
Velan yang terbangun dari tidurnya merasa benar-benar kecewa. Ia menoleh ke arah suaminya yang masih nampak terlelap di sisi kasur yang lain. Wajah pria itu benar-benar sangat tampan dan sedap sekali dipandang.
Tidur saja pria ini tetap begitu tampan! Velan membatin.
Menyebalkan, memalukan, dan mengecewakan sekali rasanya, jika harus mengingat kejadian semalam. Agresi militer yang dilakukan oleh Velan mengalami kekalahan telak. Suaminya benar-benar menolaknya padahal Velan sudah memohon agar keperawanannya bisa direnggut oleh suaminya. Velan bahkan sudah membiarkan dirinya berlagak macam pelacur. Mengemis dan memohon untuk ditiduri.
"Penting bagi seorang istri bersikap layaknya pelacur di hadapan suaminya sendiri, daripada suami kepincut pelacur di tempat pelacuran," begitulah pesan terapis yang memberi Velan pendidikan kilat dalam rangka memuaskan suami.
Namun sungguh pendidikan kilat tersebut benar-benar tak berguna lantaran suaminya benar-benar mengabaikan Velan.
Seandainya saja suaminya itu memang pria normal dan sehat, tentunya semalam sudah menjadi malam bersejarah bagi Velan. Terbangun dalam pelukan pria itu, kemudian mengulang kembali percintaan panas mereka.
Ah sudahlah, nanti saja dipikirkan, yang penting sekarang Velan harus bangun untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan.
...~...
Velan segera menuju ke dapur. Ia akan memasak sarapan pagi. Velan membuka lemari es berukuran besar, di dalamnya banyak berisi sayuran dan buah-buahan, serta air mineral.
Velan segera mengolah bahan makanan yang tersedia dalam lemari es. Ia tentu bertanya-tanya, apa suaminya hidup sendiri?
Yah, kebanyakan pria dan wanita lajang masa kini memang memilih untuk hidup terpisah dari orang tuanya. Kebebasan tentu menjadi alasan utama mereka.
Terdengar pintu unit terbuka, sosok Doni muncul membawa kantong kertas dari kedai kopi kenamaan.
Pria ini lagi! Keluh Velan.
"Selamat pagi, Pak Doni," sapa Velan dengan penuh keceriaan.
"Selamat pagi, Nona Velan," balas Doni.
Doni sungguh kaget melihat istri Tuan Voren menyambutnya seceria ini. Apa semalam sudah terjadi hal yang menyenangkan antara mereka berdua?
Yah, meski Tuan Voren mengatakan tidak menerima pernikahan ini namun sebagai pria normal yang sehat, Tuan Voren pasti menggarap istrinya juga. Terlebih semalaman mereka hanya berdua saja tanpa ada yang mengganggu sama sekali, pastilah semalaman mereka bersenang-senang.
Velan mengawasi Doni yang mengulas senyum ke arahnya. Di mata Velan, pria ini pasti akan mengejek jika sampai tahu bahwa semalam Velan gagal melancarkan agresi militernya dalam rangka menginginkan kedaulatan sebagai istri seutuhnya.
Kegagalan semalam bukanlah akhir dari segalanya, Pak Doni. Tak akan kubiarkan kau memenangkan hati suamiku! Batin Velan sambil mengulas senyumnya seceria mungkin.
Doni meletakkan sarapan untuk Tuan Voren yang selalu menyantap menu makanan pagi yang dibawakan Doni ke atas meja makan.
"Nona Velan, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Doni.
"Aku sedang tidur siang, Pak Doni!" jawab Velan yang merasa Doni sangat berbasa-basi.
"Ya, saya tahu Anda sedang memasak, tapi untuk apa?" tanya Doni.
"Ya untuk dimakan dong, Pak Doni," jawab Velan.
Doni segera menghampiri Velan, ia sangat tahu bahwa atasannya itu sangat menjaga makanan yang dikonsumsinya.
"Boleh saya cicipi?" tanya Doni.
"Silakan," jawab Velan.
Doni terlihat nampak ragu-ragu saat akan mencicipi masakan Velan.
"Ada apa, Pak Doni? Apa Anda takut aku memasukkan racun sianida ke dalam masakanku ini?" tanya Velan yang merasa bahwa sikap Doni begitu waspada.
