
Velan mengambil tasnya, bersiap untuk keluar dari ruang penatu. Ketika membuka pintu, ia terlonjak kaget karena di depan pintu Voren sudah berdiri sambil mengulas senyum. Pria itu sudah terlihat tampan dan segar. Memakai kemeja putih dengan garis berwarna biru gelap serta rompi warna senada yang membungkus sempurna tubuhnya yang tinggi, tegap, serta atletis. Velan mengumpat dalam hati, mengapa pria itu tersenyum padanya seakan tidak ada masalah besar yang terjadi di antara mereka?
Mereka saling memandang tanpa kata-kata sebelum akhirnya Velan membuka suaranya.
"Minggir!" perintah Velan saat Voren menghalangi langkahnya.
"Istriku, malam ini mari kita makan malam bersama," kata Voren.
"Makan saja sana sama Soraya! Tidak usah ajak-ajak aku!" sahut Velan sambil menyeringai sinis.
Voren mengulas senyumnya, apa yang diduga Doni memang benar. Wanita ini jelas berpikir bahwa Voren akan pamer kemesraan di depan Velan.
"Istriku, jangan besar kepala, aku mengajakmu makan malam hanya sebagai perwujudan rasa terima kasihku karena saat aku sakit ada kau yang berada di sisiku, merawatku penuh dengan...," Voren menghentikan kalimatnya.
Ia harus memikirkan kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi saat itu.
"Merawatku dengan segenap kemurahan hatimu, meski bagimu pasti amatlah berat untuk melakukannya, namun pada akhirnya kau tetap melakukannya dengan sebaik-baiknya," lanjut Voren.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku! Aku tidak butuh itu!" kata Velan.
"Jadi, apa yang kau butuhkan?" tanya Voren.
"Aku butuh perceraian kita," jawab Velan sambil tersenyum ceria yang di mata Voren tentulah terlihat sangat menyebalkan.
"Haha," Voren tertawa sinis lalu melemparkan tatapan skeptis ke arah Velan.
"Istriku, apa kau tahu, masih segar dalam ingatanku, bagaimana kau memohon, menangis, dan mengiba agar aku tidak menceraikanmu. Tapi lihatlah sekarang, kau bahkan terus-menerus menantangku seperti ini! Apakah ini semua ada hubungannya dengan pria idaman lainmu itu? Apa pria itu yang mendesakmu?" tanya Voren sambil tersenyum miring ke arah Velan.
__ADS_1
"Tentu saja!" jawab Velan tanpa ragu.
Voren terkesiap mendengar ucapan Velan.
"Aku dan kekasihku tentu ingin go public! Memperkenalkan kekasihku tanpa perlu dihakimi oleh orang lain yang pastinya akan memandang buruk tentang kami berdua! Aku tentu tidak bisa membiarkan kekasihku dicap sebagai perebut istri orang alias pebinor! Toh kekasihku tidak melakukan perebutan karena aku adalah istri yang tidak diinginkan oleh suaminya yang lebih menginginkan wanita lain!" cecar Velan.
"Istriku, perkataanmu sungguh membuatku terdengar seperti seorang suami yang begitu kejam! Suami yang begitu jahat! Aku bahkan selalu bersikap baik padamu!" kata Voren membela diri.
"Haha!" Velan tertawa. "Bersikap baik padaku? Apakah menyakitiku adalah caramu bersikap baik padaku?" tanya Velan.
"Istriku, aku tidak pernah bersikap kasar kepadamu! Apa aku pernah memukulmu? Apa aku pernah memakimu?" tanya Voren.
"Kau jangan berpura-pura lupa! Kau bahkan pernah menamparku!" sahut Velan dengan ketusnya.
"Istriku, sungguh kejadian itu terjadi di luar kehendakku! Aku hanya bertindak spontan untuk melindungi diri!" kata Voren.
"Aku ini selalu berusaha bersikap baik kepadamu! Aku bahkan tidak melaporkanmu ke polisi atas pelecehan yang kerap kau lakukan kepadaku! Aku juga tidak melaporkanmu ke polisi atas perbuatan yang kau lakukan kepada Doni, padahal kau nyaris membunuh Doni dengan obat perangsangmu itu!" lanjut Voren.
