Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bulan Madu 4


__ADS_3

Doni segera dievakuasi oleh tim medis yang datang ke kamar tempat kejadian perkara. Doni kemudian digotong dengan menggunakan tandu, meninggalkan kamar tersebut agar tim medis dapat segera membawa Doni ke rumah sakit terdekat.


Voren sudah mengumpulkan informasi dari tim medis yang memeriksa kondisi Doni secara sekilas sebelum Doni dilarikan ke rumah sakit.


"Korban sepertinya mengonsumsi sejenis obat perangsang, jika dilihat dari ciri-ciri yang dialami oleh korban," kata salah satu petugas medis saat dimintai keterangan oleh Voren.


Voren mengusap wajahnya dengan gusar. Ia tentu saja tak bisa langsung ikut serta bersama Doni lantaran harus menjaga reputasi dan nama baiknya yang sudah menjadi harga mati.


Obat perangsang? Pikir Voren.


"Suamiku," kata Velan dengan suara yang gemetaran.


Velan mulai menangis ketakutan, ia sungguh takut jika terjadi sesuatu pada Doni.


"Bagaimana keadaan, Pak Doni?" tanya Velan.


"Entahlah," jawab Voren singkat. "Aku harus menanyai langsung pihak hotel untuk menyelidiki masalah ini! Sungguh aku akan membawa perkara ini ke meja hijau," kata Voren.


Velan terkesiap mendengar perkataan Voren. Kalau sampai suaminya membawa masalah ini ke jalur hukum, Velan jelas akan mendapat masalah yang jauh lebih serius. Minta maaf jelas adalah hal pertama yang harus segera dilakukan oleh Velan.


"Suamiku, maafkan aku," kata Velan.


"Istriku, kenapa kau tiba-tiba minta maaf?" tanya Voren keheranan.


"Aku sungguh minta maaf, karena sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman yang dicicipi oleh Pak Doni," kata Velan.


Voren terperangah mendengar pengakuan dari istrinya. 


Jadi, dia pelaku yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku? Pikir Voren.


"Aku sungguh tak bermaksud untuk mencelakai Pak Doni. Aku benar-benar tak tahu efek samping obat itu begitu berbahaya," lanjut Velan.


Voren menghela napas berat, ia menatap lurus ke arah Velan yang terlihat gemetaran ketakutan. Voren sungguh tak percaya bahwa istrinya akan senekat itu. 


Sebegitu inginnya kah kau agar aku menidurimu? Yang benar saja! Batin Voren dengan perasaan kesal yang harus pandai-pandai disembunyikannya.


"Istriku, kau tak bermaksud mencelakai Doni, itu artinya kau berniat untuk mencelakaiku, begitu?" tanya Voren menjaga nada bicaranya untuk tetap setenang mungkin.


"Su-suamiku, a-aku tidak mungkin mencelakaimu," jawab Velan.


"Lantas kalau kau tidak bermaksud mencelakaiku, mengapa kau memberiku obat perangsang?" tanya Voren masih menatap lurus ke arah Velan.


Velan terdiam, ia seakan kehilangan kata-katanya.


"Istriku, tolong jawab pertanyaanku," kata Voren berusaha menjaga emosinya.


Velan masih tetap terdiam, ia harus pandai-pandai mengatur perkataannya.

__ADS_1


"Istriku, aku lebih menghargai jika kau bersikap jujur padaku! Apa ada pihak yang menyuruhmu untuk membunuhku lantaran merasa tidak senang dengan keeksistensianku?" tanya Voren lagi.


"Itu tidak benar, Suamiku, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Velan balik bertanya.


"Lantas apa motifmu sebenarnya?" tanya Voren lagi.


"Suamiku, aku tahu kau tidak tertarik pada wanita, tapi aku sebagai istrimu ini kan seorang wanita," jawab Velan sambil menangis tersedu-sedu.


Voren terperangah mendengar perkataan istrinya.


"Apa aku perlu menjadi seorang pria agar kau bisa tertarik padaku?" tanya Velan.


"Aku sungguh benar-benar mencintaimu, Suamiku! Tolong jadikan aku istrimu yang seutuhnya! Aku ingin kau memberiku hak lahir batin," kata Velan lagi.


Voren menghela napas berat.


Wanita ini benar-benar mengerikan, sebegitu terobsesinya padaku? Apa dia seorang penggemar fanatik?


"Istriku, aku sungguh minta maaf padamu," kata Voren.


"Aku sungguh kurang nyaman dengan wanita menakutkan sepertimu, sebegitu inginnya kau tidur denganku sampai kau menggunakan obat perangsang yang justru malah mencelakai Doni!" kata Voren lagi.


"Suamiku!" kata Velan masih dengan air mata yang berderai.


"Sungguh sepertinya kita harus meninjau ulang hubungan ini! Karena tidak menutup kemungkinan ke depannya kau akan memberiku racun untuk membunuhku," kata Voren.


"Suamiku, kumohon maafkan aku, aku sungguh mengaku salah, kumohon maafkan aku, ke depannya aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi," kata Velan.


"Suamiku! Kumohon maafkan aku," Velan langsung memeluk erat kaki Voren.


Voren terkesiap.


Aduh! Apa-apaan wanita ini?! Pikirnya.


"Suamiku, aku mengaku aku salah, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, kumohon Suamiku! Aku sangat mencintaimu! Aku sangat mencintaimu," kata Velan.


Voren berlutut di depan Velan, ia menatap Velan dan menghapus air mata Velan dengan jemari panjangnya. Digenggamnya kedua tangan Velan yang gemetaran karena tangisnya.


"Istriku, tolong renungkan kesalahanmu ini!" kata Voren sambil menghela nafas berat.


