihat oleh Velan begitu ia membuka mata. Velan menggeliat perlahan meregangkan tubuhnya, mengumpulkan serpihan-serpihan nyawa yang terpencar selagi ia tertidur. Velan terpaksa tidur di ruang penatu karena hanya ruangan inilah yang bisa ia gunakan secara eksklusif. Velan tentu saja tidak mungkin masih berbagi kamar dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Velan merasakan tubuhnya yang sakit karena hanya tidur dengan beralaskan selimut dan bantal boneka emoji berwarna kuning yang memasang ekspresi tawa bahagia. Velan benar-benar sudah membiasakan diri, terbangun sendiri tanpa ada Voren di sampingnya. Meski pria itu selalu tidur dalam posisi memunggunginya, namun bagi Velan saat itu, punggung Voren terlihat begitu indah dan menjadi alasan kuatnya untuk selalu bangun lebih pagi dari pria itu. Kemudian Velan juga selalu bersemangat saat membangunkan Voren yang terlelap bak putri salju. Rambut hitam pria itu terlihat lembut tanpa gel rambut, kulitnya yang begitu putih, cerah, bersih, tanpa noda, dan sebening kristal membuat pori-pori di kulit Velan menangis lantaran merasa insecure. Bibir tipis dan kemerahan yang membuat Velan selalu tergoda untuk mencicipinya.
"Huuh! Otakku rusak!" dengus Velan yang langsung menghambur imajinasi liarnya.
Kesal rasanya Velan masih belum bisa lepas dari bayang-bayang keindahan pria itu. Keindahan fana yang harus rela Velan lepaskan tanpa pernah sempat dicicipi oleh Velan. Keindahan pria itu sebentar lagi akan berpindah kepemilikan. Pria itu sepenuhnya dan seutuhnya menjadi milik Soraya.
"Astaga! Pagi-pagi merusak moodku saja!" gerutu Velan.
Velan segera bangkit dan melipat kembali selimut yang menjadi alas tidurnya sambil bertanya-tanya kapan tepatnya ia akan pergi meninggalkan ruang penatu dan kembali ke kamarnya lagi.
"Dana BLT segeralah cair!" Velan memohon dengan sangat.
Velan segera menuju ke kamar mandi yang terletak di samping ruang penatu. Melakukan ritual mandi pagi agar tubuhnya terasa segar. Usai mandi dan berpakaian, Velan menuju ke dapur. Ia hanya memanaskan air di teko listrik lalu menyeduh teh stroberi.
Velan pun duduk di meja makan sambil menghirup aroma stroberi yang menguar dan merebak. Velan tak jadi menyeruput tehnya lantaran melihat Voren yang keluar dari kamarnya hanya mengenakan celana bokser bermerek.
Pria itu melangkah penuh percaya diri seakan sedang melangkah di pagelaran pakaian dalam kelas dunia yang mana para modelnya mengenakan pakaian dalam lengkap dengan sayap-sayap megah.
Voren mencuri pandang ke arah Velan yang langsung memalingkan pandangan darinya. Ia segera mengambil air mineral kemasan botol yang tersusun di sudut meja dapur.
Huh, bagaimana? Tubuhku pasti jauh lebih bagus daripada tubuh pria idaman lainmu itu, kan? Voren membatin.
Tubuh ini hasil perjuangan kerasku untuk menurunkan berat badan sebanyak lima puluh kilogram! Aku juga menerapkan pola makan sehat dan menjalani diet gula dan garam yang ketat demi menjaga konsistensinya! Pria idaman lainmu itu pasti hanyalah pria berperut buncit seperti ibu hamil sembilan bulan! Voren kembali membatin sambil menarik senyum dingin ke arah Velan.
Velan hanya mengabaikan Voren yang menampilkan senyum sinis ke arahnya.
Tumben pria ini berkeliaran di rumah tanpa pakaian, Velan membatin.
Kenapa kau mengabaikanku seperti itu, Istriku? Bukankah kau sangat terobsesi dengan tubuhku? Harusnya kau langsung takjub dan memuji tubuhku yang luar biasa indah ini! Lalu kau bandingkan dengan tubuh pria idaman lainmu itu! Batin Voren sambil membuka tutup botol air mineral lalu meneguknya.
Voren bahkan membiarkan air yang diteguk tumpah ruah mengalir turun membasahi tubuhnya. Air mineral yang terasa ada manis-manisnya itu meluncur membasahi lekukan-lekukan otot dadanya yang padat dan bidang, terus turun hingga membasahi otot-otot abs-nya yang tercetak sempurna.
Kenapa kau masih belum berkomentar juga, Istriku?! Geram Voren masih dengan sengaja memuntahkan air pelan-pelan tanpa meminumnya. Minum sambil berdiri tentu saja kurang baik untuk tubuh karena akan membuat kerja ginjal menjadi jauh lebih berat.