"Haha!" Velan tertawa.
"Aku tidak mungkin menggunakan obat itu jika saja kau tidak menolak untuk memberiku nafkah batin! Lagipula, obat perangsang itu berasal dari ibumu sendiri! Ibumu yang menyuruhku untuk menggunakannya padamu agar kau bisa mendapatkan keturunan! Ibumu yang begitu berambisi agar keluarga Lazaro segera mendapatkan generasi penerus!" Velan masih melanjutkan cecarannya.
"Selama ini aku memilih diam dan memendam semuanya sendiri! Aku tidak ingin kau menganggapku menjelek-jelekkan ibumu! Namun melihatmu yang membahas masalah obat perangsang tersebut, aku rasa sudah tidak perlu ada yang ditutupi lagi!" lanjut Velan.
Voren menatap Velan dengan tatapan tak percaya.
"Kalau saja dari awal aku tahu kau tidak pernah menerima pernikahan ini, untuk apa aku menghalalkan segala cara agar kau meniduriku! Lebih baik aku mencari pria lain yang benar-benar menginginkanku dan kuinginkan!" kata Velan seraya tertawa.
__ADS_1
"Lihat, betapa murahannya kau, Istriku!" sindir Voren.
"Murahan?!" tanya Velan. "Bisa-bisanya pria murahan sepertimu mengataiku murahan! Apa kau tidak berkaca bahwa kau dan Soraya yang memulai semua ini lebih dulu?! Kalian yang lebih dulu berbahagia di atas penderitaanku! Kau tidak berhak menghakimi bahwa aku murahan! Pria idaman lainku bahkan tidak menganggapku murahan karena kami saling mencintai dan kami saling membahagiakan," cecar Velan.
"Begitukah?! Istriku, jujur saja, harusnya kau merasa bersyukur karena pria dengan level sepertiku bersedia menikah dengan wanita level sepertimu! Mengaku saja, pria idaman lainmu itu tak lebih hanyalah pria-pria sampah yang tidak bisa dibandingkan denganku!" kata Voren sambil menyugar rambutnya.
Velan mencebik melihat kepercayaan diri pria di hadapannya ini tumpah ruah bak air yang luber dari ember.
"Harus berapa kali kukatakan padamu, bahwa pria idamanku itu benar-benar lebih segalanya darimu?!" sergah Velan.
"Lebih segala-galanya dariku?" tanya Voren. "Apa maksudmu pria itu lebih tua, berkepala botak, serta berperut buncit?" tanya Voren dengan nada mengejek.
"Yah, tidak heran sih, pria macam itu seleranya hanya wanita sepertimu!" lanjut Voren masih dengan nada penuh ejekan.
Velan memutar bola matanya. Sepertinya sakit maag yang diderita pria ini tidak hanya melukai organ lambungnya, namun juga merusak otaknya.
"Pria idaman lainku itu benar-benar luar biasa dan tidak bisa dibandingkan dengan pria sepertimu! Kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria idamanku, Voren Lazaro!" sergah Velan.
"Haha! Ya sudah! Kalau begitu ajak pria idaman lainmu itu kopi darat bersama! Kita nongkrong sama-sama sambil ngobrol santai! Minum es kopi-kopi sambil makan singkong goreng atau bakwan goreng! Kita lihat saja, seperti apa pria idaman lain yang begitu kau agung-agungkan itu?! Apakah dia benar-benar luar biasa seperti yang kau propagandakan?!" kata Voren dengan nada menantang.
"Huh! Untuk apa melakukan hal konyol seperti itu?!" Velan mendengus kesal ke arah Voren.
"Ya tentu saja untuk membandingkan mana pria yang lebih hebat, aku ataukah pria idaman lainmu yang tidak seberapa itu?" Voren menanggapi.
"Memangnya kenapa kalau dia lebih segalanya darimu? Apa dengan begitu kau akan segera menceraikanku?" tanya Velan.
Voren mengulas senyum, sepertinya wanita ini benar-benar sudah terjebak dalam provokasinya.
__ADS_1
"Mungkin, bisa dipertimbangkan," jawab Voren masih tetap tersenyum.
...~...