"Aku harus ke rumah sakit untuk mendampingi Doni," kata Voren secara perlahan melepas tangan Velan.


"Su-suamiku," Velan berusaha menahan kepergian Voren.


Voren segera melangkah meninggalkan Velan yang terpaku, terpalu, dan terpahat dalam rasa bersalahnya yang begitu besar, sebesar rasa penyesalannya saat ini.


...~...

__ADS_1


Velan masih menatap kosong langit-langit kamar hotel tempatnya menginap. Semalaman ia terjaga dengan air mata yang menganak sungai. Ia sungguh merasakan rasa takut, sedih, resah, dan gelisah yang campur aduk menjadi satu.


Entah mengapa Velan merasa rencana yang telah disusunnya tak ada yang berjalan dengan baik dan benar. Ia merasa dunianya hancur porak-poranda lantaran badai kehidupan kembali menerjangnya tanpa ampun. Belum selesai masalah utang yang harus segera dilunasinya, masalah suaminya yang tak tertarik pada wanita, kini suaminya marah besar dan pernikahan mereka berujung pada keretakan. Padahal Velan baru saja menikah dan belum merasakan manisnya pernikahan itu sendiri.


Ia benar-benar tak menduga bahwa akibat perbuatannya banyak hal menyedihkan yang harus terjadi. Gara-gara obat perangsang yang pemakaiannya over dosis, Velan nyaris membunuh asisten pribadi suaminya. Voren pun akhirnya menuding bahwa tak menutup kemungkinan ke depannya Velan akan membunuh Voren.


"Apa yang harus kulakukan?" Velan bertanya pada dirinya sendiri.


Ia mencoba menghubungi ponsel Voren, semalam ratusan kali Velan mencoba menghubungi suaminya itu namun sang suami sama sekali tidak menjawab teleponnya. Mau menghubungi Doni, tentu saja tidak mungkin lantaran Doni pasti tengah mendapatkan perawatan intensif.


Velan kembali menangis, ia tak tahu harus berkeluh kesah ke mana. Tidak ada tujuh ekor ikan cup*ng yang biasa ia ajak berkeluh kesah walau tanpa memberikannya solusi sama sekali. Velan tak mungkin menceritakan masalah ini pada ibu mertuanya, orang tuanya, kakak-kakaknya, ataupun teman-temannya.


Yang pasti Velan tak mau masalah rumah tangganya ini menjadi beban jika ia menceritakan semuanya pada keluarganya. Ia juga tak mungkin menceritakan kepada teman-temannya meski sedekat apapun, lantaran tak menutup kemungkinan teman-temannya menjadikan masalah hidup Velan sebagai bahan tertawaan. Cukup kasus Oman membuat Velan jera untuk menceritakan kehidupan pribadinya pada teman-temannya.


"Ya ampun Velan, padahal kau sudah punya suami yang tampan dan kaya raya, tapi ternyata kau dinikahi hanya untuk status saja, ya!"


"Aduh, untuk apa suami tampan, hartawan, tapi ternyata sukanya yang tampan-tampan!"


Begitulah, semua orang pasti akan berpikir seperti itu dan langsung menghakimi Velan.


"Itu sih, akibat kau cari jodoh ke paranormal!"


"Percaya sama dukun, percaya itu pada Tuhan!"


"Resiko ditanggung penumpang!"


"Ingat hukum tabur tuai, apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai!"


Semua asumsi menari-nari dalam benak Velan dan membuat Velan sungguh merasa depresi. Ia butuh tempat untuk meluapkan keluh kesahnya. Ia butuh seseorang yang bisa diajak berkonsultasi dan lebih bagus lagi jika orang itu bisa memberinya saran-saran yang baik sehingga Velan bisa merasa lebih baik serta terhibur.


Terhibur? Satu kata yang terlintas dalam otaknya membuatnya jadi teringat kumpulan pria yang kemarin sore ditemuinya di area kolam renang hotel. Para pria yang sepertinya berprofesi sebagai penghibur yang dapat menghibur asalkan sesuai dengan pembayarannya.


Bagaimana jika Velan mencoba jasa mereka?


Tanpa perlu saling mengenal, tanpa keterikatan, mereka pasti akan datang karena uang. Velan membuka dompetnya, ada uang modal untuk berjualan yang mungkin bisa dipakai dulu. Lagipula ia hanya butuh teman bicara, bukan untuk hal lainnya sehingga mungkin bisa lebih murah dari tarif biasanya.


Velan mengambil ponselnya, berselancar di dunia maya mencari grup dari pria penjaja kebahagiaan maya. Ia membutuhkan pria dengan tarif termurah karena hanya untuk bicara saja, untuk urusan tampang, itu nomor dua yang penting tarifnya murah.


Akhirnya setelah melakukan negosiasi harga dari seorang pria panggilan yang bersedia dibayar dengan tarif rendah dengan durasi hanya satu jam, Velan pun membuat janji temu dengan pria panggilannya.


Pakaian serba hitam pun dipilih untuk menjadi kode busana, agar mereka dapat dengan mudah saling mengenali tanpa perlu dicurigai.


Velan pun tiba di restoran tempat ia dan pria panggilannya melakukan kopi darat. Matanya berkeliling mencari sosok pria berpakaian serba hitam.


Matanya langsung tertuju pada sosok pria berparas tampan yang duduk di salah satu meja yang temaram. Pria tampan berpenampilan menarik itu sedang berkutat pada ponselnya dan terlihat berkali-kali melirik jam tangan.


Itu dia! Tampan sekali! Sungguh pantas menjadi pria panggilan! Batin Velan yang langsung menghampiri pria tampan itu.

__ADS_1



__ADS_2