"Hei," tegur Velan.
Aha, ini dia yang kutunggu, batin Voren.
"Ada apa, Istriku?" tanya Voren berpose seakan ia adalah model air mineral tersebut.
__ADS_1
"Apa Anda tidak bisa minum dengan benar? Lihat, lantainya jadi basah semua!" jawab Velan dengan sinisnya.
"A-apa kau bilang?" tanya Voren terperangah.
"Anda minum sampai tumpah-tumpah begitu, lantainya jadi becek! Siapa yang mau mengelapnya?" tanya Velan.
Voren terkesiap.
"Kalau Anda yang terpeleset, jatuh, dan terbentur tentu tidak masalah, karena itu salah Anda sendiri!" cibir Velan. "Kalau orang lain yang harus menjadi korban keegoisan Anda, Anda tentu saja sudah berbuat zalim!" lanjut Velan.
"Tunggu, kau lebih memerhatikan lantai yang becek?" tanya Voren keheranan.
"Tentu saja, memangnya apa lagi yang bisa kuperhatikan?!" sahut Velan.
Voren mendelik gusar, ia benar-benar merasa harga dirinya begitu terluka. Ia bahkan sudah memberanikan diri untuk tampil tanpa busana di depan wanita yang selalu melihatnya dengan tatapan memangsa. Namun wanita itu justru mengomentari lantai yang becek!
Voren menahan rasa kesalnya saat kembali ke kamar.
Apa wanita itu sudah buta?
Bagaimana dia bisa mengabaikan penampilanku yang sudah nyaris tanpa busana ini?
Wanita itu sama sekali tidak memedulikan tubuhku yang sempurna ini, pasti karena dia lebih peduli pada tubuh pria idaman lainnya!
Voren menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Bukankah dulu kau begitu terobsesi untuk menyentuhku?" Voren bermonolog di depan cermin.
"Aku bahkan masih ingat bagaimana kau menggerayangiku, menyentuh otot-otot perutku! Jangan pura-pura lupa ya!"
...~...
Doni segera memasuki unit apartemen, matanya langsung tertuju pada Nona Velan yang duduk diam di belakang meja makan sambil menikmati secangkir teh. Wanita itu nampak sibuk berkutat di depan ponselnya.
Apakah Nona Velan dan Tuan Voren bertengkar lagi? Doni bertanya-tanya.
"Selamat pagi, Nona Velan," sapa Doni.
"Hm," sahut Velan tanpa teralih dari ponselnya.
Doni mengerutkan kening, biasanya Nona Velan selalu menyapanya duluan dengan ramah dan ceria. Wanita itu juga biasanya sibuk berkutat menyiapkan sarapan dan menawarkan Doni untuk mencicipi masakan yang dibuatnya.
__ADS_1
Velan terlihat mengulas senyum di depan ponselnya membuat Doni menebak-nebak mungkinkah wanita itu sedang berkomunikasi dengan pria idaman lainnya?
Doni sungguh bertanya-tanya, pria macam apa yang sedang menjalin hubungan dengan Nona Velan?
Apakah pria itu jauh lebih istimewa daripada Tuan Voren?
Doni bahkan sudah mulai menyewa jasa detektif swasta untuk mencari tahu tentang pria idaman lain Nona Velan.
Apakah pria itu tahu siapa suami Nona Velan?
Apakah pria itu tidak tahu siapa suami Nona Velan?
Doni benar-benar tenggelam dalam lamunan, hingga pria itu tidak menyadari kehadiran atasannya.
"Doni!" Voren menjentikkan jari di depan mata Doni.
"Tu-Tuan!" Doni terkesiap.
Voren kembali mencuri pandang ke arah Velan yang nampak mengabaikannya karena begitu asyik terkekeh di depan ponsel.
"Ayo kita pergi, Doni," kata Voren.
"Baik, Tuan," sahut Doni.
"Ayo kita pergi, Doni," kata Voren menaikkan suaranya setengah oktaf.
"Baik, Tuan," sahut Doni lagi.
Anda tidak perlu ngegas begitu, Tuan, batin Doni.
Voren mendengus, entah mengapa ia merasa kesal karena istrinya jelas sekali mengabaikannya. Biasanya wanita itu pasti langsung sibuk mengekorinya hingga ke depan pintu.
Voren segera keluar dari unit apartemennya diikuti Doni.
"Doni, cari memang pria idaman lain istriku itu! Aku sungguh ingin bersilaturahmi dengannya!" kata Voren sambil menahan rasa kesalnya.
"Baik, Tuan," sahut Doni.
Sebagus apa pria itu sampai istriku begitu fokus padanya! Batin Voren sambil mati-matian masih menahan rasa kesal.
...~...
__ADS_1