
"Suamiku," Velan memasuki kamar dan mendapati Voren yang sedang berpakaian.
Velan mengulas senyum yang begitu cerah, secerah mentari pagi yang bersinar pagi ini.
Lihat, dia tersenyum seperti itu seakan lupa kalau semalam sudah berusaha melecehkanku, Voren membatin sambil mengulas senyumnya ke arah Velan.
Benar-benar wanita tidak berakhlak!
"Suamiku, aku bantu memasang dasi, ya," kata Velan.
"Terima kasih Istriku, aku rasa lebih cepat kalau aku memakainya sendiri," jawab Voren.
Velan tersenyum kecut karena suaminya melakukan penolakan lagi. Velan segera mendekati Voren yang sibuk memasang dasinya di depan cermin.
"Suamiku, aku sudah menyiapkan makanan, kita sarapan bersama," ajak Velan.
"Terima kasih, Istriku," kata Voren.
Velan masih menatap ke arah Voren.
Ada apa lagi? Jangan melihatku seperti itu, sungguh mengerikan! Batin Voren yang merasa tegang karena Velan menatapnya seakan hendak memangsanya.
"Suamiku!" Velan menepuk bokong Voren dengan gemas.
Voren terkesiap, ia nyaris mengumpat namun ia masih mampu menahannya.
"Kau benar-benar punya bokong yang begitu seksi, Suamiku," Velan terkekeh lalu segera keluar dari kamar.
Voren mengawasi istrinya yang keluar dari kamar dengan tatapan skeptis.
Mama! Jerit Voren menahan rasa kesalnya karena wanita itu benar-benar terobsesi untuk melecehkannya.
...~...
"Selamat pagi, Nona Velan," sapa Doni begitu melihat Velan keluar dari kamar.
"Selamat pagi, Pak Doni," Velan balas menyapa Doni dengan memasang wajah seceria mungkin.
"Anda terlihat senang sekali, Nona," kata Doni.
"Hoho! Tentu saja Pak Doni, aku benar-benar sangat senang!" kata Velan sambil mengulas senyum misterius saat menghampiri Doni.
Velan menatap Doni lekat-lekat, batinnya mempertanyakan apa bagusnya Doni sehingga suaminya lebih tertarik pada pria ini?
Velan mengitari Doni, lalu menepuk bokong Doni membuat Doni terperanjat.
"No-Nona! A-apa yang Anda lakukan?!" Doni tersentak kaget.
"Hoho!" Velan tertawa. "Ternyata bokong suamiku jauh lebih seksi dari bokongmu, Pak Doni," kata Velan.
Doni mendelik gusar.
Anda memegang bokong saya untuk membandingkan bokong saya dengan Tuan Voren? Tolong jangan lakukan itu, Nona! Batin Doni menjerit.
Bokong Doni bahkan tidak seksi, pikir Velan.
Voren segera keluar dari kamar, ia segera memakai sepatunya.
__ADS_1
"Suamiku, tidak sarapan dulu?" tanya Velan.
"Maaf Istriku, aku harus ke kantor lebih awal," jawab Voren.
"Oh, begitu," kata Velan.
"Ayo kita pergi, Doni," ajak Voren.
"Suamiku," Velan menahan kepergian Voren.
"Ada apa, Istriku?" tanya Voren keheranan.
Velan menunjuk keningnya, ia ingin mendapat ciuman selamat jalan.
"Kau sakit kepala? Segeralah minum obat!" kata Voren menanggapi.
Velan mengerucutkan bibirnya, apa suaminya ini benar-benar tidak mengerti kode yang ia berikan?
"Kami pergi dulu, Nona," kata Doni berpamitan.
Velan menghentakkan kakinya dengan kesal, padahal ia berharap mendapatkan ciuman mesra di keningnya. Menunjukkan kemesraan di depan Doni, berharap pria itu menyadari posisinya yang hanyalah asisten pribadi.
Sepertinya Velan memang harus berkonsultasi untuk mendapatkan pencerahan terhadap masalah yang dialaminya saat ini.
...~...
"Permisi, permisi," kata Velan sambil mengetuk pintu rumah Madam Yue.
Elya membukakan pintu untuk Velan. Wanita berperawakan gemuk itu nampak menelaah Velan.
"Elya, Madam Yue ada?" tanya Velan.
"Oh, Nona Velan," kata Elya.
"Iya benar, saya yang tadi telepon," kata Velan.
"Silakan masuk," Elya mempersilakan Velan memasuki rumah dengan aura mistis yang begitu kental.
Elya mengetuk pintu ruang kerja Madam Yue.
"Nenek, ada Nona Velan datang," kata Elya.
"Silakan," terdengar jawaban dari dalam.
Velan memasuki ruang kerja Madam Yue. Madam Yue selalu dan senantiasa memakai pakaian ala kekaisaran kuno dengan rambut peraknya yang tertata rapi. Mata kucingnya menatap tajam Velan yang nampak duduk dengan ragu di hadapannya.
"Madam Yue, saya Velan yang tempo hari minta tolong dibantu untuk mendapatkan jodoh instan," kata Velan.
"Apa yang membawamu kemari, Nona?" tanya Madam Yue.
"Madam Yue, sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Madam Yue," kata Velan sambil mengulas senyumnya.
Madam Yue nampak mengangguk pelan.
