Jodoh Instan

Jodoh Instan
Apresiasi


__ADS_3

Kehadiran Voren di butik Soraya tentu saja langsung mengundang decak kagum dari para pengunjung. Pria tampan itu benar-benar menyita semua perhatian pelanggan yang mayoritas berjenis kelamin perempuan.


"Tampan sekali," kata para pengunjung.


"Tampannya! Siapa itu?" tanya mereka antusias.


"Voren, Doni, kita berbincang di lantai atas saja," kata Soraya.


Soraya langsung mengajak Voren dan Doni menuju ke lantai dua yang difungsikan sebagai studio kerja Soraya.


Voren segera duduk di sofa yang berada di sudut ruangan berdinding kaca itu. Doni dengan sikap siaga berdiri di sisi pria itu.


"Soraya, selamat atas pembukaan butikmu," kata Voren.


"Ini masih soft opening, setelah acara pagelaran barulah aku akan mengadakan grand opening," Soraya menjelaskan.


"Aku melihat pelanggan yang nampaknya mulai antusias dengan produk butikmu," kata Voren menatap Soraya dengan penuh minat.


"Sepertinya ini awal yang bagus untuk bisnis butikmu, prospek yang cukup menjanjikan," lanjut Voren.


"Ya, aku berharap ke depannya akan tetap dan terus seperti ini," kata Soraya.


Voren mengeluarkan sebuah kotak hitam dari saku bagian dalam jasnya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Soraya.


"Soraya, aku punya hadiah kecil untukmu, terimalah," kata Voren.


Doni menatap dingin ke arah kalung berlian dan sepasang anting berlian yang saat ini sedang berada di atas meja. Doni sungguh tak menyangka bahwa kalung dan sepasang anting berlian yang dicarinya atas perintah dari Tuan Voren ternyata ditujukan untuk Soraya. Padahal Doni pikir perhiasan itu dibeli Tuan Voren untuk Nona Velan.


"Voren, terima kasih, tapi untuk apa kau memberiku hadiah?" tanya Soraya.


"Aku memberi apresiasi terhadap kerja kerasmu, Soraya," kata Voren.


"Voren, ini bahkan masih jauh jika harus disebut sebagai sebuah keberhasilan," kata Soraya merendah.


"Soraya, bukankah tadi aku mengatakan bahwa aku memberi apresiasi terhadap kerja kerasmu, berhasil atau tidak itu urusan nanti," potong Voren.


Voren beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke sisi Soraya. Ia mengambil kalung berlian itu dan merentangkannya ke hadapan Soraya.


"Aku akan membantumu memakai kalung ini," kata Voren.


Soraya nampak enggan, namun Voren langsung memutar tubuh Soraya dan langsung menyibak rambut panjang Soraya yang tergerai indah. Tercium aroma parfum Soraya yang membuat Voren nyaris kehilangan kendali atas dirinya. Jika saja tidak ada Doni yang mengawasi Voren dengan tatapan tajam, Voren pasti sudah melakukan apa yang ingin ia lakukan terhadap Soraya.


Voren memasang kalung berlian itu di leher Soraya yang jenjang. Doni bisa melihat bahwa Tuan Voren benar-benar menginginkan Soraya. Cinta Tuan Voren bukanlah cinta lama yang bersemi kembali, namun lebih tepatnya cinta tersebut selalu ada di hati pria itu.


Dalam hati, Doni merasa bersalah pada Nona Velan karena membiarkan Tuan Voren mengikuti perasaannya.


Voren mengulas senyumnya begitu melihat kalung berlian itu terpasang sempurna di leher Soraya.


"Bu Sora..," pegawai Soraya yang berada di tangga langsung terdiam.


Wanita muda itu langsung turun karena melihat adegan mesra antara bosnya dengan tamu beliau yang berparas sangat tampan itu.


"Ada apa, Manda?" tanya Liyah keheranan melihat Manda yang terburu-buru turun dari lantai dua.


"Pria tampan itu kekasihnya Bu Soraya, ya?" tanya Manda ke arah Liyah.

__ADS_1


"Manda, untuk apa seorang pria setiap hari datang mengunjungi Bu Soraya kalau pria itu bukan kekasih Bu Soraya?" tanya Liyah.


"Haha! Siapa tahu pria itu penagih utang!" sahut Manda sekenanya.


"Kalau ada penagih utang setampan itu, aku pasti akan sengaja berhutang banyak!" Liyah terkekeh.


...~...


"Tuan Voren, sudah waktunya kita kembali ke kantor," kata Doni.


"Soraya, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama untuk merayakan soft opening butikmu?" tanya Voren.


Doni menatap lurus ke arah Soraya, berharap wanita itu menolak ajakan Tuan Voren.


"Sepertinya aku akan sangat sibuk hingga nanti malam, Voren," tolak Soraya.


"Tidak masalah, aku bisa menunggu, nanti malam aku akan kembali setelah pekerjaanku selesai," kata Voren terdengar memerintah.


...~...


Velan segera menuju ke rumahnya begitu mendapat telepon dari Kak Yoyok. Velan yang tadinya berencana untuk menghabiskan waktu bersama Lita dan Desi terpaksa harus menyudahi acara kumpul-kumpul mereka.


Velan segera memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Ia bergegas masuk ke dalam rumah yang nampak berantakan. Membiarkan empat orang laki-laki tinggal bersama membuat kondisi rumah tak ubahnya macam kapal yang baru saja dihantam badai.