"Anda pasti sudah tahu bahwa Tuan Voren sedang menjalankan program diet gula dan garam," kata Doni.
"Ya, saya sudah mengurangi takaran gula dan garam! Tapi Anda pasti tahu kan, masakan kurang gula dan garam itu jadinya hambar! Tapi semalam aku dan suamiku benar-benar melewatinya penuh dengan rasa," kata Velan dengan penuh kebanggaan.
Doni tersenyum, ia mengambil sendok dan menciduk hidangan berupa tumis sayur yang dicampur dengan bihun. Doni tentu saja harus memastikan bahwa makanan tersebut layak untuk dikonsumsi.
Doni menyembunyikan keterkejutannya, sungguh di luar dugaannya, masakan nona Velan sangatlah enak.
__ADS_1
"Anda sering memasak, Nona?" tanya Doni.
Velan mengulas senyumnya, sepertinya ia memang harus membanggakan dirinya di depan pria ini.
"Pak Doni, memasak sudah menjadi tugas utamaku di rumah! Mau makan apa kakak-kakakku kalau aku tidak memasak? Kalau harus beli makanan jadi, tentu biaya yang dikeluarkan lebih banyak lagi, karena itulah memasak menjadi hal paling utama yang harus kulakukan," jawab Velan.
Wah, sungguh istri idaman, batin Doni.
Velan segera menata makanan di atas meja makan. Sementara Doni memilih untuk menunggu Tuan Voren di ruang tamu sambil mengurus pekerjaannya.
Voren keluar dari kamarnya, ia terlihat sudah mengenakan kemeja berwarna abu-abu dengan celana hitam. Ia terlihat menenteng tiga buah dasi dan langsung menghampiri Doni.
"Doni, menurutmu, dasi yang mana yang paling cocok untukku?" tanya Voren ke arah Doni.
"Saya pikir yang hitam itu terlihat bagus, Tuan," jawab Doni.
"Begitu ya, tolong dipasangkan," kata Voren.
Velan terperangah menatap Doni yang begitu cekatan memasang dasi untuk Voren. Entah mengapa Velan merasa sesak melihat keduanya melakukan adegan tersebut.
Di mata Velan, keduanya nampak begitu mesra, layaknya istri yang begitu cekatan saat memasang dasi untuk suaminya.
Cih, pria itu, mentang-mentang aku tidak bisa memasangkan dasi!
"Ada apa, Nona Velan?" tanya Doni ke arah Velan yang nampak memasang ekspresi tidak senang.
"Aku rasa dasi yang berwarna merah lebih bagus," jawab Velan dengan cepat.
"Begitu, ya?" tanya Voren ke arah Velan.
Voren melepaskan dasi tersebut.
"Pasangkan kembali, Doni," perintah Voren.
"Suamiku, izinkan aku belajar memasangkan dasi untukmu," kata Velan.
"Pak Doni, bisa minta tolong ajari aku memasang dasi untuk suamiku?" tanya Velan ke arah Doni.
"Baik, Nona," jawab Doni sambil mengulas senyumnya.
Bagaimana, Pak Doni? Biar bagaimana pun aku lebih unggul darimu! Aku adalah istri Tuan Voren-mu, sedangkan kau hanya asisten pribadinya, batin Velan sambil tersenyum penuh kemenangan.
Velan segera menghampiri Voren, selisih tinggi badan mereka yang signifikan membuat Voren akhirnya memilih duduk di sofa. Doni memberi komando pada Velan untuk memasang dasi ke leher Voren.
"Nona, pelan-pelan tarik simpulnya ke atas, jangan sampai mencekik leher suami Anda," kata Doni.
Velan merasa sangat grogi lantaran terpesona pada ketampanan Voren.
"Uhuk-uhuk!" Voren terbatuk lantaran simpul dasi yang dipasang oleh Velan mencekik lehernya.
"Su-suamiku, maafkan aku!" Velan langsung diserang rasa panik.
Wajah Voren nampak memerah, ia mengambil napas banyak-banyak. Doni benar-benar terlihat panik, bagaimana jika Tuan Voren marah?
Apa wanita ini mau membunuhku? Batin Voren.
"Suamiku, maafkan aku, aku tidak sengaja," kata Velan.
