
Vega sudah selesai mengikuti kelas melukis privat. Usai mengantar kepergian instruktur lukisnya, Vega mendapati Pak Jun yang nampak sibuk memberi komando kepada beberapa pelayan menuju ke ruang makan.
"Pak Jun, apa hari ini ada acara perjamuan makan?" tanya Vega.
"Nyonya Vega, sebenarnya bukan acara perjamuan makan, hanya saja Nona Renata dan Nona Renava beserta Nona Velan saat ini sedang mempersiapkan hidangan istimewa untuk seluruh anggota keluarga yang ada," jawab Pak Jun.
"Velan?" Vega terperangah mendengar nama Velan disebut oleh Pak Jun.
"Velan, istri Voren?" tanya Vega lagi.
"Oh, Nona Velan itu istri Tuan Voren? Maafkan saya lancang tidak mengenali istri Tuan Voren, Nyonya," kata Pak Jun membungkuk dalam.
"Kenapa Velan ada di sini, Pak Jun?" tanya Vega.
"Nona Renata dan Nona Renava mengundang beliau," jawab Pak Jun.
"Oh begitu, baiklah, di mana mereka? Aku ingin menyapa mereka," kata Vega.
Pak Jun mengangguk dan membawa Vega menuju ke dapur. Vega melihat Velan dan kedua anak tirinya nampak sibuk di dapur.
"Renata, Renava, Velan," sapa Vega menghampiri mereka dengan senyum yang terulas lebar.
"Tante," sapa Renata dan Renava.
"I-ibu," Velan terkesiap membalas sapaan Vega.
Sesungguhnya Velan masih belum siap untuk bertemu dengan ibu mertuanya. Masih segar dalam ingatan Velan saat mendapati ibu mertuanya bertemu dengan Soraya. Dengan mudahnya wanita itu memberi dukungan penuh kepada Soraya yang akan menggantikan posisi Velan sebagai istri Voren. Namun Velan jelas harus bersikap profesional.
"Apa yang sedang kalian kerjakan? Sepertinya seru sekali," kata Vega.
"Kami akan membuat hidangan istimewa. Tante bisa menunggu sampai kami selesai memasak," kata Renata.
"Wah, sungguh, aku jadi ingin terlibat dalam proyek kalian ini," kata Vega.
"Terima kasih, Tante, tapi kami ingin fokus belajar memasak bersama Velan," Renava menolak permintaan Vega.
"Oh begitu," kata Vega.
"Silakan menunggu sebentar, Tante, akan kami kabari saat semua sudah siap," kata Renata.
"Baiklah, aku sungguh menantikannya," kata Vega sebelum pergi meninggalkan dapur.
...~...
Velan sudah selesai menyiapkan hidangan yang akan disajikannya. Kedua kakak iparnya menatap takjub saat Velan mengisi mangkuk dengan hasil masakan yang dimasak oleh Velan. Renata dan Renava hanya menjadi mandor untuk mengawasi Velan yang dengan cekatan menyiapkan semua masakan tersebut.
"Selesai," kata Velan dengan antusias.
"Wah, sangat estetik sekali," puji Renata dan Renava sambil bertepuk tangan.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk mencicipinya!" kata Renata.
"Aku akan meminta Pak Jun untuk mengabari semua orang yang ada di rumah agar berkumpul di ruang makan," kata Renava.
Velan benar-benar tegang saat masakan yang dibuatnya terhidang di atas meja makan berbahan marmer hitam. Di belakang meja makan sudah duduk Alena, Rendarto, dan Vega. Entah mengapa kehadiran mereka semua membuat Velan teringat pada juri kompetisi memasak tingkat nasional yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Para juri dengan pembawaan yang tegas dan ngegas saat mencicipi hidangan para kontestan.
Pintu ruang makan terbuka, sosok Alren yang datang bersama sekretarisnya sungguh membuat suasana di ruang makan semakin tegang.
__ADS_1
"Papa," Renata dan Renava langsung menyambut kehadiran ayah mereka.
"Terima kasih sudah datang, Papa," kata Renava usai merangkul Alren.
"Papa hanya mampir, karena kalian bilang akan menghidangkan sajian yang istimewa," kata Alren tanpa ekspresi.
Alren melangkah menuju ke meja makan, sebelum duduk di kursinya, pria paruh baya itu menyempatkan diri untuk memberi rangkulan lembut untuk Alena dan juga Rendarto.
"Mama, Papa, kalian sehat-sehat saja?" tanya Alren.
"Kami merasa sangat sehat, Alren," sahut Rendarto.
"Alren, harusnya kau mencemaskan kesehatanmu sendiri, kau sudah tidak muda lagi," kata Alena.
"Mama, percayalah, bagiku usia hanya sekadar angka," jawab Alren penuh percaya diri.
Alren segera duduk di kursinya dengan tenang.
"Alren, Suamiku," sapa Vega sambil menunduk pelan. "Kehadiranmu sekarang benar-benar sebuah kejutan, terima kasih sudah menyempatkan waktumu, Suamiku," kata Vega.
"Meskipun aku sangat sibuk, namun sebisa mungkin, aku selalu menyempatkan waktuku untuk berkumpul bersama keluarga," kata Alren.
Velan bisa melihat bahwa ayah mertuanya sungguh merupakan pria yang peduli pada keluarga. Pria super sibuk itu masih sempat meluangkan waktunya untuk datang menemui keluarganya.
"Di mana Voren?" tanya Alren.
"Voren tentu saja masih tetap sibuk, Suamiku," jawab Vega. "Benar begitu kan, Velan?" Vega mengulas senyumnya pada Velan.