Velan berjingkat-jingkat saat menginjakkan kakinya ke lantai yang kotornya bukan main. Entah kapan terakhir kali kakak-kakaknya itu membersihkan rumah yang saat ini penuh dengan debu dan lebih terlihat seperti tempat pembuangan sampah akhir. Banyak lalat, nyamuk, hingga kecoa yang berkeliaran manja.


"Vels....,"


"Kyaa!" seru Velan saat melihat Taki yang keluar dari gunungan pakaian kotor.


"Vels, aku lapar...," kata Taki.


Velan mengerutkan alisnya melihat kelakuan empat kakaknya yang terbaring di lantai dan tak berdaya.


"Kakak! Kalian ini kenapa?" tanya Velan keheranan.


"Kami lapar, sudah dua hari tidak makan," sahut Tomi yang nampak berbaring dengan air mata berlinangan.


"Kami tidak punya uang sama sekali," Toro menimpali.


"Vels, aku lapar," rengek Taki.


Velan bukan orang yang tegaan saat melihat kakak-kakaknya yang terlihat begitu terpuruk. Velan melihat lemari dapur yang benar-benar kosong, bahkan sebutir beras pun tak ada di dapur.


Velan segera pergi ke warung terdekat untuk membeli mie instan empat bungkus, empat butir telur, dan dua kilogram beras.


"Aku akan memasak untuk kalian, tapi kalian harus membersihkan kekacauan di rumah ini!" perintah Velan.


...~...


Keempat kakak Velan segera makan dengan lahapnya begitu Velan selesai memasak mie instan dengan telur serta satu panci nasi panas.


"Enak sekali," Taki menangis haru.


"Aku tidak jadi mati," Toro menimpali.

__ADS_1


"Akhirnya bisa makan nasi juga!" seru Tomi.


"Terima kasih, Velan," kata Yoyok.


"Vels, kau kan sudah jadi istri orang kaya, kenapa kamu hanya memberi kami makan mie instan?" tanya Taki.


"Harusnya kita makan daging sapi panggang," sahut Toro.


"Kak, kalau kalian mau makan enak, harusnya kalian mencari pekerjaan!" tandas Velan sambil melotot.


"Vels, untuk apa kami bekerja jika kami bisa minta padamu, sekarang kau pasti sudah punya kartu kredit tanpa limit," cerocos Taki.


Velan memutar bola matanya.


"Kakak, tolong jangan berpikir seperti itu! Jangan mempermalukan keluarga kita di hadapan suamiku!" sergah Velan. 


Yoyok segera beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil selembar surat dari dalam lemari es yang kosong melompong.


"Oh ya Velan, ini ada surat peringatan lagi dari bank," kata Yoyok segera menyerahkan selembar surat dari bank.


"Velan, kenapa kau masih ditagih pihak bank? Apa kau belum melunasi utangmu?" tanya Yoyok.


Velan menatap nanar selembar surat peringatan lagi dari bank. Rumah ini akan disita jika Velan belum juga melakukan pembayaran.


"Kak Yo, bagaimana aku bisa melunasi utang jika uangnya masih belum tersedia?" Velan balik bertanya ke arah Yoyok.


"Vels, kamu sudah menikah dengan pria kaya! Mintalah uang pada suamimu yang tampan dan kaya raya itu! Angkat derajat perekonomian keluarga kita!" kata Taki.


"Kak Taki, mana bisa begitu!" sergah Velan.


"Vels, mana bisa begitu, bagaimana? Kau adalah istri sah dari suamimu! Sehingga uang suamimu adalah uangmu juga!" kata Taki.


"Kak Taki! Hentikan omong kosong Kakak!" tandas Velan meluapkan rasa kesalnya.


"Masalah utang ini terjadi sebelum aku menikah dengan suamiku! Sehingga menurutku, tidak pantas rasanya membebankan utang padanya," lanjut Velan.


"Aih, omong kosong apalagi itu, Vels?! Kau bahkan sudah menjadi milik suamimu sepenuhnya! Itu artinya suamimu wajib, kudu, harus bertanggung jawab penuh terhadapmu!" kata Taki dengan gaya bicaranya yang ngegas.


"Sugar daddy saja membiayai penuh sugar candy-nya, apalagi kau yang notabene adalah istri sah suamimu!" sergah Taki lagi.


"Taki, yang benar itu sugar baby, bukan sugar candy," sahut Toro.


"Ah ya, maksudku simpanan om-om itulah!" kata Taki.


"Kak Taki, Kak Toro, harusnya kalian berdua-lah yang bertanggung jawab penuh atas utang yang harus kutanggung ini! Bukannya suamiku!" sergah Velan.


"Aku tidak mau terlihat seperti wanita murahan yang hanya mau uang suamiku saja! Aku tulus mencintai suamiku, Kak!" lanjut Velan.


"Dan harusnya kalian berusaha untuk hidup mandiri! Kalian bekerja dan menghasilkan uang sendiri, demi kelangsungan hidup kalian juga!" cecar Velan.


"Aku pergi dulu, kalian jaga diri baik-baik," Velan bergegas pergi meninggalkan kakak-kakaknya.


Ya, Velan membawa pergi semua rasa kesalnya yang menumpuk pada kakak-kakaknya yang hanya bisa menyusahkannya saja.


...~...

__ADS_1


__ADS_2