"Madam Yue, waktu itu saya minta kriteria pria yang akan menjadi suami saya itu adalah pria lajang, tampan, baik, dari keluarga baik-baik dan kaya raya, saya memang mendapatkan pria itu," kata Velan memulai pembicaraan mereka.
"Hanya saja, suami saya tidak tertarik pada wanita!" Velan menatap Madam Yue dengan tatapan skeptis.
__ADS_1
"Apa gunanya kami menikah kalau kami tidak saling menyentuh?!" kata Velan lagi.
Madam Yue mengerutkan alisnya, mencoba mengingat-ingat wajah pasiennya ini.
"Apa kau wanita yang menikah dengan anak laki-laki Vega?" tanya Madam Yue.
"Benar, Madam Yue," jawab Velan.
"Madam Yue, bagaimana ini? Saya bahkan belum bisa membayar pelunasan atas jasa Anda karena saya sama sekali tidak punya uang! Mau minta ke suami, tapi saya bahkan tidak merasa menjadi seorang istri!" kata Velan dengan air matanya yang mulai meleleh membasahi pipinya.
"Perhiasan yang saya berikan sebagai uang muka itulah harta terakhir yang saya miliki! Namun nyatanya saya malah mendapatkan pria yang mengecewakan saya! Saya tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan kami selanjutnya?!".
Madam Yue menghela napas berat.
"Nona, kunci dari permasalahan Anda ini hanya satu, yaitu sabar," kata Madam Yue.
"Madam Yue, saya hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran, saya tentu tidak bisa terus menjalani pernikahan yang seperti ini, menikah dengan pria yang tidak tertarik pada wanita! Bagaimana bisa Anda menjodohkan saya dengan pria macam itu?!" cecar Velan.
Madam Yue lagi-lagi menghela napas berat. Seingat Madam Yue, ia tidak melakukan ritual perjodohan gaib antara wanita ini dengan anak Vega. Namun tentu Madam Yue tidak akan mengatakannya lantaran harus menjaga profesionalisme kerjanya.
"Nona, ingatlah bahwa cinta ada karena terbiasa, mungkin Anda saja yang kurang berusaha," kata Madam Yue.
"Madam Yue, seandainya suami saya tertarik pada wanita, mungkin Anda bisa mengatakan hal demikian! Masalahnya suami saya ini tidak tertarik pada wanita! Saya bisa apa?" tanya Velan lagi.
"Madam Yue, apakah saat Anda melakukan perjodohan itu, Anda mempertimbangkan juga orientasi seksual suami saya?" tanya Velan.
"Hancur sudah hidup saya, Madam Yue! Kalau kami bercerai, semua orang pasti akan mempertanyakan alasan perceraian kami! Tidak mungkin kan di pengadilan nanti saya menyatakan alasan perceraian kami karena suami saya tidak tertarik pada wanita! Itu sama saja merusak reputasi suami saya dan keluarganya!" Velan masih mencecar Madam Yue.
Bagi Madam Yue, wanita ini jelas sedang meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang tidak dilakukan oleh Madam Yue. Madam Yue memang menyarankan Vega untuk melakukan perjodohan gaib, namun Madam Yue tidak melakukan ritual perjodohan gaib untuk mereka.
Madam Yue mengambil amplop dari salah satu rak kayu yang ada di belakang kursi kerjanya. Madam Yue membuka amplop dan mengeluarkan dua lembar foto yang sama sekali tidak ia ritualkan untuk proses perjodohan gaib lantaran melihat adanya energi yang saling tarik menarik seperti dua kutub magnet yang tak senama.
Karena ini kasus baru dan belum pernah ada sebelumnya, maka Madam Yue memilih untuk mengabaikannya dulu dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang sudah menunggunya.
Madam Yue membuka salah satu laci di bawah meja kerjanya. Ia mengeluarkan perhiasan yang dijadikan uang muka oleh wanita ini.
"Nona, ini uang muka Anda, saya kembalikan," kata Madam Yue.
"Madam Yue, apa maksud Anda?" tanya Velan keheranan.
"Saya rasa Anda pasti paham, bahwa dengan saya mengembalikan uang muka Anda, maka akan saya anggap Anda tidak pernah meminta jasa saya," kata Madam Yue.
"Sehingga Anda tidak berhak untuk menuntut pertanggung jawaban saya," kata Madam Yue sambil mengembalikan amplop berisi foto Velan dan juga suaminya.
"Madam Yue, saya tidak menuntut pertanggung jawaban Anda, saya hanya meminta solusi dari Anda," kata Velan.
"Inilah solusi dari saya," kata Madam Yue.
"Saya kembalikan semua keputusan di tangan Anda, posisi saya hanya sebagai perantara saja, Nona, tidak lebih," kata Madam Yue.
"Karena pada dasarnya jodoh itu bukan di tangan saya," kata Madam Yue lagi.
Madam Yue memasukkan perhiasan emas tersebut ke dalam amplop berisi foto, lalu menyerahkannya pada Velan.
"Nona, ingat pesan saya, sabar dan biarkan waktu yang menjawab semuanya," kata Madam Yue.
"Terima kasih Nona, mohon kebijaksanaan Anda, sebentar lagi tamu saya yang lain akan datang," kata Madam Yue mempersilakan Velan pergi.
__ADS_1
Sungguh Madam Yue merasa tindakannya ini lebih bijaksana, daripada sekedar menjanjikan hal-hal manis yang dikhawatirkan malah menjadi bumerang untuk Madam Yue sendiri.
...~...