"Ehem, iya aku mengerti, namanya juga kau baru belajar," kata Voren.
"Terima kasih, terima kasih," kata Velan dengan kelegaan yang sangat.
Doni pun merasa lega, bahaya juga wanita ini gara-gara gagal fokus!
"Nona Velan, sepertinya Anda harus berlatih lebih giat untuk memasang dasi," kata Doni.
__ADS_1
"Baik, aku mengerti," kata Velan.
Ugh, padahal aku ingin kau yang disalahkan karena salah memberi instruksi, Pak Doni! Pikir Velan.
Voren segera duduk di belakang meja makan. Doni dengan sigap membongkar kantong kertas yang dibawanya. Ia menyiapkan roti lapis isi daging panggang dan telur rebus serta satu gelas jus jambu sebagai menu sarapan yang biasa dikonsumsi oleh atasannya itu.
Voren mengarahkan pandangannya pada makanan yang terhidang di atas meja makan.
"Kau masak semua ini?" tanya Voren ke arah Velan.
"Iya, Suamiku," jawab Velan.
"Aku memasak bahan makanan yang ada dalam lemari es," jawab Velan.
Velan memasak bihun goreng dengan aneka sayur, telur gulung, ayam goreng tepung, dan sup sayuran.
"Silakan dicicipi, Suamiku," kata Velan.
Voren mengarahkan pandangannya ke arah Doni. Doni mengangguk sebagai bentuk persetujuan bahwa makanan itu layak untuk dimakan.
"Baiklah, akan kucicipi," kata Voren.
Velan merasa hatinya berbunga-bunga. Ia segera menyerahkan piring pada Voren. Doni lagi-lagi keheranan, biasanya pria itu selalu menolak makanan lain untuk sarapannya kecuali roti lapis.
Velan benar-benar senang karena suaminya memakan masakan buatannya. Seketika Velan jadi merasa bahwa ia sedang menjalani sebuah pernikahan yang bahagia.
Lihat, Pak Doni, suamiku memakan masakan buatanku dan bukannya sarapan yang kau bawa, Velan tersenyum penuh kemenangan.
"Terima kasih atas makanannya," kata Voren ke arah Velan begitu pria itu menyelesaikan sesi makan paginya.
Velan mengangguk malu-malu.
"Baiklah, ayo kita pergi, Doni," ajak Voren.
"Baik, Tuan," sahut Doni.
Velan mengikuti Voren yang melangkah menuju ke pintu depan bersama Doni.
"Suamiku, bagaimana jika siang ini aku membawakanmu bekal makan siang?" tanya Velan sebelum Voren benar-benar pergi.
"Istriku, sungguh aku tak ingin merepotkanmu," kata Voren.
"Tidak apa-apa, Suamiku, aku kan istrimu," kata Velan.
Doni tersenyum melihat interaksi Tuan Voren dan istrinya, sungguh manis sekali pasangan pengantin baru ini. Benar-benar membuatnya iri.
"Baiklah, aku pergi dulu," kata Voren berpamitan.
"Kami pergi dulu, Nona," Doni berpamitan.
Velan menatap kepergian dua pria itu.
Lihat saja, Pak Doni! Aku akan merebut perhatian suamiku darimu!
...~...
Doni segera membukakan pintu mobil untuk Tuan Voren, setelah pria itu masuk dan duduk dengan nyaman, barulah Doni segera duduk di belakang kursi kemudi.
"Tuan, sepertinya semalam terjadi hal yang menyenangkan antara Anda dan Nona Velan," kata Doni.
"Menyenangkan apanya?! Wanita itu mencoba menyerangku!" keluh Voren.
"Apa? Nona Velan mencoba menyerang Anda? Bagaimana bisa, Tuan?" tanya Doni keheranan.
Doni lebih percaya jika Tuan Voren yang menyerang istrinya itu.
__ADS_1
"Astaga, Doni, dia bahkan memohon agar aku menidurinya! Haha, lihat betapa murahannya dia! Apa dia pikir aku ini kucing garong yang mau disodorkan sembarang ikan? Sungguh gila sekali! aku bahkan sampai tidak bisa tidur nyenyak!" kata Voren seraya tertawa namun tawanya terdengar mengekspresikan kekesalan.
...~...