"Benar, Bu," jawab Velan singkat.
Alren mengarahkan pandangannya ke arah Velan. Dalam benak Velan, saat ini bisa jadi saat terakhirnya berkumpul bersama keluarga Lazaro sebelum ia akhirnya pensiun dari keluarga ini. Oleh sebab itu, Velan tentu harus memberi kesan yang baik.
"Jadi, masakan istimewa apa yang kalian hidangkan, Renata, Renava?" tanya Alren ke arah dua anak perempuannya.
"Papa, terima kasih atas antusiasme Papa, aku dan Renava sangat senang karena bisa belajar hal yang baru bersama adik ipar! Hidangan yang diajarkan adik ipar sungguh istimewa sehingga kami ingin agar keluarga kita bisa mencicipinya bersama," jawab Renata.
"Pak Jun, tolong dihidangkan sajiannya," kata Renava.
Pak Jun dan beberapa pelayan segera menghidangkan masakan Velan di atas meja makan. Semua mata tertuju pada mangkuk mereka masing-masing. Hidangan tersebut berupa sup dengan banyak sayur dan topping ikan tuna suwir. Terdapat bola-bola kenyal yang muncul di permukaan.
"Hidangan ini unik sekali," kata Alena saat menciduk kuah sup.
"Benar, baru pertama kali aku melihatnya," Rendarto berkomentar.
"Velan, bisa kau jelaskan hidangan apa yang kau sajikan ini?" tanya Vega.
"Terima kasih sudah memberi kesempatan saya untuk menjelaskan hidangan yang saya sajikan ini. Nama hidangan ini adalah Kapurung dan merupakan hidangan khas dari kampung ibu saya," Velan menjelaskan.
"Mengapa kau menghidangkan makanan ini untuk kami?" tanya Alren.
"Saya menghidangkan makanan khas karena biasanya Kapurung disajikan saat acara keluarga ataupun hajatan. Semua orang akan saling membantu satu sama lain untuk memasak makanan ini karena ada tiga elemen yang harus disiapkan, mulai dari mengolah tepung sagu, mengolah sayur-sayuran, hingga memasak ikan. Dan semua elemen-elemen itu akan bergabung menjadi satu saat disajikan di dalam mangkuk! Pada intinya bagaimana sebuah kerja sama tim yang baik untuk satu tujuan, kira-kira seperti itu filosofi hidangan Kapurung menurut saya pribadi," Velan menjelaskan panjang lebar.
"Benar, Papa, aku dan Renata membantu menyiapkan sayur-sayuran ini," kata Renava.
"Kemudian kami bersama-sama membuat bola-bola kenyal ini," sambung Renata.
Alren mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan tersebut. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lain.
__ADS_1
"Hmm, ini enak sekali," puji Vega.
"Kuahnya benar-benar segar," puji Renava.
"Kau benar-benar sangat pandai memasak, Velan," puji Renata.
"Baru kali ini aku mencicipi hidangan ini dan aku menyukainya," Alena menimpali.
Velan hanya bisa mengulas senyum. Namun ia masih was-was dengan ayah mertuanya yang sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Apa pria itu tidak menyukai hidangan yang disuguhkan Velan?
"Apa masih ada lagi?" tanya Alren membuat semua orang tertegun karena pria paruh baya itu menginginkan mangkuk kedua.
...~...
Sesi makan bersama keluarga Lazaro pun sudah selesai. Alren berpamitan kepada seluruh anggota keluarganya karena masih banyak yang harus diurus oleh pria paruh baya itu.
Alren mengarahkan pandangannya pada Velan. Pria itu mengulas senyum ramah ke arah Velan sebelum pergi.
Velan merasa lega karena setidaknya ia bisa meninggalkan kesan yang baik di hadapan keluarga Lazaro.
"Velan, bisakah kita berbincang-bincang sebentar?" tanya Vega ke arah Velan.
"Baik, Bu," jawab Velan.
"Mau ke mana, Velan?" tanya Renata.
"Saya mau berbincang dengan ibu, Kak," jawab Velan.
"Oh, oke," sahut Renata.
Velan mengikuti langkah Vega yang membawa Velan ke ruangan pribadinya. Terdapat banyak lukisan yang terpajang di ruangan tersebut.
"Velan, Ibu sungguh terkejut melihat kehadiranmu," kata Vega.
"Ibu, saya juga terkejut saat Kak Renata dan Kak Renava mengajak saya kemari," kata Velan.
Vega menatap Velan dengan penuh kasih sayang. Vega menggenggam tangan Velan.
"Velan, meski nanti kau tidak lagi menjadi menantu Ibu, Ibu harap kita masih tetap saling menjaga hubungan baik," kata Vega.
"Ibu, bukankah semua orang memang harus bersikap baik?" tanya Velan.
Vega mengulas senyumnya.
"Terima kasih, Velan, Ibu benar-benar minta maaf, Ibu hanyalah orang tua yang berusaha mendukung keputusan Voren sebagai bentuk kepercayaan Ibu terhadap Voren," kata Vega.
"Ibu tidak ingin menjadi orang tua yang menentang, dan egois kepada anak sendiri."
Velan menangguk, meski hatinya begitu teriris kenyataan yang amat pedih.
"Terima kasih, Bu," kata Velan.
Vega memeluk Velan, Vega sebenarnya begitu berat harus melepaskan Velan sebagai menantu pertama keluarga Lazaro. Namun ia bisa apa?
Velan berusaha untuk tidak menangis lagi. Ia hanya ingin dikenang sebagai menantu yang baik.
...~...
__ADS_1